ISSN 2477-1686  

 Vol. 11 No. 48 Desember 2025

 

Kekuatan Tradisi dalam Membangun

Resiliensi Keluarga di Era Modern

 

Oleh:

Fransisca Iriani R. Dewi, Fakultas Psikologi, Universitas Tarumanagara

Eko A. Meinarno, Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia

 

 

Keluarga Rini dan keluarga Maya tinggal di lingkungan yang sama, menghadapi tantangan serupa: pekerjaan yang menuntut, anak-anak yang sibuk dengan gawai, dan tekanan ekonomi yang tak menentu. Namun, ada satu perbedaan mencolok. Keluarga Rini masih memelihara tradisi makan malam bersama setiap akhir pekan, mengajak anak-anak berbagi cerita sambil menyantap masakan rumahan. Sementara itu, keluarga Maya hampir tak pernah duduk bersama karena kesibukan masing-masing. Ketika pandemi melanda, keluarga Rini tampak lebih solid: saling menyemangati, berbagi peran, dan menjaga semangat. Sebaliknya, Maya merasa kewalahan menghadapi perubahan, bahkan sering berselisih dengan anak-anaknya. Kisah ini mencerminkan bahwa di tengah derasnya arus modernisasi, tradisi keluarga bukan sekadar kebiasaan lama—ia bisa menjadi jangkar emosional yang memperkuat ketahanan keluarga dalam menghadapi badai kehidupan.

 

Resiliensi Keluarga dan Tradisi

Keluarga merupakan unit sosial utama yang memiliki peran penting dalam menghadapi tantangan hidup. Sebagai tempat pertama individu belajar nilai, norma, dan keterampilan sosial, keluarga menyediakan dukungan emosional, fisik, dan moral sebagai dasar membangun ketahanan individu (Meinarno, 2010; Widianto, 2010). Saat menghadapi kesulitan, keluarga saling menguatkan lewat kasih sayang, komunikasi, dan kerja sama. Selain itu, keluarga juga berperan dalam mendidik anggota untuk beradaptasi dengan perubahan global, membentuk karakter, dan memperkuat ikatan sosial (Markam, 2018).

Zaman modern membawa perubahan mencolok dalam hubungan antaranggota keluarga. Globalisasi ditengarai dapat mengancam identitas lokal dan nasional, sehingga memicu reaksi nasionalistik (Suryadinata, 2000). Terbukanya akses terhadap budaya global dan nilai-nilai individualisme mendorong pergeseran pola pikir, gaya hidup, dan relasi antargenerasi (Heryanto, 2015). Generasi muda sering kali lebih terbuka terhadap budaya luar, sementara generasi yang lebih tua cenderung mempertahankan nilai-nilai tradisional. Hal ini menimbulkan potensi konflik nilai, terutama dalam hal peran, tanggung jawab, dan prioritas dalam kehidupan keluarga (Suwanto & Pratiwi, 2024). Di sisi lain, kemajuan teknologi juga mengubah cara berkomunikasi dalam keluarga. Perubahan dari interaksi langsung menjadi komunikasi digital memperlemah ikatan emosional. Untuk menjaga keseimbangan maka diperlukan kehadiran fisik dan empati (Widianto, 2010).

Kondisi sosial ekonomi turut menambah beban keluarga masa kini. Tekanan ekonomi yang tinggi menuntut anggota keluarga untuk bekerja lebih keras dan lebih lama. Sebagai akibatnya, waktu kebersamaan dan komunikasi berkualitas berkurang. Dalam hal pengasuhan, orang tua juga menghadapi tantangan baru, seperti membimbing anak di era media sosial, menjaga batasan digital, dan melindungi mereka dari pengaruh negatif seperti perundungan daring atau kecanduan gawai (Kinanthi, 2020).

Dalam menghadapi tantangan-tantangan tersebut, keluarga memerlukan strategi adaptasi yang kuat. Salah satu pendekatan potensial namun sering terabaikan adalah peran tradisi. Tradisi mencakup nilai, kebiasaan, dan ritual yang diwariskan dari generasi ke generasi. Lebih dari sekadar simbol budaya, tradisi berfungsi sebagai jangkar identitas dan sumber stabilitas emosional di tengah perubahan zaman (Koentjaraningrat, 2009; Walsh, 2016).

Tulisan ini bertujuan untuk mengungkap bagaimana tradisi dapat berperan sebagai kekuatan utama dalam membangun resiliensi keluarga di tengah tantangan era modern. Tradisi menyediakan kerangka nilai yang konsisten dan bermakna, yang dapat memperkuat identitas keluarga dan mengarahkan respons adaptif terhadap krisis. Melalui kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan secara berulang, seperti makan bersama, merayakan hari besar, atau berkumpul dalam acara keluarga, tradisi menciptakan ruang untuk komunikasi, refleksi, dan kebersamaan.

Tradisi juga berfungsi sebagai sarana intergenerasional untuk menanamkan nilai-nilai seperti tanggung jawab, kesetiaan, dan solidaritas. Dalam konteks keluarga modern yang menghadapi disrupsi budaya, tradisi menjadi alat untuk menjaga kontinuitas nilai tanpa menolak perubahan. Artinya, keluarga dapat melakukan reinterpretasi terhadap tradisi agar tetap relevan, misalnya dengan menggabungkan kebiasaan lama dengan pendekatan baru yang lebih fleksibel dan inklusif (Hawley & DeHaan, 1996; Ungar, 2011).

 

Lebih jauh, tradisi mendukung pembangunan karakter dan ketahanan emosional anggota keluarga, terutama anak-anak. Keterlibatan dalam kegiatan keluarga yang bermakna dapat memberikan rasa memiliki, kejelasan peran, serta rasa aman—semuanya merupakan komponen penting dari resiliensi psikologis. Dalam masyarakat yang semakin kompetitif dan penuh tekanan, tradisi dapat menjadi buffer emosional yang mengurangi risiko stres kronis atau keterasingan sosial. Dengan demikian, memperkuat tradisi keluarga bukan berarti menolak modernitas, tetapi justru menjadi strategi aktif dalam membentuk keluarga adaptif dan kohesif. Keluarga dengan kemampuan menyeimbangkan nilai tradisional dan kebutuhan kontemporer memiliki peluang lebih besar menjadi resilien, saling mendukung, dan mampu bertahan menghadapi dinamika zaman.

 

Revitalisasi Budaya Keluarga

Resiliensi keluarga adalah kemampuan sebuah keluarga untuk bangkit dari berbagai kesulitan, mempertahankan keseimbangan di tengah tantangan, dan tetap menjaga keharmonisan antaranggota (Walsh, 2016). Konsep ini mencakup kapasitas keluarga untuk menghadapi tekanan hidup, seperti masalah ekonomi, konflik interpersonal, atau kehilangan anggota keluarga, tanpa kehilangan stabilitas atau makna dalam kehidupan bersama. Resiliensi keluarga bukanlah kondisi statis, melainkan proses dinamis yang melibatkan adaptasi, dukungan emosional, dan kerja sama antaranggota (Hawley & DeHaan, 1996; Walsh, 2016).

Kemampuan untuk bangkit dari kesulitan adalah inti dari resiliensi keluarga. Keluarga yang resilien mampu melihat masalah sebagai tantangan yang dapat diatasi bersama, bukan sebagai ancaman yang melemahkan (Hawley & DeHaan, 1996; Walsh, 2016). Proses ini sering kali melibatkan komunikasi yang terbuka, rasa saling percaya, dan pengambilan keputusan yang inklusif. Selain itu, kemampuan ini juga didukung oleh keterampilan coping, seperti mencari solusi secara kreatif dan belajar dari pengalaman masa lalu untuk menghadapi situasi sulit yang serupa.

Selain bangkit dari kesulitan, mempertahankan keseimbangan di tengah tantangan adalah ciri khas keluarga yang resilien. Keseimbangan ini melibatkan pengelolaan stres secara kolektif, seperti membagi peran dan tanggung jawab secara adil, serta menciptakan ruang untuk relaksasi dan kebersamaan. Keseimbangan juga mencakup kemampuan keluarga untuk tetap menjalankan fungsi-fungsi utama, seperti memberikan dukungan emosional, memenuhi kebutuhan sehari-hari, dan menjaga rutinitas, meskipun berada dalam situasi penuh tekanan (Hawley & DeHaan, 1996; Walsh, 2016).

 

Harmoni antaranggota keluarga menjadi elemen terakhir yang memperkuat resiliensi. (Hawley & DeHaan, 1996). Keharmonisan ini dibangun melalui hubungan yang hangat, saling menghormati, dan keberanian untuk menghadapi konflik secara konstruktif. Dalam keluarga yang harmonis, setiap anggota merasa didengar dan dihargai, sehingga mereka lebih termotivasi untuk mendukung satu sama lain. Harmoni juga diperkuat oleh tradisi keluarga, nilai-nilai bersama, dan kepercayaan yang mengikat anggota keluarga dalam menghadapi berbagai tantangan (Suwanto & Pratiwi, 2024).

Secara keseluruhan, resiliensi keluarga adalah pondasi yang memungkinkan keluarga untuk bertahan dan berkembang di tengah berbagai kesulitan. Dengan memperkuat kemampuan untuk bangkit, menjaga keseimbangan, dan membangun keharmonisan, keluarga dapat menjadi tempat perlindungan sekaligus sumber kekuatan bagi semua anggotanya (Ungar, 2011; Hawley & DeHaan, 1996).

Dalam menghadapi tantangan zaman modern (kehilangan pekerjaan, tekanan ekonomi, atau konflik antargenerasi) keluarga membutuhkan daya lenting atau resiliensi agar tetap bertahan dan berfungsi optimal. Resiliensi ini tidak hanya dibentuk oleh faktor psikologis atau ekonomi, tetapi juga ditopang oleh kekuatan nilai-nilai budaya yang diwariskan turun-temurun (Ungar, 2011).

Salah satu nilai budaya yang memperkuat resiliensi keluarga Indonesia adalah gotong royong. Dalam situasi sulit, keluarga besar dan tetangga kerap hadir memberi dukungan, baik secara moral maupun material. Tradisi ini menciptakan rasa tidak sendirian dalam menghadapi masalah. Solidaritas keluarga, seperti kebiasaan berkumpul, menjaga hubungan antarsaudara, dan berbagi tanggung jawab dalam pengasuhan anak, juga menjadi jangkar emosional yang memperkuat struktur keluarga (Geertz, 1976; Koentjaraningrat, 2009).

 

Nilai penghormatan kepada orang tua dan sesepuh tidak hanya menjaga harmoni keluarga, tetapi juga membuka ruang pembelajaran antargenerasi (Mulder, 2000). Namun, di era digital dan globalisasi, nilai-nilai ini mulai tergerus. Generasi muda yang tumbuh dalam budaya individualisme dan kecepatan sering kali memandang tradisi sebagai sesuatu yang usang. Hal ini menciptakan jarak emosional dan komunikasi tidak efektif antara generasi (Suwanto & Pratiwi, 2024; Widianto, 2010).

Banyak tradisi keluarga mulai ditinggalkan karena dianggap tidak relevan atau terlalu merepotkan. Misalnya, tradisi makan bersama, arisan keluarga, atau kegiatan spiritual bersama perlahan menghilang. Padahal, kegiatan-kegiatan ini adalah medium untuk memperkuat ikatan dan menyampaikan nilai hidup.

Untuk membangun kembali resiliensi keluarga, dibutuhkan penyesuaian tradisi dengan konteks modern (DeFrain & Asay, 2007).  Beberapa strategi yang bisa dilakukan adalah menghidupkan kembali tradisi dengan cara yang lebih fleksibel. Misalnya, mengadakan arisan keluarga secara online, membahas nilai budaya dalam diskusi antar generasi, dan memasukkan tradisi lokal ke dalam pembelajaran di rumah.

 

Penutup

Budaya memiliki peran penting sebagai sumber daya dalam membangun resiliensi keluarga. Nilai-nilai seperti gotong royong, solidaritas, dan penghormatan kepada orang tua menjadi fondasi kokoh dalam menghadapi tantangan ekonomi, sosial, dan emosional. Di tengah arus globalisasi, keluarga yang memegang nilai tradisional cenderung lebih tangguh dan adaptif.

Tradisi bukan hanya pengingat identitas, tetapi juga pedoman hidup di tengah tekanan dan perubahan sosial. Nilai kekuatan bersama, saling mendukung, dan keharmonisan tetap relevan untuk memperkuat daya tahan keluarga.

Oleh karena itu, melestarikan tradisi budaya menjadi langkah strategis dalam membangun ketahanan keluarga. Baik generasi tua maupun muda perlu terlibat aktif dalam meneruskan nilai-nilai ini agar keluarga tetap seimbang, harmonis, dan siap menghadapi tantangan masa depan.

Daftar Pustaka

DeFrain, J., & Asay, S. M. (2007). Strong families around the world. Marriage & Family Review, 41(1–2), 1–10. https://doi.org/10.1300/J002v41n01_01

Geertz, C. (1976). The religion of Java. University of Chicago Press.

Hawley, D. R., & DeHaan, L. (1996). Toward a definition of family resilience: Integrating life-span and family perspectives. Family Process, 35(3), 283–298. https://doi.org/10.1111/j.1545-5300.1996.00283.x

Heryanto, A. (2015). Identity and pleasure: The politics of Indonesian screen culture. NUS Press.

Kinanthi, MR. (2019). Keluarga yang Normal, yang Bagaimana? Buletin KPIN. https://buletin.k-pin.org/index.php/arsip-artikel/411-keluarga-yang-normal-yang-bagaimana.

Kinanthi, MR. (2020). Resiliensi Keluarga Bukan Hanya untuk Keluarga dengan Masalah Berat. Buletin KPIN. Vol.6 No. 01 Januari 2020. https://buletin.k-pin.org/index.php/arsip-artikel/519-resiliensi-keluarga-bukan-hanya-untuk-keluarga-dengan-masalah-berat.

Koentjaraningrat. (2009). Kebudayaan, mentalitas, dan pembangunan. Gramedia.

Markam, SS., Rahmawati, SW. (2018). Keluarga dan Pembentukan Karakter. Buletin KPIN. Vol.4. No.12, Juni 2018. https://buletin.k-pin.org/index.php/arsip-artikel/284-keluarga-dan-pembentukan-karakter.

Meinarno, EA. (2010). Konsep dasar keluarga. Dalam Keluarga Indonesia: Aspek dan dinamika zaman. Penyunting Karlinawati Silalahi dan Eko A Meinarno. Rajawali Pers. Depok.

Mulder, N. (2000). Inside Indonesian society: Cultural change in Java (2nd ed.). Kanisius.

Suryadinata, L. (2000). Nationalism and globalization: East and West. ISEAS Publishing.

Suwanto & Pratiwi. (2024). Modernisasi Keluarga Jawa: Apakah Nilai Harmonis Masih Relevan? Buletin KPIN.  Vol. 10 No. 22 November 2024. https://buletin.k-pin.org/index.php/arsip-artikel/1668-modernisasi-keluarga-jawa-apakah-nilai-harmonis-masih-relevan.

Ungar, M. (Ed.). (2011). The social ecology of resilience: A handbook of theory and practice. Springer. https://doi.org/10.1007/978-1-4614-0586-3

Walsh, F. (2016). Strengthening family resilience (3rd ed.). Guilford Press.

Widianto, B. (2010). Keluarga dan ekulturasi anak. Dalam Keluarga Indonesia: Aspek dan dinamika zaman. Penyunting Karlinawati Silalahi dan Eko A Meinarno. Rajawali Pers. Depok.

ISSN 2477-1686  

 Vol. 11 No. 48 Desember 2025

Doom Scrolling pada Mahasiswa Gen Z: Tantangan Global dari Perspektif Psikodiagnostik

Oleh:

Jane Ross1, Teguh Lesmana1 & Mutiara Mirah Yunita2

1 Fakultas Psikologi, Universitas Pelita Harapan

2 Program Studi Psikologi, Universitas Bunda Mulia

 

Pendahuluan

Generasi Z merupakan kelompok usia yang tumbuh bersama internet dan media sosial. Fenomena khas yang muncul adalah doom scrolling, yaitu kebiasaan menggulir media sosial tanpa henti meskipun informasi yang dikonsumsi sering kali negatif atau tidak relevan. Fenomena ini terjadi secara global, tidak terkecuali di Indonesia. Fenomena ini menjadi perhatian global karena berhubungan dengan meningkatnya kecemasan, gangguan tidur, hingga penurunan konsentrasi belajar.

Di Indonesia, kebiasaan scrolling media sosial menjadi salah satu aktivitas utama Gen Z saat mengisi waktu luang. Survei Jakpat (GoodStats, 2025) menunjukkan bahwa 63% responden Gen Z lebih memilih scrolling media sosial dibanding aktivitas lain seperti nonton film, olahraga, atau membaca buku. Laporan APJII (2023) juga menyebutkan 99% mahasiswa aktif menggunakan internet setiap hari, mayoritas untuk mengakses TikTok, Instagram, dan X. Hal ini menunjukkan bahwa doom scrolling bukan hanya tren global, melainkan juga masalah nyata di Indonesia yang perlu ditelaah dari perspektif psikodiagnostik.

Permasalahan Global dan di Indonesia

Secara global, penelitian dari American Psychological Association (2022) mengaitkan doom scrolling dengan meningkatnya kecemasan dan depresi pada mahasiswa. Studi Elhai et al. (2020) bahkan menemukan bahwa perilaku ini sering muncul bersama gejala problematic smartphone use yang mengarah pada adiksi digital.

Di Indonesia, mahasiswa sering melaporkan dampak serupa: sulit tidur, kesulitan fokus pada perkuliahan, hingga munculnya rasa bersalah karena waktu belajar terbuang untuk scrolling. Kondisi ini semakin menegaskan perlunya asesmen psikologis yang dapat mendeteksi gejala dini akibat doom scrolling.

Sudut Pandang Psikologi

Dari perspektif psikologi, fenomena doom scrolling dapat dianalisis melalui beberapa pendekatan:

1.    Psikologi Kognitif

Cognitive Load Theory menjelaskan bahwa kapasitas otak untuk memproses informasi terbatas (Sweller, 1988). Doom Scrolling memicu information overload, membuat perhatian mudah terpecah dan mengganggu efektivitas belajar mahasiswa.

2.    Psikologi Sosial

Social Comparison Theory menunjukkan bahwa individu cenderung membandingkan dirinya dengan orang lain (Festinger, 1954). Media sosial memperkuat kecenderungan ini, sehingga mahasiswa merasa cemas atau kurang percaya diri ketika melihat pencapaian orang lain.

3.    Psikologi Perkembangan

Masa remaja akhir dan dewasa muda merupakan periode pembentukan identitas. Penelitian menunjukkan bahwa paparan media sosial berlebihan dapat meningkatkan fear of missing out (FOMO) dan menurunkan kesejahteraan emosional (Baker et al., 2020).

4.    Psikologi Nusantara

Dalam budaya Indonesia yang kolektivistik, keterhubungan dengan komunitas adalah nilai utama. Kebutuhan belongingness dapat mendorong mahasiswa untuk terus terhubung melalui media sosial, yang pada akhirnya memperkuat perilaku doom scrolling. Namun, jika diarahkan pada komunitas positif, nilai kebersamaan ini bisa berfungsi sebagai pelindung (Tandon et al., 2024).

Relevansi dengan Agama

Dalam konteks budaya Indonesia yang kolektivistik, perilaku doom scrolling sering dipicu oleh kebutuhan untuk selalu “terhubung” dengan komunitas. Tekanan sosial ini dapat memperburuk kecemasan, tetapi juga dapat menjadi sumber kekuatan ketika mahasiswa memperoleh dukungan dari keluarga, kelompok belajar, maupun komunitas keagamaan. Dalam tradisi Kristen, terdapat penekanan pada pentingnya pengendalian diri (self-control), hidup yang seimbang, serta keterhubungan dengan komunitas iman. Nilai-nilai ini sejalan dengan teori psikologi tentang regulasi diri dan kesejahteraan psikologis. Dengan mengintegrasikan ajaran Kristen mengenai keseimbangan hidup dan dukungan komunitas gereja, mahasiswa Gen Z dapat diarahkan untuk mengurangi perilaku doom scrolling sekaligus membangun relasi sosial yang lebih sehat, baik secara digital maupun nyata.

 

Upaya Mengatasi

Beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mengatasi dampak doom scrolling pada mahasiswa adalah:

  1. Psikoedukasi mengenai risiko doom scrolling terhadap kesehatan mental
  2. Pelatihan regulasi diri, seperti teknik time blocking atau digital deto
  3. Konseling individual/kelompok, untuk membantu mahasiswa mengembangkan strategi menghadapi kecemasan.
  4. Pendekatan komunitas, memanfaatkan nilai kolektivisme Indonesia untuk menciptakan budaya digital yang lebih sehat.

Kesimpulan

Doom Scrolling adalah fenomena global yang sangat mempengaruhi Gen Z, terutama mahasiswa di Indonesia. Dengan perspektif psikologi kognitif, sosial, perkembangan, dan relevansi agama, perilaku ini dapat dipahami sebagai konsekuensi dari information overload, perbandingan sosial, pencarian identitas, serta kebutuhan keterhubungan. Jika nilai-nilai agama dan budaya Indonesia diintegrasikan, mahasiswa dapat membangun regulasi diri yang lebih kuat untuk menciptakan keseimbangan hidup.

 

Referensi

 

American Psychological Association. (2022, Agustus). Digital media and the rise of doomscrolling. https://www.apa.org/news/press/releases/2022/08/doomscrolling

APJII. (2023). Laporan survei internet APJII 2023. Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia. https://apjii.or.id

Elhai, J. D., Yang, H., McKay, D., & Asmundson, G. J. G. (2020). COVID-19 anxiety symptoms associated with problematic smartphone use severity in Chinese adults. Journal of Affective Disorders, 274, 576–582. https://doi.org/10.1016/j.jad.2020.05.080

Festinger, L. (1954). A theory of social comparison processes. Human Relations, 7(2), 117–140. https://doi.org/10.1177/001872675400700202

Sugiarti, U. (2025, September 2). Mayoritas generasi Z menghabiskan waktu luang dengan media sosial. GoodStats.

https://goodstats.id/article/mayoritas-generasi-z-menghabiskan-waktu-luang-dengan-media- sosial-KT9NM

Sweller, J. (1988). Cognitive load during problem solving: Effects on learning. Cognitive Science, 12(2), 257–285. https://doi.org/10.1207/s15516709cog1202_4

Tandon, A., Dhir, A., Talwar, S., Kaur, P., & Mäntymäki, M. (2024). Dark consequences of social media-induced fear of missing out (FoMO): Conceptualization, scale development, and nomological validation. Computers in Human Behavior, 146, 107751. https://doi.org/10.1016/j.chb.2023.107751