ISSN 2477-1686  

 Vol. 11 No. 39 Agustus 2025

 

Split Bill: Inovasi Hubungan Modern atau Cara Cerdas Menghindari Tanggung Jawab? 

Oleh:

Jessica Marvelyn Lee, Chrysan Gomargana, & Brigita Wulandini Roring

Fakultas Psikologi, Universitas Pelita Harapan

Di era digital saat ini, berbagai inovasi telah membentuk ulang pola interaksi sosial, termasuk dalam hal membangun dan memelihara hubungan interpersonal. Salah satu aspek yang mengalami transformasi signifikan adalah dinamika hubungan romantis, khususnya dalam pembagian tanggung jawab finansial. Salah satu tren yang mencerminkan perubahan ini adalah kebiasaan berbagi biaya saat berkencan atau melakukan aktivitas bersama—praktik yang kini dikenal luas sebagai split bill.

Jika dahulu norma budaya menempatkan laki-laki sebagai pihak yang membayar sebagai simbol peran penyedia (provider), kini semakin banyak pasangan yang menjunjung prinsip kesetaraan. Mereka memilih untuk membagi biaya secara adil, melihat hal ini sebagai bentuk keadilan, kemandirian, dan penghormatan terhadap peran masing-masing. Namun, pergeseran ini tidak serta-merta diterima oleh semua pihak. Bagi mereka yang masih memegang nilai-nilai tradisional, pembagian tagihan bisa dianggap mengurangi nuansa romantis atau bahkan melemahkan citra maskulinitas. Ketika dua individu dalam hubungan memiliki pandangan berbeda mengenai peran finansial, ketegangan psikologis pun bisa muncul. Salah satu pihak mungkin merasa terbebani oleh tuntutan sebagai penyedia utama, sementara pihak lain bisa merasakan hilangnya kehangatan emosional karena hubungan terasa terlalu transaksional. Ketidakseimbangan ini berpotensi mengaburkan esensi emosional yang semestinya menjadi fondasi utama dalam sebuah relasi.

Meskipun tampak sebagai cara praktis menjaga keseimbangan dalam hubungan, apakah split bill benar-benar mencerminkan inovasi hubungan modern, atau justru menjadi cara halus untuk menghindari tanggung jawab?

Asal Mula dan Alasan Popularitas Split Bill

Kebiasaan split bill tumbuh seiring dengan berkembangnya budaya sosial yang lebih egaliter, terutama dalam konteks makan bersama (Dian & Khairunnisa, 2024). Sebelumnya, dalam banyak budaya tradisional, aturan tidak tertulis menyebutkan bahwa pihak yang mengundang adalah pihak yang membayar. Dalam pandangan psikologi evolusioner, laki-laki sering diasosiasikan dengan peran dominan dan penyedia, di mana tindakan membayar menjadi strategi untuk menunjukkan daya tarik dan komitmen (Nicholson, 2012).

Namun, perspektif ini perlahan bergeser seiring meningkatnya kesadaran akan kesetaraan gender dan realitas ekonomi masa kini. Dari kacamata psikologi sosial, munculnya fenomena seperti benevolent sexism serta meningkatnya kesibukan hidup turut mendorong banyak orang untuk memilih berbagi tagihan sebagai upaya menjaga keseimbangan dalam hubungan (Olson & Rick, 2022; Leaper & Gutierrez, 2025).

Dalam konteks hubungan egaliter—antara teman, kolega, maupun pasangan romantis—pembagian tagihan dianggap sebagai bentuk penghargaan timbal balik. Tidak ada yang merasa lebih berutang atau diuntungkan. Setiap pihak bertanggung jawab atas bagian masing-masing, memperkuat rasa keadilan dan saling menghormati.

Split Bill Bukan Hanya Tentang Kepraktisan

Dalam hubungan romantis, beban bukan hanya soal uang, tetapi juga menyangkut aspek emosional dan komitmen semakin meningkat (Berscheid & Regan, 2016). Secara tradisional, laki-laki dipandang sebagai pihak yang menunjukkan perlindungan dan perhatian melalui tindakan membayar. Sebaliknya, saat perempuan menerima tawaran tersebut, hal itu bisa dipandang sebagai bentuk penghargaan atau kasih sayang (Dew et al., 2012).

Namun, dalam relasi modern yang semakin egaliter, praktik split bill memiliki makna berbeda. Bagi sebagian orang, ini mencerminkan kemitraan yang setara dan bisa mempererat hubungan. Bagi yang lain, justru dapat mengesankan adanya jarak emosional atau penghindaran tanggung jawab finansial, sehingga mengurangi kedekatan antar pasangan.

Dari perspektif psikologi hubungan, pembagian tagihan yang terlalu kaku bisa menjadi refleksi keengganan untuk membangun ketergantungan (dependency), namun di sisi lain dapat menimbulkan keraguan terhadap kedalaman hubungan (Darling & Burns. 2023). Ketika fokus terlalu tertuju pada aspek praktis, kesempatan untuk menunjukkan kasih sayang melalui tindakan simbolis bisa terlewatkan. Seperti yang diungkapkan Gottman (2018) dalam bukunya The Seven Principles for Making Marriage Work, kunci hubungan yang sehat adalah saling mendukung dan berbagi tanggung jawab, bahkan ketika peran tradisional masih menjadi acuan.

Split Bill dan Tantangan terhadap Mindset "Provider"

Dalam banyak hubungan masa kini, terutama di kalangan pasangan muda, terdapat ekspektasi untuk berbagi peran secara seimbang, baik dalam aspek finansial maupun emosional. Ini tentu menantang pola pikir tradisional di mana satu pihak—seringkali laki-laki—dianggap sebagai pemberi utama. Ketika kebiasaan membagi tagihan mulai diterapkan, sebagian individu mungkin merasa perannya tergerus, atau bahwa kontribusinya tidak lagi cukup dihargai.

Sebaliknya, beban sebagai provider juga dapat menimbulkan tekanan tersendiri. Tuntutan untuk selalu memenuhi kebutuhan finansial pasangan bisa menjadi sumber stres, dan jika pembagian tidak dilakukan secara terbuka dan adil, bisa menimbulkan ketidakpuasan dalam hubungan.

Kesimpulan: Inovasi atau Penghindaran?

Apakah split bill mencerminkan inovasi dalam hubungan modern, atau sekadar strategi untuk menghindari tanggung jawab, sangat bergantung pada konteks dan interpretasi masing-masing individu. Dalam relasi yang sehat, komunikasi terbuka mengenai ekspektasi, nilai, dan preferensi finansial menjadi pondasi penting. Baik dalam hubungan romantis, pertemanan, maupun kerja, kejelasan mengenai praktik berbagi biaya dapat mencegah kesalahpahaman dan memperkuat rasa saling menghormati.

Di tengah dunia yang terus berubah, cinta pun ikut berevolusi. Ia tak lagi hanya soal siapa yang memberi lebih banyak, tapi siapa yang mampu berjalan seiring, berbagi beban, dan tetap saling menggenggam tangan meski jalanan terjal. Split bill hanyalah salah satu langkah kecil dalam tarian besar bernama hubungan. Apakah itu langkah maju atau justru mundur? Itu tergantung pada bagaimana kita memahami irama, menghargai pasangan, dan memilih cara untuk tetap “Berdansa” bersama.

Referensi:

Berscheid, E. S., & Regan, P. C. (2016). The psychology of interpersonal relationships. Psychology Press.

Darling, N., & Burns, I. R. (2023). How does cross‐sectional sampling bias our understanding of adolescent romantic relationships?: An agent‐based simulation. Journal of Adolescence, 95(2), 296–310. https://doi.org/10.1002/jad.12114

Dew, J., Britt, S., & Huston, S. (2012). Examining the relationship between financial issues and divorce. Family Relations, 61(4), 615–628. https://doi.org/10.1111/j.1741-3729.2012.00715.x

Dian, R., & Khairunnisa, N. (2024, April 27). Apa itu split bill dan alasan tidak perlu mempermasalahkannya saat kencan pertama. Narasi Daily. https://narasi.tv/read/narasi-daily/apa-itu-split-bill

Gottman, J. (2018). The seven principles for making marriage work. Hachette UK.

Gutierrez, B. C., & Leaper, C. (2025). Ambivalent sexism linked to Mexican-heritage ethnic identity and gender messages from older relatives, familial peers, and nonfamilial peers. Journal of Latinx Psychology. Advance online publication. https://doi.org/10.1037/lat0000282

Nicholson, J. (2012, May 1). Who should ask and pay for a date? Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/us/blog/the-attraction-doctor/201205/who-should-ask-and-pay-for-a-date 

Olson, J. G., & Rick, S. I. (2022). “You spent how much?” Toward an understanding of how romantic partners respond to each other's financial decisions. Current Opinion in Psychology, 43, 70–74. https://doi.org/10.1016/j.copsyc.2021.06.006