ISSN 2477-1686
Vol. 12 No. 51 Februari 2026
Kesehatan Mental & Alam: Bagaimana Psikologi Membentuk Masa Depan Berkelanjutan?
Oleh:
Inge Bondan Pratiwi
Program Studi Psikologi, Universitas Udayana
"When we are connected with nature, we are connected with the best part of ourselves, which is calm and wise." - Ralph Waldo Emerson
Kesehatan mental dan keberlanjutan lingkungan merupakan isu yang sangat penting karena memiliki dampak yang signifikan terhadap kualitas hidup manusia dan kelestarian alam. Di zaman yang semakin canggih ini manusia dihadapkan pada tekanan, stres, dan kecemasan yang berdampak pada kehidupan sehari-hari dan mempengaruhi kesejahteraan psikologis. Di satu sisi, tantangan lingkungan seperti perubahan iklim, kepunahan, rusaknya ekosistem, dan polusi membuat ancaman terhadap keberlangsungan bumi. Keterhubungan antara manusia dan alam merupakan salah satu cara untuk membangun sebuah keseimbangan. Hal ini diyakini oleh Ralph Waldo Emerson seorang sastrawan berkebangsaan Amerika Serikat. Beliau meyakini bahwa saat manusia terhubung dengan alam, mereka akan menemukan aspek terbaik dalam dirinya yaitu berupa ketenangan dan kebijaksanaan. Berawal dari hal tersebut, lahirlah sebuah inspirasi untuk membuat strategi membangun kesehatan mental dan keberlanjutan lingkungan ditengah banyaknya isu kerusakan alam demi terwujudnya kesejahteraan psikologis.
Pada zaman dulu kesehatan mental hanya terbatas pada individu yang memiliki gangguan kejiwaan. Namun, pada era modern ini pandangan bergeser sehingga kesehatan mental tidak hanya terbatas pada individu yang memiliki gangguan tetapi juga diperuntukkan bagi individu yang mentalnya sehat yakni tentang cara individu untuk mampu memahami dirinya agar dapat berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya (Fakhriyani,2019). Kemajuan teknologi dan informasi di era modern ini akhirnya memunculkan dampak pada berbagai permasalahan kesehatan mental. Hal ini akibat adanya banyak kesempatan, tantangan, dan juga ancaman yang harus dihadapi oleh manusia. Kehidupan di era modern yang berjalan begitu cepat dan kompetitif dapat menyebabkan stres dan kecemasan pada individu. Beberapa permasalahan lainnya di era modern ini, seperti approval anxiety, fear of missing out (FOMO), connection overload, dan kewaspadaan online (Khetawat et al., 2023). Meskipun kita terhubung di era digital dengan kecepatan akses internet, tetapi tak jarang hal ini masih menimbulkan perasaan kesepian dan isolasi pada individu. Hal ini akibat interaksi dangkal di sosial media tidak dapat menggantikan hubungan sosial yang mendalam.
Menurut Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 2018 menunjukkan bahwa sekitar 6,7 permil penduduk Indonesia mengalami gangguan jiwa berat. Sementara tingkat depresi sebesar 6,1% dan gangguan emosional 9,8% dimana angka ini terbilang cukup besar. Konsep kesejahteraan psikologis yang mencakup kepuasan hidup, kesehatan mental, dan kebahagiaan secara keseluruhan telah menjadi isu yang terkenal beberapa tahun terakhir hal ini karena masyarakat telah menyadari pentingnya membangun sebuah komunitas yang tangguh dan berkembang (El-Bana et al., 2015 dalam Ardianyansyah et al., 2023).
Ancaman Lingkungan dan Dampaknya pada Kesehatan Mental
Perubahan lingkungan, terutama terkait perubahan iklim, dapat menciptakan ketidakpastian dan kecemasan tentang masa depan. Hal ini kemudian mempengaruhi kesehatan mental individu. Aktivitas manusia menjadi salah satu faktor kerusakan alam yang kemudian mengancam kesejahteraan manusia sendiri. Beberapa ancaman nyata yang harus dihadapi manusia meliputi krisis pangan, krisis air, krisis energi, dan perubahan cuaca ekstrem. Selain itu, polusi udara akibat emisi industri dan transportasi meningkatkan risiko penyakit pernapasan, seperti asma. Fenomena eco-anxiety atau kecemasan terkait lingkungan juga semakin umum, membuat orang merasa cemas, takut, dan khawatir tentang masa depan planet ini, yang pada akhirnya mengganggu kesehatan mental (Yakinlar & Akpinar, 2022).
Ancaman ini memaksa manusia untuk beradaptasi. Migrasi paksa menjadi kenyataan bagi mereka yang kehilangan rumah akibat bencana lingkungan, dan negara-negara yang terancam kenaikan permukaan air laut harus memindahkan penduduk mereka. Meski demikian, masih ada harapan. Tindakan seperti pengurangan emisi gas rumah kaca, konservasi alam, dan adaptasi terhadap perubahan iklim dapat membantu mengatasi ancaman ini. Kesadaran dan tindakan global dalam menghadapi perubahan lingkungan tidak dapat diremehkan, karena melindungi planet ini berarti menjaga kesejahteraan manusia di masa depan
Manfaat Keterhubungan dengan Alam bagi Kesejahteraan Psikologis
Keterkaitan dengan lingkungan alam telah dikaitkan dengan berbagai manfaat kesehatan dan kesejahteraan psikologis (Gandy et al., 2020). Akses terhadap ruang hijau dapat memfasilitasi aktivitas fisik, yang selanjutnya berkontribusi terhadap kesehatan mental (Yakinlar & Akpinar, 2022). Individu yang terhubung dengan alam cenderung lebih mampu menjauhi perasaan keterasingan, isolasi, kecemasan, hingga depresi. Keterhubungan ini juga memediasi hubungan antara kontak dengan alam dan kesejahteraan subjektif serta perilaku ekologis (Martin et al., 2020).
Selain kontak langsung dengan alam, penelitian menunjukkan hubungan kuat antara keterkaitan alam dan kesehatan psikologis eudaimonik—yaitu pengalaman subjektif terkait aktualisasi diri, vitalitas, dan ekspresi pribadi (Pritchard et al., 2020). Setelah melakukan interaksi dengan alam, individu dengan tingkat keterkaitan yang lebih tinggi dilaporkan mengalami kepuasan hidup yang meningkat (Chang et al., 2020).
Mindfulness & Eco-Therapy sebagai Solusi dari Alam
Pendekatan berbasis alam dapat menjadi strategi efektif untuk mengatasi stres, kecemasan, dan ketidakpastian yang muncul akibat perubahan lingkungan. Salah satunya adalah dengan meningkatkan kesadaran ekologis. Individu yang memahami kondisi bumi dan urgensi menjaga lingkungan cenderung mengadopsi perilaku ramah lingkungan, seperti mengurangi konsumsi energi, mengelola sampah dengan bijak, dan mendukung energi terbarukan.
Selain itu, praktik mindfulness memungkinkan individu hadir sepenuhnya di setiap momen, meredakan stres, dan melakukan refleksi tentang peran mereka dalam menjaga lingkungan. Dengan berfokus pada saat ini, seseorang dapat menenangkan pikiran sambil menyadari konsekuensi dari tindakan terhadap alam.
Eco-therapy juga menawarkan manfaat psikologis yang signifikan. Melalui interaksi langsung dengan alam, individu dapat merasakan kesejahteraan, keseimbangan, dan pemulihan psikologis. Terapi ini bisa dilakukan sendiri atau dalam kelompok, sehingga tidak hanya mendukung kesejahteraan mental individu, tetapi juga membangun dukungan sosial antarpartisipan. Kombinasi mindfulness dan eco-therapy memberi kesempatan bagi manusia untuk menenangkan pikiran sambil merawat planet, menciptakan harmoni antara kesehatan mental dan keberlanjutan lingkungan.
Dalam perjalanan menuju kesejahteraan psikologis yang lebih baik, kita tidak hanya merawat kesehatan mental kita, tetapi juga merawat rumah kita bersama, yaitu Bumi. Dalam upaya untuk memiliki keterhubungan diri dengan alam dan mengadopsi pendekatan mindfulness, dapat menciptakan sebuah fondasi yang kokoh untuk keberlanjutan lingkungan sekaligus kesejahteraan psikologis. Dengan setiap langkah yang diambil menuju kesadaran yang lebih dalam tentang pentingnya hubungan ini, kita sedang menciptakan sebuah peluang baru untuk perubahan positif. Dengan kepedulian ini, kita sedang bersama-sama mewujudkan visi masa depan yang lebih cerah, dimana manusia dan alam hidup bersama dalam sebuah harmoni.
Referensi:
Ardhiyansyah, A., Iskandar, Y., & Riniati, W. O. (2023). Perilaku Pro-Lingkungan dan Motivasi Sosial dalam Mengurangi Penggunaan Plastik Sekali Pakai. Jurnal Multidisiplin West Science, 2(07), 580-586.
Chang C-C, Oh RRY, Le Nghiem TP, et al. (2020) Life satisfac- tion linked to the diversity of nature experiences and nature views from the window. Landscape and Urban Planning 202: 103874.
Gandy, S., Forstmann, M., Carhart-Harris, R. L., Timmermann, C., Luke, D., & Watts, R. (2020). The potential synergistic effects between psychedelic administration and nature contact for the improvement of mental health. Health Psychology Open, 7(2), 2055102920978123.
Fakhriyani, D.V. (2019) Kesehatan Mental. Pamekasan: Duta Media Publishing. Kemenkes RI. (2018). Laporan Nasional RISKESDAS 2018. In Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.https://www.kemkes.go.id/resources/download/info-terkini/hasil-riskesdas- 2018.pdf
Khetawat, D., & Steele, R. G. (2023). Examining the Association Between Digital Stress Components and Psychological Wellbeing: A Meta-Analysis. Clinical child and family psychology review, 10.1007/s10567-023-00440-9. Advance online publication. https://doi.org/10.1007/s10567-023-00440-9’
Martin L, White MP, Hunt A, et al. (2020) Nature contact, nature connectedness and associations with health, well-being and pro-environmental behaviours. Journal of Environmental Psychology 68: 101389.
Pritchard A, Richardson M, Sheffield D, et al. (2020) The rela- tionship between nature connectedness and eudaimonic well-being: A meta-analysis. Journal of Happiness Studies 21: 1145–1167.
