ISSN 2477-1686

 

Vol. 9 No. 09 Mei 2023

 

Distress Psikologis Pemutilasi di Semarang

 

Oleh:

Tugimin Supriyadi

Fakultas Psikologi, Universitas Bhayangkara Jakarta Raya

 

Berita menghebohkan dan mengejutkan kembali terjadi di Semarang Jawa Tengah, seorang pekerja air isi ulang (Mh, 27tahun) menghabisi nyawa juragannya dengan keji. Mh menghantam kepala kurban dengan linggis dari pelipis kanan tembus ke pelipis kiri. Tersangka Hh kemudian memutilasi juragannya menjadi 4 empat bagian, dan selanjutnya di cor dengan semen. Sontak peristiwa ini menjadi berita terheboh di bulan Mei 2023, dan menjadi tending topic media nasional.

 

Tak ayal renan-rekan pewarta dengan serta merta mengajukan berbagai pertnyaan dugaan-dugaan berkait dengan kepribadian pelaku yang telah diteteapkan sebagai tersangka ini. Lalu bagaimana kita mencermati peristiwa ini agar bisa mendapatkan gambaran psikologis tersangka?

 

Sebagai orang yang peduli dengan situasi psikologis masyarakat kita, masih segar dalam ingatan kita bahwa perilaku seperti apa yang dilakukan oleh tersangka, tersangka bisa dikatakan mengalami Distress Psikologis. Pelaku atau tersangka mengalami keadaan kesehatan mental yang negatif. Sehingga pelaku baik langsung maupun tidak langsung berkait dengan kondisi kesehatan mental dari tersangka.

 

Seperti apa yang dikatakan Bushman (1998), bahwa seorang yang mengalami Distress Psikologis atau orang-orang yang mengalami keadaan emosi negative, seperti cemas, depresi, seseorang cenderung tidak mempercayai orang lain. Seperti halnya tersangka dalam peristiwa ini, dirinya tidak lagi percaya pada orang lain, suka berlawanan, suka menyerang, dan menghukum orang lain. Dirinya juga cenderung dingin secara emosional, jauh secara interpersonal, dan mengungkapkan permusuhan antagonik.

 

Motif Di balik Mutilasi

Bila kemudian kita bertanya apa motif tersangka melakukkan pembunuhan dengan sadis dan kemudian memutilasi? Tersangka menyimpan dendam yang amat sangat (kalau tidak mau dibilang dendam kesumat). Tersangka juga sering direndahlan dan dikucilkan. Kemudian tersangka juga merasa hidupnya dikucilkan.

 

Seseorang yang mempunyai masa lalu tidak menyenangkan saat masih kecil, juga bisa menjadi biang dari peristiwa tragis semacam ini.  Mencermati hasil wawancara para pewarta, didapatkan hasil bahwa yang bersangkutan pernah dihajar oleh orangtuanya di saat masih kecil, yang menyebabkan tubuhnya tidak sempurna. Hal ini bisa jadi menjadi simpanan memori yang sangat kuat, sehingga suatu saat bila terdapat kesempatan, bisa melakukkan balas dendam. Balas dendam ini tentu saja tidak hanya terhdap orangtuanya, tetapi juga kepada siapa saja yang membuat dirinya marah, emosi dan membuat dirinya merasa dihinakan.

 

Narsisme dan Self Esteem

Pada perilaku yang ditunjukkan oleh tersangka Mh (27 Tahun), mengindikasikan bahwa yang bersangkutan mengalami narsisme. Hal ini ditunjukkan individu yang merasa mempunyai perasaan harga diri (self-worth) yang terlalu tinggi, tanpa keyakinan yang kuat, mendukung perasaan superioritasnya. Sehingga, dengan mudah dan tanpa beban   akan mudah melakukkan tindakan sadis bila yang bersangkutan di provokasi. Inilah sebenarnya yang menjadi ciri seseorang yang Narsisme.   Beberapa penelitian menunjukkan bahwa narsisme memprediksi perilaku agresif dalam situasi-situasi yang melibatkan provokasi (Henning, et al.,2005). Pemilik toko air isi ulang inilah yang dianggap merendahkan dirinya, sehingga memprovokasi untuk melakukkan tindakan sadisnya.

 

Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa self-esteem yang terlalu tinggi dapat menimbulkan agresi. Secara spesifik, Bushman, 1998) mengatakan bahwa indiviu-individu dengan self-esteem yang terlalu tinggi atau tidak stabil, rentan untuk marah dan sangat agresif ketika citra dirinya yang tinggi teraancam.  

 

Individu yang narsistik mempunyai self-esteem yang tidak stabil, mereka luar biasa sensistif terhadap penghinaan pribadi, seperti cemoohan atau kritik, Artinya, narisime ditandai oleh kerentanan terhadap ancaman konsep-diri, dan, oleh sebab itu, bila ssituasi mengancam ego terjadi, individu narsisttik cenderung perberilaku agresif. Sehingga dengan demikian, narsisme berkaitan dengan emosi yang mudah berubah-ubah dan reaksi-reaaksi intens, bisa termasuk marah dan mengamuk (Betencourt, Tally, Benjamin, & Valentine, 2006).

 

Referensi:

 

Bettencourt, B.A., Benjamin, A. J., & Valentine, J. (2006). Personality and Aggressive behavior under provoking and netral conditions: A meta-analytic review.   Psychological Bulletin, 132(5), 751-777. Doi: 10.1037/0033-2909.132.5.751

Bushman, B. J., & Baumeister, R. F. (1998). Threatened egotism, narcissism, self-esstem, and direct and displaced aggression: Does self-love or selfhate lead to violence? Journal of Personality & Social Psychology, 75(1), 219-229. Doi: 10.1037/0022-3514.75.1.219

Henning, J., Reuter, M., Netter, P., Burk, C., & Land, O. (2005). Two Types of aggrressions are differentially realted to serotonergic activity and the A779C TPH polymorphism. Behavioral neuroscience, 119(1), 16-25. Doi: 10.1037/0735-7044.119.1.16