ISSN 2477-1686  

 Vol. 12 No. 59 Juni 2026

Helicopter Parenting dan Kemandirian Dewasa Muda di Indonesia: Dukungan atau Hambatan Perkembangan?

Oleh

M. Zaidane Prayoga

Fakultas Psikologi, Universitas Sumatera Utara

 

Fenomena keterlibatan orang tua yang sangat intens dalam kehidupan anak hingga usia dewasa semakin terlihat dalam masyarakat Indonesia, khususnya di wilayah urban. Orang tua tidak hanya berperan sebagai pemberi dukungan emosional dan finansial, tetapi juga terlibat dalam pengambilan keputusan akademik, relasi sosial, hingga pilihan karir anak yang telah memasuki usia 18–25 tahun. Pola asuh ini dikenal sebagai helicopter parenting, yaitu gaya pengasuhan yang ditandai dengan pengawasan ketat, kontrol tinggi, dan kecenderungan mengambil alih tanggung jawab anak. Dalam konteks Indonesia yang menjunjung tinggi nilai kekeluargaan dan kolektivisme, pola ini sering dianggap sebagai bentuk kasih sayang. Namun dari sudut pandang psikologi perkembangan, pertanyaan yang muncul adalah apakah perlindungan berlebihan ini mendukung atau justru menghambat kemandirian dewasa muda.

Secara konseptual, helicopter parenting merujuk pada keterlibatan orang tua yang melampaui kebutuhan perkembangan anak, terutama ketika anak sudah berada pada tahap dewasa awal. Studi terkini menunjukkan bahwa pola asuh ini berkaitan dengan rendahnya kemampuan regulasi diri, peningkatan kecemasan, serta ketergantungan yang lebih tinggi pada figur otoritas (Hong & Cui, 2020; Love et al., 2020). Dalam lima tahun terakhir, penelitian semakin menyoroti dampaknya terhadap emerging adulthood, yaitu fase transisi antara remaja dan dewasa penuh yang ditandai dengan eksplorasi identitas, pilihan karir, serta pembentukan komitmen relasional.

Jika dianalisis menggunakan Self-Determination Theory (SDT), perkembangan psikologis yang sehat memerlukan terpenuhinya tiga kebutuhan dasar: autonomy, competence, dan relatedness. Otonomi merujuk pada kemampuan individu untuk merasa memiliki kendali atas pilihan hidupnya. Kompetensi berkaitan dengan keyakinan akan kemampuan diri, sedangkan keterhubungan menyangkut relasi sosial yang suportif. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa helicopter parenting cenderung menghambat pemenuhan kebutuhan otonomi dan kompetensi karena orang tua terlalu sering mengintervensi keputusan anak (Darlow et al., 2021; Cui et al., 2022). Ketika individu tidak diberi ruang untuk belajar dari kegagalan atau mengambil risiko secara adaptif, perkembangan rasa percaya diri dan problem solving dapat terhambat.

Dalam konteks global, studi oleh Rousseau dan Scharf (2021) menemukan bahwa mahasiswa yang melaporkan tingkat helicopter parenting tinggi menunjukkan skor lebih rendah pada career adaptability dan decision-making autonomy. Penelitian lain pada populasi Asia menunjukkan bahwa kontrol orang tua yang tinggi berkorelasi dengan peningkatan gejala kecemasan dan depresi pada dewasa muda, meskipun dimediasi oleh faktor budaya (Leung & Shek, 2020). Artinya, walaupun dalam budaya kolektivistik kontrol orang tua dapat dipersepsi sebagai bentuk perhatian, kebutuhan psikologis dasar individu tetap berperan penting dalam menentukan kesejahteraan.

Di Indonesia, dinamika ini menjadi semakin relevan mengingat tingginya angka pengangguran usia muda dan ketidakpastian transisi pendidikan ke dunia kerja. Dewasa muda dituntut untuk mandiri, adaptif, dan mampu mengambil keputusan strategis. Namun, jika sejak awal ruang otonomi dibatasi, individu mungkin mengalami kebingungan identitas dan ketergantungan berkepanjangan. Beberapa penelitian nasional dalam lima tahun terakhir menunjukkan adanya hubungan negatif antara kontrol orang tua yang tinggi dan kemandirian mahasiswa dalam aspek pengambilan keputusan serta kesiapan karir (Putri & Suryani, 2021; Rahmawati et al., 2023).

Dari perspektif perkembangan, fase dewasa muda merupakan periode penting untuk membangun identitas yang stabil dan rasa kompetensi personal. Intervensi yang terlalu dominan dapat menghambat proses eksplorasi tersebut. Namun demikian, penting untuk membedakan antara keterlibatan yang suportif dan kontrol yang mengekang. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa autonomy-supportive parenting—yakni keterlibatan yang tetap memberikan ruang pilihan—berkorelasi positif dengan kesejahteraan psikologis dan kemandirian (Cheung & Pomerantz, 2022). Dengan demikian, kualitas interaksi menjadi faktor kunci, bukan sekadar intensitas keterlibatan.

Secara teoritis, hubungan antara helicopter parenting dan kemandirian dapat dijelaskan melalui mekanisme mediasi kebutuhan otonomi. Ketika kebutuhan ini tidak terpenuhi, individu cenderung mengalami keraguan diri, kesulitan mengambil keputusan, dan ketergantungan emosional. Sebaliknya, ketika orang tua memberikan dukungan tanpa mengambil alih kontrol, dewasa muda lebih mampu mengembangkan identitas yang matang dan kesiapan menghadapi tantangan sosial. Dalam konteks Indonesia, pendekatan ini relevan untuk mengharmoniskan nilai kolektivisme dengan kebutuhan perkembangan individu.

Berdasarkan telaah literatur lima tahun terakhir (2020–2025) dari database Scopus, Web of Science, dan Google Scholar, mayoritas penelitian menggunakan desain kuantitatif korelasional dengan populasi mahasiswa usia 18–25 tahun. Hasilnya relatif konsisten menunjukkan bahwa helicopter parenting berhubungan negatif dengan autonomy, self-efficacy, career adaptability, dan psychological well-being. Namun, studi longitudinal dan intervensi berbasis keluarga masih terbatas, terutama di Indonesia. Padahal, pendekatan semacam ini penting untuk memahami hubungan sebab-akibat serta dinamika jangka panjang.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa helicopter parenting berpotensi menjadi hambatan perkembangan kemandirian dewasa muda apabila keterlibatan orang tua bersifat controlling dan tidak memberi ruang otonomi. Dalam konteks Indonesia, fenomena ini perlu dipahami secara sensitif terhadap budaya, namun tetap berlandaskan teori psikologi perkembangan. Dukungan keluarga tetap merupakan faktor protektif yang penting, tetapi harus diseimbangkan dengan pemberian tanggung jawab dan kesempatan belajar mandiri. Ke depan, penelitian empiris di Indonesia perlu memperluas desain longitudinal serta mempertimbangkan variabel moderator seperti gender, status sosial ekonomi, dan nilai budaya keluarga agar pemahaman terhadap fenomena ini semakin komprehensif.

 

Daftar Pustaka:

Cheung, C. S., & Pomerantz, E. M. (2022). Parents’ involvement in children’s learning and autonomy support: A meta-analytic review. Psychological Bulletin, 148(5–6), 427–458. https://doi.org/10.1037/bul0000362

Cui, L., Darling, C. A., Coccia, C., & Fincham, F. D. (2022). Helicopter parenting and emerging adults’ adjustment: The mediating role of autonomy. Journal of Adult Development, 29(2), 123–135. https://doi.org/10.1007/s10804-021-09385-7

Darlow, V., Norvilitis, J. M., & Schuetze, P. (2021). The relationship between helicopter parenting and adjustment to college. Journal of Child and Family Studies, 30, 191–202. https://doi.org/10.1007/s10826-020-01860-5

Hong, X., & Cui, L. (2020). Helicopter parenting and college students’ psychological maladjustment: The role of self-control and self-efficacy. Journal of Child and Family Studies, 29, 332–343. https://doi.org/10.1007/s10826-019-01529-6

Leung, J. T. Y., & Shek, D. T. L. (2020). Parental control and adolescent well-being in Asian contexts. International Journal of Environmental Research and Public Health, 17(21), 7841. https://doi.org/10.3390/ijerph17217841 

Love, H., May, R., & Cui, M. (2020). Helicopter parenting, self-regulation, and emerging adult adjustment. Emerging Adulthood, 8(3), 217–229. https://doi.org/10.1177/2167696818755635

Putri, A. R., & Suryani, A. (2021). Peran kontrol orang tua terhadap kemandirian mahasiswa. Jurnal Psikologi Indonesia, 10(2), 115–126. https://doi.org/10.7454/jpi.v10i2.1023

Rahmawati, D., Hidayat, R., & Lestari, S. (2023). Parental overinvolvement and career readiness among Indonesian university students. Jurnal Psikologi Ulayat, 10(1), 45–59. https://doi.org/10.24854/jpu.v10i1.3456

Rousseau, S., & Scharf, M. (2021). Helicopter parenting and career indecision in emerging adulthood. Journal of Vocational Behavior, 126, 103547. https://doi.org/10.1016/j.jvb.2021.103547