ISSN 2477-1686
Vol. 12 No. 58 Mei 2026
Antara Cuan dan Cemas dalam Tren Trading Saham Anak Muda
Oleh:
Khairun Nisa
Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara
Beberapa tahun terakhir trading saham menjelma menjadi fenomena sosial di kalangan anak muda. Aplikasi investasi yang mudah diakses, notifikasi pergerakan harga secara realtime, hingga unggahan keuntungan di media sosial menciptakan narasi baru bahwa pasar modal adalah ruang cepat untuk “naik kelas”. Di satu sisi, meningkatnya partisipasi generasi muda dalam investasi merupakan perkembangan positif. Namun di sisi lain, dinamika ini membuka ruang bagi keterlibatan emosi dan bias kognitif yang kerap tidak disadari.
Dalam praktiknya, keputusan membeli atau menjual saham sering kali tidak semata-mata berbasis analisis fundamental atau teknikal. Banyak keputusan lahir dari dorongan psikologis yang lebih dalam khususnya Fear of Missing Out (FOMO) dan overconfidence bias. FOMO adalah kecemasan ketika merasa tertinggal dari peluang yang dinilai menguntungkan. Secara psikologis, FOMO berkaitan dengan kebutuhan akan afiliasi sosial, sensitivitas terhadap perbandingan diri, dan ketidaknyamanan emosional ketika orang lain tampak lebih berhasil. Paparan media sosial yang intens memperkuat dinamika keuntungan orang lain menjadi pemicu evaluasi diri yang tidak selalu rasional.
Misalnya seseorang awalnya berkomitmen untuk berinvestasi jangka panjang. Namun setelah melihat temannya memamerkan keuntungan besar dalam waktu singkat, ia mulai merasa tertinggal. Tanpa analisis mendalam, ia membeli saham yang sedang naik tajam. Ketika harga terkoreksi, ia panik dan menjualnya dalam kondisi rugi. Pengalaman ini bukan sekadar kesalahan strategi finansial, melainkan ilustrasi bagaimana kecemasan sosial dan impulsivitas dapat memengaruhi pengambilan keputusan (Budiman, Ong, & Yuwono, 2025). Di sisi lain, overconfidence bias memperumit situasi. Bias ini merujuk pada kecenderungan individu untuk melebihkan kemampuan, pengetahuan, atau akurasi prediksinya. Dalam psikologi kognitif, overconfidence dipahami sebagai distorsi metakognitif yaitu saat individu terlalu yakin bahwa penilaiannya benar meskipun bukti objektif belum tentu mendukung. Dalam konteks pasar saham, keyakinan berlebih mendorong frekuensi transaksi yang tinggi (overtrading), pengambilan risiko berlebihan, serta pengabaian informasi yang bertentangan dengan keyakinan awal.
Penelitian menunjukkan bahwa overconfidence berasosiasi dengan peningkatan aktivitas trading namun tidak selalu menghasilkan kinerja investasi yang lebih baik. Studi pada investor muda Indonesia juga menemukan bahwa bias perilaku seperti FOMO dan overconfidence secara signifikan memengaruhi keputusan investasi. Kombinasi keduanya dapat menciptakan siklus emosional yaitu euforia ketika untung, penyesalan ketika rugi, lalu dorongan untuk “balas dendam” melalui transaksi berikutnya.
Selain itu fluktuasi pasar tidak hanya berdampak pada portofolio, tetapi juga pada kondisi psikologis. Volatilitas harga dapat memicu stres, kecemasan, dan kelelahan emosional, terutama pada investor yang belum memiliki regulasi diri yang matang (Ding, Li, & Wu, 2021). Dalam kondisi seperti ini, pasar menjadi arena yang menguji bukan hanya strategi finansial, tetapi juga stabilitas emosi.Di titik inilah regulasi emosi dan kesadaran diri menjadi inti persoalan psikologis.
Regulasi emosi bukan berarti menekan rasa takut atau euforia, melainkan kemampuan mengenali, memahami, dan mengelola respons emosional sebelum bertindak. Kesadaran diri memungkinkan individu bertanya: Apakah saya membeli karena analisis, atau karena takut tertinggal? Apakah saya yakin karena data, atau karena ingin merasa lebih kompeten dari orang lain? Proses reflektif ini mengaktifkan fungsi eksekutif dan kontrol diri dalam pengambilan keputusan adaptif. Tanpa kesadaran ini, keputusan finansial mudah berubah menjadi respons emosional jangka pendek.
Pada akhirnya, investasi bukan hanya tentang literasi keuangan, tetapi juga literasi psikologis. Pasar saham memang penuh ketidakpastian, namun bias kognitif dan reaktivitas emosi justru dapat memperbesar risiko. Mengelola ekspektasi, menyusun rencana investasi yang realistis, memberi jeda sebelum mengambil keputusan, serta membatasi paparan informasi yang memicu impulsivitas merupakan langkah-langkah sederhana namun signifikan.
Fenomena trading saham di kalangan anak muda memperlihatkan bahwa keberanian mengambil peluang perlu diimbangi dengan kedewasaan psikologis. Sebab dalam dunia investasi, sering kali musuh terbesar bukanlah pasar itu sendiri, melainkan kecenderungan pikiran kita untuk bereaksi sebelum berpikir.
Daftar Pustaka
Bouteska, A., & Regaieg, B. (2020). Loss aversion, overconfidence of investors and their impact on market performance. Journal of Behavioral and Experimental Finance, 27, 100365. https://doi.org/10.1016/j.jbef.2020.100365
Budiman, J., Ong, T., & Yuwono, W. (2025). Exploring cognitive bias influence on investment decisions in Indonesia: The mediating role of FOMO. Jurnal Economia, 21(3), 432–446. https://doi.org/10.21831/economia.v21i3.76879
Chen, T., Kim, K. A., & Nofsinger, J. R. (2022). Investor overconfidence and trading behavior: Evidence from retail investors. Journal of Behavioral Finance, 23(2), 123–137. https://doi.org/10.1080/15427560.2021.1889662
Ding, W., Li, S., & Wu, Z. (2021). Investor sentiment, attention, and stock market volatility. Finance Research Letters, 38, 101444. https://doi.org/10.1016/j.frl.2020.101444
Elhai, J. D., Yang, H., & Montag, C. (2020). Fear of missing out (FOMO): Overview, theoretical underpinnings, and literature review. Current Psychiatry Reports, 22(5), 19. https://doi.org/10.1007/s11920-020-01122-4
Moore, D. A., & Schatz, D. (2020). The three faces of overconfidence. Current Directions in Psychological Science, 29(4), 353–358. https://doi.org/10.1177/0963721420919775
Pallier, G., Wilkinson, R., Danthiir, V., & Kleitman, S. (2022). Overconfidence and decision-making accuracy: A metacognitive perspective. Frontiers in Psychology, 13, 834512. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2022.834512
Pracahya, N., Sugiarti, L. R., & Suhariadi, F. (2025). The role of overconfidence and risk perception in stock investment decision-making among young investors. Management Studies and Entrepreneurship Journal, 7(1), 89–103. https://doi.org/10.37385/msej.v7i1.9896
Pratiknjo, M. L., Wijaya, L. I., & Marciano, D. (2025). Pengaruh bias perilaku terhadap keputusan investasi dengan fear of missing out (FOMO) sebagai mediator di Indonesia. Jurnal Manajemen. https://doi.org/10.37531/yum.v13i2.2267
Przybylski, A. K., Murayama, K., DeHaan, C. R., & Gladwell, V. (2021). Motivational, emotional, and behavioral correlates of fear of missing out. Personality and Individual Differences, 168, 110–137. https://doi.org/10.1016/j.paid.2020.110137
