ISSN 2477-1686
Vol. 12 No. 58 Mei 2026
BKD sebagai Cermin Diri: Refleksi Profesional Dosen
Oleh:
Christiany Suwartono1 dan Eko A Meinarno2
1Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Jakarta;
2Universitas Indonesia, Depok
Pengantar
Artikel ini masih menyambung dua artikel kami mengenai Beban Kerja Dosen (BKD; Suwartono & Meinarno, 2025a; 2025b). Keluhan mengisi BKD tampaknya tidak mudah pupus, selama cara pandang yang digunakan adalah beban. Mengapa demikian? Adakah cara lain agar tidak merasa jadi beban?
Meningkatnya kompleksitas dan tuntutan dalam pendidikan tinggi menuntut pendekatan yang semakin canggih dalam pengelolaan beban kerja akademik (Barrett & Barrett, 2010). Dalam konteks ini, pelaporan beban kerja (BKD) sering kali dipersepsikan sebagai praktik manajerial yang sangat bergantung pada pemantauan kuantitatif dan tampak tidak selaras dengan sifat intelektual serta relasional dari pekerjaan akademik itu sendiri (Boncori & Smith, 2018). BKD ini pun menjadi sering dianggap sebagai praktik manajerial yang kaku yang membuat sebagian besar pengisi BKD sepakat bahwa mengisi BKD itu melelahkan. Kertas-kertas yang harus dipindai, bukti-bukti yang tercecer, atau surat-surat keterangan yang belum ditandatangani oleh pengelola kampus merupakan salah satu yang berkontribusi terhadap kelelahan itu.
Tawaran Pandangan Lain
Usulan penulis, mari kita bayangkan pengisian BKD itu seperti menulis curriculum vitae (CV). Atau bayangkan seperti menulis refleksi perjalanan kita dalam Year in Review (YIR). Meski biasanya, kita melengkapi CV hanya jika ingat atau saat dibutuhkan untuk melamar pekerjaan atau mengikuti suatu proyek. Kemudian, untuk YIR, kita menunggu akhir tahun. Namun, jika kita terapkan semangat membuat CV atau YIR dalam melengkapi BKD; mungkin cara pandang ‘beban’ akan berkurang, minimal kita akan lebih semangat mengisi. Selama satu semester kita melakukan apa saja? Jawaban sederhananya adalah menuliskan apa yang dikerjakan/dilakukan dalam bidang pendidikan/pengajaran, penelitian, pengabdian masyarakat, dan penunjang, beserta bukti-buktinya. Saat ini, isian BKD dengan masing-masing ruangannya memudahkan diri kita untuk memasukkan dalam ruang-ruang semestinya. Kita terlatih menuliskan apa yang sudah kita lakukan, atau yang sedang kita lakukan, sampai capaian apa yang telah dilampaui.
Sistem pelaporan BKD yang terstruktur, menuntut akademisi untuk mendokumentasikan aktivitas mereka secara sistematis dalam bidang pendidikan/pengajaran, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan kegiatan penunjang. Meskipun pada awalnya sering dirasakan melelahkan, dokumentasi terstruktur ini melatih akademisi untuk mencatat apa yang telah dilakukan, apa yang sedang dikerjakan, dan capaian apa yang telah diraih. Di sinilah BKD memiliki manfaat reflektif, seperti yang diberikan oleh CV dan YIR. CV kita sudah menunjukkan dengan tegas, bidang keahlian kita? Apakah arah kita sudah benar? Apa yang selanjutnya bisa kita perkuat?
Mirror, Mirror on the wall, Siapa Dosen yang BKD-nya paling Bagus di Muka Bumi
Menurut perspektif teori "looking-glass self" (1902[2007]) dari Charles Horton Cooley, bahwa konsep diri seseorang terbentuk melalui interaksi sosial (detail bisa dilihat di "Looking-glass self," 2007). Kelelahan dalam mengisi BKD sebagian besar bersumber dari proses looking-glass self yang intens dan menegangkan, kita terus-menerus membayangkan dan bereaksi terhadap penilaian dari "cermin sosial" bernama asesor. Saat mengisi BKD, kita membayangkan diri kita "diperhatikan" oleh asesor atau pihak penilai. Dalam pikiran kita, kita memproyeksikan sebuah citra: "Saya tampak sebagai dosen yang produktif atau tidak? Lengkap atau berantakan?". Posisi ini memicu kecemasan untuk mengelola kesan (impression management) tersebut. Berdasarkan bayangan itu, kita kemudian menduga-duga penilaian mereka: "Apakah asesor akan menganggap kinerja saya cukup? Apakah bukti ini dinilai kurang memadai? Apakah saya terlihat tidak profesional karena surat ini belum ditandatangani?". Persepsi akan penilaian negatif inilah yang mendorong keinginan untuk "tampil prima atau bahkan mengada-ada”, sebagai upaya defensif untuk mengontrol penilaian yang kita bayangkan tersebut. Di sisi lain, jika kita membayangkan penilaiannya positif ("Mereka pasti akan terkesan"), kita merasa bangga dan percaya diri. Dinamika dari perasaan-perasaan tersebut, yang membuat pengisian BKD terasa menjadi Beban Mental Dosen (BMD; Suwartono & Meinarno, 2025a).
Pengisian BKD seyogianya bisa menjadi momen refleksi mandiri. Refleksi itu mengajak kita untuk mengambil alih "cermin" dari asesor, dan melihat diri kita melalui bukti pencapaian nyata, bukan hanya melalui bayangan penilaian orang lain. Hal ini dapat mengurangi kecemasan sosial yang timbul dari proses looking-glass self dan membangun konsep diri yang lebih berbasis pada realitas dan kekuatan diri sendiri. Refleksi ini mengajak kita untuk beralih dari "cermin orang lain" (yang sering kali buram dan penuh prasangka) ke "cermin diri sendiri" yang lebih jernih berdasarkan fakta objektif. Kita berfokus dengan "apa yang sebenarnya telah saya capai (selama satu semester ini)?". Dari penilaian eksternal ke pengakuan internal. Ketika kita menyadari bahwa hal-hal yang kita isikan di BKD itu adalah “upaya keras kita" dan "kemampuan yang terasah secara mandiri", kita membangun perasaan diri (self-feeling) yang baru. Perasaan ini bukan lagi berasal dari bayangan penilaian asesor, tetapi dari pengakuan intrinsik terhadap kompetensi dan kerja keras kita sendiri. Kita sedang menguatkan diri secara autentik. Proses ini memungkinkan kita membentuk konsep diri yang lebih stabil dan otonom, yang tidak sepenuhnya bergantung pada "cermin" yang dipegang oleh sistem atau orang lain.
Dengan bercermin ini, kita dapat melihat dan menyadari kekuatan diri kita selama satu semester yang telah lewat. Misalnya dengan telah masuk kategori M (memenuhi), kita perhatikan, pada komponen apa diri kita yang paling banyak. Bisa di pengajaran, bisa di penelitian (karena bobot utama pada kedua komponen ini). Selanjutnya dalam urusan penunjang dan pengabdian masyarakat, seberapa banyak yang telah dikerjakan? Kita dapat lihat secara kuantitas atau jumlah (tidak perlu lihat bobot SKS-nya). Semakin banyak, artinya di situlah kekuatan dari diri kita.
Pengisian BKD sendiri yang telah terlaksana sejak semester ganjil tahun akademik 2021/2022; sehingga, isian lima tahun terakhir dapat menjadi cermin bagi diri kita, seberapa banyak karya dan kontribusi diri kita terhadap (kompetensi) diri, ilmu, bagi kampus dan tak lupa masyarakat pada umumnya. Seberapa kita berharga menjadi bagian dari kemajuan kampus, apakah hanya di menara gading atau bisa membumi bahkan berdampak bagi masyarakat? Mungkin sangat sering kita memosisikan diri ‘’sebagai yang diperhatikan’’. Posisi ini secara alami membuat diri senantiasa merasa harus terlihat atau tampil prima atau bahkan mengada-ada. Sesaat mengisi BKD, baik itu sebelum diperiksa asesor atau saat unggahan final, cobalah lihat ulang. Seberapa banyak diri kita mencapai ini dan itu. Perhatikan dengan seksama. Semua itu adalah upaya keras kita selama satu semester. Bahkan kita bisa melihat bahwa banyak hal dilakukan justru karena memang ada kemampuan yang terasah secara mandiri dan alami.
Penutup
Proses pengisian BKD dapat kita arahkan menjadi langkah reflektif. Dengan pandangan ini, proses pengisian BKD bisa menjadi alat mengungkap perbedaan antara usaha yang dirasakan dan keterlibatan yang sebenarnya, sehingga membantu perumusan tujuan pribadi dan profesional yang lebih terarah (Kenny & Fluck, 2022). Kita pun dapat membangun diri ketimbang pasif mendapat masukan oleh pihak lain (asesor), yang bisa jadi malah menyinggung perasaan dan harga diri kita.
Lebih jauh, refleksi semacam ini memungkinkan akademisi menyadari capaian-capaian yang sebelumnya tidak tampak, terutama bentuk kerja akademik yang berkembang secara organik melalui pengalaman, bukan melalui pelatihan formal. Inovasi pengajaran, relasi mentoring, kerja kolaboratif, serta kontribusi institusional sering kali dilakukan karena kompetensi yang terasah secara bertahap dan mandiri. Pelaporan beban kerja merekam upaya-upaya ini dan, dengan demikian, memperkuat konsep diri akademisi sebagai pribadi yang mampu dan berkontribusi, bukan sekadar objek evaluasi.
Jika dipandang dari sudut yang berbeda, pelaporan beban kerja berfungsi layaknya CV atau YIR akademik berbasis semester yang terus diperbarui. Ia menciptakan catatan rinci tentang kerja akademik yang tidak hanya mendukung akuntabilitas institusi, tetapi juga memungkinkan refleksi diri atas lintasan profesional dan kontribusi akademik (Kenny & Fluck, 2022). Dokumentasi semacam ini dapat menjadi basis data penting untuk memahami kerja akademik secara lebih utuh, sehingga menjadi dasar bagi perencanaan strategis, alokasi sumber daya, dan pengakuan yang lebih adil terhadap beragam kontribusi akademik (Papadopoulos, 2017).
Para dosen perlu mengintegrasikan refleksi diri, tata kelola partisipatif, dan evaluasi yang lebih bernuansa, pelaporan beban kerja dapat berkembang menjadi praktik yang memperkuat baik akademisi secara individual maupun perguruan tinggi sebagai institusi. Harapan kami, artikel ini dapat menggugah para asesi menjadi lebih bersemangat dan lebih positif mengisi BKD (he he he he he).
Daftar Pustaka
Barrett, L., & Barrett, P. (2010). Cycles of Innovation in Managing Academic Workloads. Higher Education Quarterly, 64(2), 183-199. https://doi.org/10.1111/j.1468-2273.2009.00436.x
Boncori, I., & Smith, C. (2018). I lost my baby today: Embodied writing and learning in organizations. Management Learning, 50(1), 74. https://doi.org/10.1177/1350507618784555
Kenny, J., & Fluck, A. (2022). Life at the academic coalface: validation of a holistic academic workload estimation tool. Higher Education, 86(3), 507. https://doi.org/10.1007/s10734-022-00912-x
Looking-glass self. (2007). In R. F. Baumeister & K. D. Vohs (Eds.), Encyclopedia of social psychology (pp. 535-535). SAGE Publications, Inc. https://doi.org/10.4135/9781412956253.n318
Papadopoulos, A. (2017). The mismeasure of academic labour. Higher Education Research & Development, 36(3), 511. https://doi.org/10.1080/07294360.2017.1289156
Suwartono, C., & Meinarno, E. A. (2025a). BKD: Antara Kewajiban dan Makna Akademik. Buletin KPIN. Vol. 11 No. 45 November 2025. https://buletin.k-pin.org/index.php/arsip-artikel/1917-bkd-antara-kewajiban-dan-makna-akademik
Suwartono, C., & Meinarno, E. A. (2025b). Di Balik Angka dan Borang: BKD sebagai Bahasa Akademik. Buletin KPIN. Vol. 11 No. 48 Desember 2025. https://buletin.k-pin.org/index.php/daftar-artikel/1946-di-balik-angka-dan-borang-bkd-sebagai-bahasa-akademik
