ISSN 2477-1686
Vol. 12 No. 51 Februari 2026
Apakah Hewan Peliharaan Masih Relevan Sebagai Sumber Dukungan Emosional di Tengah Kesepian Paradoks?
Putu Ayu Khausiki Parwati Putri, Yohanes K. Herdiyanto, Ni Made Diah Saraswati
Program Studi Psikologi, Fakultas Psikologi, Universitas Udayana
Pendahuluan
Pernahkah Anda merasa sangat kesepian justru saat sedang asyik menggulir layar ponsel yang penuh dengan notifikasi? Jika iya, Anda tidak sendirian. Kita sedang hidup di era "paradoks kesepian", sebuah kondisi di mana kita terhubung dengan ratusan orang secara digital, namun merasa kosong dan terasing secara emosional (Guinguis, 2025).
Disrupsi teknologi yang kita alami saat ini menerbitkan tanya mengenai bagaimana mengisi kekosongan tersebut dengan sumber-sumber dukungan yang telah lama kita gunakan, salah satunya lewat kehadiran hewan peliharaan yang menjadi teman menghilangkan rasa sepi sejak ribuan tahun lalu.
Kehadiran hewan peliharaan telah menjadi bagian dari praktik budaya lintas generasi. Kini, hubungan antara manusia dan hewan tidak hanya sekadar pemenuhan fungsi utilitas, tetapi juga bentuk keterikatan emosional dan hubungan interpersonal (Blazina et al., 2011).
Masalah
Fenomena paradoks kesepian telah berkembang menjadi masalah psikososial, terutama di masyarakat yang penuh dengan interaksi digital dan teknologi. Individu merasa semakin terisolasi, kurang memiliki kedekatan emosional yang sebenarnya, dan menghadapi kesulitan untuk membangun hubungan interpersonal meskipun konektivitas sosial teknis semakin meningkat (Guinguis, 2025). Ini banyak terjadi di kalangan remaja dan dewasa muda yang menggunakan interaksi digital sebagai cara utama untuk bersosial (Twenge et al., 2021). Masyarakat modern cenderung bergantung pada teknologi seperti terapi virtual dan media sosial untuk mengatasi kesepian (SCI, 2025). Ini menimbulkan keraguan tentang pentingnya dukungan emosional hewan peliharaan, yang dianggap "tradisional" di ranah dunia digital.
Permasalahan ini juga berakar dari ketidakseimbangan nilai-nilai budaya yang membentuk persepsi terhadap hewan peliharaan. Di satu sisi ,pengakuan terhadap hak dan kesejahteraan hewan semakin meningkat; di sisi lain, banyak budaya yang masih menganggap ungkapan kasih sayang terhadap hewan sebagai sesuatu yang berlebihan, bahkan irasional. Perubahan ini memengaruhi persepsi psikologis dan kualitas hubungan antara manusia dan hewan (Ikei, dkk., 2023). Dalam konteks ini, selain dianggap sebagai objek budaya, hewan peliharaan juga mempertanyakan keberadaannya dalam memenuhi kebutuhan psikologis manusia.
Teori
Menurut Russell, dkk. (1980), kesepian dapat terjadi karena kurangnya interaksi dan hubungan sosial yang erat dengan orang lain, dan kesepian disebabkan oleh perubahan drastis dalam kehidupan sosial individu. Dalam perspektif Abraham Maslow, kebutuhan akan cinta dan rasa memiliki merupakan komponen penting dalam hierarki kebutuhan manusia. Sebagai makhluk sosial, manusia memiliki kebutuhan berinteraksi untuk mencapai suatu tujuan (Puteri & Wangid, 2018). Carl Rogers mengungkapkan bahwa hubungan yang sehat ditandai dengan penerimaan tanpa syarat, empati, dan kehadiran (Mcleod, 2023). Hewan peliharaan dianggap mampu memberikan cinta tanpa syarat yang tidak memandang status sosial dan prestasi profesional (Duma, 2022). Nurlayli dan Hidayati (2014) juga menyatakan bahwa dalam mengurangi kesepian, salah satu caranya adalah dengan memelihara hewan peliharaan.
Menurut teori attachment oleh Bowlby (1988), individu membutuhkan figur keterikatan yang stabil dan menjadi “secure base” yang memungkinkan seseorang mengatur emosi dengan lebih baik. Dalam konteks hubungan manusia-hewan, teori ini seperti hubungan antara anak-anak dan orang tua, yang mengembangkan pola keterikatan, nyaman, dan stabil. Penelitian Zilcha-Mano, dkk. (2011) mendukung bahwa hewan peliharaan dapat berfungsi sebagai safe haven dan secure base bagi pemiliknya.
Dukungan sosial didefinisikan sebagai persepsi bantuan yang diterima dari lingkungan sosial, dapat berupa dukungan emosional, instrumental, informasional, dan appraisal (Cohen & Syme, 1985). Hewan peliharaan membantu hubungan manusia-hewan dengan memberikan kenyamanan emosional dan stabilitas psikologis. Mekanisme dukungan ini termasuk memberikan companionship, mengurangi kesepian, dan menyediakan sense of security bagi pemiliknya.
Pendekatan psikologi budaya menunjukkan bahwa pengalaman emosional manusia diliputi sistem nilai, simbol, dan makna kolektif (Markus & Kitayama, 1991). Artinya, sejauh mana hewan peliharaan memberikan dukungan emosional, dipengaruhi oleh budaya dan persepsi terhadap hewan tersebut. Dalam nilai budaya seperti kebersamaan dan kepedulian yang memperlakukan hewan sebagai anggota keluarga, hubungan emosional akan lebih berkembang. Sebaliknya, budaya yang memandang hewan secara utilitarian, potensi dukungan emosional dari hewan terabaikan.
Pembahasan
Fenomena kesepian paradoks menjadi tantangan dalam bidang kesehatan mental dan hubungan sosial di tengah era digital yang tingkat koneksi tinggi tetapi jarak emosionalnya rendah. Hewan peliharaan justru berperan dalam membantu mengimbangi kesepian yang diciptakan dunia digital. Hewan peliharaan seringkali menjadi secure base untuk dapat mengekspresikan diri tanpa takut ditolak dalam hubungan manusia yang berubah-ubah di media digital (Zilcha-Mano, dkk., 2011). Namun, dalam sosial-budaya yang modern ini, hubungan manusia-hewan masih mengalami kesulitan. Dukungan emosional yang sebelumnya tersedia secara fisik dan langsung, digantikan dengan teknologi seperti asisten digital berbasis AI, aplikasi terapi virtual, dan komunitas daring. Hubungan tradisional dengan hewan, seperti membutuhkan perhatian, tanggung jawab, dan interaksi lebih, dianggap tidak praktis karena masyarakat berfokus pada efisiensi, kontrol, dan kenyamanan instan (Van der Linden, dkk., 2022). Di sinilah terjadi paradoks: kebutuhan emosional manusia meningkat, preferensinya justru beralih ke dukungan dengan sedikit keterlibatan emosional.
Padahal, hewan peliharaan tidak hanya dapat menghibur, tetapi juga membantu mengontrol emosi, mengurangi stres, dan memotivasi keinginan untuk hidup, terutama bagi mereka yang hidup sendiri atau mengalami masalah hubungan sosial. Studi menunjukkan bahwa pemilik hewan peliharaan memiliki tingkat stres lebih rendah, tingkat kesepian yang lebih kecil, dan rasa keterhubungan yang lebih tinggi (Beetz et al., 2012). Penelitian Paduli dan Sumoked (2025) menjelaskan bahwa pemilik hewan yang dekat dengan hewannya cenderung memiliki skor lebih tinggi untuk kebahagiaan, makna hidup, dan kepuasan emosional. Keterikatan dengan hewan peliharaan memiliki korelasi positif dengan kesehatan mental pemiliknya, karena dapat mengurangi kesepian, stres, dan perasaan diterima (Purewal, dkk., 2017).
Hubungan positif antara kedekatan emosional dan hewan peliharaan ditunjukkan dengan peningkatan dukungan sosial, kesehatan, dan perubahan gaya hidup pemilik hewan peliharaan, yang ditunjukkan oleh kedekatan dengan hewan peliharaan (Lass-Hennemann, dkk., 2022; Hambarsika et al., 2023). Hasil penelitian Cahyani dan Afifah (2023), menjabarkan bahwa antara dukungan sosial dan keterikatan hewan peliharaan memiliki pengaruh terhadap kesepian. Studi Meehan dkk. (2017) menyatakan bahwa hewan peliharaan adalah bagian dari jaringan dukungan sosial dan dianggap sebagai salah satu sumber dukungan emosional. McConnell dkk. (2019) membuktikan bahwa hewan peliharaan dapat memainkan dalam memberikan dukungan dan meningkatkan kesehatan mental maupun fisik manusia.
Dengan begitu, hewan peliharaan tetap relevan sebagai sumber dukungan emosional di tengah era digital dan fenomena kesepian modern. Meskipun teknologi menyediakan dukungan virtual, hubungan manusia-hewan menawarkan keterikatan emosional yang mampu memenuhi kebutuhan akan penerimaan tanpa syarat dan kenyamanan psikologis, terutama bagi individu yang mengalami keterasingan sosial. Dukungan ini terbukti berkontribusi positif terhadap kesehatan mental sebagaimana dibuktikan oleh penelitian Beetz dkk. (2012), McConnell dkk. (2019), Paduli dan Sumoked (2025).
Seberapa besar pengaruh hewan peliharaan terhadap efektivitas dukungan emosional tentu dipengaruhi juga oleh karakteristik individu, seperti usia, kepribadian, dan riwayat trauma. Jenis hewan dan kualitas serta durasi interaksi juga menentukan intensitas manfaat yang diperoleh. Akibatnya, penting bagi masyarakat untuk merefleksikan manfaat dari hubungan manusia-hewan sebagai sumber dukungan emosional, agar hubungan ini tidak terpinggirkan oleh teknologi. Hewan peliharaan bukan sekadar peliharaan, melainkan penjaga yang hadir saat manusia merasa kesepian dalam kebisingan dunia digital.
Daftar Pustaka
Beetz, A., Uvnäs-Moberg, K., Julius, H., & Kotrschal, K. (2012). Psychosocial and psychophysiological effects of human-animal interactions: The possible role of oxytocin. Frontiers in Psychology, 3, 234.
Blazina, C., Boyraz, G., & Miller, D. S. (2011). The Psychology of the human-animal bond: A resource for clinicians and researchers.
Bowlby, J. (1988). A secure base: Parent-child attachment and healthy human development. Basic Books.
Cahyani, Z. R., & Afifah, S. (2023). Dukungan sosial dan pet attachment sebagai prediktor kesepian pada dewasa awal berstatus lajang. Motiva: Jurnal Psikologi, 6(2), 97-107.
Cohen, S., & Wills, T. A. (1985). Stress, social support, and the buffering hypothesis. Psychological Bulletin, 98(2), 310-357.
Duma, T. G. K. (2022). Pengaruh pet attachment dan dukungan sosial terhadap stres pada dewasa awal selama pandemi covid-19. Berajah Journal, 2(2), 337-346.
Guinguis, X. (2025). The paradox of loneliness. https://xguinguispsychotherapy.com/en/the-paradox-of-loneliness/. Diakses 2 Juni 2025
Hambarsika, I. G. A. M. E., Ayuningtias, A. U. H., & Hardika, I. R. (2023). Hubungan antara pet attachment dengan psychological well-being pada masyarakat Bali yang memelihara hewan anjing. Jurnal Kesehatan, Sains, Dan Teknologi (JAKASAKTI), 02(01), 191–198.
Ikei, H., Song, C., & Miyazaki, Y. (2023). Companion animal ownership and subjective well-being: Cross-cultural perspectives. Animals, 13(2), 345.
Lass-Hennemann, J., Schäfer, S. K., Sopp, M. R., & Michael, T. (2022). The relationship between attachment to pets and mental health: the shared link via attachment to humans. BMC psychiatry, 22(1), 586.
Markus, H. R., & Kitayama, S. (1991). Cultural variation in the self-concept. In The self: Interdisciplinary approaches (pp. 18-48). New York, NY: Springer New York.
McConnell, A. R., Lloyd, E. P., & Humphrey, B. T. (2019). We are family: Viewing pets as family members improves wellbeing. Anthrozoös, 32(4), 459-470.
McLeod, Saul. (2023). Unconditional positive regard in psychology. https://www.simplypsychology.org/unconditional-positive-regard. Diakses 2 Juni 2025.
Meehan, M., Massavelli, B., & Pachana, N. (2017). Using attachment theory and social support theory to examine and measure pets as sources of social support and attachment figures. Anthrozoös, 30(2), 273-289.
Nurlayli, R. K., & Hidayati, D. S. (2014). Kesepian pemilik hewan peliharaan yang tinggal terpisah dari keluarga. Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan, 2(1), 21-35.
Paduli, G., & Sumoked, C. (2025). Hubungan antara pet attachment dengan psycological well being pada pemilik hewan peliharaan. Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan, 11(2. D), 320-325.
Purewal, R., Christley, R., Kordas, K., Joinson, C., Meints, K., Gee, N., & Westgarth, C. (2017). Companion animals and child/adolescent development: A systematic review of the evidence. International journal of environmental research and public health, 14(3), 234.
Puteri, M., & Wangid, M. N. (2018). Hubungan antara Kelekatan dengan Interaksi Sosial pada Siswa. Psikopedagogia Jurnal Bimbingan Dan Konseling, 6(2), 84.
Russell, D., Peplau, L. A., & Cutrona, C. E. (1980). The revised UCLA loneliness scale: Concurrent and discriminant validity evidence. American psychological association, 39(4), 472–480.
SCI: Smile Consulting Indonesia. (2025). Epidemi kesepian: Tantangan kesehatan mental di era modern. Epidemi Kesepian: Tantangan Kesehatan Mental di Era Modern - Article | Smile Consulting Indonesia. Diakses 2 Juni 2025
Twenge, J. M., Spitzberg, B. H., & Campbell, W. K. (2021). Less in-person social interaction with peers among U.S. adolescents in the 21st century and links to loneliness. Journal of Social and Personal Relationships.
Van der Linden, D., Davidson, B. I., Hirsch-Matsioulas, O., & Zamansky, A. (2022). On the role of technology in human–dog relationships: A future of nightmares or dreams?. IEEE Transactions on Technology and Society, 4(4), 352-362.
Zilcha-Mano, S., Mikulincer, M., & Shaver, P. R. (2011). An attachment perspective on human–pet relationships: Conceptualization and assessment of pet attachment orientations. Journal of Research in Personality, 45(4), 345-357.
