ISSN 2477-1686
Vol. 12 No. 53 Maret 2026
Psikologi Bencana: Karakteristik dan Fase Penanganan Bencana
Oleh:
Arie Rihardini Sundari1 & Eko A Meinarno2
1Fakultas Psikologi, Universitas Persada Indonesia YAI
2Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia
Pengantar
Peluang keselamatan korban dari bencana alam tsunami lebih kecil jika dibandingkan dengan bencana alam banjir. Sementara korban jiwa bencana alam gempa bumi akan lebih banyak mengalami luka-luka karena tertimpa reruntuhan, korban jiwa tenggelam lebih banyak disebabkan banjir bandang. Dapat dikatakan bahwa setiap bencana memiliki karakteristik yang khas, demikian pula dengan penanganannya. Oleh karenanya kesiapan sarjana psikologi akan lebih profesional jika dibekali dengan sejumlah pengetahuan dan keterampilan terkait guna pelayanan psikososial yang maksimal dan mumpuni (Sundari & Meinarno, 2026a).
Konsep-konsep Umum Bencana
Karakteristik Bencana. Bencana dapat dikategorikan berdasarkan penyebabnya, seperti bencana alam (Mumpuni & Meinarno, 2024; Sundari & Meinarno, 2026b) dan bencana yang disebabkan oleh manusia (bencana nonalam dan bencana sosial). Karakteristik lainnya meliputi tingkat dampak pribadi, ukuran dan cakupan, dampak yang terlihat, serta kemungkinan terjadinya kembali bencana susulan (DeWolfe, 2000).
Tiap kondisi yang dihayati oleh penyintas memiliki level dampak yang sifatnya sangat personal/pribadi. Faktor resiko untuk penyesuaian yang lebih buruk diantaranya dampak bencana yang lebih besar, kecemasan yang lebih tinggi, depresi, gejala pasca trauma, atau gejala somatik (Scher & Ellwanger, 2009). Ukuran atau besaran dan cakupan atau ruang lingkup suatu bencana akan berdampak psikologis bagi penyintas, demikian pula dalam penanganannya. Kerusakan fisik yang nampak, yang diakibatkan oleh bencana, berdampak pada tindakan nyata segera yang dapat diupayakan oleh penyintas. Contohnya, setelah terjadi angin puting beliung, atau kebakaran hutan melewati suatu daerah, masyarakat melihat luas total kehancuran fisik yang dihasilkan dan dapat segera memulai proses pemulihan dan pembangunan kembali. Namun, sebaliknya peristiwa teknologi seperti kecelakaan nuklir atau tumpahan racun merupakan bencana yang “silent” dan tidak menunjukkan adanya kerusakan secara visual atau sebuah “titik terendah” yang dapat diamati (DeWolfe, 2000), sehingga penyintas lambat menyadari intervensi pasca bencana. Sementara, gempa susulan atau meningkatnya risiko banjir akibat rusaknya bangunan pengendali banjir setelah banjir bandang sebelumnya akan berdampak pada penyintas yang merasa lebih cemas dan sibuk dengan tindakan pencegahan maupun penyelamatan darurat. Oleh karenanya, kejelian mengenali karakteristik bencana, akan memudahkan relawan bencana dalam menangani dampak trauma spesifik yang dapat dialami penyintas.
Karakteristik Korban Bencana. Setiap korban atau penyintas bencana menghayati kejadian bencana melalui perspektif pribadinya. Di mana latar belakang budaya dan suku bangsa dapat memengaruhi kemampuan korban untuk berpartisipasi dalam upaya bantuan bencana, serta penyintas yang masih lajang lebih rentan mengalami kesehatan mental yang buruk dibandingkan yang sudah menikah, selain itu konflik perkawinan sering meningkat setelah bencana (DeWolfe, 2000; Schrauf & de Victoria Rodríguez, 2024). Orang berusia 40 hingga 60 tahun mungkin lebih berisiko karena tuntutan ganda seperti mengasuh anak (Mirzamani & Mohammadi, 2007), pekerjaan, dan merawat orang tua lanjut usia (Massazza dkk, 2019).
Pendekatan dalam Penanganan Bencana
Penanganan bencana, menurut DeWolfe, (2000) dapat dibagi menjadi beberapa fase:
Fase Peringatan atau Ancaman
Fase ini melibatkan identifikasi dan pemantauan potensi ancaman bencana. Tujuannya adalah untuk memberikan peringatan dini kepada masyarakat agar dapat mempersiapkan diri. Jika tanpa peringatan, (misalnya gempa bumi), para penyintas cenderung merasa tidak aman, takut akan kejadian tidak terduga di masa depan. Oleh karenananya dibutuhkan sistem peringatan dini sebagai salah satu perangkat kesiap siagaan. Sebagai contoh, sistem peringatan dini tsunami di Indonesia yang memberikan informasi kepada masyarakat pesisir tentang potensi tsunami setelah gempa bumi besar (Ariyaningsih, Sukmara, Pratomo, Wijaya, & Shaw, 2024).
Fase Dampak
Fase ini terjadi pasca bencana berlangsung. Semakin luas dampak, kerugian yang dialami oleh masyarakat, dan kerugian individu akibat bencana, maka semakin besar juga dampak psikososial yang ditimbulkan (Yusoff dkk., 2018). Dibutuhkan tindakan penyelamatan segera agar dampak yang ditimbulkan tidak semakin meluas dan parah. Contohnya adalah evakuasi warga saat terjadi letusan Gunung Merapi pada tahun 2010 untuk menghindari dampak langsung dari letusan. Selain itu, relawan perlu memberikan ketenangan pada anggota keluarga yang tidak dapat dievakuasi secara bersamaan. Contohnya ketika anggota keluarga berada di lokasi yang berbeda saat bencana terjadi (misalnya, anak-anak sedang sekolah, orang dewasa di tempat kerja), para penyintas tersebut akan merasakan kecemasan yang cukup tinggi sampai mereka bisa bersatu kembali.
Fase Penyelamatan atau Heroik
Fase ini melibatkan upaya bertahan hidup, penyelamatan, meningkatkan keselamatan, dan bantuan darurat segera setelah bencana terjadi. Tim penyelamat bekerja untuk menemukan dan menyelamatkan korban. Sebagai contoh operasi penyelamatan oleh Basarnas dan relawan setelah gempa dan tsunami di Palu pada tahun 2018 (Cilia, Mooney, & Nugroho, 2021). Penyintas yang merasa berdaya tergerak untuk mengkoordinir sesama penyintas untuk membantu relawan.
Fase Pemulihan atau Bulan Madu
Fase ini terjadi setelah fase penyelamatan, selama periode satu minggu hingga beberapa bulan setelah terjadinya bencana, di mana masyarakat mulai menerima bantuan dan dukungan. Ada rasa solidaritas dan harapan yang tinggi. Sebagai contoh distribusi bantuan makanan, air bersih, dan kebutuhan dasar lainnya kepada korban bencana di Lombok setelah gempa bumi pada tahun 2018 (Ariyaningsih dkk., 2024). Muncul dan tumbuh harapan pada diri penyintas, bahwa bantuan dari relawan akan membantu pemulihan.
Fase Inventarisasi
Fase ini melibatkan penilaian kerusakan dan kebutuhan yang diperlukan untuk pemulihan jangka panjang. Data dikumpulkan untuk merencanakan langkah-langkah selanjutnya. Contohnya penilaian kerusakan infrastruktur dan rumah-rumah yang hancur setelah banjir besar di Jakarta pada tahun 2020 (Ariyaningsih dkk. 2024). Namun demikian, sejalan dengan waktu, para penyintas mulai memahami bahwa bantuan yang diberikan terbatas, ada pula biaya sosial dan psikologis atas relokasi penyintas bencana, akibatnya mereka mengalami kelelahan fisik, peningkatan biaya hidup, dan stres (Akbar dkk, 2024).
Fase Kekecewaan
Fase ini terjadi ketika bantuan mulai berkurang dan masyarakat mulai merasakan kekecewaan karena proses pemulihan yang lambat. Stres dan konflik dapat meningkat. Sebagai contoh kekecewaan masyarakat di Palu yang merasa bantuan dan rekonstruksi berjalan lambat setelah gempa dan tsunami pada tahun 2018 (Cilia, Mooney, & Nugroho, 2021). Merujuk pada DeWolfe (2000), para penyintas mulai membandingkan antara bantuan yang mereka terima dan apa saja yang diperlukan untuk kembali ke kehidupan dan cara hidup mereka sebelumnya. Ada banyak pemicu stres—konflik keluarga, kerugian ekonomi, rumitnya birokrasi, tekanan waktu, proses pembangunan rumah, pengungsian, serta minimnya waktu untuk bersantai atau rekreasi. Masalah kesehatan dan perburukan kondisi yang sudah ada sebelumnya muncul akibat stres yang berkepanjangan dan kelelahan tanpa henti.
Komunitas yang tidak terlalu terkena dampak bencana sering kali kembali ke rutinitas mereka seperti biasa, yang seringkali membuat para penyintas merasa putus asa dan terasing. Rasa ketidakpuasan dan kebencian dapat muncul di sekitar karena para penyintas menerima kompensasi yang berbeda-beda untuk kerusakan yang mereka anggap setara. Perpecahan dan permusuhan di antara tetangga mengganggu persatuan dan dukungan dalam masyarakat.
Fase Rekonstruksi atau Pemulihan
Fase ini menurut Zunin & Meyer, 2000 (dalam Subiyanto & Damayanti, 2022) dikenal sebagai fase kritis, dimana melibatkan upaya rekonstruksi dan pemulihan jangka panjang untuk dapat mengembalikan kondisi masyarakat ke keadaan normal atau lebih baik. Contohnya program rekonstruksi rumah dan infrastruktur di Aceh setelah tsunami 2004 yang melibatkan berbagai lembaga nasional dan internasional. Para penyintas harus menghadapi realitas untuk adaptif, baik dengan keadaan maupun dengan lingkungan baru, sembari memproses rasa kehilangan. Ketahanan emosional dalam keluarga dapat terkuras dan dukungan dari teman-teman serta kerabat mungkin mulai berkurang. Ketika individu mulai menemukan makna, perkembangan pribadi, dan kesempatan dari pengalaman bencana mereka meskipun merasakan kehilangan dan kesedihan, mereka mulai berada di jalur yang tepat menuju pemulihan (Wang & Liu, 2024). Meski bencana dapat mengakibatkan kehilangan yang signifikan, bencana juga membuka peluang untuk mengenali kekuatan diri dan meninjau kembali prioritas hidup.
Penutup
Tulisan ini menjadi pengenalan awal dan sederhana bagi relawan dan pendamping penyintas bencana mengenai strategi penanganan dalam tiap fase bencana. Berdasar pemahaman dasar ini mereka dapat memulai membuat rancangan program intervensi pemulihan dengan cermat dan kreatif.
Referensi:
Akbar, M. S., Ahmad, S., Safdar, M. R., & Yousaf, F. N. (2024). A failure or success? A qualitative analysis of post-disaster relocation among survivors of 2010 floods in Pakistan. International Journal of Disaster Risk Reduction, 100. https://doi.org/10.1016/j.ijdrr.2023.104138
Ariyaningsih, Sukmara, R. B., Pratomo, R. A., Wijaya, N., & Shaw, R. (2024). Blue-Green Infrastructure for Flood Resilience: Case Study of Indonesia. In Blue-Green Infrastructure for Sustainable Urban Settlements: Implications for Developing Countries Under Climate Change (pp. 247-273). Cham: Springer Nature Switzerland.
Cilia, M. G., Mooney, W. D., & Nugroho, C. (2021). Field Insights and Analysis of the 2018 Mw 7.5 Palu, Indonesia Earthquake, Tsunami and Landslides. Pure and Applied Geophysics, 178, 4891-4920.
DeWolfe, D. J. (2000). Training Manual for Mental Health and Human Service Workers in Major Disasters (2nd ed.). Washington: Department of Health and Human Services Substance Abuse and Mental Health Services Administration Center for Mental Health Services.
Massazza, A., Brewin, C. R., & Joffe, H. (2019). The Nature of “Natural Disasters”: Survivors’ Explanations of Earthquake Damage. International Journal of Disaster Risk Science, 10(3), 293–305. https://doi.org/10.1007/s13753-019-0223-z
Mirzamani, S. M., & Mohammadi, M. R. (2007). Psychological Aspects of Disaster. Iran J Psychiatry 2007; 2: 1-12. DOI: 10.2105/AJPH.54.4.638. Source: PubMed Centra.
Mumpuni, I. D., Meinarno, E. A. (2024). Bencana dalam Kacamata Psikologi. Buletin KPIN. Vol. 10 No. 18 September 2024. https://buletin.k-pin.org/index.php/arsip-artikel/1612-bencana-dalam-kacamata-psikologi.
Schrauf, R. W., de Victoria Rodríguez, P. C. L. (2024). Disaster solidarity and survivor ethics: a case study of Hurricane María in Puerto Rico. Disasters. 2024 Jan;48(1):e12593. doi: 10.1111/disa.12593. Epub 2023 Aug 21. PMID: 37227427.
Scher, C. D., & Ellwanger, J. (2009). Fire-related cognitions moderate the impact of risk factors on adjustment following wildfire disaster. Journal of Anxiety Disorders, 23(7), 891–896. https://doi.org/10.1016/j.janxdis.2009.05.007
Subiyanto, A., & Damayanti, N. (2022). Pengantar Psikologi Bencana. Yogyakarta. Abhiseka Dipantara.
Sundari, A. R., Meinarno, E. A. (2026a). Psikologi Bencana: Membangun Ketangguhan Mental Sejak Bangku Studi Sarjana Psikologi. Buletin KPIN. Vol. 12 No. 50 Januari 2026. https://buletin.k-pin.org/index.php/daftar-artikel/1959-psikologi-bencana-membangun-ketangguhan-mental-sejak-bangku-studi-sarjana-psikologi
Sundari, A. R., Meinarno, E. A. (2026b). Berkenalan dengan Psikologi Bencana. Buletin KPIN. Vol. 12 No. 52 Februari 2026 ISSN 2477-1686 diakses dari http://buletin.k-pin.org/index.php/daftar-artikel/1989-berkenalan-dengan-psikologi-bencana
Wang, D., & Liu, J. (2024). Resource allocation, individual social network, community trust and recovery from depression among rural survivors in the Wenchuan Earthquake. Current Psychology, 43(1), 328–339. https://doi.org/10.1007/s12144-023-04299-5
