ISSN 2477-1686  

 Vol. 12 No. 51 Februari 2026

Is It Normal Or Just Late?

Red Signs Perkembangan Bahasa Bicara Pada Masa Kanak-kanak


Oleh:
Anneta Talya Vida Tobing1, Brigita Wulandini Roring2, & Yuliana Anggreany3

1 2Breakthrough for Life Center
3Fakultas Psikologi, Universitas Pelita Harapan

 

“Kenapa ya anakku seusia ini belum lancar bicara?”

“Teman sebayanya sudah cerewet, kok anakku masih menunjuk-nunjuk?”

“Anakku baru bisa ngomong mama-papa di usianya yang hampir 4 tahun. Ini masih wajar, atau sudah terlambat?”


Pertanyaan-pertanyaan tersebut kerap muncul dalam keseharian orang tua, terutama ketika mengamati perbedaan kemampuan komunikasi antara anaknya dengan anak-anak lain di usia yang sama. Perkembangan bahasa dan bicara memang menjadi salah satu aspek yang paling mudah terlihat dan sering dijadikan tolok ukur dalam menilai tumbuh kembang anak usia dini.

Perkembangan Bahasa Pada Anak

Perkembangan bahasa merupakan salah satu aspek paling krusial dalam fase early childhood, yaitu usia 0-6 tahun (Papalia et al., 2009). Pada masa ini, kemampuan bahasa anak berkembang pesat dari sekadar respons suara menjadi kemampuan berbicara, memahami bahasa, dan berkomunikasi dengan orang lain. Perkembangan bahasa tidak hanya mencerminkan kematangan kognitif, tetapi juga merupakan fondasi penting bagi kemampuan sosial, emosional, dan akademik anak di masa depan (Isaac, 2024).

 

Tahapan Perkembangan Bahasa dan Bicara Pada Anak

Perkembangan bahasa dan bicara anak sejatinya sudah dimulai sejak usia bayi. Mereka akan berkomunikasi melalui tangisan, lalu berkembang menjadi ocehan, hingga kata dan kalimat. Seiring dengan perkembangan usia, perkembangan bahasa baik dari segi reseptif/pemahaman dan ekspresif/pengujaran juga berkembang. Berikut adalah tahapan perkembangan bahasa dan bicara anak dari usia 0-5 tahun (American Speech-Language-Hearing Associations, n.d):

 

      Usia 0-3 bulan

Pada usia 0-3 bulan, anak akan mulai peka terhadap suara sekitarnya dan mengenali orang terdekatnya. Anak juga mulai membuat suara seperti “Ooh”, “Aaa”, “Mmm”, dan membuat suara yang berbeda ketika ia senang atau kesal.

      Usia 4-6 bulan

Pada usia 4-6 bulan, anak akan mulai merespon ekspresi wajah, mengeluarkan suara tawa, dan mengeluarkan suara vokalisasi seperti “Uumm” “Aagoo”, atau “Daaa”

      Usia 7-9 bulan

Saat berusia 7-9 bulan, anak akan mulai mencari sumber suara ketika namanya dipanggil, mengenali nama beberapa orang dan benda, dan semakin banyak mengeluarkan ocehan dengan rangkaian suara yang lebih panjang.

      Usia 10-12 bulan

Di usia ini, anak akan mulai menunjuk, melambaikan tangan, dan memberikan atau menunjukkan benda. Ia juga akan mulai meniru gerakan dan terlibat dalam interaksi sederhana. Dalam bicaranya, anak akan mencoba menirukan suara yang orang tuanya buat atau suara yang ia dengar.

      Usia 13-18 bulan

Di usia ini, anak mulai mengikuti instruksi sederhana seperti “Tunjuk hidung!”, ‘Kasih bola!” “Ayo sini!”, memahami kata benda, kata kerja dan orang sekitarnya, dan mulai mampu mengidentifikasi satu atau lebih anggota tubuhnya. Dalam bicara, anak akan menggunakan kombinasi bunyi, suku kata, dan kata seperti ‘Mamaaa”, “Papaaa”, “Iyaa”.

      Usia 19-24 bulan

Pada usia 19-24 bulan, anak akan menggunakan dan memahami setidaknya 50 kata yang berbeda. Anak juga akan menunjukkan kemampuan dalam memahami instruksi dua tahap seperti “Ambil bola, kasih Mama!”. Dalam ucapannya, anak akan mulai mengucap dengan kombinasi kata.

      Usia 2-3 tahun

Pada usia ini, anak akan memahami pertanyaan sederhana terkait dirinya. Kosakatanya juga akan semakin banyak dan mampu mengungkapkan kebutuhannya secara verbal seperti “Mau susu” atau “Mama.. makan”. Anak juga akan mulai bertanya seperti “Apa ini?”, “Kenapa?”, “Gimana?”, dan mampu mengucapkan beberapa konsonan seperti “p, b, m, w, h, d”.

      Usia 3-4 tahun

Di usia 3-4 tahun, anak akan mulai memahami preposisi/letak seperti di atas atau di bawah. Anak juga akan mulai menceritakan tentang apa yang ia tonton atau lihat. Kosakatanya juga akan semakin banyak, diikuti dengan ucapannya yang semakin jelas dipahami.

      Usia 4-5 tahun

Di usia 4-5 tahun, anak akan memahami instruksi bertahap, peraturan, dan pertanyaan. Dalam bicara, anak akan lebih banyak menggunakan variasi kata dan mampu menceritakan pengalaman dengan lebih baik.

 

Apakah Perkembangan Anakku Terlambat?

Orang tua seringkali bertanya-tanya mengenai perkembangan anaknya, terkhusus perkembangan bahasa dan bicara. “Kok anakku usia segini belum bisa ngomong ya? Normal atau terlambat ya?”. Pertanyaan tersebut sebenarnya dapat dijawab dengan memperhatikan beberapa “red signs” dari perkembangan bahasa dan bicara anak (Liang et al., 2023):

  1. Anak terlihat “cuek” atau tidak memberikan respon pada suara/bunyi-bunyian di sekitarnya.
  2. Anak belum mengeluarkan satu pun ocehan/babbling di usia 9 bulan.
  3. Anak tidak menunjukkan respons berupa gestur (menunjuk/melambaikan tangan) di usia 12 bulan.
  4. Anak belum mengujarkan satu kata bermakna di usia 16 bulan.
  5. Anak belum dapat mengkombinasikan dua kata seperti “Aku mau…”, ‘Mama.. mau” di usia 24 bulan.
  6. Anak belum mampu mengikuti instruksi sederhana seperti “Duduk, Dek!”, “Kesini!”, “Berdiri!” di usia 24 bulan.
  7. Ucapan anak sulit untuk dipahami hingga usia 36 bulan.

 

Apa yang harus dilakukan oleh orang tua?

Setelah mengetahui mengenai tahapan perkembangan bahasa bicara anak dan “red signs” perkembangan bahasa dan bicara, ada beberapa tindakan yang dapat diambil oleh orang tua yaitu:

  1. Jangan Panik!

“Aduhh! Gimana ini? Gimana nanti sekolahnya? Gimana nanti sama temen-temennya? Bisa sembuh gak ya?”.

Seringkali respon pertama yang keluar dari orang tua adalah panik, takut, dan berujung mencari informasi di media sosial yang pada akhirnya menjadi “self diagnose”.  Sebenarnya, perasaan tersebut manusiawi, tetapi akan lebih baik jika orang tua dapat mengambil sikap tenang dan berusaha mencari informasi atau bantuan kepada profesional.

 

  1. Stimulasi di Rumah

Ada sebuah quote yang menyatakan “Bukan mainan mahal yang anak inginkan, melainkan kehadiran orang tua untuk bermain bersamanya”.

Orang tua juga turut berperan dalam perkembangan bahasa anak karena orang tua/pengasuh merupakan model bahasa pertama bagi anak. Respons interaktif yang hangat dan konsisten terhadap suara dan kata anak dapat mempercepat perkembangan bahasa (Friantary, 2020).

Salah satu bentuk stimulasi yang paling mudah dilakukan di rumah adalah bermain dengan anak. Luangkan waktu khusus untuk dapat bermain bersama anak, membacakan cerita untuknya, menari, dan bernyanyi bersama. Secara tidak langsung, melalui aktivitas tersebut orang tua dapat memberikan stimulasi atau input bahasa kepada anak. Ajarkan anak beberapa kosakata baru dari aktivitas sederhana seperti bermain masak-masakkan/role-play, bernyanyi bersama dan membacakan cerita untuknya. Melalui aktivitas bermain, anak akan lebih nyaman, natural dan percaya diri dalam mengekspresikan perasaanya. Hal ini menciptakan fondasi optimal untuk perkembangan bahasa dan bicara, karena anak-anak dapat belajar tanpa khawatir melakukan kesalahan atau dikritik maupun dikoreksi (Harianto et al., 2024).

 

  1. Mencari bantuan profesional

Dalam menemani tumbuh kembang anak, tentunya banyak hal baru yang akan dijumpai oleh orang tua. Maka dari itu, orang tua dapat memantau kemampuan bahasa dan bicara anak dengan memperhatikan milestone/tahapan perkembangan anak dan “red sign” perkembangan anak. Orang tua juga dapat mencari informasi dan berkonsultasi pada profesional seperti dokter anak, dokter rehabilitasi medik, psikolog, terapis wicara, terapis okupasional, dan fisioterapis.

 

Referensi:

American Speech-Language-Hearing Association. (n.d.). Communication milestones: Age ranges. Retrieved January 22, 2026, from https://www.asha.org/public/developmental-milestones/communication-milestones/

Friantary, H. (2020). Perkembangan bahasa pada anak usia dini. Zuriah: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 1(2), 127–136. https://doi.org/10.29240/zuriah.v1i2.2100 

Harianto II, Nasution, B., Malinda, R., Burhanuddin, & Pranawukir, I. (2024). Fun activities to develop children’s language and literacy skills. International Journal of Community Service, 3(1), 109–117. https://doi.org/10.55299/ijcs.v3i1.882

Isaac, N. U. (2024). Early childhood, language development and its acquisition. Spektra: Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial, 6(2), 206-225. https://doi.org/10.34005/spektra.v6i2.4188

Liang, W. H. K., Gn, L. W. E., Tan, Y. C. D., & Tan, G. H. (2023). Speech and language delay in children: A practical framework for primary care physicians. Singapore Medical Journal, 64(12), 745-750. https://doi.org/10.4103/singaporemedj.SMJ-2022-051

Papalia, D. E., Olds, S. W., & Feldman, R. D. (2009). Human Development. (11th ed.). McGraw-Hill.

Santrok, J. W. (2011). Educational Psychology. (5th ed.). McGraw-Hill.

 

Shipley, K., & McAfee, J. G. (2025). Assessment in Speech-Language Pathology. (7th ed.). Plural Publishing, Inc.