ISSN 2477-1686  

 Vol. 12 No. 58 Mei 2026

 

Dari Gampong ke Global: Perjalanan Psikologis Remaja Aceh Menembus Dunia Kerja

Oleh:

Asra Maulana

Fakultas Psikologi, Universitas Sumatera Utara

 

Remaja Aceh tumbuh dalam lingkungan sosial yang kuat dipengaruhi oleh nilai-nilai adat dan agama. Masyarakat Aceh mengenal ungkapan “adat bak poteu meureuhom, hukom bak Syiah Kuala,” yaitu adat mengikuti pemimpin pemerintahan, hukum merujuk pada ulama. Ungkapan ini bukan sekadar simbol budaya, melainkan cara masyarakat menata kehidupan. Ungkapan ini menunjukkan bahwa adat dan syariat tidak hanya berfungsi sebagai aturan sosial, tetapi juga sebagai kerangka nilai yang membentuk cara masyarakat memaknai perilaku yang dianggap pantas maupun tidak pantas dalam kehidupan sehari-hari. Berbagai kajian mengenai masyarakat Aceh menunjukkan bahwa integrasi antara adat dan nilai religius masih menjadi fondasi penting dalam kehidupan sosial serta proses sosialisasi generasi muda (Feener, 2013).

Dalam kehidupan di gampong, relasi sosial berlangsung dekat dan personal sehingga perilaku individu tidak terlepas dari pengamatan komunitas. Dalam konteks ini, meu-eh berfungsi sebagai mekanisme pengendalian moral yang menjaga perilaku agar tetap sesuai dengan norma sosial, sementara marwah berkaitan dengan kehormatan keluarga sehingga keputusan individu sering dipahami sebagai representasi martabat kolektif. Kondisi ini sejalan dengan perspektif psikologi budaya yang menjelaskan bahwa dalam masyarakat kolektivistik, identitas individu berkembang melalui keterikatan dengan relasi sosial dan kelompoknya (Vignoles et al., 2016).

Saat remaja Aceh mulai merancang masa depan, pertanyaan sederhana seperti “peu haba ureuëng tuha?” atau apa kata orang tua atau tokoh yang dituakan, hal ini kerap menjadi petunjuk dalam menentukan pilihan pendidikan dan pekerjaan. Dalam teori perkembangan karier, masa remaja dikenal sebagai tahap eksplorasi, yaitu periode ketika individu mulai mengenali minat, nilai, serta berbagai pilihan karier yang tersedia di lingkungannya. Tahap ini merupakan bagian penting dalam proses pembentukan identitas karier sebagaimana dijelaskan dalam teori perkembangan karier oleh Super (dalam Hirschi, 2018).

Realitas dunia kerja saat ini mengalami perubahan yang cukup signifikan. Data menunjukkan bahwa tingkat pengangguran terbuka di Indonesia berada pada kisaran 4,74 persen pada tahun 2025, dengan kelompok usia muda masih menjadi kelompok yang relatif paling rentan dalam proses transisi dari pendidikan menuju dunia kerja (Badan Pusat Statistik, 2026). Kondisi ini menunjukkan bahwa generasi muda menghadapi tantangan yang tidak sederhana dalam menavigasi pilihan karier di tengah dinamika pasar kerja yang terus berubah. Pada saat yang sama, meningkatnya penetrasi internet di Indonesia turut membuka akses terhadap berbagai informasi dan peluang kerja baru, sehingga memperluas wawasan generasi muda mengenai berbagai kemungkinan karier yang dapat ditempuh (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia, 2024).

Dalam kerangka perkembangan psikososial, masa remaja dipandang sebagai periode penting dalam pembentukan identitas diri, ketika individu mulai mengeksplorasi nilai, tujuan hidup, serta peran sosial yang ingin dijalani di masa depan. Proses eksplorasi ini menjadi bagian penting dari perkembangan psikologis karena memengaruhi arah kehidupan dan pilihan karier pada tahap berikutnya (Erikson dalam Kroger, 2017). Dalam perspektif psikologi karier modern, Social Cognitive Career Theory menjelaskan bahwa keputusan karier tidak hanya dipengaruhi oleh kemampuan individu, tetapi juga oleh keyakinan terhadap kemampuan diri (self-efficacy), harapan terhadap hasil yang mungkin diperoleh (outcome expectations), serta dukungan maupun hambatan dari lingkungan sosial yang membentuk minat dan tujuan karier individu (Bandura dalam Lent & Brown, 2019).

Sejalan dengan itu, konsep career adaptability menekankan pentingnya kesiapan psikologis individu untuk merencanakan masa depan karier, menghadapi perubahan, dan menyesuaikan diri dengan ketidakpastian dalam dunia kerja yang dinamis (Savickas dalam Rudolph et al., 2017). Dalam perspektif psikologi sumber daya manusia, kemampuan tersebut berkaitan dengan employability, yaitu kapasitas individu untuk mengembangkan kompetensi, membangun identitas profesional, serta beradaptasi dengan tuntutan pasar kerja yang terus berubah (Van der Heijde & Van der Heijden, 2006).

Dari konteks sosial remaja Aceh memiliki sejumlah modal sosial dan moral yang relatif kuat, seperti integritas, komitmen terhadap komunitas, serta kesadaran akan tanggung jawab kolektif yang terbentuk melalui proses sosialisasi dalam keluarga dan masyarakat. Tantangan yang muncul bukan terletak pada ketiadaan nilai-nilai tersebut, melainkan pada bagaimana nilai tersebut dapat diterjemahkan menjadi kompetensi profesional yang relevan dengan tuntutan dunia kerja modern (Bourdieu dalam Field, 2018). Dalam konteks ini, penguatan psychological capital yang mencakup optimisme, resiliensi, harapan, dan efikasi diri menjadi penting, karena sumber daya psikologis tersebut dapat meningkatkan motivasi, ketahanan individu, serta kemampuan generasi muda untuk menghadapi berbagai ketidakpastian dan tantangan dalam dunia kerja (Luthans dalam Newman et al., 2014).

Pada akhirnya, perjalanan dari gampong menuju dunia kerja global tidak harus dimaknai sebagai meninggalkan akar budaya. Nilai seperti meu-eh dapat dipahami sebagai integritas profesional, sementara marwah mencerminkan reputasi dan kehormatan dalam bekerja. Dengan demikian, nilai budaya dapat menjadi fondasi etis bagi generasi muda Aceh untuk beradaptasi di ruang global tanpa kehilangan identitas kulturalnya. Hal ini menunjukkan bahwa transisi menuju dunia kerja tidak hanya persoalan ekonomi, tetapi juga proses psikologis yang dipengaruhi oleh nilai budaya, dukungan sosial, dan kemampuan beradaptasi.

 

Referensi:

Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia. (2024). Survei penetrasi internet Indonesia 2024. https://apjii.or.id/survei

Badan Pusat Statistik. (2026). Keadaan ketenagakerjaan Indonesia 2025. https://www.bps.go.id/id/publication

Feener, R. M. (2013). Shari'a and social engineering: The implementation of Islamic law in contemporary Aceh. Oxford University Press. https://doi.org/10.1093/acprof:oso/9780199324507.001.0001

Field, J. (2018). Social capital (3rd ed.). Routledge. https://doi.org/10.4324/9781315622040

Hirschi, A. (2018). The fourth industrial revolution: Issues and implications for career research and practice. The Career Development Quarterly, 66(3), 192–204. https://doi.org/10.1002/cdq.12142

Kroger, J. (2017). Identity development in adolescence and adulthood (3rd ed.). Oxford University Press. https://doi.org/10.1093/med-psych/9780199361632.001.0001

Lent, R. W., & Brown, S. D. (2019). Social cognitive career theory at 25: Empirical status of the interest, choice, and performance models. Journal of Career Assessment, 27(4), 558–569. https://doi.org/10.1177/1069072719830581

Newman, A., Ucbasaran, D., Zhu, F., & Hirst, G. (2014). Psychological capital: A review and synthesis. Journal of Organizational Behavior, 35(S1), S120–S138. https://doi.org/10.1002/job.1916

Rudolph, C. W., Lavigne, K. N., & Zacher, H. (2017). Career adaptability: A meta-analysis of relationships with measures of adaptivity, adapting responses, and adaptation results. Journal of Vocational Behavior, 98, 17–34. https://doi.org/10.1016/j.jvb.2016.09.002

Van der Heijde, C. M., & Van der Heijden, B. I. J. M. (2006). A competence-based and multidimensional operationalization of employability. Human Resource Management, 45(3), 449–476. https://doi.org/10.1002/hrm.20119

Vignoles, V. L., Smith, P. B., Becker, M., & Easterbrook, M. J. (2016). Beyond the East–West dichotomy: Global variation in cultural models of selfhood. Journal of Experimental Psychology: General, 145(8), 966–1000. https://doi.org/10.1037/xge0000175