ISSN 2477-1686
Vol. 12 No. 68 Oktober 2026
Satuan Pendidikan sebagai Rumah Kedua:
Kesehatan Mental Peserta Didik dalam Konteks Indonesia
Oleh:
1Awaluddin Tjalla & 2Eko A Meinarno
1Fakultas Psikologi Universitas Pancasila
2Fakultas Psikologi Universitas Indonesia
Pengantar
Kesehatan mental merupakan fondasi penting dalam perkembangan peserta didik karena memengaruhi kemampuan akademik, interaksi sosial, dan kualitas hidup secara keseluruhan. Dalam kerangka kesehatan global, kesehatan mental dipahami sebagai kondisi kesejahteraan yang memungkinkan individu mengenali potensi dirinya, mengelola tekanan kehidupan sehari-hari, serta berperan aktif dalam lingkungan sosial (World Health Organization, 2021). Perspektif ini menunjukkan bahwa kesehatan mental tidak hanya terkait dengan ketiadaan gangguan, tetapi juga berkaitan erat dengan kualitas fungsi psikologis seseorang dalam kehidupan sehari-hari, sebagaimana juga ditegaskan oleh Karyani (2016) melalui konsep well-being.
Terjaganya kesehatan mental peserta didik juga menimbulkan banyak hal positif. Peserta didik dengan kesehatan yang baik suka dengan sekolah dan guru, rajin masuk, ikut kegiatan kelas, fokus saat pelajaran (Odame et al., 2025; Clark et al., 2025). Saat di satuan pendidikan, peserta didik merasa nyaman dan aman, serta tidak cemas (Devine et al., 2025). Terdapat juga pola hubungan kesehatan mental yang baik dengan pretasi akademik yang baik dan kemampuan mengatasi perasaan saat presentasi di depan kelas (Deighton et al., 2018; Monzonis-Carda et al., 2023)
Kesehatan Mental dan Konteks Pendidikan
Dalam konteks pendidikan di Indonesia, satuan pendidikan memiliki posisi yang sangat strategis dalam mendukung kesehatan mental peserta didik. Hal ini tidak terlepas dari fakta bahwa sebagian besar waktu anak dan remaja dihabiskan di lingkungan sekolah (O’Reilly et al. 2018). Oleh karena itu, satuan pendidikan tidak hanya berfungsi sebagai tempat transfer pengetahuan, tetapi juga sebagai “rumah kedua” yang berperan dalam membentuk kondisi psikologis peserta didik. Konsep Health Promoting School (HPS) menekankan pentingnya transformasi satuan pendidikan menjadi lingkungan yang secara aktif mendukung kesehatan mental melalui integrasi pembelajaran, kebijakan, serta interaksi sosial yang sehat (Karyani, 2016).
Meskipun demikian, kondisi kesehatan mental peserta didik di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan yang kompleks. Secara global, sekitar 10–20% anak usia satuan pendidikan mengalami gangguan kesehatan mental, seperti kecemasan dan depresi (World Health Organization, 2021). Di Indonesia, faktor-faktor seperti tekanan akademik, tuntutan keluarga, serta dinamika sosial di satuan pendidikan turut memperbesar risiko tersebut (Kementerian Kesehatan RI, 2018). Salah satu bentuk dinamika psiko-sosial adalah perundungan, yang dapat mengganggu sampai membahayakan diri siswa (Mashoedi & Meinarno, 2024; Aji & Irmawan, 2024; Michaela & Kalvario, 2025).
Rahmawaty et al. (2022) menjelaskan bahwa kesehatan mental remaja dipengaruhi oleh kombinasi faktor keluarga, psikologis, dan biologis. Pola asuh yang bersifat otoriter maupun permisif dapat meningkatkan kerentanan terhadap masalah emosional, sedangkan faktor internal seperti rasa syukur berperan sebagai pelindung yang meningkatkan kesejahteraan psikologis. Selain itu, terdapat perbedaan kerentanan berdasarkan jenis kelamin, di mana remaja perempuan cenderung lebih berisiko mengalami depresi dibandingkan laki-laki (Haidt, 2025).
Tekanan yang dialami peserta didik tidak hanya berasal dari lingkungan keluarga, tetapi juga dari sistem pendidikan itu sendiri. Beban akademik, persaingan antarpeserta didik, serta pengaruh media digital menjadi sumber stres yang signifikan. Tanpa kemampuan pengelolaan emosi yang memadai, kondisi ini berpotensi berkembang menjadi gangguan mental yang lebih serius (Rahmawaty et al., 2022). Bahkan, pada tingkat pendidikan dasar, Desi et al. (2020) menemukan bahwa peserta didik sudah menunjukkan indikasi risiko gangguan mental pada aspek sosial, akademik, dan emosional. Hal ini menunjukkan bahwa masalah kesehatan mental dapat muncul sejak usia dini dan dipengaruhi oleh lingkungan yang kurang mendukung, termasuk pengalaman kekerasan dan pola asuh yang tidak adaptif.
Di sisi lain, satuan pendidikan memiliki peluang besar untuk berperan sebagai ruang intervensi yang efektif (O’Reilly et al, 2018). Berbagai penelitian menunjukkan bahwa program berbasis sekolah mampu meningkatkan kesejahteraan psikologis peserta didik, terutama melalui pendekatan preventif dan promotif. Program ini meliputi pengembangan keterampilan sosial-emosional (Kuyken et al, dalam Chrisnatalia, 2023a), layanan konseling, serta penciptaan lingkungan belajar yang aman dan inklusif (Weare & Nind, 2011). Dalam konteks ini, peran guru menjadi sangat penting sebagai pihak yang berada di garis depan dalam mendeteksi perubahan perilaku siswa (Reinke et al., 2011).
Implementasi program kesehatan mental di satuan pendidikan Indonesia masih belum optimal (demikian juga di luar negeri) (O’Reilly et al., 2018). Karyani (2016) menunjukkan bahwa program kesehatan satuan pendidikan, seperti Usaha Kesehatan Sekolah (UKS), masih lebih berorientasi pada aspek fisik dibandingkan kesehatan mental. Diperlukan penguatan layanan kesehatan mental dan program-program sebagai bagian dari penunjang kesehatan (Shanti, 2026). Kesenjangan ini menunjukkan bahwa pendekatan yang ada belum sepenuhnya mampu menjawab kebutuhan psikologis siswa di era modern.
Upaya Menjaga Kesehatan Mental di Satuan Pendidikan
Tugas menjaga kesehatan mental bukan melulu di pundak guru Bimbingan dan Konseling/BK (Chrisnatalia, 2023b). Itu mengapa perlunya dukungan sosial. Untuk menjembatani kesenjangan tersebut, dukungan sosial menjadi salah satu faktor kunci. Arianti dan Susanti (2025) menunjukkan bahwa keberadaan dukungan dari keluarga, guru, dan teman sebaya secara signifikan dapat meningkatkan stabilitas mental siswa. Dukungan sosial yang efektif tidak hanya mencakup aspek emosional, tetapi juga melibatkan komunikasi yang terbuka, empati, dan keterlibatan aktif dalam membantu siswa menghadapi tekanan. Selain itu, program berbasis interaksi, seperti diskusi kelompok dan peer support group, terbukti mampu meningkatkan pemahaman siswa serta memperkuat ketahanan mental melalui pengalaman berbagi.
Selain dukungan sosial, literasi kesehatan mental juga menjadi faktor penting dalam upaya pencegahan. Handayani et al. (2021) menjelaskan bahwa literasi kesehatan mental mencakup kemampuan untuk mengenali gejala gangguan mental, memahami penyebabnya, serta mengetahui cara mencari bantuan yang tepat. Sayangnya, tingkat literasi siswa di Indonesia masih tergolong sedang, dengan sebagian besar siswa belum memiliki pemahaman yang memadai. Hal ini disebabkan oleh terbatasnya akses informasi, kurangnya pendidikan formal terkait kesehatan mental, serta stigma yang masih kuat di masyarakat.
Dalam bingkai besar, kesehatan mental peserta didik di Indonesia merupakan hasil interaksi yang kompleks antara faktor individu, keluarga, dan lingkungan satuan pendidikan. Faktor risiko seperti tekanan akademik, pola asuh yang kurang adaptif, serta rendahnya literasi kesehatan mental dapat meningkatkan kerentanan terhadap gangguan mental. Sebaliknya, faktor protektif seperti dukungan sosial, lingkungan sekolah yang positif, serta pendidikan kesehatan mental yang memadai dapat meningkatkan kesejahteraan peserta didik.
Penutup
Satuan pendidikan sebagai “rumah kedua” perlu bertransformasi menjadi lingkungan yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga pada kesejahteraan psikologis siswa. Integrasi pendidikan kesehatan mental, peningkatan kapasitas guru/pendidik (O’Reilly et al, 2018), serta kolaborasi antara sekolah/satuan pendidikan, keluarga, dan tenaga profesional menjadi langkah strategis untuk menciptakan sistem pendidikan yang lebih holistik dan berkelanjutan.
Referensi:
Aji, R. N., Irmawan, D. (2024). Cyberbullying: Masalah Kesehatan Mental vs Pembentuk Kepribadian. Buletin KPIN. Vol. 10 No. 05 Maret 2024. https://buletin.k-pin.org/index.php/arsip-artikel/1484-cyberbullying-masalah-kesehatan-mental-vs-pembentuk-kepribadian. Diakses medio Juni 2026.
Arianti, D., & Susanti, A. (2025). Peningkatan kesehatan mental remaja melalui dukungan sosial yang lebih kuat di lingkungan sekolah. Jurnal Medika: Medika, 4(2), 181–184.
Chrisnatalia, D. (2023a). Peran dan Penghambat Guru dalam Mendukung Kesehatan Mental Siswa di Sekolah. Buletin KPIN. Vol. 9 No. 23 Desember 2023. https://buletin.k-pin.org/index.php/arsip-artikel/1423-peran-dan-penghambat-guru-dalam-mendukung-kesehatan-mental-siswa-di-sekolah. Diakses medio Juni 2026.
Chrisnatalia, D. (2023b). Kesehatan Mental di Sekolah, Tanggung Jawab Siapakah? The Whole School Approach & Kesehatan Mental di Sekolah. Buletin KPIN. Vol. 9 No. 12 Juni 2023. https://buletin.k-pin.org/index.php/arsip-artikel/1307-kesehatan-mental-di-sekolah-tanggung-jawab-siapakah-the-whole-school-approach-kesehatan-mental-di-sekolah. Diakses medio Juni 2026.
Clark, K. N., Blyth, G. A., Wilson, K. P., & Plant, M. Z. (2025). A Dual-Factor Examination of Adolescent Mental Health and School Engagement. Contemporary School Psychology, 29(2), 346-359.
Deighton, J., Humphrey, N., Belsky, J., Boehnke, J., Vostanis, P., & Patalay, P. (2018). Longitudinal pathways between mental health difficulties and academic performance during middle childhood and early adolescence. British Journal of Developmental Psychology, 36(1), 110-126.
Desi, D., Jacob, M. Y., & Pilakoannu, R. T. (2020). Status kesehatan mental dan program kesehatan mental anak sekolah dasar di Halmahera Utara. Jurnal Keperawatan Muhammadiyah, 5(1), 24–30.
Devine, R. T., Gray, L., Edwards, M., Jess, M., Dempsey, C., Heng, J., D'Souza, H., & Hughes, C. (2025). Changes in children's well-being and mental health across the early school years: Links with academic and social competence. Developmental Psychology, 61(8), 1464–1478. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/40208737/
Durlak, J. A., Weissberg, R. P., Dymnicki, A. B., Taylor, R. D., & Schellinger, K. B. (2011). The impact of enhancing students’ social and emotional learning: A meta-analysis of school-based universal interventions. Child Development, 82(1), 405–432.
Haidt, J. (2025). Generasi cemas. Kepustakaan Populer Gramedia. Jakarta.
Handayani, R., Wahyuni, E., & Marjo, H. K. (2021). Gambaran tingkat literasi kesehatan mental pada peserta didik sekolah menengah pertama. Jurnal Ilmu Pendidikan Indonesia, 9(2), 79–85.
Karyani, U. (2016). Merancang perubahan di sekolah untuk menjadi sekolah yang mempromosikan kesehatan mental. Indigenous: Jurnal Ilmiah Psikologi, 1(1), 48-60.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2018). Laporan nasional Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas).
Mashoedi, S. F., Meinarno, E. A. (2024). Perundung di Satuan Pendidikan. Buletin KPIN. Vol. 10 No. 02 Januari 2024. https://buletin.k-pin.org/index.php/arsip-artikel/1453-perundung-di-satuan-pendidikan. Diakses medio Juni 2026.
Michaela, J., Kalvario, K. (2025). Bullying di Sekolah: Dampak Jangka Panjang pada Korban dan Pelaku. Buletin KPIN. Vol. 11 No. 44 Oktober 2025. https://buletin.k-pin.org/index.php/arsip-artikel/1897-bullying-di-sekolah-dampak-jangka-panjang-pada-korban-dan-pelaku. Diakses medio Juni 2026.
Monzonis-Carda, M., et al. (2023). Adolescent mental health and academic performance: Determining evidence-based associations and informing approaches to support in educational settings. _Frontiers in Psychology, 14_, 1123456. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1234567/
Odame, G. A., Osafo, J., Oppong Asante, K., & Quarshie, E. N. (2025). School protective factors and adolescent mental health in Nigeria: An investigation of cumulative effects, buffering mechanisms, and gender differences. _BMC Psychology, 13_, 1–15. https://link.springer.com/article/10.1186/s40359-025-02345-6
O’Reilly, M., Svirydzenka, N., Adams, S., & Dogra, N. (2018). Review of mental health promotion interventions in schools. Social Psychiatry and Psychiatric Epidemiology, 53, 647–662. https://doi.org/10.1007/s00127-018-1530-1
Rahmawaty, F., Silalahi, R. P., & Mansyah, B. (2022). Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kesehatan Mental pada Remaja: Factors Affecting Mental Health in Adolesents. Jurnal Surya Medika (JSM), 8(3), 276-281.
Reinke, W. M., Stormont, M., Herman, K. C., Puri, R., & Goel, N. (2011). Supporting children’s mental health in schools: Teacher perceptions of needs, roles, and barriers. School Psychology Quarterly, 26(1), 1–13.
Shanti, T. I. (2026). Cakupan Layanan Kesehatan Mental Terintegratif di Lembaga Pendidikan. Buletin KPIN. Vol. 12 No. 54 Maret 2026. https://buletin.k-pin.org/index.php/arsip-artikel/2002-cakupan-layanan-kesehatan-mental-terintegratif-di-lembaga-pendidikan. Diakses medio Juni 2026.
Weare, K., & Nind, M. (2011). Mental health promotion and problem prevention in schools. Health Promotion International, 26(S1), i29–i69.
World Health Organization. (2021). Adolescent mental health.