ISSN 2477-1686
Vol. 12 No. 58 Mei 2026
Jika Mesin Bisa Menghitung Lebih Cepat dan Menulis Lebih Rapi,
Lalu Apa Yang Tersisa Bagi Manusia?
Oleh:
Petra P. Sianturi
Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara
Kemajuan Artificial Intelligence (AI) telah memicu kekaguman sekaligus kecemasan. Mesin kini mampu menulis esai, menganalisis data, membuat desain visual, bahkan menjawab pertanyaan kompleks dalam hitungan detik. Banyak pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan waktu berjam-jam kini dapat diselesaikan oleh teknologi dalam waktu singkat. Situasi ini memunculkan pertanyaan yang semakin sering terdengar, “apakah manusia perlahan menjadi kurang diperlukan? “. Kekhawatiran ini tidak sepenuhnya keliru, tetapi juga tidak sepenuhnya tepat. Yang sebenarnya berubah bukanlah kebutuhan akan manusia, melainkan kebutuhan akan jenis kemampuan manusia tertentu. Teknologi tidak menggantikan manusia secara utuh, melainkan menggantikan tugas-tugas yang bersifat rutin, terstruktur, dan dapat diprediksi.
Laporan dari World Economic Forum (2023) menunjukkan bahwa hampir setengah dari keterampilan kerja akan mengalami perubahan signifikan dalam beberapa tahun ke depan. Artinya, banyak kemampuan lama akan menjadi kurang relevan, sementara kemampuan baru menjadi semakin penting. Namun, kemampuan yang meningkat nilainya bukanlah sekadar keterampilan teknis, melainkan kemampuan yang bersifat manusiawi, seperti berpikir kritis, kreativitas, kemampuan beradaptasi, dan kecerdasan emosional. Hal ini sejalan dengan temuan McKinsey & Company (2021) yang menekankan bahwa keterampilan sosial, kepemimpinan, dan kemampuan memahami konteks manusia menjadi faktor pembeda utama di era kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Contoh konkret dapat dilihat dalam dunia kerja modern. Saat ini, AI dapat membantu bagian rekrutmen untuk menyaring ribuan CV dalam waktu singkat. Namun, keputusan akhir tetap membutuhkan manusia, karena memilih kandidat bukan hanya soal data, tetapi juga soal potensi, motivasi, kecocokan nilai, dan pertimbangan etis. Demikian pula dalam dunia pendidikan, AI dapat membantu menjelaskan materi pelajaran, tetapi tidak dapat sepenuhnya menggantikan peran guru dalam memahami kondisi emosional siswa, memberikan motivasi, atau membangun kepercayaan diri mereka. Seorang siswa mungkin memahami materi dari teknologi, tetapi sering kali mereka berkembang karena merasa dipahami oleh manusia. Hal ini menunjukkan bahwa teknologi dapat mendukung proses kerja dan pembelajaran, tetapi tidak sepenuhnya menggantikan aspek manusiawi yang bersifat psikologis dan relasional (Brynjolfsson & McAfee, 2014).
Hal ini menunjukkan bahwa ada aspek mendasar yang tidak dimiliki oleh teknologi, yaitu kesadaran, pengalaman subjektif, dan kemampuan memberi makna. AI dapat memproses informasi, tetapi tidak benar-benar memahami arti dari pengalaman manusia. AI tidak pernah merasakan kegagalan, ketakutan, harapan, atau perjuangan. Kemampuan manusia untuk memahami pengalaman tersebut memungkinkan mereka mengambil keputusan yang lebih bijak dalam situasi yang kompleks dan tidak pasti. Inilah yang membuat manusia tetap relevan, bukan karena manusia lebih cepat atau lebih akurat daripada mesin, tetapi karena manusia mampu memahami konteks kehidupan secara lebih utuh.
Dalam psikologi organisasi, kapasitas internal yang memungkinkan individu bertahan dan berkembang dalam situasi perubahan dikenal sebagai Psychological Capital atau PsyCap, konsep yang diperkenalkan oleh Luthans, Youssef, dan Avolio (2007). PsyCap terdiri dari empat komponen utama, yaitu harapan (hope), keyakinan diri (efficacy), ketahanan (resilience), dan optimisme (optimism). Individu dengan PsyCap yang tinggi tidak hanya mampu menghadapi tantangan, tetapi juga mampu melihat peluang di tengah perubahan (Luthans, Youssef-Morgan, & Avolio, 2015). Misalnya, ketika teknologi baru mengubah cara kerja, individu dengan keyakinan diri akan berusaha mempelajari keterampilan baru, individu dengan harapan akan tetap memiliki tujuan yang jelas, individu dengan ketahanan mampu bangkit dari kegagalan, dan individu dengan optimisme percaya bahwa usaha mereka dapat membawa hasil yang lebih baik. Kapasitas psikologis ini tidak dapat diprogram atau diotomatisasi, karena terbentuk melalui pengalaman, refleksi, dan proses perkembangan manusia itu sendiri. Dengan demikian, di tengah perkembangan teknologi yang pesat, kekuatan utama manusia bukan hanya terletak pada apa yang mereka ketahui, tetapi pada kapasitas psikologis yang memungkinkan mereka untuk terus berkembang.
Dalam konteks ini, pendidikan seharusnya tidak lagi hanya berfokus pada transfer pengetahuan, tetapi pada pengembangan kapasitas manusia. Pengetahuan kini dapat diakses dengan mudah melalui teknologi. Namun, kemampuan untuk berpikir kritis, mengevaluasi informasi, dan menggunakan pengetahuan secara bijak tetap membutuhkan proses pembelajaran yang mendalam. UNESCO (2021) menekankan bahwa pendidikan masa depan harus membantu individu belajar bagaimana berpikir, bukan hanya apa yang harus dipikirkan. Pendidikan juga harus membantu individu mengembangkan karakter, integritas, dan kemampuan beradaptasi.
Investasi karakter menjadi semakin penting dalam situasi ini. Karakter mencakup kemampuan untuk bertanggung jawab, berempati, beradaptasi, dan bertahan dalam ketidakpastian. Kemampuan ini tidak dapat diotomatisasi karena tidak berasal dari algoritma, melainkan dari pengalaman hidup dan refleksi pribadi. Misalnya, seorang pemimpin yang efektif bukan hanya seseorang yang mampu menganalisis data, tetapi seseorang yang mampu memahami timnya, mengambil keputusan sulit, dan tetap bertindak dengan integritas. Teknologi dapat memberikan informasi, tetapi tidak dapat menggantikan kebijaksanaan.
Ironisnya, semakin canggih teknologi, semakin penting kualitas manusia yang paling mendasar. Dunia tidak lagi membutuhkan manusia yang hanya mengikuti instruksi, karena mesin dapat melakukan itu dengan lebih efisien. Dunia membutuhkan manusia yang mampu berpikir mandiri, memahami makna, dan menciptakan arah. Teknologi akan terus berkembang, tetapi teknologi tetap merupakan alat. Manusia tetap menjadi pihak yang menentukan bagaimana alat tersebut digunakan dan untuk tujuan apa.
Pada akhirnya, masa depan bukanlah tentang persaingan antara manusia dan teknologi, melainkan tentang bagaimana manusia mengembangkan kemampuan yang tidak dapat digantikan oleh teknologi. Kemampuan tersebut bukan sekadar keterampilan teknis, tetapi karakter, cara berpikir, dan kemampuan memahami kehidupan secara mendalam. Dalam dunia yang semakin otomatis, justru kualitas manusia yang paling manusiawi menjadi aset yang paling berharga. Dengan demikian, investasi terpenting yang dapat dilakukan individu maupun institusi pendidikan bukan hanya pada pengetahuan, tetapi pada pengembangan karakter dan kapasitas manusia yang memungkinkan mereka tetap relevan, adaptif, dan bermakna di tengah perubahan yang tidak terhindarkan.
Daftar Pustaka
Brynjolfsson, & McAfee. (2014). The second machine age: Work, progress, and prosperity in a time of brilliant technologies. W. W. Norton & Company.
Luthans, Morgan., & Avolio,. (2007). Psychological capital: Developing the human competitive edge. Oxford University Press.
Luthans, Morgan, & Avolio, (2015). Psychological capital and beyond. Oxford University Press.
McKinsey & Company. (2021). Defining the skills citizens will need in the future world of work. McKinsey Global Institute.
UNESCO. (2021). Reimagining our futures together: A new social contract for education. UNESCO Publishing.
World Economic Forum. (2023). The future of jobs report 2023. World Economic Forum.
