ISSN 2477-1686
Vol. 12 No. 50 Januari 2026
Psikologi Bencana: Membangun Ketangguhan Mental Sejak Bangku Studi Sarjana Psikologi
Oleh:
Arie Rihardini Sundari, Universitas Persada Indonesia YAI
Eko A Meinarno, Universitas Indonesia
Pengantar
Bayangkan sebuah desa yang luluh lantak oleh gempa rumah-rumah porak-poranda, jalanan retak, dan teriakan panik menggema. Bukan hanya infrastruktur fisik yang hancur, tetapi juga jiwa-jiwa yang terguncang oleh rasa takut, panik, kebingungan, sampai kehilangan. Di sudut lain negeri, banjir bandang menenggelamkan sekolah dan memporak‑porandakan rutinitas anak-anak; rasa aman lenyap dalam waktu singkat. Atau saat pandemi melanda, isolasi menciptakan jurang kesepian yang dalam, memaksa setiap individu bertarung melawan kecemasan yang tak terlihat (Setiawaty, 2021).
Indonesia menghadapi berbagai jenis bencana alam seperti gempa bumi, tsunami, letusan gunung berapi, banjir, dan tanah longsor, serta bencana non-alam seperti konflik sosial, kebakaran hutan, dan pandemi (Greenstone, 2008; Schulenberg, 2020). Kondisi ini menuntut kesiapan yang komprehensif dalam penanganan bencana, termasuk aspek psikologis. Psikologi Bencana menjadi bidang penting untuk dipelajari, terutama bagi mahasiswa psikologi yang akan memberikan dukungan psikologis kepada korban atau penyintas bencana.
Psikologi
Ketika bencana datang, yang muncul pertama kali adalah bantuan yang sifatnya fisik dan material. Namun ketika situasi mulai tenang, ada keguncangan mental yang baru muncul. Pada bagian ini siapa yang akan muncul? Ya, diperlukan bantuan kesehatan mental atau umumnya disebut bantuan psikologis.
Pada hakikatnya, psikologi bencana menempatkan manusia sebagai pusat kajian. Bencana dapat memicu reaksi emosional yang beragam: rasa takut, syok, kebingungan, putus asa, sedih berkepanjangan, kemarahan, hingga gangguan stres pasca-trauma. Oleh karenanya ada kebutuhan untuk menyiapkan lulusan psikologi yang kompeten untuk memberi bantuan psikologis.
Membangun Mata Kuliah
Peristiwa-peristiwa bencana, khususnya di Indonesia adalah panggilan darurat bagi Psikologi, ilmu yang mempelajari tingkah laku dan mental serta memahami rangkaian strategi penyembuhan. Di Indonesia, kita membutuhkan psikolog bencana (atau setidaknya sarjana yang punya kompetensi dalam hal kebencanaan) yang siap terjun dengan bekal teoretik dan empati. Oleh sebab itu, mata kuliah Psikologi Bencana menjadi keniscayaan di kurikulum sarjana Psikologi.
Mata kuliah Psikologi Bencana di Fakultas Psikologi Universitas Persada Indonesia YAI dirancang untuk menjawab tantangan tersebut dengan membekali mahasiswa tidak hanya dengan landasan teoretis, tetapi juga dengan keterampilan praktis yang siap diterapkan di lapangan. Mata kuliah ini mengajarkan mahasiswa untuk membaca dinamika psikis tersebut dari syok hingga penerimaan, atau mengenali gejala depresi hingga terbentuknya harapan bahkan resilien, serta merancang Psychological First Aid (PFA) yang cepat, empatik, dan etis. Tanpa bekal ini, relawan atau praktisi pemula bisa saja memberikan pertolongan yang malah memperparah keadaan mental.
Dua kompetensi utama yang diharapkan dicapai melalui mata kuliah ini adalah: pertama, mampu menerapkan pengetahuan manajemen bencana. Perwujudannya seperti mengkaji terjadinya stres pada individu korban atau penyintas bencana. Selain itu, mahasiswa juga diharapkan mampu mengkaji intervensi psikologis dan peran psikologis dalam penanganan krisis dan bencana alam maupun non-alam. Kompetensi ini akan memastikan bahwa mahasiswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu mengaplikasikannya dalam situasi nyata (Park & Blake, 2020; Sheek-Hussein, Abu-Zidan, & Stip, 2021; Grisham et al., 2023). Kedua, mampu menganalisis dan merancang Intervensi Psikologis. Perwujudannya mahasiswa mampu menganalisis perbedaan penanganan psikologis dan penanganan bidang lainnya dalam kondisi krisis dan bencana alam maupun non-alam. Selain itu, mahasiswa juga diharapkan mampu merancang dan menerapkan konsep intervensi psikologis dalam penanganan korban atau penyintas bencana. Kompetensi ini akan mengembangkan kemampuan analitis mahasiswa dalam membedakan berbagai pendekatan penanganan dan merancang intervensi yang tepat dan efektif (Greenstone, 2008; Schulenberg, 2020). Oleh karena dampak bencana alam tidak dapat dipisahkan dari konsekuensi pilihan dan tindakan manusia, (Gant & Gant, 2012).
Proses Belajar
Proses pembelajaran dimulai dengan pengenalan konsep dasar: apa yang dimaksud dengan bencana dan bagaimana psikologi memandangnya. Bencana bukan hanya peristiwa fisik, tetapi juga pengalaman psikologis. Di Indonesia, di mana karakteristik bencana sangat beragam gempa seperti yang terjadi di Sulawesi, banjir serentak di beberapa wilayah di Jakarta, erupsi gunung berapi di Jawa Tengah, hingga kerusuhan sosial di berbagai daerah. Menghadapi semua bentuk bencana membutuhkan modul pembelajaran yang relevan secara lokal. Selain belajar di kelas, mahasiswa diperkenalkan pada studi kasus nyata, sehingga terbangun kesadaran akan kompleksitas konteks nusantara.
Selanjutnya, mata kuliah menggali dinamika psikologis korban (penyintas). Mengacu pada model lima tahap reaksi grief yang diadaptasi untuk konteks bencana, mahasiswa mempelajari bagaimana syok awal dapat berkembang menjadi penolakan, negosiasi, depresi, dan -dengan intervensi yang tepat- penerimaan. Dengan catatan bahwa tahapan ini tidak selalu muncul bertahap. Individu dan kelompok dapat memantul antara emosi panik, harapan, tidak berdaya hingga kelelahan mental. Pada titik inilah, Psychological First Aid (PFA) muncul sebagai intervensi pertama yang esensial. Mahasiswa belajar untuk menenangkan, memberikan dukungan emosional, dan menghubungkan korban dengan sumber daya lokal, agar dapat dipilih langkah yang tepat, cepat, empatik, dan terkoordinasi dengan tim respon bencana lainnya.
Praktikum terbuka menjadi bagian penting dari proses pembelajaran. Di dalam simulasi lapangan, mahasiswa berperan sebagai petugas PFA, menanggapi skenario gempa atau banjir fiktif. Mereka berlatih teknik penyusunan alur intervensi, mulai dari penilaian risiko psikologis hingga pembuatan rencana tindak lanjut (Sundari, 2024). Dalam sesi tersebut, kritikalitas aspek etika dihadirkan: bagaimana menjaga privasi korban, melindungi dari pihak-pihak yang ingin mempergunakan kemalangan penyintas, menetapkan batasan profesional, dan menghindari retraumatisasi, serta mempersiapkan diri jikalau terjadi bencana susulan. Semua itu dilangsungkan dalam suasana terkontrol agar ketika di lapangan, respon dapat dilakukan dengan cepat, terukur, bermakna dan manusiawi. Intervensi kesehatan mental ini penting bagi individu penyintas dan juga relawan, sebagai tanggap bencana segera ataupun jangka panjang, (DeWolfe, 2000).
Selain intervensi individu, mahasiswa diajak memahami dampak bencana berbasis kelompok. Bencana tidak melukai korban sendirian; jejaring sosial terputus, memengaruhi dinamika keluarga, sekolah, dan komunitas. Intervensi kelompok melalui terapi drama, diskusi terbuka, atau kegiatan seni kolektif memberi kesempatan bagi penyintas untuk saling mendukung dan membangun narasi bersama (Sundari, 2024). Indonesia memiliki keunikan dalam penanganan bencana yang mempertimbangkan nilai-nilai budaya lokal dan kearifan lokal (Schulenberg, 2020). Misalnya, dalam penanganan korban gempa bumi di Lombok, pendekatan yang melibatkan tokoh masyarakat dan adat setempat terbukti lebih efektif dalam memberikan dukungan psikologis (Greenstone, 2008). Dengan demikian dapat tercipta resiliensi komunitas, bangkit dan tumbuh bersama di dalam masyarakat.
Pada konteks ekonomi dan budaya lokal, seperti di desa-desa adat di Papua, bentuk intervensi ini perlu disesuaikan, misalnya dengan memasukkan simbol-simbol tradisional atau ritual pemulihan komunal yang telah ada sejak lama. Mahasiswa dilatih merancang modul intervensi yang fleksibel, berbasis kearifan lokal, namun tetap memakai prinsip-prinsip psikoterapi modern, (misalnya butterfly hug, mindful breathing, atau mindful journaling).
Penekanan lain dari kurikulum ini adalah pemanfaatan teknologi dalam mererespon bencana. Di masa pandemi, praktik konseling jarak jauh (tele‑counseling) menjadi sangat vital. Mahasiswa belajar cara menggunakan aplikasi komunikasi daring, menjaga keamanan data, dan membangun kepercayaan virtual dengan klien yang terisolasi. Mereka juga mempelajari penggunaan platform geospasial untuk menilai area rentan bencana dan mengoordinasikan distribusi bantuan psikososial. Dengan demikian, lulusan tidak hanya siap turun langsung ke lokasi terdampak, tetapi juga mampu merancang intervensi hybrid menggabungkan metode tatap muka dan virtual sesuai kebutuhan.
Tugas dan Evaluasi
Setiap komponen pembelajaran diukur melalui evaluasi beragam seperti esai reflektif tentang pengalaman simulasi, presentasi rencana intervensi, diskusi kelompok, hingga ujian tulis berbasis studi kasus (Cheek et al., 2022). Nilai akhir mempertimbangkan tidak hanya penguasaan materi, tetapi juga kemampuan beradaptasi, etika profesi, dan kepemimpinan dalam tim multidisipliner. Lulusan dapat menjadi profesional yang mampu merangkul korban dengan empati, merancang pemulihan mental dengan terstruktur, mengkoleksi data (baik melalui pengamatan, wawancara ataupun alat ukur psikologis) sebagai bahan intervensi bagi penanganan profesional selanjutnya, dan berkolaborasi dengan lembaga penanggulangan bencana nasional maupun komunitas lokal.
Penutup
Paparan ini menunjukkan bahwa keberadaan MK Psikologi Bencana lahir sebagai keinginan kuat penanganan trauma dari bencana. Pembentukan MK ini membuat paradigma bencana sebagai isu prioritas nasional.
Dengan kompetensi yang diperoleh, diharapkan mahasiswa dapat menjadi profesional yang kompeten dan siap memberikan dukungan psikologis yang efektif bagi korban atau penyintas bencana, serta berkontribusi dalam upaya mitigasi dan manajemen bencana yang lebih baik (Schulenberg, 2020). Keberadaan MK Psikologi Bencana, membuat sarjana psikologi menjadi barisan pertama yang menjaga bangsa. Mereka menjadi individu yang kompeten dalam kesiapsiagaan dan kemanusiaan. Melaksanakan tahapan manajemen atau mitigasi bencana secara baik, menemukenali potensi stres pada penyintas, dan berperan aktif dalam intervensi psikologis saat penanganan bencana alam dan non alam. MK ini jika diibaratkan adalah benih pengetahuan dan empati sejak bangku sarjana, agar saat bencana datang, lulusan dapat dimobilisasi sebagai bala bantuan.
Daftar Pustaka
Cheek, N. N., Reutskaja, E., & Schwartz, B. (2022). Balancing the freedom–security trade-off during crises and disasters. Perspectives on Psychological Science, 17(4), 1024-1049.
DeWolfe, D. J. (2000). Training Manual For Mental Health and Human Service Workers in Major Disasters, 2nd Ed. Washington : Department of Health and Human Services Substance Abuse and Mental Health Services Administration Center for Mental Health Services.
Gant, P., & Gant, R. (2012). Disaster Psychology: Dispelling The Myths of Panic. Professional Safety, January 2012. https://www.researchgate.net/publication/285716646
Greenstone, J. L. (2008). The Elements of Disaster Psychology: Managing Psychosocial Trauma, an Integrated Approach to Force Protection and Acute Care. Charles C Thomas Pub Ltd.
Grisham, E. L., Jones, N. M., Silver, R. C., & Holman, E. A. (2023). Do past events sow future fears? Temporal disintegration, distress, and fear of the future following collective trauma. Clinical Psychological Science, 11(6), 1064-1074.
Park, C. L., & Blake, E. C. (2020). Resilience and recovery following disasters: The meaning making model. Positive psychological approaches to disaster: Meaning, resilience, and posttraumatic growth, 9-25.
Schulenberg, S. E. (2020). Positive psychological approaches to disaster: An introduction. Positive psychological approaches to disaster: Meaning, resilience, and posttraumatic growth, 1-7. Springer.
Setiawaty, H. (2021). Cemas di Tengah Pandemi: Psikosomatis atau Gejala Paparan COVID-19? Buletin KPIN. Vol. 7 No. 22 Nov 2021. https://buletin.k-pin.org/index.php/arsip-artikel/925-cemas-di-tengah-pandemi-psikosomatis-atau-gejala-paparan-covid-19.
Sheek-Hussein, M., Abu-Zidan, F. M., & Stip, E. (2021). Disaster management of the psychological impact of the COVID-19 pandemic. International journal of emergency medicine, 14, 1-10.
Sundari, AR. (2024). RPS MBKM Psikologi Bencana. Fakultas Psikologi Universitas Persada Indonesia YAI. Tidak dipublikasikan.
