ISSN 2477-1686

 

Vol. 9 No. 23 Desember 2023

 

Peran dan Penghambat Guru dalam Mendukung

Kesehatan Mental Siswa di Sekolah

 

Oleh:

Desy Chrisnatalia

Fakultas Psikologi, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya

 

Kesehatan mental adalah adalah kondisi sejahtera dimana individu menyadari potensi dirinya, mampu mengatasi tekanan hidup yang normal, bekerja secara produktif dan menjadi bermanfaat serta mampu berkontribusi terhadap komunitasnya (World Health Organization [WHO], 2013). Anak yang mengalami masalah dalam kesehatan mental sangat bergantung pada inisiatif orang tua untuk membawa mereka ke praktisi kesehatan mental, demi  mendapatkan intervensi yang tepat. Namun, orangtua sering kali enggan mencari bantuan karena stigma yang terkait dengan masalah kesehatan mental. Adanya layanan kesehatan mental dalam konteks yang akrab, seperti sekolah, membuat intervensi atau bantuan  lebih dapat diterima (Weist,1999).

 

Kesehatan mental sekolah dilihat sebagai suatu intervensi dan layanan psikososial yang dirancang khusus untuk mendukung pembelajaran bagi siswa dengan tantangan sosial, emosional, dan belajar (Franklin, et al., 2012). Seluruh staf di sekolah memiliki potensi untuk berperan dalam membangun kesehatan mental di sekolah. Guru memiliki peran yang besar dalam membangun kesehatan mental di sekolah karena guru adalah figur yang paling sering berinteraksi dengan siswa (Manjari & Srivastava, 2020). Salah satu peran besar guru adalah mendeteksi adanya masalah kesehatan mental pada siswanya (O’Farrell, Wilson, & Shiel, 2023; Nikolaou & Markogiannakis, 2017). Ketika masalah kesehatan mental pada siswa tidak terdeteksi, maka siswa akan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan intervensi yang tepat. Help seeking behavior (perilaku mencari bantuan) pada anak sering kali diprakarsai oleh guru dan inisiasi ini tergantung sejauh mana guru dapat mengenali masalah kesehatan mental anak  (Burke, Koot, de Wilde, Begeer, 2016).

 

Peran utama  lainnya dari guru di sekolah adalah melakukan promosi kesehatan mental.   Salah satu pendekatan promosi kesehatan mental pada siswa yang cenderung efektif adalah social-emotional learning (SEL) (Kuyken, et al., 2023). SEL didefinisikan sebagai proses dimana anak-anak, remaja dan orang dewasa berkesempatan memperoleh dan menerapkan pengetahuan, keterampilan dan sikap untuk mengembangkan identitas yang sehat, mengelola emosi dan mencapai tujuan pribadi dan kolektif, merasakan dan berempati dengan orang lain, membangun dan memelihara. hubungan yang mendukung, dan membuat keputusan yang bertanggung jawab (Mahoney, et al., 2021). Guru dapat mengajarkan SEL dalam pembelajaran di kelas dan sekaligus juga menjadi role model yang kompeten secara sosial dan emosi. Pembelajaran menggunakan pendekatan SEL diharapkan dapat meningkatkan keterampilan siswa dalam sosial-emosi. Siswa yang memiliki keterampilan sosial-emosi yang baik cenderung memiliki penyesuaian diri dan prestasi akademik yang lebih baik di masa depan dan cenderung tidak mudah merasa stres (Greenberg, et.al., 2003).

 

Salah satu hambatan besar yang dialami oleh guru untuk menjalankan perannya dalam mempromosikan kesehatan mental di sekolah adalah kurangnya pelatihan yang bertujuan mengembangkan kapasitas guru dalam kesehatan mental sekolah. Pelatihan tersebut mencakup pemahaman tentang masalah kesehatan mental pada siswa, cara mendeteksi dan menanganinya (Andrews, McCabe, Wideman-Johnsto,  2014; Shelemy et al., 2019). Adanya kebutuhan untuk mendapatkan pelatihan kesehatan mental tersebut, tentu saja menuntut sekolah untuk menyusun perencanaan anggaran khusus yang ditujukan  untuk program kesehatan mental  di sekolah. Sayangnya, akibat dana yang terbatas, tidak banyak sekolah yang mau menyisipkan anggaran kesehatan mental sekolah dalam anggaran keuangan sekolah (Reinke, et al., 2011).

 

Hambatan lainnya yang seringkali dihadapi guru dalam kesehatan mental  sekolah adalah adanya role conflict. Beberapa guru melihat bahwa tugas atau peran mereka hanya sebatas dalam bidang akademis atau mengajar (Shelemy et al., 2019). Beberapa guru melihat tuntutan untuk berperan dalam kesehatan mental dapat menghambat mereka dalam menyelesaikan tugas akademis atau mengajar yang menurut guru adalah tugas utama pada saat melamar bekerja di sekolah. Hasil penelitian Shelemy et al. (2019), menunjukkan bahwa beberapa guru berharap peran mereka dalam kesehatan mental sekolah sebatas kegiatan yang sifatnya preventif bukan kuratif.

 

Pentingnya peran guru dalam membangun kesehatan mental siswa di sekolah perlu menjadi perhatian besar bagi sekolah. Berbagai hambatan yang dihadapi oleh guru dalam menjalankan perannya tersebut perlu diatasi secara komprehensif oleh pihak sekolah dengan memperhatikan hal-hal yang dibutuhkan guru untuk dapat terlibat aktif dalam kesehatan mental sekolah.

 

Referensi:

 

Andrews, A., McCabe, M. and Wideman-Johnston, T. (2014), "Mental health issues in the schools: are educators prepared?". The Journal of Mental Health Training, Education and Practice, 9(4), 261-272. https://doi.org/10.1108/JMHTEP-11-2013-0034

Burke, D. A., Koot, H. M., de Wilde, A., & Begeer, S. (2016). Influence of Child Factors on Health-Care Professionals' Recognition of Common Childhood Mental-Health Problems. Journal of child and family studies25(10), 3083–3096. https://doi.org/10.1007/s10826-016-0475-9

Franklin, Cynthia & Kim, Johnny & Ryan, Tiffany & Kelly, Michael & Montgomery, Katherine. (2012). Teacher involvement in school mental health interventions. A systematic review. Children and Youth Services Review. 34. 973-982. https://doi.org/10.1016/j.childyouth.2012.01.027.

Greenberg, M. T., Weissberg, R. P., O'Brien, M. U., Zins, J. E., Fredericks, L., Resnik, H., & Elias, M. J. (2003). Enhancing school-based prevention and youth development through coordinated social, emotional, and academic learning. The American psychologist, 58(6-7), 466–474. https://doi.org/10.1037/0003-066x.58.6-7.466

Kuyken, W., Blakemore, S. J., Byford, S., Dalgleish, T., Ford, T., Hinze, V., Mansfield, K., Montero-Marin, J., Ukoumunne, O. C., & Viner, R. M. (2023). Mental health in adolescence: the role of schools-based social emotional teaching. Journal of mental health (Abingdon, England), 32(3), 537–540. https://doi.org/10.1080/09638237.2023.2210668

Mahoney, J. L., Weissberg, R. P., Greenberg, M. T., Dusenbury, L., Jagers, R. J., Niemi, K., Schlinger, M., Schlund, J., Shriver, T. P., VanAusdal, K., & Yoder, N. (2021). Systemic social and emotional learning: Promoting educational success for all preschool to high school students. The American psychologist, 76(7), 1128–1142. https://doi.org/10.1037/amp0000701

Manjari, A., & Srivastava, A. (2020). Teachers and schools as change agents in improving mental health among adolescents. International Journal of Indian Psychology, 8(1), 737-748. https://doi.org/10.25215/0801.092

Nikolaou, E & Markogiannaki, G. (2017). The Role of Teacher in Primary School Students. Mental Health Promotion. Global Journal of Human-Social Science, 17(A5), 13–20.

O'Farrell, P., Wilson, C.E., & Shiel, G. (2022). Teachers' perceptions of the barriers to assessment of mental health in schools with implications for educational policy: A systematic review. The British Journal of Educational Psychology, 93, 262 - 282. https://doi.org/10.1111/bjep.12553

Reinke, W.M., Stormont, M., Herman, K.C., Puri, R. and Goel, N. (2011), Supporting children’s mental health in schools: teacher perceptions of needs, roles, and barriers.  School Psychology Quarterly, 26(1), 1-13. https://doi.org/10.1037/a0022714

Shelemy, Lucas., Harvey., Kate., & Waite, Polly. (2019) Supporting students’ mental health in schools: what do teachers want and need?. Emotional and Behavioural Difficulties, 24(1), 100-116, https://doi.org/ 10.1080/13632752.2019.1582742

Weist, M. D. (1999). Challenges and opportunities in expanded school mental health. Clinical psychology review, 19(2), 131-135. https://doi.org/10.1016/s0272-7358(98)00068-3

World Health Organization. (2013). Mental health action plan 2013-2020. https://apps.who.int/iris/handle/10665/89966