ISSN 2477-1686  

 Vol. 12 No. 52 Februari 2026

Ekspresi Syukur (Gan'en ) pada Tradisi Cheng Beng di Masyarakat Tiong Hoa

Oleh :

 Andrea Gloria BR Purba, Zaskia Ramadhani, Hans Christian, Ghaffar Nabil Ilmi, Melisa Kartika Br Tarigan, Rika Eliana

Fakultas Psikologi, Universitas Sumetra Utara

 

Salah satu warisan budaya yang paling dijunjung tinggi oleh masyarakat Tionghoa adalah perayaan Cheng Beng. Momen ini menjadi sarana untuk memanjatkan doa dan penghormatan kepada leluhur sekaligus merefleksikan nilai luhur tentang bakti. Jiang (2010) menjelaskan bahwa praktik ziarah leluhur seperti Cheng Beng berakar pada kewajiban moral untuk pengorbanan leluhur yang tidak dapat dibalas secara setara.

Menjelang perayaan Cheng Beng yang biasanya dilakukan sekitar 5 – 6 April, masyarakat Tionghoa biasanya mulai sibuk mempersiapkan berbagai sesaji. Beragam barang seperti dupa, lilin, kertas sembahyang, dan buah-buahan disiapkan sebagai perlengkapan ritual. Tradisi menyalakan lilin, membakar dupa (hio), serta kertas sembahyang telah dilakukan secara turun-temurun sejak zaman dahulu.Saat hari pelaksanaan tiba, warga Tionghoa akan kembali ke kampung halaman untuk berziarah ke makam leluhur. Kegiatan ini merupakan wujud nyata dari rasa bakti dan penghormatan. Selain berdoa, mereka juga menyempatkan diri untuk membersihkan dan merawat makam keluarga.

Lebih dari sekadar ritual sembahyang dan mengenang jasa leluhur, perayaan Cheng Beng juga menjadi momen istimewa untuk berkumpul bersama keluarga besar. Kegiatan lain yang dilakukan pada masa Cheng Beng seperti membersihkan makan leluhur adalah perwujudan rasa hutang budi, atau terimakasih pada leluhur. Fokus utama Cheng Beng adalah pada jasa leluhur bukan pada diri sendiri. Kegiatan ini memiliki makna simbolis yang besar salah satunya adalah rasa syukur.

Menurut McCullough dkk. (2001) rasa syukur sebagai respons moral yang menjalankan tiga fungsi utama. Pertama, syukur berperan sebagai moral barometer, yaitu emosi yang muncul sebagai respons terhadap manfaat atau kebaikan yang diterima dari orang lain. Kedua, syukur bertindak sebagai moral motivator, yakni dorongan internal untuk melakukan tindakan positif atau membalas kebaikan melalui perilaku prososial. Ketiga, syukur berfungsi sebagai moral reinforcer, yang memperkuat kecenderungan untuk mempertahankan tindakan-tindakan prososial tersebut dalam hubungan sosial.

 

Syukur (gratitude) merupakan titik awal penting untuk memahami bagaimana manusia membangun keterhubungan dengan asal-usul, keluarga, dan komunitasnya. Sebagai emosi positif yang bersifat sosial, syukur berperan memperkuat ikatan dan membantu individu mengenali keberadaan pihak lain yang memberikan kebaikan dalam hidupnya. Algoe, Haidt, dan Gable (2008) menunjukkan bahwa syukur bukan hanya respons emosional, tetapi mekanisme yang membantu membentuk dan memelihara hubungan, karena ia mengarahkan individu untuk menyadari perhatian, kepedulian, dan responsivitas dari orang lain terhadap dirinya. Melalui kesadaran tersebut, syukur berfungsi memperkuat kontinuitas identitas dan hubungan lintas generasi, terutama ketika seseorang merefleksikan warisan nilai, pengalaman, dan kehidupan yang diterimanya dari leluhur.

 

Dalam kerangka moral barometer, syukur muncul dari kesadaran atas kebaikan dan Gan’en (感恩), yaitu rasa terima kasih kepada leluhur atas kehidupan dan warisan yang mereka tinggalkan.. Sebagai moral motivator, rasa syukur tersebut mendorong tindakan penghormatan dan kebersamaan keluarga selama ziarah. Sementara itu, sebagai moral reinforcer, Cheng Beng memperkuat komitmen lintas generasi untuk menjaga identitas budaya dan nilai-nilai keluarga. Fokus utama pada bagian ini adalah bagaimana syukur berperan sebagai dasar moral dari tindakan dan hubungan dalam tradisi tersebut.

 

Pemahaman mengenai fungsi moral syukur tersebut diperkuat melalui data empiris dari wawancara dengan seorang narasumber Tionghoa. Narasumber menyatakan bahwa keluarganya rutin mengikuti Cheng Beng karena merasa bahwa “kalau bukan karena mereka, kami nggak akan hidup seperti sekarang.” Pernyataan ini mencerminkan fungsi moral barometer dalam bentuk kesadaran emosional terhadap kebaikan leluhur. Ia juga menuturkan bahwa rasa terima kasih itulah yang membuat keluarganya “tetap datang membersihkan makam, membawa makanan, dan berkumpul,” memperlihatkan syukur sebagai moral motivator yang mendorong tindakan prososial dan memperkuat kebersamaan keluarga. Lebih jauh, narasumber mengatakan bahwa ia akan meneruskan praktik ini kepada anak-anaknya agar “mereka tahu sejarah keluarga dan tetap hormat, dan biar anak cucu masih tetap dekat.” Ini menunjukkan fungsi moral reinforcer, yaitu bagaimana syukur menjaga keberlangsungan perilaku penghormatan dan nilai keluarga lintas generasi. Dengan demikian, bukti empiris ini mendukung penerapan teori syukur dalam konteks tradisi Cheng Beng.

 

Sebagai kesimpulan, ekspresi Gan’en dalam tradisi Cheng Beng menunjukkan bahwa ritual ini bukan sekadar kegiatan ziarah budaya, melainkan manifestasi konkret dari fungsi moral syukur. Melalui peran syukur sebagai barometer, motivator, dan penguat moral, tradisi ini memperkuat hubungan keluarga antargenerasi, memelihara memori kolektif, serta menjaga kontinuitas identitas masyarakat Tionghoa di tengah modernitas. Cheng Beng menjadi ruang budaya tempat syukur diekspresikan secara emosional dan diwujudkan melalui tindakan, sehingga berfungsi menjaga kohesi sosial serta mempertegas arti penting hubungan dengan leluhur. Oleh karena itu, tradisi Cheng Beng dapat dipahami sebagai bentuk aktualisasi nilai moral syukur yang hidup dalam praktik sosial dan budaya masyarakat Tionghoa.

 

 

Daftar Pustaka:

Algoe, S. B., Haidt, J., & Gable, S. L. (2008). Beyond reciprocity: Gratitude and relationships in everyday life. Emotion, 8(3), 425–429. https://doi.org/10.1037/1528-3542.8.3.425

Fredrickson, B. L. (2001). The role of positive emotions in positive psychology: The broaden-and-build theory of positive emotions. American Psychologist, 56(3), 218–226. https://doi.org/10.1037/0003-066X.56.3.218

Jiang, Y. (2010). On the origin and cultural meaning of Qing Ming Festival. Journal of Xihua University (Philosophy & Social Sciences), 29(3), 9–13. https://doi.org/10.19642/j.issn.1672-8505.2010.03.003

McCullough, M. E., Kilpatrick, S. D., Emmons, R. A., & Larson, D. B. (2001). Is gratitude a moral affect? Psychological Bulletin, 127(2), 249–266. https://doi.org/10.1037/0033-2909.127.2.249