ISSN 2477-1686  

 Vol. 12 No. 58 Mei 2026

Ketika Air Surut, Tapi Pikiran Belum Ikut Tenang

Oleh:

Caroline Christabel, Else Panjaitan, Irsa Puspa Nirwana, Melany Tjandrawati Oetomo, Pratiwi Chandra, Wong Loong Ching, dan Yolanda Mesa Putri

Program Studi Psikologi, Fakultas Psikologi, Universitas Pelita Harapan

 

Banjir Bukan Hanya Peristiwa Fisik

Pada akhir November 2025, banjir bandang dan longsor melanda sejumlah wilayah di Aceh dan Sumatra bagian utara. Media nasional melaporkan puluhan korban meninggal dan hilang, serta ribuan keluarga terdampak akibat banjir dan longsor (Sutrisna & Belarminus, 2025). Hingga Januari 2026, rangkaian bencana tersebut dilaporkan telah menelan lebih dari 1.200 korban jiwa, dengan ratusan lainnya masih dinyatakan hilang (Janati & Prabowo, 2026). Di Aceh Tengah, puluhan desa masih terisolasi sehingga proses evakuasi, distribusi bantuan, dan pemulihan kehidupan sehari-hari berjalan lambat (Janati, 2026). Kerusakan yang terjadi juga menyentuh infrastruktur vital. PT PLN menyebut dampak banjir dan longsor di Aceh kali ini lebih luas dibandingkan bencana tsunami tahun 2004, terutama dari gangguan kelistrikan dan luasnya wilayah terdampak, yang membuat proses pemulihan lebih panjang dan kompleks (Uly & Ika, 2026).

Bagi sebagian orang, banjir dianggap selesai ketika hujan berhenti dan genangan air menghilang. Namun, justru di situlah semuanya mulai terasa berat. Ketika situasi fisik perlahan membaik, pikiran mulai memproses apa yang hilang—rumah, rutinitas, rasa aman, dan kepastian hidup. Pikiran dipenuhi rasa cemas, tubuh sulit beristirahat, dan hari-hari terasa berjalan tanpa arah yang jelas.

Krisis Psikologis dan Rasa Kehilangan Kendali

Dalam psikologi krisis, situasi seperti banjir dipahami bukan hanya sebagai peristiwa alam, tetapi sebagai krisis psikologis. James dan Gilliland (2017) menjelaskan bahwa krisis muncul ketika tuntutan situasi melampaui kemampuan seseorang untuk mengatasinya dengan cara-cara yang biasa digunakan. Pada titik ini, orang bisa merasa bingung, kehilangan arah, atau seperti “tidak jadi diri sendiri”.

Reaksi seperti panik, sulit tidur, mudah marah, atau seperti mati rasa sering kali muncul. Sayangnya, respons-respons ini kerap dianggap berlebihan atau harus segera dihentikan. Padahal, dari sudut pandang krisis, reaksi tersebut adalah respons manusia yang wajar ketika rasa aman runtuh secara tiba-tiba (James & Gilliland, 2017).

Kepanikan, misalnya, sering dipandang sebagai kegagalan mengendalikan diri. Padahal, ketika ancaman datang cepat dan tidak terduga, tubuh masuk ke mode bertahan hidup. Fokus berpindah dari berpikir jangka panjang ke bertahan hari ini. Dalam kondisi seperti ini, rasionalitas memang bisa menurun—bukan karena seseorang lemah, tetapi karena sistem tubuh sedang bekerja keras untuk melindungi diri.

Ketika Tekanan Justru Muncul Setelah Air Surut

Hal yang sering luput dari perhatian adalah bahwa tekanan psikologis tidak selalu muncul saat banjir terjadi. Banyak orang justru mulai merasakan dampaknya setelah keadaan fisik membaik. Dalam situasi darurat, energi dan perhatian terkuras untuk bertahan hidup dan menyelesaikan kebutuhan paling mendesak. Ketika ancaman langsung mereda, barulah ada ruang untuk merasakan dan memaknai kehilangan yang sebelumnya tertahan (James & Gilliland, 2017).

Panduan Psychological First Aid juga menekankan bahwa reaksi stres sering kali muncul atau menjadi lebih jelas setelah individu berada dalam kondisi yang relatif lebih aman (Brymer et al., 2006). Ketika adrenalin turun, pikiran mulai memproses kehilangan secara lebih utuh—kehilangan rumah, rutinitas, rasa aman, dan kepastian hidup.

Tidak jarang muncul keluhan seperti sulit tidur, gelisah saat hujan turun, atau mudah tersinggung tanpa sebab yang jelas. Jika respons ini dianggap sepele atau ditekan dengan kalimat seperti “harus kuat” atau “yang penting selamat”, proses pemulihan justru bisa menjadi lebih lambat dan lebih berat. Alih-alih membantu, dorongan untuk segera “kembali normal” dapat membuat penyintas merasa tidak dipahami dalam pengalaman krisis yang sedang mereka jalani.

Psychological First Aid sebagai Pertolongan Awal

Di titik inilah Psychological First Aid (PFA) menjadi relevan, meskipun sering terdengar sederhana. PFA bukan terapi ataupun konseling jangka panjang. PFA merupakan pendekatan pertolongan awal untuk membantu orang-orang yang baru mengalami bencana agar tekanan psikologis tidak berkembang menjadi masalah yang lebih berat (Brymer et al., 2006).

PFA mencakup delapan tindakan inti — mulai dari membangun kontak awal, memastikan rasa aman, menstabilkan kondisi ketika dibutuhkan, menggali kebutuhan, memberikan bantuan praktis, menghubungkan dengan dukungan sosial, memberikan informasi tentang cara menghadapi stres, hingga mengarahkan pada layanan lanjutan bila diperlukan (Brymer et al., 2006). Namun dalam kehidupan sehari-hari pascabencana, PFA jarang hadir sebagai daftar langkah. Ia lebih sering muncul dalam bentuk-bentuk kecil yang sangat manusiawi.

Kadang PFA hadir lewat informasi yang disampaikan dengan tenang dan jujur, tanpa menakut-nakuti. Kadang lewat kehadiran seseorang yang tidak terburu-buru memberi nasihat. Tidak semua orang ingin bercerita, dan tidak semua orang siap membahas perasaannya. Dalam banyak situasi, rasa aman tumbuh dari hal-hal sederhana: tahu apa yang sedang terjadi, tahu apa langkah berikutnya, dan merasa tidak sendirian menghadapi kekacauan yang baru saja terjadi. Sejalan dengan pendekatan krisis, tujuan awal bukan menyelesaikan semua masalah, tetapi membantu orang kembali cukup stabil untuk berpikir lebih jernih (James & Gilliland, 2017).

Apakah Dukungan Seperti Ini Sudah Cukup Tersedia?

Di Indonesia, niat baik sebenarnya tidak kurang. Relawan datang, bantuan mengalir, dan solidaritas terasa kuat. Namun, pemahaman tentang respons krisis masih belum merata. Banyak orang ingin membantu, tetapi tidak tahu bagaimana merespons emosi orang yang sedang rapuh. Akibatnya, tanpa sadar muncul kalimat-kalimat seperti “yang penting selamat” atau “harus ikhlas”. Niatnya baik, tetapi dampaknya bisa membuat penyintas merasa tidak dipahami.

Baik teori krisis maupun PFA sama-sama menekankan pentingnya tidak menghakimi, tidak memaksa pemulihan, dan tidak meremehkan reaksi emosional sebagai bagian dari respons manusia yang wajar terhadap situasi krisis (Brymer et al., 2006; James & Gilliland, 2017).

Penutup: Pemulihan yang Lebih Manusiawi

Banjir Aceh kembali mengingatkan kita bahwa pemulihan bukan hanya soal membangun kembali rumah dan jalan. Pemulihan juga berarti membantu orang merasa aman kembali di dalam dirinya sendiri. Pendekatan krisis dan PFA memberi kerangka yang sederhana, tidak menggurui, dan sangat manusiawi. Ketika air sudah surut, yang sering dibutuhkan bukan kata-kata besar atau solusi cepat. Yang dibutuhkan justru hal-hal kecil: kehadiran yang tenang, informasi yang jujur, dan dukungan yang tidak memaksa. Dari situlah pemulihan bisa dimulai.

Daftar Pustaka

Brymer, M., Jacobs, A., Layne, C., Pynoos, R., Ruzek, J., Steinberg, A., Vernberg, E., & Watson, P. (2006). Psychological First Aid: Field Operations Guide (2nd ed.). National Child Traumatic Stress Network & National Center for PTSD.

James, R. K., & Gilliland, B. E. (2017). Crisis intervention strategies (8th ed.). Cengage Learning.

Janati, F. & Prabowo, D. (2026, January 21). Korban jiwa bencana Sumatera tembus 1.200 jiwa, 143 jiwa masih hilang. Kompas.com.  Retrieved from https://nasional.kompas.com/read/2026/01/21/09170351/korban-jiwa-bencana-sumatera-tembus-1200-jiwa-143-jiwa-masih-hilang

Nita, D. (2026, January 15). 24 desa di Aceh Tengah masih terisolir akibat banjir bandang dan longsor. Kompas.tv. Retrieved from https://www.kompas.tv/nasional/644116/24-desa-di-aceh-tengah-masih-terisolir-akibat-banjir-bandang-dan-longsor

Sutrisna, T. & Belarminus, R. (2025, November 28). Update banjir longsor Aceh: 35 orang meninggal, 25 hilang, 4.846 keluarga. Kompas.com. Retrieved from https://nasional.kompas.com/read/2025/11/28/18444731/update-banjir-longsor-aceh-35-orang-meninggal-25-hilang-4846-keluarga

Uly, Y. A. & Ika, A. (2026, January 21). Bos PLN sebut dampak banjir longsor Aceh lebih luas dibanding tsunami 2004. Kompas.com. Retrieved from https://money.kompas.com/read/2026/01/21/161321526/bos-pln-sebut-dampak-banjir-longsor-aceh-lebih-luas-dibanding-tsunami-2004