ISSN 2477-1686
Vol. 12 No. 59 Juni 2026
Motivasi Belajar Gen Z: Antara Dukungan dan Ekspektasi Orang Tua
Oleh:
Nurhalijah Munthe
Fakultas Psikologi,Universitas Sumatera Utara
Motivasi belajar menjadi salah satu hal penting yang memengaruhi keberhasilan akademik anak, terutama pada generasi Z yang tumbuh di tengah perkembangan teknologi dan perubahan sosial yang terus terjadi. Generasi ini tidak hanya menghadapi tuntutan akademik, tetapi juga tekanan sosial dan ekonomi yang semakin kompleks. Karena itu, motivasi belajar anak Gen Z tidak bisa dilihat hanya dari faktor diri sendiri, tetapi juga dari lingkungan di sekitarnya, terutama keluarga.
motivasi belajar sering dijelaskan melalui Self-Determination Theory (SDT) yang dikemukakan oleh Ryan & Deci, (2018) Teori ini menekankan bahwa individu memiliki tiga kebutuhan dasar psikologis, yaitu otonomi, kompetensi, dan keterhubungan (relatedness). Ketika kebutuhan ini terpenuhi, individu cenderung memiliki motivasi yang lebih kuat dalam belajar. motivasi belajar yang berasal dari dua yaitu dari dalam diri (intrinsik) yang artinya dorongn dari anak sendiri sedangkan motivasi dari luar (ekstrinsik) dorongan dari luar bisa dari teman, guru dan orang tua (Grajcevci & Shala, 2017).
Menurut Zimmer-Gembeck et al., (2023) dan (Sari & Daulay, 2024) menunjukkan bahwa pentingnya dukungan orang tua terhadap motivasi anak. Dukungan orang tua disini banyak bentuknya bisa berupa dukungan emosional, materi atau moral. Hal ini sejalan dengan Penelitian oleh (Luecken et al., 2016) menunjukkan bahwa anak dukungan emosional berupa kehangatan dan penerimaan dari orang tua cenderung memiliki tingkat stress rendah pada proses belajar. Menurut Grajcevci dan Shala (2017), pemberian reward dapat meningkatkan rasa semangat, gembira dan bahagia untuk belajar. Selain itu, Sentuhan fisik yang hangat diketahui dapat meningkatkan hormon oksitosin yang berperan dalam menciptakan perasaan nyaman dan mengurangi kecemasan (Field, 2010). Dalam konteks belajar, kondisi emosional yang stabil ini membantu anak lebih fokus dan terbuka terhadap proses pembelajaran. Dukungan ini membantu anak merasa dihargai dan mampu, sehingga meningkatkan rasa percaya diri dalam menghadapi tantangan akademik.
Namun, dalam proses belajar terkadang orang tua memiliki ekspektasi yang terlalu tinggi. Banyak orang tua memiliki harapan besar terhadap prestasi anak sebagai bentuk konpenasasi dari pememuhan kebutuhan yang telah orang tua penuhi kepada anak dalam proses belajar, serta investasi masa depan. Sayangnya, ketika ekspektasi ini disampaikan secara berlebihan atau disertai tuntutan yang kaku, anak dapat mengalami kecemasan, takut gagal, bahkan kehilangan kepercayaan diri anak dan merasa terbebani. Hal ini sebenarnya wajar, karena orang tua ingin anaknya memiliki masa depan yang lebih baik dan bisa mereka banggakan .
Namun, jika ekspektasi terlalu menekan, anak dapat kehilangan rasa kontrol atas dirinya, sehingga belajar hanya karena tuntutan, bukan keinginan sendiri. Dalam praktiknya, ekspektasi orang tua yang awalnya dimaksudkan sebagai dorongan berubah menjadi tekanan. Anak mungkin tetap mencapai hasil yang diharapkan, tetapi prosesnya tidak lagi sehat secara psikologis. Mereka bisa merasa lelah, tertekan, dan tidak menikmati proses belajar.
Dengan demikian, ekspektasi orang tua memiliki dua sisi. Ekspektasi dapat menjadi dorongan yang positif jika disertai dukungan emosional dan cara penyampaian yang tepat. Namun, ekspektasi juga dapat menjadi beban jika terlalu tinggi dan disampaikan secara kaku. Oleh karena itu, yang perlu diperhatikan bukan hanya seberapa besar harapan orang tua, tetapi juga bagaimana harapan tersebut dikomunikasikan.
Referensi
Field, T. (2010). Touch for socioemotional and physical well-being: A review. Developmental Review, 30(4), 367–383. https://doi.org/https://doi.org/10.1016/j.dr.2011.01.001
Grajcevci, A., & Shala, A. (2017). Exploring the Link between Achievement Goals, Motivation, and Parental Expectations among University Students in Kosovo. CEPS Journal, 7(4), 147–164.
Luecken, L. J., Hagan, M. J., Wolchik, S. A., Sandler, I. N., & Tein, J.-Y. (2016). A Longitudinal Study of the Effects of Child-Reported Maternal Warmth on Cortisol Stress Response 15 Years After Parental Divorce. Psychosomatic Medicine, 78(2), 163–170. https://doi.org/10.1097/PSY.0000000000000251
Ryan, R. M., & Deci, E. L. (2018). Self-Determination Theory: Basic Psychological Needs in Motivation, Development, and Wellness. Guilford Publications.
Sari, I. M., & Daulay, A. A. (2024). Studi Kasus Analisis Dukungan Orang Tua dalam Memotivasi Belajar Anak. Psyche 165 Journal, 17(3), 261–267. https://doi.org/10.35134/jpsy165.v17i3.432
Zimmer-Gembeck, M. J., Skinner, E. A., Scott, R. A., Ryan, K. M., Hawes, T., Gardner, A. A., & Duffy, A. L. (2023). Parental Support and Adolescents’ Coping with Academic Stressors: A Longitudinal Study of Parents’ Influence Beyond Academic Pressure and Achievement. Journal of Youth and Adolescence, 52(12), 2464–2479. https://doi.org/10.1007/s10964-023-01864-w
