ISSN 2477-1686
Vol. 12 No. 58 Mei 2026
Gen Z: Overthinking atau Lagi Cari Jati Diri?
Oleh
Meri Anggraini
Fakultas Psikologi, Universitas Sumatera Utara
Fenomena yang banyak dialami oleh Gen z saat ini adalah pergulatan dengan pikiran mereka sendiri. Mereka sering memikirkan sesuatu secara berulang-ulang dan berlebihan, atau yang dikenal dengan istilah Overthinking. Banyak hal yang dipikirkan secara bersamaan, seperti karier, rasa insecure saat melihat media sosial, hingga ketakutan akan kegagalan. Tumpukan kekhawatiran inilah yang kemudian membuat mereka merasa lelah secara mental. Namun, pertanyaannya: apakah kondisi ini benar-benar Overthinking, atau justru bagian dari proses alami dalam mencari jati diri?.
Rafi dan Satria (2024) mendefenisikan overthinking adalah kebiasaan untuk memikirkan sesuatu secara berlebihan yang bersifat negatif yang mana hal ini akan berdampak buruk bagi kesehatan mental dan fisik, serta mengganggu hubungan sosial dan produktivitas seseorang, salah satu kelompok yang rentan mengalami rasa overthinking adalah Gen Z, karena mereka tumbuh di tengah perkembangan teknologi dan media sosial yang tidak sehat.
Overthinking akan memberikan dampak negatif kepada yang mengalaminya seperti terganggunya kinerja otak, Insomnia atau kesulitan untuk tidur, fungsi jantung yang terganggu karena akan mengganggu kardiovaskular, dan bisa juga menyebabkan emosi yang tidak bisa dikontrol akibat kesulitan melepaskan diri dari pikiran tersebut, sehingga sulit untuk mengendalikan emosi (Heriyani, 2025). Media sosial juga menjadi salah satu pemicu munculnya tekanan secara psikologis. Di era digital seperti sekarang, Gen Z hidup dengan koneksi yang hampir tidak pernah terputus, sehingga mereka lebih mudah mengalami fenomena fear of missing out (FOMO), melakukan perbandingan sosial, dan terpengaruh oleh gambaran kesuksesan dalam sekejap yang sering ditampilkan di media sosial ( Leofaragusta K,K et al., 2025).
Melihat teman sebaya yang tampak “lebih sukses” di Instagram atau media sosial lainnya sering kali menimbulkan perasaan tidak cukup baik, minder, bahkan merasa tidak layak. Tekanan ini tidak hanya memengaruhi cara mereka memandang diri sendiri, tetapi juga dapat memperparah kecemasan saat menghadapi dunia kerja yang penuh ketidakpastian (Hatidah et al., 2025; Irawan et al., 2024). Data empiris di Indonesia menunjukkan bahwa persoalan ini bukan sekadar asumsi. Health Collaborative Center melaporkan bahwa 46,2% masyarakat Indonesia mengaku mengalami overthinking, dengan angka yang lebih tinggi pada perempuan muda (Ray et al., 2024). Selain itu, Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) menemukan bahwa satu dari tiga remaja Indonesia menghadapi permasalahan kesehatan mental, dengan gangguan kecemasan sebagai kondisi yang paling sering ditemukan (Pusat Kedokteran Tropis UGM, 2022). Angka tersebut menunjukkan bahwa beban psikologis pada kelompok usia muda cukup signifikan.
Overthinking dapat dianalisis dari sudut pandang psikologi dengan menggunakan teori yang dikemukakan oleh Erik Erikson dengan teori perkembangan psikososial yang menjelaskan bahwa kehidupan manusia berlangsung melalui delapan tahap perkembangan, yang mana setiap tahap perkembangan memiliki tantangan psikologis yang harus diselesaikan individu untuk mencapai perkembangan yang sehat. Gen z saat ini berada pada rentang usia sekitar 14–29 tahun. Jika dilihat dari teori perkembangan psikososial yang dikemukakan oleh Erik Erikson, usia tersebut berada di dua tahap perkembangan yang berbeda, yang mana usia 12–18 tahun termasuk dalam kategori remaja pada tahap mencari identitas (Identity) vs kebingungan peran (role confusion).
Pada fase ini, overthinking dapat muncul ketika seseorang sedang berada pada fase kebingungan peran, yaitu masa di mana ia berusaha menemukan dan memahami jati dirinya. Pada tahap ini, banyak pertanyaan tentang masa depan, pilihan hidup, nilai pribadi, dan peran di masyarakat muncul secara bersamaan. Pikiran yang terus berulang sebenarnya menunjukkan bahwa individu sedang mencoba mengenali siapa dirinya dan arah hidup yang ingin diambil. Hal tersebut merupakan bagian alami dari proses perkembangan. Namun, jika proses ini tidak disertai dukungan dari lingkungan sekitar dan kemampuan mengelola emosi dengan baik, pikiran yang berlebihan bisa berubah menjadi kecemasan. Ketika kecemasan semakin kuat, individu justru dapat kesulitan membangun identitas diri yang stabil dan sehat. Tidak heran jika pada usia ini banyak muncul kebingungan, rasa ragu, atau pertanyaan tentang masa depan, karena mereka memang sedang membentuk jati diri ( Kamilla, et al, 2022).
Sementara itu pada usia 18–40 tahun berada pada fase dewasa awal mereka memiliki tahap keintiman vs isolasi. Di fase ini, seseorang mulai belajar membangun hubungan yang lebih dalam dan bermakna, baik dalam persahabatan maupun percintaan. Tantangannya adalah bagaimana bisa membuka diri dan menjalin komitmen tanpa kehilangan identitas pribadi (Kamilla, et al, 2022). Karena Gen Z mencakup dua tahap perkembangan ini, wajar jika dinamika yang mereka alami cukup kompleks. Sebagian masih fokus mencari jati diri, sementara sebagian lainnya mulai memikirkan hubungan serius dan masa depan. Dari sudut pandang teori Erikson, kondisi tersebut bukan sesuatu yang aneh, melainkan bagian alami dari proses menuju kedewasaan.
Kesimpulan
Fenomena overthinking pada Gen Z tidak dapat dipandang secara hitam-putih sebagai kelemahan mental semata. Dari sudut pandang psikologi perkembangan, khususnya teori Erik Erikson, fase kehidupan yang sedang mereka jalani memang sarat dengan pertanyaan tentang identitas, arah hidup, relasi, dan masa depan. Pergulatan pikiran yang berulang sering kali menjadi bagian alami dari proses pencarian jati diri, terutama pada tahap identity vs role confusion dan intimacy vs isolation. Artinya, sebagian dari apa yang disebut overthinking sebenarnya merupakan upaya individu untuk memahami dirinya dan menemukan makna dalam hidupnya.
Namun demikian, ketika tekanan sosial, paparan media digital, serta tuntutan pencapaian tidak diimbangi dengan dukungan emosional dan kemampuan regulasi diri yang baik, proses reflektif tersebut dapat berubah menjadi kecemasan berlebihan. Data statistik tentang tingginya angka masalah kesehatan mental pada remaja Indonesia menunjukkan bahwa batas antara refleksi yang sehat dan overthinking yang merugikan bisa menjadi sangat tipis.
Oleh karena itu, tantangan utama bukanlah menghilangkan proses berpikir mendalam pada Gen Z, melainkan membantu mereka mengelolanya secara adaptif. Dukungan keluarga, lingkungan sosial yang sehat, serta literasi kesehatan mental menjadi kunci agar fase pencarian jati diri tidak berkembang menjadi beban psikologis. Dengan demikian, overthinking pada Gen Z dapat dipahami bukan hanya sebagai gejala kerentanan, tetapi juga sebagai cerminan proses menuju kedewasaan yang sedang berlangsung.
Daftar Pustaka
Leofaragusta, K. K., Meirani, W., & Purwanto, M. B. (2025). Writing A Video Script To Promote Balaputra Dewa Museum As A Cultural Tourism Attraction In Palembang. Jurnal Bahasa dan Pendidikan, 5 (2), 12–23. https://doi.org/10.56910/pustaka.v5i2.1924
Hatidah, H., Indriani, R. A. F., Marsinah, M., & Purwanto, M. B. (2025). Etnografi Festival Kuliner Lokal. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Perbankan Syariah (JIMPA), 5 (1). https://doi.org/10.36908/jimpa.v5i1.503
Heriyani, E., et al. (2025). Dampak Overthinking Di Kalangan Mahasiswa. Jurnal Fokus Konseling, 11(2), 212–222.
Irawan, D., Marisya, F., Hatidah, H., & Purwanto, M. (2024). Changing Principal Leadership In The Age Of Digitalization. Jurnal Pendidikan Bahasa, 11 (1). https://doi.org/10.36232/jurnalpendidikanbahasa.v11i1.6033
Kamilla, K. K., et al. (2022). Teori Perkembangan Psikososial Erik Erikson. Early Childhood Journal, 3 (2), 77–8. http://jurnal.fkip.unmul.ac.id/index.php/ecj
Pusat Kedokteran Tropis UGM. (2022). Hasil Survei I-NAMHS Satu Dari Tiga Remaja Indonesia Memiliki Masalah Kesehatan Mental. Universitas Gadjah Mada. https://ugm.ac.id/id/berita/23086-hasil-survei-i-namhs-satu-dari-tiga-remaja-indonesia-memiliki-masalah-kesehatan-mental/
Rafi, M. R., & Satria, V. E. P. (2024). Menyikapi Perasaan Insecure Dan Overthinking Dalam Perspektif Al-Qur’an. Journal of Islamic Studies, 3 (1), 14–28. http://journal-ikadi.com/ojs/index.php/alwasathiyah/article/view/100
Ray, R., et al. (2024). Studi Temukan Separuh Orang Indonesia Overthinking, Kebanyakan Perempuan Muda. Health Collaborative Center. https://healthcollaborativecenter.or.id/studi-temukan-separuh-orang-indonesia-Overthinking-kebanyakan-perempuan-muda/
Seemiller, C., & Grace, M. (2016). Generation Z goes to college. Jossey-Bass.
