ISSN 2477-1686
Vol. 12 No. 58 Mei 2026
Menyikapi Bencana Secara Proaktif Emosional
Oleh:
March Denny Karyadi & Arie Rihardini Sundari
Fakultas Psikologi Universitas Persada Indonesia YAI Jakarta
Pengantar
Pembahasan bencana lebih banyak difokuskan pada aspek fisik seperti kerusakan infrastruktur, korban jiwa, dan kerugian ekonomi. Sementara, dimensi psikologis sangat krusial untuk ditelaah lebih lanjut. Alasannya karena dampak dari bencana memengaruhi cara individu berpikir, merasakan, dan merespons ancaman terhadap keselamatan penyintas. Sebagaimana disampaikan oleh Sundari dan Meinarno (2026), yang memperkenalkan topik psikologi bencana agar dapat diakses oleh pembaca dari berbagai latar belakang. Diperlukan langkah lanjutan, secara proaktif, agar tercipta keandalan dalam organisasi relawan, agar dapat meningkatkan motivasi intrinsik, terintegrasi dan teridentifikasi (Parker dkk., 2010).
Membangun Langkah Proaktif Relawan
Terkait pembahasan tentang persepsi risiko. Respons manusia terhadap bencana tidak hanya ditentukan oleh tingkat bahaya objektif, melainkan oleh bagaimana individu memersepsikan ancaman tersebut (Sundari & Meinarno, 2026). Konsep ini selaras dengan penelitian klasik Slovic (1987), yang menunjukkan bahwa penilaian risiko bersifat subjektif dan dipengaruhi oleh faktor emosional, pengalaman pribadi, serta informasi dari lingkungan sosial. Hal ini menjelaskan mengapa masyarakat di wilayah rawan bencana tidak selalu menunjukkan kesiapsiagaan tinggi meski sudah tahu risikonya.
Bencana berdampak secara signifikan terhadap kesehatan mental penyintas. Sebagaimana studi Norris dkk (2002), yang menganalisis puluhan ribu korban bencana di berbagai negara dan menemukan peningkatan risiko gangguan seperti stres pasca trauma (post-traumatic stress disorder), depresi, dan kecemasan baik segera setelah kejadian maupun dalam jangka panjang, tergantung dukungan sosial yang tersedia. Pandangan ini sejalan dengan literatur psikologi bencana yang menekankan respons emosional seperti rasa takut, kehilangan, dan ketidakpastian sebagai bagian integral dari pengalaman bencana (Gant & Gant, 2012). Kejelian dan sikap proaktif relawan dibutuhkan agar dapat menyentuh dan berperan akurat dalam mendampingi penyintas. Yakni, memperkenalkan konsep kendali proaktif dalam regulasi emosi (Martins-Klein dkk., 2020), dikenal juga sebagai regulasi emosi proaktif. Emosi proaktif berarti mempersiapkan diri secara emosional dan mental untuk menghadapi situasi yang krisis. Diharapkan penyintas dapat bersikap tetap tenang karena sudah memprediksi tantangan. Dalam edukasi bencana, sangat penting untuk mempertimbangkan intervensi yang melibatkan regulasi emosi proaktif. Sehingga, penyintas dapat tetap fokus dan tenang akan kondisi yang dihadapi pasca bencana, agar emosi negatif tidak muncul secara berlebihan.
Sejumlah intervensi psikologis bagi penyintas personal, sejatinya bertujuan untuk pemulihan psikologis masyarakat secara menyeluruh dan berkelanjutan. Dibutuhkan pemanfaatan intervensi Psychological First Aid (WHO, 2011), yang terpadu agar terbangun resiliensi komunitas. Penelitian Bonanno dkk (2010) menunjukkan bahwa banyak individu mampu beradaptasi dan pulih pasca-trauma, terutama dengan dukungan sosial kuat dari keluarga dan komunitas. Intervensi psikologis berbasis regulasi emosi proaktif, diantaranya CBT (Cognitive Behavioral Therapy) yang bertujuan untuk merestrukturisasi kognisi penyintas (Leiva-Bianchi dkk., 2018; Arsih dkk., 2022; Maulida & Fitriyani, 2023; Manik dkk., 2025; Turyadi dkk., 2026), atau praktik mindfulness yakni ACT (Acceptance and Commitment Therapy) yang berfokus pada penerimaan emosi yang complicated tanpa menghakimi diri sendiri dan tetap berkomitmen pada nilai yang telah diyakini sebelum terjadinya bencana (Elita dkk., 2017; Karatepe, 2018; Salawali dkk., 2020).
Kesimpulan
Di tengah kemelut yang dihadapi bangsa Indonesia yang hampir setiap tahun dihadapkan pada banjir Jakarta, gempa mendadak, atau erupsi gunung, tulisan seperti ini menjadi pengingat penting bahwa kesiapsiagaan bukan hanya soal evakuasi dan logistik, melainkan juga soal menjaga kewarasan dan harapan masyarakat. Harapannya dengan menanam benih pemikiran yang holistik dan terus dikembangkan, dapat mengubah cara kita sebagai individu, komunitas, bahkan negara menghadapi krisis. Kami membayangkan, jika perspektif psikologi bencana ini semakin sering dibahas di forum-forum seperti Buletin K-PIN, webinar, atau bahkan kurikulum sekolah, maka suatu hari nanti respons kita terhadap bencana tidak lagi hanya reaktif, tapi juga proaktif secara emosional. Itu akan menjadi langkah besar menuju masyarakat yang lebih tangguh, bukan hanya secara fisik, tapi juga secara batin. Terima kasih telah memulai percakapan ini dengan cara yang begitu hangat dan mudah didekati, semoga tulisan ini menjadi salah satu batu loncatan bagi lebih banyak suara di bidang psikologi bencana Indonesia.
Referensi
Arsih, S., Netrawati., & Karneli, Y., (2022). Pendekatan Cognitive Behavioral Therapy Untuk Mereduksi Trauma Korban Bencana Alam. PIJAR: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran, Vol.1, No 1 Desember 2022, pp. 119-125, E-ISSN: 2964-7460, DOI: 10.58540/pijar.v1i1.135
Bonanno, G. A., Brewin, C. R., Kaniasty, K., & La Greca, A. M. (2010). Weighing the costs of disaster: Consequences, risks, and resilience in individuals and communities. Psychological Science in the Public Interest, 11(1), 1–49.
Elita, Y., Sholihah, Y., Sahiel, S. (2017). Acceptance and Commitment Therapy (ACT) Bagi Penderita Gangguan Stress Pasca Bencana. Jurnal Konseling dan Pendidikan, Volume 5 Nomor 2, 2017, Hlm 97-101, ISSN Cetak: 2337-6740 - ISSN Online: 2337-6880 DOI: https://doi.org/10.29210/117800
Gant, L., & Gant, J. (2012). Disaster Psychology. Springer.
Karatepe, H. T. (2018). Solution zone intertwined with the problem: Narrative nature of trauma. Psychiatry and Clinical Psychopharmacology, 28(Supplement 1), 355–356. Retrieved from https://www.tandfonline.com/doi/pdf/10.1080/24750573.2018.1464274 http://ovidsp.ovid.com/ovidweb.cgi?T=JS&PAGE=reference&D=emed19&NEWS=N&AN=639265322
Leiva-Bianchi, M., Cornejo, F., Fresno, A., Rojas, C., & Serrano, C. (2018). Effectiveness of cognitive-behavioural therapy for post-disaster distress in post-traumatic stress symptoms after Chilean earthquake and tsunami. Investigacion para la salud en Latinoamerica, pages 203-318 (May-June 2018), DOI: 10.1016/j.gaceta.2017.07.018
Martins-Klein, B., Alves, L. A., & Chiew, K. S. (2020). Proactive versus reactive emotion regulation: A dual-mechanisms perspective. Emotion (Washington, D.C.), 20(1), 87–92. https://doi.org/10.1037/emo0000664
Manik, H. E. Y., Silaban, J., & Silaban, V. F. (2025). Implementation Trauma Healing Through Cognitive Behavioral Therapy to Overcome Anxiety in Women of Reproductive Age After Landslide Disasters. Indonesian Journal of Global Health Research, 8(1), 187–194. https://doi.org/10.37287/ijghr.v8i1.51
Maulidia, D., & Fitriyani, N. (2023). Mereduksi Trauma Akibat Bencana Gempa Bumi Menggunakan Pendekatan Cognitive Behavioral Therapy. Jagratara: Journal of Disaster Research, 1(1), 2023, 33-38, DOI:10.36080/jjdr.v1i1.110
Norris, F. H., Friedman, M. J., Watson, P. J., Byrne, C. M., et al. (2002). 60,000 disaster victims speak: Part I. An empirical review of the literature. Psychiatry, 65(3), 207–239.
Parker, S. K., Bindl, U. K., & Strauss, K. (2010). Making things happen: A model of proactive motivation. Journal of Management, 36(4), 827–856. https://doi.org/10.1177/0149206310363732
Salawali, S. H., Susanti, H., Daulima, N. H. C., & Putri, A. F. (2020). Posttraumatic growth in adolescent survivors of earthquake, tsunami, and liquefaction in Palu Indonesia: A phenomenological study. Pediatric Reports, 12. https://doi.org/10.4081/pr.2020.8699
Slovic, P. (1987). Perception of risk. Science, 236(4799), 280–285.
Sundari, AR., Meinarno, EA. (2026b). Berkenalan dengan Psikologi Bencana. Buletin KPIN. Vol. 12 No. 52 Februari 2026 ISSN 2477-1686 diakses dari http://buletin.k-pin.org/index.php/daftar-artikel/1989-berkenalan-dengan-psikologi-bencana
Turyadi, I., Mulyati, Y., Sakinah, M. N., Astuti, D. P., Nisa, K. F. D. (2026). Metode Cognitive Behavioral Therapy (CBT) Pada Pelayanan Trauma Healing Penanggulangan Bencana Pada Anak yang Mengalami PTSD Desa Mangunkerta, Kecamatan Cugenang Kabupaten Cianjur. Sawala: Jurnal pengabdian Masyarakat Pembangunan Sosial, Desa dan Masyaraka, Volume 7 Nomor 1 Januari 2026 Halaman 33-39, https://doi.org/10.24198/sawala.v7i1.66758
World Health Organization. (2011). Psychological First Aid: Guide for Field Workers.
