- Details
- Written by Ellyana Dwi Farisandy
- Category: Vol. 11 No. 39 Agustus 2025
ISSN 2477-1686
Vol. 11 No. 39 Agustus 2025
Narcissistic Personality Disorder (NPD):
Bukan Julukan, Bukan Label Sosial — Ini Gangguan Kepribadian yang Serius
Oleh:
Ellyana Dwi Farisandy
Program Studi Psikologi, Universitas Pembangunan Jaya
Belakangan ini, istilah Narcissistic Personality Disorder (NPD) semakin marak dibahas di berbagai media sosial, seperti Instagram, TikTok, hingga X. Sebagai contoh, individu yang dominan, sangat menyukai apresiasi, atau manipulatif sering kali dianggap memiliki gangguan NPD. Fenomena ini didorong oleh semakin banyaknya informasi mengenai gangguan psikologis yang dengan mudahnya diakses melalui media sosial—meskipun tidak semua informasi tersebut akurat atau berasal dari sumber yang terpercaya. Di satu sisi, fenomena ini bisa dianggap positif karena menunjukkan peningkatan kesadaran masyarakat terhadap gangguan psikologis. Namun, di sisi lain, penggunaan istilah NPD secara bebas membuat banyak orang dengan mudah melabeli orang terdekat—bahkan diri sendiri—sebagai penderita NPD. Ironisnya, pelabelan ini sering kali dilakukan oleh individu yang bukan tenaga profesional kesehatan mental dan hanya mengandalkan informasi yang didapatkan dari internet. Pelabelan yang dilakukan oleh masyarakat awam tidak hanya menyesatkan, namun juga berpotensi memperburuk stigma terhadap individu yang mengalami gangguan ini.
Gangguan Kepribadian Narcissistic Personality Disorder
Gangguan kepribadian merupakan pola perilaku yang menyimpang, tidak fleksibel, bertahan lama, dan stabil sepanjang waktu—yang menyebabkan penderitaan atau gangguan klinis yang signifikan, serta memengaruhi fungsi individu dalam masyarakat. Ciri-ciri gangguan kepribadian biasanya mulai dapat dikenali pada masa remaja atau dewasa awal. Salah satu gangguan kepribadian yang termasuk dalam cluster B adalah gangguan NPD. Gangguan kepribadian cluster B mencakup pola perilaku yang dramatis, emosional, dan tidak terduga. Individu dengan gangguan NPD menunjukkan rasa mementingkan diri sendiri yang berlebihan, keasyikan untuk dikagumi, dan kurangnya empati terhadap perasaan orang lain. Fakta mengejutkannya adalah bahwa prevalensi individu yang mengalami NPD tercatat <1%, menjadikannya salah satu gangguan kepribadian yang paling jarang ditemukan dibandingkan gangguan kepribadian lainnya (Hooley et al., 2021).
Gejala Naricissistic Personality Disorder
Berikut ini adalah beberapa gejala individu dengan Narcissistic Personality Disorder (NPD) (APA, 2022; Hooley et al., 2021). Perlu diingat bahwa aware terhadap gejala itu perlu, namun tidak dengan melabel diri pun orang lain mengalami gangguan psikologis tanpa diagnosa yang tepat dari profesional kesehatan mental.
1. Memiliki rasa grandiositas yang berlebihan
Individu dengan NPD merasa bahwa dirinya lebih penting, lebih hebat, istimewa, dan/atau berbakat dibandingkan dengan orang lain. Ia juga seringkali melebih-lebihkan kemampuan, pencapaian, pun bakat yang dimiliki tanpa adanya pencapaian yang setara.
2. Terobsesi dengan fantasi terkait keberhasilan, kekuasaan, kecerdasan, kecantikan, atau hubungan yang sempurna
Individu dengan NPD seringkali membayangkan memiliki kontrol atau pengaruh yang luar biasa atas orang lain, organisasi, atau bahkan negara. Ia juga seringkali merasa lebih cerdas, lebih berbakat, dan memiliki hubungan percintaan atau pertemanan yang sempurna.
3. Percaya bahwa mereka “spesial” dan unik serta seharusnya bergaul dengan orang-orang yang juga spesial.
Individu dengan NPD memiliki keyakinan bahwa mereka memiliki kualitas luar biasa yang membuat mereka lebih unggul dibandingkan orang lain. Ia juga merasa bahwa ia seharusnya berhubungan dengan orang-orang yang istimewa dan memiliki status yang tinggi
4. Membutuhkan perhatian, validasi, dan pengakuan yang berlebihan.
Individu dengan NPD ingin selalu menjadi pusat perhatian dan terus menerus meminta validasi, pujian, maupun pengakuan dari orang lain.
5. Memiliki rasa “hak istimewa”
Individu dengan NPD memiliki keyakinan bahwa ia harus diperlakukan secara istimewa. Ia juga mengharapkan diberikan apapun yang ia inginkan dan/atau butuhkan tidak peduli apa artinya hal itu bagi orang lain.
6. Mengeksploitasi hubungan interpersonal
Individu dengan NPD seringkali menggunakan orang lain untuk mencapai tujuan pribadi mereka tanpa mempertimbangkan kebutuhan, perasaan, atau hak orang tersebut.
7. Kurangnya empati
Individu dengan NPD tidak peduli dengan kesulitan pun kebutuhan orang lain. Ia akan melakukan apapun demi kepentingannya sendiri walaupun harus mengabaikan kepentingan orang lain
8. Sering merasa iri pada orang lain atau percaya bahwa orang lain iri pada mereka
Individu dengan NPD merasa bahwa pencapaian mereka seharusnya diakui lebih besar daripada orang lain dan bahwa orang lain merasa terancam oleh kesuksesan mereka. Ia juga seringkali merasa kesal dengan kesuksesan yang didapakan oleh orang lain,
9. Menunjukkan perilaku atau sikap arogan dan sombong.
Individu dengan NPD seringkali merasa superior atau lebih penting daripada orang lain. Ia juga tidak segan merendahkan orang lain untuk merasa lebih baik tentang diri mereka sendiri.
Siapa yang Boleh Mendiagnosa?
Diagnosis NPD hanya dapat ditegakkan setelah melalui asesmen komprehensif yang dilakukan oleh psikolog dan/atau psikiater—yang mencakup wawancara klinis, observasi, serta tes psikologis. Bagi para profesional sekalipun, untuk mendiagnosa individu dengan NPD juga bukan hal yang mudah. Terkadang, Psikolog pun Psikiater memerlukan beberapa kali sesi asesmen untuk menentukan diagnosa secara akurat karena gejala NPD seringkali overlapping dengan gejala gangguan psikologis lainnya. Selain itu, angka dropout rate atau presentase klien NPD yang menghentikan terapi sebelum proses terapi selesai tergolong tinggi. Hal ini dikarenakan adanya tantangan dalam membanguan therapeutic alliance pun adanya resistensi terhadap intropeksi diri.
Simpulan
Jika Anda atau orang terdekat Anda mengalami gejala yang mungkin mengarah pada gangguan NPD, menyadari bahwa diri atau orang lain sedang tidak baik-baik saja adalah langkah penting. Namun, perlu untuk diingat bahwa memberikan diagnosa bukanlah tugas kita, apalagi jika kita bukan profesional kesehatan mental. Oleh karena itu, mari bersama-sama lebih bijak dan berhati-hati dalam menggunakan istilah NPD atau gangguan psikologis lainnya, agar tidak menimbulkan dampak negatif, baik bagi individu yang mengalaminya maupun orang-orang di sekitarnya.
Referensi
American Psychiatric Association. (2022). Diagnostic and statistical manual of mental disorder, Fifth Edition, Text Revision (DSM 5-TRTM). American Psychiatric Association Publishing
Hooley, J. M., Knock, M. K., Butcher, J. N. (2021). Abnormal psychology, Eighteenth Edition. Pearson Education Limited 2021
- Details
- Written by Sonya Maranatha Sagala
- Category: Vol. 11 No. 39 Agustus 2025
ISSN 2477-1686
Vol. 11 No. 39 Agustus 2025
"Lazy Girl Job": Antara Kenikmatan dan Kepuasan Diri”
Oleh:
Sonya Maranatha Sagala
Fakultas Psikologi, Universitas Sumatera Utara
Dalam era modern yang serba cepat dan penuh tekanan, muncul sebuah tren baru di dunia kerja yang dikenal dengan sebutan "Lazy Girl Job." Istilah ini merupakan sebuah pekerjaan dengan tingkat stres rendah, fleksibilitas tinggi, dan gaji yang cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari karyawan tanpa mengorbankan kesehatan mental mereka. Fenomena ini banyak diminati oleh generasi muda yang semakin menyadari pentingnya kesejahteraan dan kesehatan mental dalam bekerja (Awu, E, dkk (2025). Awalnya istilah ini dikenal sebagai "quiet quitting," kini muncul wacana baru dari Gen Z yang menentang budaya kerja keras generasi sebelumnya lewat istilah viral " Lazy Girl Job" Istilah ini mencerminkan perlawanan terhadap pekerjaan yang berlebihan, dengan pesan: "Kami tak lagi rela lelah demi pekerjaan." Gen Z lebih memilih pekerjaan yang ringan, bergaji layak, fleksibel, dan mendukung keseimbangan hidup. Bagi mereka, ini adalah respons atas dunia kerja korporat yang dianggap tidak manusiawi dan mengorbankan kualitas hidup.
Konsep "Lazy Girl Job" tidak berarti menolak produktivitas atau ambisi, tetapi lebih kepada mendefinisikan ulang kesuksesan dalam konteks yang lebih manusiawi. Alih-alih terjebak dalam budaya kerja yang menuntut pengorbanan tanpa henti, banyak individu memilih jalur karir yang lebih selaras dengan kebutuhan emosional dan psikologis mereka. Dengan memilih pekerjaan yang lebih fleksibel dan tidak membebani mereka secara mental, mereka dapat mengalokasikan energi untuk hal-hal yang lebih bermakna dalam hidup, seperti membangun hubungan sosial, mengembangkan diri, dan menjaga keseimbangan emosional (Robinson, 2023).
Dari perspektif psikologi, tren ini dapat dianalisis melalui konsep Hedonic and Eudaimonic Well-Being. Pendekatan Hedonic well-being, merupakan pendekatan yang berfokus pada kebahagiaan dan kesejahteraan merupakan pencapaian kesenangan dan penghindaran sebuah rasa sakit. Kahneman dkk (dalam Ryan, & Deci, 2001). menyatakan bahwa fokus utama psikologi hedonis adalah pada pengalaman subjektif, termasuk emosi, kesenangan, dan ketidaknyamanan, dan bagaimana orang mengevaluasi pengalaman ini. Sementara itu, Pendekatan eudaimonic well-being, merupakan pendekatan yang berfokus pada makna dan realisasi diri dan mendefinisikan kesejahteraan dalam hal tingkat di mana seseorang berfungsi sepenuhnya (Ryan & Deci, 2001).
Dengan demikian, "Lazy Girl Job" dapat dilihat sebagai strategi untuk mencapai kebahagiaan yang seimbang, di mana seseorang tidak hanya menikmati kenyamanan dalam bekerja (hedonic well-being), tetapi juga menemukan kepuasan dan makna hidup (eudaimonic well-being). Fenomena ini menjadi refleksi dari perubahan paradigma dalam dunia kerja, di mana kesejahteraan individu semakin diutamakan dalam mendefinisikan kesuksesan. Meski terlihat menarik, tren Lazy Girl Job memiliki berbagai tantangan yang kerap tidak disadari, seperti persaingan yang ketat akibat persyaratan masuk yang rendah, jenjang karir yang minim, serta pendapatan yang tidak stabil akibat sifatnya yang umumnya freelance atau kontrak. Ketergantungan pada pekerjaan yang mudah tanpa keterampilan yang kuat justru dapat menghambat perkembangan dan membuat seseorang mudah tergantikan. Oleh karena itu, daripada mengejar pekerjaan yang mudah tanpa usaha, lebih baik fokus pada pengembangan keterampilan, membangun portofolio yang solid, dan mencari peluang pendapatan tambahan agar tetap fleksibel tanpa mengorbankan masa depan karir (Kompasiana, 2025).
Fenomena Lazy Girl Job mencerminkan pergeseran nilai dalam dunia kerja modern, khususnya di kalangan generasi muda yang lebih mengutamakan keseimbangan hidup dan kesehatan mental dibandingkan kerja keras tanpa henti. Meskipun tren ini menawarkan kenyamanan dan fleksibilitas, ia juga menghadirkan tantangan seperti persaingan tinggi, pendapatan tidak stabil, dan minimnya prospek karier. Dalam konteks psikologi, tren ini mencerminkan kombinasi antara hedonic well-being kebahagiaan dari kenyamanan dan eudaimonic well-being kepuasan dari makna hidup. Oleh karena itu, untuk menghindari jebakan kenyamanan semu, penting bagi individu untuk tetap mengembangkan keterampilan, membangun portofolio, dan merancang strategi karier jangka panjang yang berkelanjutan.
Referensi:
Awu, E., Darius, B & Daniel, O. (2025). The Quiet Lazy Girl’s Job As An Emerging Concept Of Contract Employment. International Journal of Academic Management Science Research (IJAMSR). Vol. 9. Pages: 164-168. https://www.researchgate.net/publication/389487576_The_Quiet_Lazy_Girl's_Job_As_An_Emerging_Concept_Of_Contract_Employment
Kompasiana. (2025). Lazy Girl Jobs: Antara Mimpi Kerja Santai dan Realita Dunia Kerja. https://www.kompasiana.com/arielhosea1877/67d05b82ed64153a7b55f552/lazy-girl-job-antara-mimpi-kerja-santai-dan-realita-dunia-kerja?page=all
Robinson, B. (2023). How ‘Lazy Girl Jobs’ Contribute To Work-Life Balance And Burnout Prevention. https://www.forbes.com/sites/bryanrobinson/2023/08/04/how-lazy-girl-jobs-contribute-to-work-life-balance-and-burnout-prevention/
Ryan, R. M., & Deci, E. L. (2001). On happiness and human potentials: A review of research on hedonic and eudaimonic well-being. Annual Review of Psychology, 52, 141–166. https://doi.org/10.1146/annurev.psych.52.1.141
- Details
- Written by Diana
- Category: Vol. 11 No. 39 Agustus 2025
ISSN 2477-1686
Vol. 11 No. 39 Agustus 2025
Dari Ketapel ke Kelas: Menghubungkan Kearifan Lokal dengan Pembelajaran Bermakna
Oleh:
Diana
Fakultas Psikologi, Universitas Surabaya
Seorang anak yang berasal dari Papua dengan antusias memanggil gurunya, “Ibu guru. Ini buat ibu! Kami menangkapnya di hutan sebelah” dan menunjukkan burung yang tampaknya sudah mati kena ketapel. Pertanyaan yang terlintas di kepala adalah sekolah ini di tengah kota, tidak ada hutan. Ternyata lapangan luas sebelah gedung sekolah dengan tanaman-tanaman liar mereka sebut sebagai hutan.
Sepenggal cerita ini memantik beberapa pertanyaan yang membuat pemahaman baru. Tempat asal mereka di pedalaman tentunya belum tentu ada gedung-gedung dengan tembok semen dan area hijau yang disebut lapangan. Hidup mereka dekat dengan alam sehingga lapangan dengan banyak tanaman-tanaman liar tanah kosong dimaknai serupa dengan tanah lapang hutan mereka tinggal. Budaya dan lingkungan seseorang tumbuh sangat mempengaruhi seseorang memaknai dunia.
Hal menarik lain dari cerita tersebut adalah kepiawan mereka dalam membidik burung sebagai target buruan. Jika kita telaah dalam keilmuwan Fisika, proses tersebut sejalan erat kaitannya perubahan panjang karet pada ketapel dalam meregangkan dan menekankan pegas menurut Hukum Hooke. Selain itu, ketika karet ketapel ditarik ke belakang (aksi), karet memberikan gaya dorong ke peluru (reaksi), yang sejalan dengan hukum Newton II bahwa adanya reaksi yang sama besar dan berlawanan arah pada setiap aksi. Tentunya masih ada konsep Fisika lainnya yang dapat digunakan untuk mengulas. Pada kenyataannya, mereka menikmati aktivitas berburu tersebut tanpa memikirkan konsep fisika yang mendasarinya. Mereka mampu menyelesaikan tantangan-tantangan secara teknis (terkait ketapel) saat berburu. Namun, bukan berarti mereka mampu menyelesaikan soal Fisika dengan studi kasus tentang permainan ketapel disertai dengan angka-angka untuk dihitung. Apakah artinya mereka bukan anak yang cukup cerdas untuk belajar di kelas?
Proses berpikir di balik pembelajaran.
Berdasarkan teori Cattel-Horn-Carrol yang dikembangkan oleh McGrew (2018), Salah satu kemampuan seseorang dalam menyelesaikan persoalan adalah fluid reasoning (Gf), yaitu kemampuan seseorang dalam menggunakan prosedur yang disengaja dan terkendali (seringkali butuh fokus perhatian) untuk menyelesaikan persoalan baru “di tempat” yang tidak dapat diselesaikan dengan menggunakan kebiasaan, skema, dan skrip yang dipelajari sebelumnya. Kemampuan ini tidak terbatasi hanya pada bidang akademisi semata, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Ketika seorang anak Papua berhasil menentukan dengan material apa saja dan seberapa besar kekuatan ketapel dibutuhkan untuk membidik burung, sebenarnya proses berpikir menyelesaikan permasalahannya sedang dilakukan. Di sisi lain, untuk memahami konsep Fisika dibutuhkan pengetahuan yang spesifik. Berpikir logis tidak berarti seorang anak menjadi otomatis bisa suatu pelajaran. Berpikir logis dan analitis adalah kemampuan yang dibutuhkan seseorang untuk memahami, mempelajari, dan menyelesaikan suatu persoalan dengan konteks dan pengetahuan tertentu. Dengan demikian, menekankan konteks dalam pembelajaran adalah jembatan penting yang membantu seseorang memahami konsep-konsep yang lebih kompleks.
Cara anak belajar tentang dunia.
Piaget (Santrock, 2011) menekankan anak-anak secara aktif menyusun dunia kognisinya, artinya anak-anak tidak hanya menerima informasi yang diberikan begitu saja, tetapi mereka menjelajah berbagai poin dari perkembangan tentang caranya memahami dunia.Otak membentuk skema, yaitu tindakan atau pikiran yang mewakili struktur pengetahuan. Skema mental (pikiran) mulai berkembang di masa anak-anak, sehingga mereka memilih skema mengenai strategi dan rencana menyelesaikan suatu persoalan. Misalnya, anak-anak memikirkan alat apa saja yang digunakan sebagai ketapel agar dapat melontarkan batu dengan kencang dan tepat sasaran.
Piaget menawarkan dua konsep terkait caranya anak-anak menggunakan dan menyesuaikan skema, yaitu: asimiliasi dan akomodasi. Asimilasi terjadi saat anak-anak menggunakan skema yang ada untuk menghadapi informasi atau pengalaman yang baru. Akomodasi terjadi saat mereka menyesuaikan skema mereka untuk mempertimbangkan informasi dan pengetahuan baru. Anak-anak memahami dunia mereka dengan mengatur dunia secara kognitif, yang disebut sebagai “organisasi” pada teori Piaget. Pada proses ini, anak-anak mengelompokkan perilaku dan pemikirannya ke dalam suatu sistematika yang lebih kompleks. Dalam upaya untuk memahami dunianya, anak-anak pasti mengalami pengalaman konflik kognitif yang disebut juga “disequilibrium”. Artinya, anak-anak terus meneruma menghadapi skema-skema yang tidak konsisten dan berlawanan dengan skema yang sudah ada. Ketidak-seimbangan (disequilibrium) yang tercipta mengembangkan motivasi untuk perubahan, sehingga anak-anak mengasimilasi, mengakomodasi, menyesuaikan skema yang lama dengan yang baru, sertia melakukan organisasi skema lama dan baru. Pada akhirnya, organisasi tersebut menjadi berbeda dengan organisasi lama yang memunculkan cara berpikir yang baru.
Dikaitkan dengan kasus ketapel, memahami konsep Fisika dan formula yang menyertainya tidak sama dengan kepiawaiannya berburu dengan ketapel di hutan. Anak-anak perlu dibantu untuk memahami adanya skema baru (asimilisasi tentang konsep fisika), yang perlu disesuaikan dari konkret menjadi abstrak (akomodasi tentang formula di balik aktivitas berburu). Harapannya anak-anak terbangun pengetahuan yang lebih terstruktur mengenai konsep Fisika di balik suatu fenomena di sekitarnya.
Peran pendidik sebagai katalisator pembelajaran.
Jembatan yang menghubungkan kemampuan dan pemahaman konsep ini perlu diaktifkan melalui pengalaman pembelajaran di kelas yang menekankan pada konteks pembelajaran. Pembelajaran yang menekankan pada kontekstual biasanya menerapkan pendekatan konstruktivis yang mendorong pembelajaran bermakna. Beberapa elemen yang diterapkan, antara lain: (a) menanamkan pembelajaran di lingkungan yang realistis, relevan dan kompleks; (b) menyediakan negosiasi dan tanggung jawab bersama sebagai bagian dari pembelajaran; (c) mendukung berbagai persepektif; (d) menumbuhkan kesadaran diri dan pemahaman mengenai konstruk pengetahuan; dan (e) mendorong rasa kepemilikan dalam belajar (Woolfolk, 2016).
Konteks pembelajaran perlu mempertimbangkan latar belakang budaya, status ekonomi sosial dan perkembangan anak. Anak-anak yang berasal dari pedalaman Papua akan kesulitan untuk memahami konsep-konsep Fisika menggunakan contoh kasur spring bed dan shock absorber kendaraan karena mereka kemungkinan besar belum pernah melihat dan merasakan langsung benda-benda tersebut. Namun, akan lebih mudah bagi mereka untuk membayangkannya dengan contoh berburu burung dengan ketapel. Konteks pembelajaran ini tidak serta merta hanya menjadi soal cerita tertulis dan diselesaikan dengan rumus, tetapi perlu dijadikan suatu cerita yang menarik.
Dengan pemahaman mengenai proses berpikir dari teori Piaget, maka pendidik dapat secara bertahap membantu anak-anak membentuk suatu pemahaman baru saat fenomena ketapel dituangkan dalam formula atau rumusan konsep Fisika tertentu. Proses pembelajaran ini yang membutuhkan pendidik sebagai katalisator pembelajaran yang berperan sebagai pendorong, fasilitator, dan pemacu proses pembelajaran.
Referensi:
Santrock, J.W. (2011). Life-span development (13th ed.). McGraw-Hill.
Schneider, W. J., & McGrew, K. S. (2018). The Cattell–Horn–Carroll theory of cognitive abilities. In D. P. Flanagan & E. M. McDonough (Eds.), Contemporary intellectual assessment: Theories, tests, and issues (4th ed., pp. 73–163). The Guilford Press.
Woolfolk, A. (2016). Educational psychology (13th ed., Global ed.). Pearson Education Limited.
- Details
- Written by Jessica Marvelyn Lee, Chrysan Gomargana, & Brigita Wulandini Roring
- Category: Vol. 11 No. 39 Agustus 2025
ISSN 2477-1686
Vol. 11 No. 39 Agustus 2025
Split Bill: Inovasi Hubungan Modern atau Cara Cerdas Menghindari Tanggung Jawab?
Oleh:
Jessica Marvelyn Lee, Chrysan Gomargana, & Brigita Wulandini Roring
Fakultas Psikologi, Universitas Pelita Harapan
Di era digital saat ini, berbagai inovasi telah membentuk ulang pola interaksi sosial, termasuk dalam hal membangun dan memelihara hubungan interpersonal. Salah satu aspek yang mengalami transformasi signifikan adalah dinamika hubungan romantis, khususnya dalam pembagian tanggung jawab finansial. Salah satu tren yang mencerminkan perubahan ini adalah kebiasaan berbagi biaya saat berkencan atau melakukan aktivitas bersama—praktik yang kini dikenal luas sebagai split bill.
Jika dahulu norma budaya menempatkan laki-laki sebagai pihak yang membayar sebagai simbol peran penyedia (provider), kini semakin banyak pasangan yang menjunjung prinsip kesetaraan. Mereka memilih untuk membagi biaya secara adil, melihat hal ini sebagai bentuk keadilan, kemandirian, dan penghormatan terhadap peran masing-masing. Namun, pergeseran ini tidak serta-merta diterima oleh semua pihak. Bagi mereka yang masih memegang nilai-nilai tradisional, pembagian tagihan bisa dianggap mengurangi nuansa romantis atau bahkan melemahkan citra maskulinitas. Ketika dua individu dalam hubungan memiliki pandangan berbeda mengenai peran finansial, ketegangan psikologis pun bisa muncul. Salah satu pihak mungkin merasa terbebani oleh tuntutan sebagai penyedia utama, sementara pihak lain bisa merasakan hilangnya kehangatan emosional karena hubungan terasa terlalu transaksional. Ketidakseimbangan ini berpotensi mengaburkan esensi emosional yang semestinya menjadi fondasi utama dalam sebuah relasi.
Meskipun tampak sebagai cara praktis menjaga keseimbangan dalam hubungan, apakah split bill benar-benar mencerminkan inovasi hubungan modern, atau justru menjadi cara halus untuk menghindari tanggung jawab?
Asal Mula dan Alasan Popularitas Split Bill
Kebiasaan split bill tumbuh seiring dengan berkembangnya budaya sosial yang lebih egaliter, terutama dalam konteks makan bersama (Dian & Khairunnisa, 2024). Sebelumnya, dalam banyak budaya tradisional, aturan tidak tertulis menyebutkan bahwa pihak yang mengundang adalah pihak yang membayar. Dalam pandangan psikologi evolusioner, laki-laki sering diasosiasikan dengan peran dominan dan penyedia, di mana tindakan membayar menjadi strategi untuk menunjukkan daya tarik dan komitmen (Nicholson, 2012).
Namun, perspektif ini perlahan bergeser seiring meningkatnya kesadaran akan kesetaraan gender dan realitas ekonomi masa kini. Dari kacamata psikologi sosial, munculnya fenomena seperti benevolent sexism serta meningkatnya kesibukan hidup turut mendorong banyak orang untuk memilih berbagi tagihan sebagai upaya menjaga keseimbangan dalam hubungan (Olson & Rick, 2022; Leaper & Gutierrez, 2025).
Dalam konteks hubungan egaliter—antara teman, kolega, maupun pasangan romantis—pembagian tagihan dianggap sebagai bentuk penghargaan timbal balik. Tidak ada yang merasa lebih berutang atau diuntungkan. Setiap pihak bertanggung jawab atas bagian masing-masing, memperkuat rasa keadilan dan saling menghormati.
Split Bill Bukan Hanya Tentang Kepraktisan
Dalam hubungan romantis, beban bukan hanya soal uang, tetapi juga menyangkut aspek emosional dan komitmen semakin meningkat (Berscheid & Regan, 2016). Secara tradisional, laki-laki dipandang sebagai pihak yang menunjukkan perlindungan dan perhatian melalui tindakan membayar. Sebaliknya, saat perempuan menerima tawaran tersebut, hal itu bisa dipandang sebagai bentuk penghargaan atau kasih sayang (Dew et al., 2012).
Namun, dalam relasi modern yang semakin egaliter, praktik split bill memiliki makna berbeda. Bagi sebagian orang, ini mencerminkan kemitraan yang setara dan bisa mempererat hubungan. Bagi yang lain, justru dapat mengesankan adanya jarak emosional atau penghindaran tanggung jawab finansial, sehingga mengurangi kedekatan antar pasangan.
Dari perspektif psikologi hubungan, pembagian tagihan yang terlalu kaku bisa menjadi refleksi keengganan untuk membangun ketergantungan (dependency), namun di sisi lain dapat menimbulkan keraguan terhadap kedalaman hubungan (Darling & Burns. 2023). Ketika fokus terlalu tertuju pada aspek praktis, kesempatan untuk menunjukkan kasih sayang melalui tindakan simbolis bisa terlewatkan. Seperti yang diungkapkan Gottman (2018) dalam bukunya The Seven Principles for Making Marriage Work, kunci hubungan yang sehat adalah saling mendukung dan berbagi tanggung jawab, bahkan ketika peran tradisional masih menjadi acuan.
Split Bill dan Tantangan terhadap Mindset "Provider"
Dalam banyak hubungan masa kini, terutama di kalangan pasangan muda, terdapat ekspektasi untuk berbagi peran secara seimbang, baik dalam aspek finansial maupun emosional. Ini tentu menantang pola pikir tradisional di mana satu pihak—seringkali laki-laki—dianggap sebagai pemberi utama. Ketika kebiasaan membagi tagihan mulai diterapkan, sebagian individu mungkin merasa perannya tergerus, atau bahwa kontribusinya tidak lagi cukup dihargai.
Sebaliknya, beban sebagai provider juga dapat menimbulkan tekanan tersendiri. Tuntutan untuk selalu memenuhi kebutuhan finansial pasangan bisa menjadi sumber stres, dan jika pembagian tidak dilakukan secara terbuka dan adil, bisa menimbulkan ketidakpuasan dalam hubungan.
Kesimpulan: Inovasi atau Penghindaran?
Apakah split bill mencerminkan inovasi dalam hubungan modern, atau sekadar strategi untuk menghindari tanggung jawab, sangat bergantung pada konteks dan interpretasi masing-masing individu. Dalam relasi yang sehat, komunikasi terbuka mengenai ekspektasi, nilai, dan preferensi finansial menjadi pondasi penting. Baik dalam hubungan romantis, pertemanan, maupun kerja, kejelasan mengenai praktik berbagi biaya dapat mencegah kesalahpahaman dan memperkuat rasa saling menghormati.
Di tengah dunia yang terus berubah, cinta pun ikut berevolusi. Ia tak lagi hanya soal siapa yang memberi lebih banyak, tapi siapa yang mampu berjalan seiring, berbagi beban, dan tetap saling menggenggam tangan meski jalanan terjal. Split bill hanyalah salah satu langkah kecil dalam tarian besar bernama hubungan. Apakah itu langkah maju atau justru mundur? Itu tergantung pada bagaimana kita memahami irama, menghargai pasangan, dan memilih cara untuk tetap “Berdansa” bersama.
Referensi:
Berscheid, E. S., & Regan, P. C. (2016). The psychology of interpersonal relationships. Psychology Press.
Darling, N., & Burns, I. R. (2023). How does cross‐sectional sampling bias our understanding of adolescent romantic relationships?: An agent‐based simulation. Journal of Adolescence, 95(2), 296–310. https://doi.org/10.1002/jad.12114
Dew, J., Britt, S., & Huston, S. (2012). Examining the relationship between financial issues and divorce. Family Relations, 61(4), 615–628. https://doi.org/10.1111/j.1741-3729.2012.00715.x
Dian, R., & Khairunnisa, N. (2024, April 27). Apa itu split bill dan alasan tidak perlu mempermasalahkannya saat kencan pertama. Narasi Daily. https://narasi.tv/read/narasi-daily/apa-itu-split-bill
Gottman, J. (2018). The seven principles for making marriage work. Hachette UK.
Gutierrez, B. C., & Leaper, C. (2025). Ambivalent sexism linked to Mexican-heritage ethnic identity and gender messages from older relatives, familial peers, and nonfamilial peers. Journal of Latinx Psychology. Advance online publication. https://doi.org/10.1037/lat0000282
Nicholson, J. (2012, May 1). Who should ask and pay for a date? Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/us/blog/the-attraction-doctor/201205/who-should-ask-and-pay-for-a-date
Olson, J. G., & Rick, S. I. (2022). “You spent how much?” Toward an understanding of how romantic partners respond to each other's financial decisions. Current Opinion in Psychology, 43, 70–74. https://doi.org/10.1016/j.copsyc.2021.06.006
- Details
- Written by Chandra Yudistira Purnama
- Category: Vol. 11 No. 39 Agustus 2025
ISSN 2477-1686
Vol. 11 No. 39 Agustus 2025
Herd Effect: Mengapa Kita Ikut-ikutan?
Oleh:
Chandra Yudistira Purnama
Fakultas Psikologi Universitas Jenderal Achmad Yani Cimahi
Herd Effect sebuah fenomena psikologis yang meluas, muncul ketika individu dalam sebuah kelompok bertindak secara kolektif, sering kali meniru perilaku orang lain, terlepas dari analisis atau informasi independen mereka sendiri dan sering kali mengorbankan penilaian pribadi. Pengaruh herd effect dapat membawa dampak positif, namun juga berpotensi mengakibatkan pengambilan keputusan yang merugikan, membahayakan, atau destruktif ketika pemikiran kritis ditinggalkan demi konformitas. Pengaruh ini dapat bersifat langsung, melalui komunikasi eksplisit atau instruksi, atau tidak langsung, yang bekerja melalui pengamatan dan peniruan (Mavrodiev et al., 2013).
Herd effect sedikit banyak disebabkan oleh pengaruh sosial. Pengaruh sosial merupakan faktor penting yang memengaruhi pikiran, emosi, dan tindakan seseorang, yang berdampak pada bagaimana mereka berencana untuk berperilaku (Singh et al., 2019). Dalam kehidupan sosial sehari-hari, pengaruh sosial memainkan peranan penting dalam membentuk cara berpikir dan bertindak seseorang. Secara umum, pengaruh ini terbagi ke dalam dua bentuk utama: pengaruh informasional dan pengaruh normatif. Pengaruh informasional muncul ketika individu mengikuti pandangan atau perilaku orang lain karena mereka percaya bahwa orang lain memiliki informasi yang lebih akurat atau pemahaman yang lebih baik mengenai situasi tertentu. Misalnya, seorang mahasiswa yang ragu-ragu dalam menjawab soal ujian akhirnya mencontek jawaban temannya yang dikenal pintar, karena ia yakin bahwa temannya memiliki pengetahuan yang lebih benar. Berbeda dengan itu, pengaruh normatif didorong oleh kebutuhan untuk diterima oleh kelompok sosial. Dalam hal ini, seseorang menyesuaikan perilaku mereka agar tidak menyimpang dari harapan atau norma yang berlaku dalam kelompok tersebut. Contohnya, seorang remaja yang sebenarnya tidak menyukai rokok namun tetap merokok ketika berkumpul bersama teman-temannya, semata-mata karena tidak ingin dianggap berbeda dan ingin tetap diterima dalam pergaulan. Kedua bentuk pengaruh sosial ini menggambarkan bagaimana individu sering kali mengorbankan penilaian pribadinya demi memperoleh validasi kognitif atau penerimaan sosial dari lingkungan sekitarnya. Keputusan seseorang secara signifikan dipengaruhi oleh lingkungan sosial mereka, yang konsisten dengan gagasan bahwa orang ingin menyesuaikan diri dan mendapatkan penerimaan dari teman sebayanya (Eckhardt et al., 2009).
Herd effect sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari tanpa kita sadari, karena manusia secara naluriah cenderung meniru perilaku orang lain di sekitarnya, terutama dalam situasi ketidakpastian atau tekanan sosial. Salah satu contoh yang paling umum adalah fenomena konsumsi massal terhadap produk-produk tertentu seperti skincare, minuman viral, atau makanan instan yang tiba-tiba populer di media sosial. Banyak orang membeli produk tersebut bukan karena benar-benar membutuhkannya atau telah melakukan pertimbangan rasional, melainkan karena merasa terdorong mengikuti tren demi tidak dianggap ketinggalan. Fenomena ini juga kerap muncul dalam perilaku spontan di ruang publik, misalnya ketika seseorang melihat antrean panjang dan secara otomatis ikut mengantre tanpa mengetahui dengan jelas tujuan antrean tersebut. Dalam situasi tersebut, keputusan individu tidak didasarkan pada informasi yang akurat, melainkan pada asumsi bahwa kerumunan orang tidak mungkin salah. Hal ini mencerminkan bagaimana herd effect dapat menggantikan penilaian pribadi dengan keputusan kolektif yang belum tentu logis. Kecenderungan serupa juga terlihat dalam situasi krisis, seperti panic buying yang terjadi saat awal pandemi COVID-19. Masyarakat bergegas membeli masker, hand sanitizer, dan sembako dalam jumlah besar hanya karena melihat orang lain melakukannya, menciptakan kekurangan pasokan dan kepanikan yang lebih besar.
Dalam konteks ini, herd effect memperlihatkan dampak nyata yang merugikan karena didasarkan pada rasa takut dan ketidakpastian, bukan kebutuhan rasional. Dalam dunia investasi, herd effect menjadi lebih kompleks dan berisiko. Banyak investor pemula mengikuti arus pembelian saham atau aset kripto tertentu hanya karena banyak orang melakukannya atau karena adanya pemberitaan viral, tanpa memahami analisis fundamental dan risiko keuangan. Akibatnya, mereka sering terjebak dalam gelembung pasar atau kerugian besar saat tren berbalik arah. Di bidang gaya hidup dan fesyen, herd effect juga tampak saat individu merasa perlu mengikuti tren pakaian, aksesori, atau gaya hidup terkini demi menjaga citra sosial atau mendapatkan validasi dari lingkungan, meskipun tidak sesuai dengan identitas atau kenyamanan pribadi mereka. Keseluruhan fenomena ini mencerminkan bahwa herd effect dapat memengaruhi berbagai aspek kehidupan manusia, dari konsumsi harian hingga keputusan strategis, dan sering kali menggantikan nalar kritis dengan dorongan konformitas sosial.
Kesimpulannya, herd effect merupakan fenomena psikologis yang kuat dan meluas, di mana individu cenderung mengikuti perilaku kolektif kelompok tanpa mempertimbangkan penilaian pribadi secara kritis. Dipengaruhi oleh faktor sosial, baik informasional maupun normatif, efek ini dapat memengaruhi berbagai aspek kehidupan, mulai dari perilaku konsumen, adopsi teknologi, hingga keputusan investasi dan sosial. Meskipun kadang membawa manfaat, herd effect juga berisiko menimbulkan keputusan yang tidak rasional dan merugikan. Kehadirannya dalam kehidupan sehari-hari menunjukkan betapa kuatnya pengaruh sosial dalam membentuk perilaku manusia. Oleh karena itu, penting bagi individu untuk meningkatkan kesadaran diri, melatih kemampuan berpikir kritis, dan mengambil keputusan berdasarkan analisis informasi yang objektif agar tidak mudah terbawa arus opini mayoritas yang belum tentu tepat.
Daftar Pustaka
Eckhardt, A., Laumer, S., & Weitzel, T. (2009). Who Influences Whom? Analyzing Workplace Referents’ Social Influence on it Adoption and Non-Adoption. Journal of Information Technology, 24(1), 11. https://doi.org/10.1057/jit.2008.31
Handarkho, Y. D., & Harjoseputro, Y. (2020). Intention to adopt mobile payment in physical stores Individual switching behavior perspective based on Push–Pull–Mooring (PPM) theory.
Mavrodiev, P., Tessone, C. J., & Schweitzer, F. (2013). Quantifying the effects of social influence. Scientific Reports, 3(1). https://doi.org/10.1038/srep01360
Singh, N., Sinha, N., & Liébana‐Cabanillas, F. (2019). Determining factors in the adoption and recommendation of mobile wallet services in India: Analysis of the effect of innovativeness, stress to use and social influence. International Journal of Information Management, 50, 191. https://doi.org/10.1016/j.ijinfomgt.2019.05.022
Sleiman, K. A. A., Lan, J., Lei, H. Z., Rong, W., Wang, Y., Li, S., Cheng, J., & Amin, F. (2023). Factors that impacted mobile-payment adoption in China during the COVID-19 pandemic. Heliyon, 9(5). https://doi.org/10.1016/j.heliyon.2023.e16197