ISSN 2477-1686  

 Vol. 12 No. 58 Mei 2026

 

Parental Phubbing, Disrupsi Interaksi Emosional pada Keluarga Modern

Oleh:

Nazrina Zahara Nst

Fakultas Psikologi, Universitas Sumatera Utara

 

Pernahkah kita menyaksikan suasana hening di satu meja restoran di dalam mal yang ditempati oleh sebuah keluarga lengkap? Saat momen makan bersama berlangsung, seorang balita tampak asyik menonton Cocomelon, sementara remaja di sampingnya membiarkan gawai memutar suara nyaring dengan slogan yang sedang viral di media sosial. Di hadapan mereka, sang ayah tenggelam dalam episode drama Tiongkok favoritnya, sedangkan sang ibu yang berpenampilan modis larut menyimak siaran langsung di TikTok. Pemandangan ini menunjukkan bahwa meski setiap anggota keluarga hadir secara fisik, mereka tidak sepenuhnya hadir secara psikologis. Fenomena tersebut mudah dijumpai di rumah makan, dalam suasana kumpul keluarga, hingga di ruang tunggu bandara. Setiap anggota keluarga memang hadir secara fisik, namun mereka tidak benar-benar hadir secara nyata. Tidak ada percakapan hangat yang terjalin, pun tidak ada sentuhan emosional yang mampu menguatkan relasi antar anggota keluarga.

 

Saat ini, gawai bukan sekadar alat komunikasi, melainkan perangkat multifungsi yang digunakan untuk mencari informasi, menikmati hiburan, menyimpan berbagai kenangan, hingga mendukung aktivitas keuangan, pendidikan, dan kebutuhan layanan pribadi (Ding et al., 2023). Keheningan yang tercipta bukan lagi keheningan yang nyaman, melainkan jarak emosional yang tidak kasatmata. Fenomena ini menjadi refleksi penting bagi kita: sejauh mana teknologi mendekatkan, dan pada titik mana ia justru menjauhkan? Dalam dunia psikologi, perilaku pengabaian interaksi tatap muka demi gawai ini dikenal dengan istilah parental phubbing.

Parental phubbing adalah kondisi ketika orang tua lebih sibuk dengan smartphone daripada berkomunikasi dengan anak, sehingga interaksi menjadi renggang dan dapat berdampak pada hubungan serta kesehatan mental anak (Xiao & Zheng, 2022).

Dalam kerangka Attachment Theory, John Bowlby menjelaskan bahwa pola kelekatan yang tidak aman dapat terbentuk ketika anak tumbuh dengan minim kasih sayang, kurangnya respons emosional, atau mengalami kehilangan figur orang tua pada masa awal kehidupan. Situasi tersebut dapat membentuk cara pandang negatif anak terhadap diri sendiri maupun orang lain, misalnya merasa tidak dicintai atau tidak cukup berharga. Jika dikaitkan dengan fenomena parental phubbing, ketika perhatian orang tua lebih tersita oleh gawai daripada interaksi tatap muka, anak dapat merasakan bentuk ketidakhadiran emosional yang serupa. Apabila terjadi secara berulang, kondisi ini berpotensi menghambat berkembangnya kelekatan yang aman serta memengaruhi kesejahteraan psikologis anak.

 

Jika para orang tua bersedia melakukan refleksi, akan terlihat betapa besar dampak dari parental phubbing yang membuat anak merasa menerima penolakan sosial dari orang tua mereka sendiri. Data menunjukkan bahwa Tiongkok menempati posisi teratas sebagai negara dengan jumlah pengguna smartphone terbesar, mencapai sekitar 783 juta orang. Posisi berikutnya ditempati India dengan 375 juta pengguna, disusul Amerika Serikat sebanyak 252 juta pengguna. Sementara itu, Indonesia berada pada peringkat keenam dengan sekitar 73 juta pengguna dari total 227 juta penduduk, dan angka tersebut diperkirakan akan terus meningkat setiap tahunnya (GoodStats, 2023). Fakta ini menggambarkan tingginya tingkat penggunaan smartphone di Indonesia yang turut memengaruhi dinamika kehidupan sosial, termasuk dalam keluarga (Yang et al., 2023). Lebih jauh lagi, perilaku orang tua yang terjebak dalam smartphone addiction ini tentunya dapat menciptakan siklus ketergantungan digital yang akan ditiru oleh generasi berikutnya. Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan di mana gawai menjadi pusat perhatian cenderung mengembangkan perilaku serupa sebagai pelarian dari rasa sepi, yang pada akhirnya meningkatkan risiko kecanduan gawai pada anak itu sendiri. Tanpa adanya percakapan hangat dan sentuhan emosional yang nyata, rumah bukan lagi menjadi tempat pertukaran rasa, melainkan sekadar ruang fisik di mana setiap orang terisolasi dalam dunianya masing-masing.

 

Dalam salah satu studi parental phubbing di Sumatera Barat (Kurnia, 2025), telah dilakukan penelitian parental phubbing dengan pendekatan studi deskriptif, di mana sebanyak 391 responden orang tua diteliti. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar orang tua yang ada di Sumatera Barat menunjukkan gambaran tingkat parental phubbing berada pada kategori sedang dengan persentase 70,8% dari total responden dalam penelitian sehingga mayoritas responden penelitian menunjukkan parental phubbing. Penggunaan gawai yang tidak terkontrol tidak hanya menciptakan jarak emosional yang tidak kasatmata, tetapi juga mengancam kesehatan mental serta keharmonisan hubungan interpersonal antara orang tua dan anak. Teknologi yang seharusnya mendekatkan, justru sering kali menjadi bumerang yang menjauhkan mereka yang berada dalam satu jangkauan sentuhan.

Kesimpulan:

Parental phubbing menggambarkan situasi ketika orang tua hadir secara fisik tetapi tidak hadir secara emosional karena lebih terfokus pada gawai, sehingga interaksi hangat dalam keluarga tergantikan oleh jarak psikologis yang tidak kasatmata. Di tengah tingginya penggunaan smartphone, perilaku ini semakin sering terjadi dan berpotensi membuat anak merasa diabaikan, kurang diperhatikan, serta terdampak pada kesehatan mental dan kualitas hubungan dalam keluarga. Temuan penelitian juga menunjukkan bahwa tingkat parental phubbing berada pada kategori yang cukup mengkhawatirkan, sehingga penggunaan gawai yang tidak terkontrol dapat mengganggu keharmonisan keluarga dan memicu siklus ketergantungan digital pada generasi berikutnya.

Saran:

·      Pertama: tetapkan zona bebas gawai. Buat kesepakatan keluarga untuk tidak menggunakan ponsel pada waktu-waktu krusial, seperti saat makan bersama atau 30 menit sebelum tidur, guna mengembalikan kehangatan interaksi.

·      Kedua: Praktikkan Mindful Parenting. Di mana orang tua memberikan perhatian penuh (full presence) pada saat anak berbicara. Jika harus menggunakan gawai untuk urusan mendesak, berikan penjelasan yang jujur kepada anak agar mereka tidak merasa diabaikan.

·      Ketiga: Saring Informasi dan Durasi. Orang tua perlu lebih bijak dalam menyaring informasi dan mengatur porsi penggunaan media komunikasi agar tidak menjadi candu yang merusak dinamika keluarga.

 

Daftar Pustaka

Ding, Q., Dong, S., & Zhang, Y. (2023). Does parental phubbing aggravate adolescent sleep quality problems? Frontiers in Psychology, 14, Article 1094488. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2023.1094488

GoodStats. (2023). 10 negara dengan pengguna smartphone terbanyak di dunia. https://goodstats.id/article/10-negara-dengan-pengguna-smartphone-terbanyak-di-dunia-indonesia-masuk-daftar

Kurnia, F., & Yasmin, M. (2025). Studi deskriptif parental phubbing di Sumatera Barat. SHES: Conference Series, 8(2), 252–257. https://jurnal.uns.ac.id/shes

Sari, R. E., & Purnomo, J. T. (2024). Parental phubbing dan smartphone addiction pada remaja. Jurnal Diversita, 10(2), 162–170. https://doi.org/10.31289/diversita.v10i2.12236

Santrock, J. W. (2007). Perkembangan anak (Edisi ke-11, Jilid 2). Erlangga

Xiao, X., & Zheng, X. (2022). The effect of parental phubbing on depression in Chinese junior high school students: The mediating roles of basic psychological needs satisfaction and self-esteem. Frontiers in Psychology, 13, Article 868354. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2022.868354

Yang, W., Tang, L., Shen, X., Niu, G., Shi, X., Jin, S., Zhang, Y., & Yuan, Z. (2023). Parental phubbing and Adolescent Depressive Symptoms during COVID-19: A Serial Meditating Model. Behavioral Sciences, 13(5). https://doi.org/10.3390/bs13050371