ISSN 2477-1686
Vol. 12 No. 58 Mei 2026
Perempuan Mandiri di Era Modern: Memilih Relasi, Bukan Membutuhkan
Oleh:
Dewi Syukriah & Sondang Maria Silaen
Fakultas Psikologi, Universitas Persada Indonesia Y.A.I
Di tengah perubahan sosial yang begitu cepat, kita menyaksikan fenomena yang semakin nyata: semakin banyak perempuan yang mandiri—secara ekonomi, emosional, maupun dalam pengambilan keputusan hidup. Mereka berpendidikan tinggi, memiliki karier, dan mampu memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri. Namun, perubahan ini seringkali disalahartikan sebagai “perempuan tidak lagi membutuhkan laki-laki.” Benarkah memang demikian kenyataannya?
Dari perspektif psikologi, fenomena ini bukan tentang “menghapus” peran laki-laki, melainkan tentang pergeseran makna relasi—dari kebutuhan menjadi pilihan. Dimana pada masa lalu, Perempuan lebih banyak tergantung pada laki-laki dalam banyak hal, namun seiring berkembangnya kemajuan, semakin banyak Perempuan yang memandang peran laki-laki tidak seperti dulu lagi.
Perubahan signifikan terjadi dari ketergantungan ke otonomi. Secara historis, relasi antara laki-laki dan perempuan seringkali dibangun di atas dasar ketergantungan. Laki-laki diposisikan sebagai penyedia (provider), sementara perempuan lebih bergantung secara ekonomi dan sosial. Namun, perubahan akses terhadap pendidikan dan pekerjaan di era sekarang telah menggeser struktur ini.
Dalam kerangka psikologi modern, hal ini dapat dijelaskan melalui konsep kebutuhan dasar manusia: otonomi, kompetensi, dan keterhubungan (Deci & Ryan, 2000). Ketika perempuan telah mencapai otonomi (mampu mengatur hidup sendiri) dan kompetensi (merasa mampu dan berdaya), maka relasi tidak lagi menjadi alat untuk “bertahan hidup,” melainkan ruang untuk berbagi dan bertumbuh.
Dengan kata lain, pada saat ini relasi antara laki-laki dan perempuan tidak lagi berbasis kebutuhan, tetapi berbasis kualitas.
Studi Kasus: Dina, 35 Tahun
Dina adalah seorang profesional di bidang keuangan yang tinggal di Jakarta. Ia memiliki penghasilan stabil, lingkaran sosial yang suportif, dan rutinitas yang produktif. Bisa dikatakan kehidupannya stabil secara finansial dan sosial. Ketika ditanya mengapa belum menikah, jawabannya sederhana:
“Saya tidak menutup diri, tapi saya tidak ingin berada dalam hubungan yang tidak sehat. Kalau ada yang cocok, ya dijalani. Kalau tidak, saya juga tetap baik-baik saja.”
Apa yang dialami Dina mencerminkan perubahan psikologis yang signifikan. Ia tidak menolak relasi, tetapi juga tidak merasa harus berada di dalamnya. Ini menunjukkan adanya secure self-concept—pemahaman diri yang kuat dan tidak bergantung pada validasi eksternal.
Banyak Wanita yang mulai memiliki pemikiran bahwa relasi adalah pilihan sadar. Dalam psikologi hubungan, kepuasan relasi (relationship satisfaction) sangat dipengaruhi oleh kesesuaian nilai, komunikasi, dan keseimbangan peran (Rusbult, 1980). Perempuan yang mandiri cenderung memiliki standar yang lebih tinggi terhadap hubungan, bukan karena “terlalu memilih,” tetapi karena mereka tidak lagi terpaksa memilih.
Ketika seseorang tidak bergantung secara finansial atau emosional, maka ia memiliki kebebasan untuk berkata:
“Saya menginginkan hubungan ini” bukan “saya butuh hubungan ini”
Perbedaan ini sangat mendasar dan memiliki arti yang sangat berbeda antara kalimat pertama dan kedua. Apakah Ini Berarti Peran Laki-Laki Berkurang?
Tidak. Justru yang berubah adalah ekspektasi terhadap peran tersebut.
Laki-laki tidak lagi dilihat semata sebagai penyedia, tetapi sebagai: partner emosional, rekan untuk bertumbuh bersama, dan individu yang setara dengan perempuan. Pada relasi modern yang terpenting adalah menuntut kualitas interaksi antara dua individu yang sedang menjalin hubungan, bukan sekadar keberadaan peran tradisional.
Tantangan Psikologis yang Muncul dengan fenomena ini adalah meskipun terlihat ideal dan sesuai zaman, fenomena ini juga memiliki sisi yang kompleks. Beberapa perempuan mandiri dapat mengalami kecenderungan terlalu independen atau kesulitan membuka diri secara emosional. Dalam konteks ini, gaya kelekatan (attachment style) juga berperan (Bowlby, 1988). Selain itu, dalam masyarakat yang masih memegang nilai tradisional, perempuan mandiri seringkali masih mendapatkan label negatif yang dapat menimbulkan tekanan sosial. Masih banyak tekanan sosial yang didapatkan oleh wanita mandiri dikarenakan belum mempunyai pasangan, seperti julukan “perawan tua, tidak laku, terlalu pilih-pilih” dan lain sebagainya.
Namun, yang penting untuk dipahami adalah bahwa kemandirian dan keterhubungan bukan dua hal yang saling bertentangan. Individu yang sehat secara psikologis adalah mereka yang mampu mandiri sekaligus membangun hubungan yang bermakna, sehingga memiliki keseimbangan Ketika membina suatu hubungan. Menurut Wood & Eagly (2012) yang menyatakan bahwa ada perbedaan dan persamaan perilaku antara laki-laki dan perempuan tidak semata-mata ditentukan oleh faktor biologis, tetapi merupakan hasil interaksi antara: Faktor biologis (misalnya perbedaan fisik, reproduksi) dan juga Faktor sosial (norma, peran gender, struktur sosial).
Perubahan ini bukan ancaman bagi relasi, melainkan evolusi menuju bentuk yang lebih sehat. Ketika dua individu bertemu bukan karena kebutuhan, tetapi karena pilihan, maka relasi yang terbentuk memiliki potensi lebih besar untuk bertahan dan berkembang.
Pada akhirnya, kemandirian bukan tentang menjauh dari orang lain, tetapi tentang mendekat tanpa kehilangan diri sendiri.
Daftar Pustaka
Bowlby, J. (1988). A secure base: Parent-child attachment and healthy human development. Basic Books.
Deci, E. L., & Ryan, R. M. (2000). The “what” and “why” of goal pursuits: Human needs and the self-determination of behavior. Psychological Inquiry, 11(4), 227–268.
Rusbult, C. E. (1980). Commitment and satisfaction in romantic associations: A test of the investment model. Journal of Experimental Social Psychology, 16(2), 172–186.
Wood, W., & Eagly, A. H. (2012). Biosocial construction of sex differences and similarities in behavior. Advances in Experimental Social Psychology, 46, 55–123.
