ISSN 2477-1686
Vol. 12 No. 51 Februari 2026
Penjajahan Masa Lampau (mungkin) yang Membuat Individu Indonesia Begini?
Oleh:
Meliza Rahmawati Putri & Arie Rihardini Sundari
Fakultas Psikologi, Universitas Persada Indonesia YAI
Pengantar
Artikel yang ditulis Meinarno dan Sundari (2026) mengenai pencarian asal mula gejala SDM rendah tampaknya menarik dikaji dengan cara pandang yang lain. Mereka menunjukkan adanya pola kebudayaan tertentu dan dampaknya di masa kini. Pola-pola yang disampaikan merujuk pada kelemahan bangsa yang diajukan oleh Koentjaraningrat (1974) yang diasumsikan justru bertahan dan dibentuk melalui folklor. Namun apakah memang hanya faktor itu saja? Bukankah ada pengalaman bersama kita yang masih menyisakan kepedihan dan memburamkan cara lihat masa depan kita, yakni masa kolonial?
Sejarah Indonesia menekankan bahwa era penjajahan atau kolonial Indonesia terjadi selama 350 tahun (walau fakta ini dipertanyakan oleh banyak pihak sekarang). Hal ini yang diyakini mayoritas orang Indonesia, dan sejarah merekonstruksi apa yang pernah terjadi di masa lalu, yang dipikirkan, dilakukan, dirasakan, dan dialami manusia (Hasudungan, 2021).
Bekas luka yang ditinggalkan oleh peristiwa tragis, berupa jejak kolektif pada sekelompok pengalaman sejarah yang mungkin telah terjadi beberapa dekade, generasi, atau bahkan berabad-abad yang lalu (Doornbos & Dragojlovic, 2022), masih dirasakan oleh sebagian masyarakat Indonesia, hingga saat ini (Aditya dkk, 2024). Kondisi tersebut mengarah kepada kondisi trauma kolektif. Yakni, rangkaian peristiwa dahsyat yang berdampak pada hancurnya tatanan dasar masyarakat, yang bagi korban, dapat meningkatkan ancaman eksistensial, mendorong pencarian makna, dan pembangunan jati diri kolektif lintas generasi (Hirschberger, 2018). Salah satu jenis trauma kolektif pada historis tentang penjajahan bangsa kolonial didasari oleh framework trauma kolonial.
Wujud Trauma Kolonial
Fanon (1952) menyebut trauma kolonial, sebagai suatu bentuk dari sejumlah perasaan ambivalen, inferioritas dan diasosiasi tentang identitas, yang terbentuk dalam struktur kepribadian kolektif, yang tanpa sadar menyimpan citra dan bahasa kolonial dalam tubuh dan pikiran individu yang terjajah. Trauma ini dapat diturunkan antargenerasi dengan cara diwujudkan, diekspresikan, dan dinegosiasikan di antara berbagai generasi dalam lingkungan rumah. Secara sosial, trauma antargenerasi membentuk hubungan dan identitas yang sering kali menumbuhkan ketidakpercayaan dan pengekangan emosional (El-Khalil, 2025).
Indonesia dipandang sebagai negara pasca kolonial akibat penjajahan yang terjadi ratusan tahun yang lalu. Penjajah tidak hanya menjajah pada aspek politik dan ekonomi, kolonialisme juga meninggalkan jejak luka yang sangat dalam, yaitu trauma psikologis yang diwariskan (Ainunnida & Shofiyuddin, 2024). Hal ini menggambarkan bahwa hadirnya kolonialisme tidak hanya memberikan dampak kerusakan secara fisik, tetapi juga terhadap mental bangsa yang dijajah (Ikbar & Andalas, 2019).
Trauma kolonial yang Melintas Antargenerasi
Kim dkk (2025) menemukan bahwa pengalaman trauma dan tekanan psikologis mempengaruhi pengasuhan ibu, di mana efek tidak langsung dari transmisi trauma lebih menonjol pada generasi kedua dibandingkan dengan generasi ketiga. Lebih khusus dari trauma antargenerasi, karena mengakar pada trauma kolektif yang dialami oleh masyarakat yang terjajah, dikenal dengan trauma kolonial, sebagaimana yang dirasakan oleh bangsa Indonesia.
Trauma yang disebabkan oleh kolonialisme dapat diturunkan dari generasi ke generasi jika tidak ada kesempatan yang memadai untuk berduka, menyembuhkan, dan berdamai (Mitchell, Arseneau, & Thomas, 2019). Memori kolektif itu akan ditransmisikan kepada kaum muda oleh generasi yang lebih tua lewat berbagai saluran, contoh buku pelajaran sekolah, media, monumen, dan berbagai peringatan peristiwa yang pada akhirnya mempengaruhi cara pandang individu tentang identitasnya dan nilai-nilai budaya mereka (Dessí, 2005). Trauma yang diturunkan dari generasi itu akan menjadi suatu sistem terorganisasi yang terdiri dari atribut-atribut internal yang berpusat pada apapun yang mengarah ke diri sendiri atau disebut oleh Solso dkk (2019) sebagai skema diri.
Trauma kolektif sangat menghancurkan bagi individu dan kelompok, itu adalah peristiwa bencana yang mempengaruhi masyarakat secara keseluruhan, bukan hanya korban individu (Hirschberger, 2018), sama seperti trauma pada tingkat individu, trauma adalah pengalaman tak terduga yang memiliki kemampuan untuk mengubah semua struktur kepribadian yang masih utuh dan fungsi yang biasanya diinginkan. Individu yang mengalami trauma mengalami "lubang hitam" di dalam diri mereka, yang berarti struktur mereka hancur dan terpecah menjadi beberapa bagian, yang menyebabkan mereka kehilangan rasa akan diri dan kontinuitasnya (Zepinic, 2016).
Dalam teori yang dirumuskan oleh Janoff Bulman mengenai Shattered Assumptions, menjelaskan bahwa setiap manusia hidup dengan assumtive world atau sebuah keyakinan dasar bahwa dunia itu baik (benevolent), bermakna (meaningful), dan setiap diri itu berharga (worthy). Namun, ketika individu mengalami sebuah peristiwa traumatik, keyakinan-keyakinan itu akhirnya terguncang oleh informasi baru yang didapat namun bertentangan dengan assumtive world yang setiap individu miliki (van Bruggen dkk, 2018). Pada konteks trauma kolonial dalam pengasuhan, narasi yang diturunkan secara berulang adalah bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang terjajah, meliputi berbagai kepedihan yang terjadi pada masa kolonial.
Dampak pascatrauma yang terjadi pada diri individu digambarkan sebagai sebuah serangkaian faktor yang begitu kompleks yang dapat mengubah komponen secara struktural dan fungsional pada setiap kepribadian individu secara keseluruhan. Trauma memengaruhi semua dimensi fungsi perilaku dan respons psikologis terhadap cedera fisik dan psikologis. Pribadi yang terluka oleh trauma akan menunjukkan reaksi fisiologis seperti, emosi, persepsi, dan atribusi kognitif tentang pengalaman trauma yang menyebabkan cedera mereka (Wilson, 2004).
Fanon dalam bukunya yang berjudul Black Skin White Mask (1952) menuliskan terdapat gejala individu yang mengalami trauma kolonial yang menjadi masalah sosiodiagnostik, antara lain :
1. Inferiority Complex
Setiap bangsa yang mengalami penjajahan cenderung akan menginternalisasikan rasa inferior akibat tergerusnya keaslian budaya lokal. Kondisi ini dapat digambarkan seperti bangsa yang berhadapan langsung dengan Bahasa dan budaya dari penjajah sebagai sebuah standar yang dianggap “layak” untuk diterima. Status sosial sebuah bangsa terjajah akan meningkat seiring berjalannya waktu dengan sejauh mana mereka mengadopsi budaya dari negara penjajah, sehingga identitas asli sebuah bangsa perlahan ditinggalkan demi mendekati citra budaya dari negara dominan.
2. Alienasi Identitas
Keterasingan adalah pengalaman yang hidup secara struktural yang dihasilkan oleh kekuasaan pada masa kolonial, seperti dalam buku Fanon yang membahas bangsa kulit hitam diposisikan sebagai pihak yang kurang bernilai. Keterasingan ini dapat dipahami tidak hanya sebagai persoalan yang dialami setiap individu, melainkan hasil dari tatanan kolonial yang menekan proses pembentukan identitas dan mendorong individu menghadirkan citra diri yang penuh luka. Individu dapat terhubung secara langsung dengan pemaknaan luka pada masa itu dengan cara memahami bahwa jiwa dan masyarakat itu saling mencerminkan, secara apa adanya menerjemahkan perbedaan mereka satu sama lain, tanpa harus kehilangan keaslian ke dalam totalitas historis. Kolonialisme, masa penuh luka yang memaksa orang-orang yang didominasinya untuk terus-menerus bertanya pada diri sendiri "Sebenarnya, siapakah saya?"
Trauma dapat menyebabkan keadaan ego, identitas, dan konfigurasi diri berubah, sehingga dapat mengganggu kemampuan proses ego untuk berfungsi dengan baik (Soesilo, 2014). Saat mengalami pengalaman traumatis, berbagai fungsi ego, termasuk persepsi, ingatan, orientasi, dan kemampuan berpikir, rusak atau terhenti, sehingga pikiran tidak dapat memproses informasi secara normal. Akibatnya, pengalaman tersebut tidak dapat diingat secara runtut atau terorganisasi, inilah sebabnya peristiwa tersebut disebut sebagai "trauma" (Blackman, 2024). Pada akhirnya, trauma dapat mengubah ego dan mekanisme pertahanan diri seseorang, yang berdampak pada cara mereka melihat peristiwa, menilai stres, dan memberi makna dan alasan pada pengalaman tersebut, keadaan ini kemudian memengaruhi cara seseorang melihat dunia dan keyakinan-keyakinan yang mereka pegang (Soesilo, 2014).
Peristiwa traumatis dapat menimbulkan dampak negatif bagi kesejahteraan fisik maupun psikologis seseorang. Trauma itu tidak hanya melukai emosi, tetapi juga mengubah cara seseorang memaknai hidup, termasuk nilai-nilai, keyakinan, dan pandangan mereka tentang dunia. Individu yang mengalami trauma harus menata ulang hidupnya, kemudian mulai mempertimbangkan kembali apa yang dianggap penting, apa yang tidak lagi penting, dan apa yang harus diprioritaskan. Proses pemulihan trauma tidak hanya mengurangi gejala, tetapi juga membangun kembali makna diri seseorang. Ini termasuk mengubah cara individu melihat kehidupan, identitas, tujuan, dan nilai diri setelah kejadian traumatis. Proses inilah yang disebut dengan ‘post-traumatic self’ yang melihat bagaimana individu dapat membangun kembali makna dan identitas diri setelah kejadian itu (Soesilo, 2014).
Individu yang terdampak cedera traumatis pada struktur diri, proses ego, identitas kepribadian, dan proses kepribadian akan mengalami yang disebut sebagai diri pascatrauma. Kondisi ini melibatkan semua aspek pada fungsi perilaku dan psikologis sebagai reaksi terhadap keadaan psikologis serta fisik yang sudah dipengaruhi oleh trauma. Untuk memahami dan menangani efek trauma pada individu, seseorang tidak hanya berfokus pada gejala-gejala yang muncul, tetapi juga untuk memperbaiki struktur psikologis yang dasarnya ada pada pengalaman setiap individu. Salah satu pendekatan yang penting adalah memperhatikan bagaimana “self” berfungsi sebagai pusat pengorganisasian kehidupan psikologis (Soesilo, 2014).
Untuk mempertahankan kesinambungan diri dan kesejahteraan psikologis setelah trauma, individu membutuhkan mekanisme yang membantunya mengintegrasikan pengalaman hidup ke dalam identitas diri. Salah satu mekanisme untuk memperbaiki struktur psikologis adalah pembentukan makna autobiografis atau autobiographical meaning making yang berbasis pada memori untuk melindungi rasa kontinuitas diri dan kesejahteraan psikologis setiap individu. Pembentukan makna tersebut memungkinkan individu untuk mengidentifikasi perubahan kepribadian dan kehidupannya dengan menghubungkan pengalaman pribadi dengan kemajuan diri, sehingga perubahan yang dialami dapat dipahami sebagai bagian dari perjalanan hidup, bukan sebagai suatu kehilangan jati diri (Camia & Zafar, 2021).
Kesimpulan
Kondisi psikologis individu Indonesia dapat dipengaruhi oleh konteks sosial dan budayanya. Sehingga, diduga, trauma kolonial (melalui trauma antar generasi), berpotensi melemahkan jati diri, hingga kini. Dibutuhkan kajian lanjut untuk dekonstruksi paradigma yang telah tertanam selama ini.
Daftar Pustaka
Aditya, F., Pratama, RS., Siagian, SZ., Daely, VG., Yunita, S. (2024). Pengaruh Kolonialisme terhadap Struktur Sosial dan Ekonomi Indonesia. Jurnal Pendidikan Tambusai, Volume 8 Nomor 2. ISSN: 2614-6754 (print) ISSN: 2614-3097(online).
Ainunnida, R. N,. Shofiyuddin, H. (2024). Trauma Kolonial Dalam Cerpen Clara Atawa Wanita Yang Diperkosa Karya Seno Gumira Ajidarma. Konasindo, Konferensi Nasional Mahasiswa Sastra Indonesia, Prodi Sastra Indonesia-Fakultas Adab dan Humaniora.https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konasindo/article/view/2593 .
Blackman, J. S. (2024). Book Reviews: A Psychoanalytic Understanding of Trauma: Post-Traumatic Mental Functioning, the Zero Process, and the Construction of Reality. Journal of the American Psychoanalytic Association, 72(1), 198-209. https://doi.org/10.1177/00030651241245928
Camia, C., Zafar, R. (2021). Autobiographical Meaning Making Protects the Sense of Self-Continuity Past Forced Migration. Frontiers in Psychology, Volume, 12, doi: 10.3389/fpsyg.2021.618343
Dessí, R. (2008). "Collective Memory, Cultural Transmission, and Investments." American Economic Review 98 (1): 534–60. DOI: 10.1257/aer.98.1.534
Doornbos, J., & Dragojlovic, A. (2022). ‘The past should not affect the children’: intergenerational hauntings in the homes of Indo-European families. Gender, Place & Culture, 29(8), 1141–1161. https://doi.org/10.1080/0966369X.2021.1950644
El-Khalil, C., Tudor, D.C., Nedelcea, C. (2025). Impact of intergenerational trauma on second-generation descendants: a systematic review. BMC Psychology. 2025 Jul 1;13(1):668. doi: 10.1186/s40359-025-03012-4. PMID: 40597246; PMCID: PMC12220155.
Fanon, F. (1952). Black Skin White Mask. London: by Pluto Press 345 Archway Road. London N6 5AA.
Hasudungan, A. N. (2021). Pelurusan Sejarah Mengenai Indonesia Dijajah Belanda 350 Tahun Sebagai Materi Sejarah Kritis Kepada Peserta Didik Kelas XI SMAN 1 Rupat. Jurnal Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah, Volume 9 Nomor 3.
Hirschberger G. (2018). Collective Trauma and the Social Construction of Meaning. Frontiers in Psychology, 9, 1441. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2018.01441
Ikbar, A., Andalas, E. F. (2019). Dampak Psikologis Kolonialisme Barat Terhadap Masyarakat Pribumi dalam Kumpulan Cerpen “Aloer-Aloer Merah” Karya Ardi Wina Saputra. Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, https://doi.org/10.33603/DJ.V6I2.1844
Kim, T., Jordan, L. P., McLaren, H., Thlen, S., & Emery, C. R. (2025). The intergenerational effect of grandmothers’ trauma on offspring’s psychological distress in Cambodian skipped-generation households. American Journal of Orthopsychiatry. Advance online publication. https://doi.org/10.1037/ort0000859
Koentjaraningrat. (1974). Kebudayaan Mentalitet dan Pembangunan. Gramedia. Jakarta.
Meinarno, EA., Sundari, AR. (2026). Mungkinkah “SDM Rendah” Diproduksi Melalui Ketidaksadaran Sosial?. Buletin KPIN. Vol. 12 No. 49 Januari 2026 ISSN 2477-1686 Published 01 January 2026. https://buletin.k-pin.org/index.php/daftar-artikel
Mitchell, T.; Arseneau, C.; & Thomas, D. (2019). Colonial Trauma: Complex, continuous, collective, cumulative and compounding effects on the health of Indigenous peoples in Canada and beyond. International Journal of Indigenous Health, 14(2), 74 – 94. DOI 10.32799/ijih.v14i2.32251
Soesilo, A. (2014). Trauma Experience, Identity, and Narratives. Buletin Psikologi, Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada, Volume 22, No. 1, Juni 2014, 1-17.
Solso, R. L., Maclin, O. H., Maclin, M. K. (2019). Psikologi Kognitif, Edisi Kedelapan. Erlangga, Jakarta.
van Bruggen, V., Ten Klooster, P. M., van der Aa, N., Smith, A. J. M., Westerhof, G. J., & Glas, G. (2018). Structural Validity of the World Assumption Scale. Journal of traumatic stress, 31(6), 816–825. https://doi.org/10.1002/jts.22348
Wilson, J. P. (2004). PTSD and Complex PTSD: Symptoms, Syndromes, and Diagnoses. In J. P. Wilson & T. M. Keane (Eds.), Assessing psychological trauma and PTSD (2nd ed., pp. 7–44). The Guilford Press.
Zepinic, V. (2016). Disintegration of the Self-Structure Caused by Severe Trauma. Psychology and Behavioral Sciences, 5, 83. https://doi.org/10.11648/J.PBS.20160504.12
