Psikologi Bencana: Membangun Ketangguhan Penyintas
Oleh:
Arie Rihardini Sundari, Universitas Persada Indonesia YAI
Eko A Meinarno, Universitas Indonesia
Bersiap, Berhadapan, Berdampingan dengan bencana
hindari gagap dan binasa akibat bencana
Konsep Utama Kesehatan Mental dalam Bencana
Sensitivitas dan empati dalam penanganan dan pelayanan perlu dilatih sejak dini (Sundari & Meinarno, 2026a). Siapapun wajib bersiap, tanpa kecuali, untuk berhadapan dan hidup berdampingan dengan bencana, menghindari gagap dan kebinasaan akibat bencana. Yang kemudian perlu dipahami ada dua jenis trauma bencana: individu dan komunitas. Keduanya akan saling bersinggungan dan berkesinambungan dalam penanganan maupun pelayanannya. Kebanyakan orang akan berusaha bersama dan berfungsi selama dan setelah bencana, meskipun efektivitas mereka berkurang.
Banyak reaksi emosional korban bencana berasal dari masalah hidup yang disebabkan oleh bencana (DeWolfe, 2000). Bantuan bencana mungkin membingungkan bagi korban, yang mengalami frustrasi, kemarahan, dan perasaan tidak berdaya yang kemudian berhadapan dengan program bantuan dari pemerintah dan organisasi non-profit/Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Sebagian besar orang cenderung tidak melihat diri mereka membutuhkan layanan kesehatan mental setelah bencana dan tidak akan mencari layanan tersebut. Sementara dalam menyusun manajemen risiko dan mitigasi bencana, target terpenting dalam pengelolaannya adalah kesehatan mental penyintas, untuk mencapai resiliensi atau ketangguhan mental. Oleh karenanya perlu diperhatikan konsep utama kesehatan mental dalam situasi bencana.
Prinsip-prinsip Kesehatan Mental dalam Bencana
Setiap individu yang mengalami bencana akan merasakan dampaknya, baik penyintas atau bahkan relawan sekalipun. Mulai dari skala minimal hingga berat. Berawal dari menurunnya self awareness hingga disorder yang mengganggu aktivitas sehari-hari (Reza, 2007 dalam Irawan, 2013). Namun demikian, penyintas atau korban mungkin menolak bantuan bencana dalam segala bentuk. Kejelian dan ketulusan relawan medis ataupun psikologis yang berada di lapangan dalam pelayanan (Sundari & Meinarno, 2026b) akan sangat menentukan keberhasilan dari program mitigasi bencana yang telah dirancang.
Bantuan kesehatan mental dalam bencana seringkali lebih bersifat praktis daripada psikologis. Pengobatan luka secara fisik sebagai tindakan penyelamatan pertama didahulukan dan baru kemudian penanganan gangguan psikologis yang tidak kasat mata, yang cenderung terabaikan dan terlupakan. Gejala psikologis yang muncul pada penyintas umumnya berwujud gangguan pikiran, perasaan, sering teringat peristiwa bencana, sulit konsentrasi, waspada berlebihan, merasa tidak aman, menutup diri dan hampa (Reza, 2007 dalam Irawan, 2013), menghindari hal-hal yang terkait dengan peristiwa yang dialami, merasa tidak berdaya (Subiyanto & Damayanti, 2022) hingga kecemasan, depresi, bahkan PTSD (Post Traumatic Stress Disorder) (Pujianto dkk, 2024).
Adanya dukungan psikososial (dukungan emosional, dukungan informasi, dukungan instrumental, dukungan penghargaan, dan dukungan jaringan sosial) yang diterima penyintas dapat memberikan rasa nyaman, aman, dihargai dan berarti di dalam masyarakatnya, dan terkait dengan resiliensinya (Susanti, 2015). Utamanya, dukungan emosional dan penghargaan akan lebih memotivasi dalam menyelesaikan masalah dan pada akhirnya akan meningkatkan koping yang efektif bagi penyintas. Selain itu, dukungan psikososial dan pelatihan teknik mindfulness dapat mengurangi dan mencegah munculnya PTSD (Post Traumatic Stress Disorder) (Johnson & Whifffen, 2003; Sarafino & Smith, 2011; Pratikta, 2020; Tekin dkk., 2023; Pujianto dkk., 2024; Parrot dkk., 2024).
Layanan Kesehatan Mental dan Penyintas
Layanan kesehatan mental bagi penyintas sebaiknya disesuaikan dengan komunitas yang dilayani (Manggala, 2018). Kebiasaan sehari-hari sebelum bencana dapat menjadi hambatan tersendiri bagi keberhasilan mitigasi bencana (Subiyanto & Damayanti, 2022). Diperlukan identifikasi kebutuhan tiap penyintas di daerah masing-masing agar sesuai dengan komunitas yang ditinggalinya. Relawan LSM perlu mengidentifikasi perubahan kebutuhan di komunitas masing-masing di berbagai fase bencana sehingga dapat terlibat secara maksimal dalam perencanaan yang strategis dan akurat (Towe dkk., 2017).
Pekerja kesehatan mental (tenaga kesehatan medis atau relawan) perlu mengesampingkan metode tradisional, menghindari penggunaan label kesehatan mental, dan menggunakan pendekatan outreach aktif untuk berhasil melakukan intervensi dalam bencana (Susanti, 2015). Diharapkan juga mereka memiliki kemampuan untuk mengajarkan keterampilan penanggulangan risiko bencana susulan kepada anggota keluarga dan komunitas mereka. Mereka juga terampil berkolaborasi dengan pemerintah daerah dan pemangku kepentingan lainnya dalam menyediakan layanan kesehatan dan mengumpulkan data atau informasi dengan cepat (Susanti dkk., 2019).
Para penyintas akan merespon minat dan kepedulian yang aktif dan tulus dari relawan yang mendampingi aktivitas harian hingga intervensi psikologis mendalam (Susanti dkk., 2019). Selain itu, intervensi yang diberikan pada penyintas diharapkan dapat sesuai dengan fase bencana (Contreras, 2016; Khalili dkk., 2018; Sundari & Meinarno, 2026c) dan perlu adanya edukasi terkait intervensi di tiap fase yang berbeda bagi penyintas (Contreras, 2022). Dengan demikian dukungan sosial yang tepat dan akurat dapat tercapai, oleh karena pentingnya sistem dukungan sosial untuk pemulihan penyintas secara berkelanjutan hingga terbentuk resiliensi komunitas (Parrot dkk., 2024).
Program yang dituju pada fase rekonstruksi (fase terakhir dan dikenal sebagai fase kritis, lihat Sundari & Meinarno, 2026c) adalah terwujudnya resiliensi komunitas. Padahal keadaannya adalah masih banyak kendala, seperti para penyintas bencana sulit kembali hidup dalam keadaan yang normal seperti sebelum mengalami bencana (Subiyanto & Damayanti, 2022). Empowerment community setting dapat menjadi salah satu solusi (Manggala, 2018), untuk meningkatkan kesadaran akan risiko bencana dan keterlibatan bersama dalam penanganan berbagai kendala hingga pemulihan pasca bencana. Resiliensi komunitas melibatkan kohesi dan partisipasi komunitas dengan memanfaatkan kekuatan intra-personal komunitas, agar dapat mengatasi stressor pasca bencana, (Parrot dkk., 2024) dan tercapainya psychological capital (harapan, efikasi diri, resiliensi dan optimisme), (Fitria, Mustikasari & Panjaitan, 2019; Ferdinanto & Triyono, 2025; Resawan & Nurcahyo, 2025).
Penutup
Bermula dari ketangguhan (resiliensi) diri, sehingga dapat bermuara pada ketangguhan (resiliensi) komunitas, penyintas terus menerus berlatih. Dalam menghadapi pasang surutnya kondisi di tiap fase bencana, penyintas dapat secara konstan mempertahankan harapan, efikasi diri dan optimisme bersama dengan penyintas lain di dalam komunitas mereka.
Daftar Pustaka
Contreras, D. (2016). Fuzzy Boundaries Between Post-Disaster Phases: The Case of L’Aquila, Italy. International Journal of Disaster Risk Science, 7(3), 277–292. https://doi.org/10.1007/s13753-016-0095-4
Contreras, D. (2022). Learning about post-disaster phases via ludic activities: A case study of Santiago, Chile. International Journal of Disaster Risk Reduction, 72. https://doi.org/10.1016/j.ijdrr.2022.102842
DeWolfe, D. J. (2000). Training Manual for Mental Health and Human Service Workers in Major Disasters (2nd ed.). Washington: Department of Health and Human Services Substance Abuse and Mental Health Services Administration Center for Mental Health Services.
Ferdinanto,. & Triyono. (2025) Psychological Social Capital in Balerante Community in Facing Merapi Eruption Disaster Psikologia: Jurnal Psikologi. 10i1. doi:10.21070/psikologia.v10i1.1903
Fitria, D., Mustikasari., & Panjaitan, RU. (2019). Gambaran Psychological Capital pada Korban Pasca Bencana. Prosiding Konas Jiwa XVI Lampung. https://journalpress.org/proceeding/ipkji/article/view/50
Irawan, MA. (2013). Resiliensi pada remaja suku Jawa yang menjadi penyintas bencana erupsi Gunung Merapi tahun 2010. Skripsi Sarjana. Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Tidak dipublikasikan.
Johnson, SM., Whiffen, VE. (2003). Attachment Processes in Couple and Family Therapy. New York. Guilford Press.
Khalili, S., Harre, M., & Morley, P. (2018). A temporal social resilience framework of communities to disasters in Australia. Geoenvironmental Disasters, 5(1). https://doi.org/10.1186/s40677-018-0114-4
Manggala, AR. (2018). Penggunaan Empowerment community setting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat (community disaster risk awareness) dan ketangguhan (resilience) terhadap risiko bencana kebakaran. Tesis. Fakultas Psikologi Program Studi Magister Psikologi Terapan Peminatan Intervensi Sosial Universitas Indonesia. Tidak Dipublikasikan.
Parrott, E., Bernardino, A., Lomeli-Rodriguez, M., Burgess, R., Rahman, A., Direzkia, Y., Joffe, H. (2024). Community Resilience after Disasters: Exploring Teacher, Caregiver and Student Conceptualisations in Indonesia. Sustainability 2024, 16, 73. https://doi.org/10.3390/su16010073.
Pratikta, AC. (2020). Mindfulness as an effective technique for various psychological problems: A conceptual and literature review. Journal of Professionals in Guidance and Counseling, 1 (1), 2020, 1-13. https://doi.org/10.21831/ProGCouns
Pujianto, MS., Afandi, NA., Ulum, MS. (2024). Prososial Relawan Trauma Healing Korban Bencana Alam. Happiness Journal. Vol.8 Edisi 1 Tahun 2024. https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/
Resawan M.A.N.A., Nurcahyo, FA. (2025). Gambaran Resiliensi Individu Penyintas Bencana Alam: Kajian Literatur. Tabularasa, Jurnal Ilmiah Magister Psikologi, Vol. 7 No. 2, https://doi.org/10.31289/tabularasa.v7i2.6157.
Sarafino, EP., Smith, TW. (2011). Health Psychology, Biopsychosocial Interactions. John Wiley & Sons Inc.
Subiyanto, A., & Damayanti, N. (2022). Pengantar Psikologi Bencana. Yogyakarta. Abhiseka Dipantara.
Sundari, AR., Meinarno, EA. (2026a). Berkenalan dengan Psikologi Bencana. Buletin KPIN. Vol. 12 No. 52 Februari 2026. http://buletin.k-pin.org/index.php/daftar-artikel/1989-berkenalan-dengan-psikologi-bencana
Sundari, AR., Meinarno, EA. (2026b). Psikologi Bencana: Membangun Ketangguhan Mental Sejak Bangku Studi Sarjana Psikologi. Buletin KPIN. Vol. 12 No. 50 Januari 2026. https://buletin.k-pin.org/index.php/daftar-artikel/1959-psikologi-bencana-membangun-ketangguhan-mental-sejak-bangku-studi-sarjana-psikologi
Sundari, AR., Meinarno, EA. (2026c). Psikologi Bencana: Karakteristik dan Fase Penanganan Bencana. Buletin KPIN Vol. 12 No. 53 Maret 2026. http://buletin.k-pin.org/index.php/daftar-artikel/1993-psikologi-bencana-karakteristik-dan-fase-penanganan-bencana
Susanti, A. (2015). Hubungan Bentuk Dukungan Psikososial dengan Resiliensi Pasca Bencana Banjir Bandang. Tesis. Fakultas Ilmu Keperawatan. Program Studi Magister Ilmu Keperawatan, Kekhususan Keperawatan Jiwa Universitas Indonesia. Tidak Dipublikasikan.
Susanti, H., Hamid, AYS., Mulyono, S., Putri, AF., Chandra YA. (2019). Expectations of survivors towards disaster nurses in Indonesia: A qualitative study. International Journal of Nursing Sciences 6 (2019) 392e398 https://doi.org/10.1016/j.ijnss.2019.09.001
Tekin, S., Burrows, K., Billings, J., Waters, M., Lowe, SR. (2023). Psychosocial resources underlying disaster survivors’ posttraumatic stress symptom trajectories: insight from in-depth interviews with mothers who survived Hurricane Katrina, European Journal of Psychotraumatology, 14:2, 2211355, DOI: 10.1080/20008066.2023.2211355.
Towe, V. L., Acosta, J. D., & Chandra, A. (2017). Towards more nuanced classification of NGOs and their services to improve integrated planning across disaster phases. International Journal of Environmental Research and Public Health, 14(11). https://doi.org/10.3390/ijerph14111423.