ISSN 2477-1686  

 Vol. 12 No. 52 Februari 2026

Kesejahteraan Lansia Tirah Baring:

Perspektif Self-Determination Theory

 

Oleh:

Christina Lumbantoruan

Fakultas Psikologi, Universitas Pelita Harapan

 

Indonesia telah memasuki fase struktur penduduk tua (ageing population) sejak tahun 2021, yang ditandai dengan meningkatnya proporsi penduduk lanjut usia (lansia) berusia 60 tahun ke atas. Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024 menunjukkan bahwa jumlah lansia mencapai sekitar 34 juta jiwa atau 12 persen dari total populasi nasional, dan diproyeksikan meningkat hingga 20 persen pada tahun 2045 (BPS, 2024). Perubahan demografis ini membawa implikasi besar terhadap sistem kesehatan, layanan sosial, dan ketahanan ekonomi, terutama karena lansia merupakan kelompok dengan tingkat kerentanan yang tinggi.

 

Lansia di Indonesia menghadapi berbagai tantangan multidimensional, meliputi masalah kesehatan kronis, keterbatasan fungsional, keterasingan sosial, serta ketergantungan ekonomi terhadap keluarga atau bantuan pemerintah (Mulyaningsih et al., 2020). Pada tahun 2024, dua dari lima lansia tercatat memiliki permasalahan kesehatan, sementara 84,75 persen lansia masih bekerja di sektor informal dengan tingkat pendapatan yang relatif rendah. Selain itu, lebih dari 80 persen lansia bergantung secara finansial pada anggota keluarga maupun pihak lain (BPS, 2024). Kondisi ini menunjukkan bahwa proses penuaan berdampak signifikan terhadap kesehatan fisik, kondisi finansial, serta dukungan sosial lansia.

 

Namun demikian, penelitian tentang lansia di Indonesia pada umumnya masih berfokus pada aspek kesehatan fisik serta cakupan dan dampak layanan, seperti Posyandu Lansia dan home care, yang terbukti mendukung pemantauan kesehatan, relasi sosial, dan kesejahteraan psikologis. Kajian yang ada cenderung melihat lansia sebagai penerima layanan pasif dan lebih menekankan kualitas hidup secara objektif. Belum banyak penelitian yang mengeksplorasi makna kesejahteraan atau well-being secara subjektif bagi lansia (Arywibowo & Rozi, 2024; Budiono & Rivai, 2021), khususnya tirah baring.

 

Dalam memahami makna well-being pada lansia tirah baring, kita dapat menggunakan sudut pandang teori psikologi Self-Determination Theory (SDT). SDT memandang bahwa kesejahteraan individu dipengaruhi oleh terpenuhinya tiga kebutuhan psikologis dasar: autonomy (rasa kendali), competence (rasa mampu), dan relatedness (rasa keterhubungan) (Ryan & Deci, 2024). Pada lansia tirah baring yang hidup sendiri atau berada dalam kondisi ekonomi rentan, ketiga kebutuhan ini berisiko terhambat.

 

Pertama, kebutuhan akan autonomy sering terganggu karena lansia kehilangan kontrol atas aktivitas sehari-hari. Jadwal dan keputusan hidup kerap ditentukan oleh caregiver atau oleh keterbatasan finansial. Padahal, rasa memiliki pilihan, meskipun dalam keputusan kecil, berkontribusi terhadap martabat dan harga diri. Harga diri merupakan salah satu aspek yang berperan dalam successful ageing (Candra et al., 2016).

 

Kedua, kebutuhan akan competence dapat menurun ketika lansia merasa tidak lagi produktif atau berguna. Dalam masyarakat yang semakin menilai produktivitas secara ekonomi, lansia tirah baring rentan merasa menjadi beban. Namun demikian, kebutuhan kompetensi tetap dapat difasilitasi melalui peran simbolik dalam keluarga atau masyarakat, transmisi nilai, serta berbagi pengalaman hidup.

 

Ketiga, kebutuhan akan relatedness menjadi krusial. Lansia yang hidup sendiri berisiko mengalami kesepian kronis. Dalam budaya Indonesia yang menjunjung nilai kekeluargaan dan spiritualitas, relasi sosial dan dukungan komunitas menjadi faktor protektif yang penting. Selain membangun jejaring sosial yang bersifat kekeluargaan, praktik spiritualitas berupa pencarian makna dan relasi dengan Tuhan dapat membantu lansia mempertahankan harapan serta penerimaan diri (Simbolon & Simbolon, 2023).

 

Kesimpulannya, peningkatan kesejahteraan lansia tirah baring tidak cukup dilakukan melalui intervensi medis semata. Pendekatan psikososial perlu diperkuat, seperti program kunjungan sosial, layanan home care, serta pelatihan caregiver berbasis empati. Pemerintah dan komunitas lokal dapat berperan dalam menciptakan lingkungan yang mendukung kebutuhan otonomi, kompetensi, dan keterhubungan.

 

Dalam era aging population, tantangan Indonesia bukan hanya memperpanjang usia harapan hidup, tetapi memastikan kualitas hidup yang bermakna. Perspektif Self-Determination Theory mengingatkan bahwa kesejahteraan sejati lahir dari rasa autonomy, competence, dan relatedness, bahkan dalam kondisi fisik yang terbatas.

 

Referensi:

Arywibowo, J. D., & Rozi, H. F. (2024). Kualitas hidup lansia yang tinggal di panti wreda dan faktor-faktor yang memengaruhinya: Tinjauan pustaka pada lansia di Indonesia. Jurnal EMPATI, 13(2), 129–142. https://doi.org/10.14710/empati.2024.43336

Badan Pusat Statistik. (2024). Statistik penduduk lanjut usia 2024. https://www.bps.go.id

Budiono, N., & Rivai, A. (2021). Factors affecting the quality of life of the elderly people. Jurnal Ilmiah Kesehatan Sandi Husada, 10(2), 371–379. https://doi.org/10.35816/jiskh.v10i2.621

Candra, R. A. A., Rahayu, E., & Sumarwati, M. (2016). Hubungan antara harga diri dengan pencapaian successful aging pada lansia wanita di Desa Karangtengah. Kesmas Indonesia, 8(2), 15–30.

Mulyaningsih, S. A., Pamungkas, I. C., Ramadhany, A., & Sulandari, S. (2020). Permasalahan lansia di era 4.0: Peran keluarga dan lansia. Abdi Psikonomi, 27–33.

Ryan, R. M., & Deci, E. L. (2024). Self-determination theory. In Encyclopedia of quality of life and well-being research (pp. 6229–6235). Springer International Publishing.

Simbolon, P., & Simbolon, N. (2023). Korelasi kebutuhan spiritual dengan kualitas hidup lansia. Jurnal Olahraga dan Kesehatan Indonesia, 3(2), 83–93. https://doi.org/10.55081/joki.v3i2.865