ISSN 2477-1686
Vol. 12 No. 52 Februari 2026
Pertolongan Pertama Psikologis: Apa yang Bisa Kita Lakukan Saat Orang Lain Mengalami Distres Psikologis?
Oleh:
Bunga Karuni, Ellyana Dwi Farisandy
Program Studi Psikologi, Universitas Pembangunan Jaya
Hampir setiap orang, pada suatu titik dalam hidupnya, pernah mengalami situasi yang menimbulkan tekanan emosional. Kehilangan orang terdekat, konflik relasi interpersonal, kegagalan dalam hidup, bencana, atau peristiwa sulit lainnya dapat membuat seseorang merasa kewalahan, cemas, dan/atau bingung dalam mengambil keputusan. Pada sebagian orang, kondisi ini dapat membaik seiring waktu. Namun, pada situasi tertentu, tekanan emosional tersebut dapat menetap dan berkembang menjadi distres psikologis yang lebih serius. Distres psikologis yang berlangsung berkepanjangan tidak hanya memengaruhi perasaan, tetapi juga berdampak pada cara seseorang berpikir, berperilaku, bahkan dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Penelitian menunjukkan bahwa kondisi ini dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan mental, seperti depresi, gangguan kecemasan, hingga gangguan stres pascatrauma (post-traumatic stress disorder atau PTSD) (Tahir, 2025). Di Indonesia, persoalan ini bukanlah hal yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI, 2021), sekitar 20% penduduk Indonesia mengalami gangguan kesehatan mental. Artinya, kemungkinan besar kita pernah, sedang, atau akan berhadapan dengan seseorang yang mengalami distres psikologis—baik di dalam keluarga, lingkungan kerja, maupun lingkar pertemanan.
Ketika orang terdekat berada dalam kondisi seperti ini, banyak dari kita merasa serba salah. Di satu sisi, kita ingin membantu, tetapi sering kali tidak tahu harus memulai dari mana. Respons yang paling umum adalah menyemangati, menasihati, atau berusaha “menguatkan” dengan kalimat-kalimat positif. Niat ini tentu saja baik. Namun, dalam beberapa situasi, pendekatan tersebut justru dapat membuat seseorang merasa tidak dipahami, diremehkan, atau semakin menarik diri. Tanpa disadari, kita berusaha memperbaiki keadaan dengan cepat, padahal yang dibutuhkan adalah kehadiran yang aman dan empatik. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa respons awal yang tepat dapat membuat perbedaan besar. Pertolongan psikologis yang diberikan sejak dini terbukti dapat membantu mencegah berkembangnya masalah psikologis yang lebih serius, seperti depresi berat, PTSD, maupun penyalahgunaan zat berbahaya (Birkhead & Vermeulen, 2018). Inilah yang membuat pemahaman mengenai pertolongan pertama psikologis menjadi penting—bukan hanya bagi tenaga profesional, tetapi juga bagi masyarakat umum.
Apa Itu Pertolongan Pertama Psikologis (Psychological First Aid)?
Pertolongan Pertama Psikologis atau Psychological First Aid (PFA) adalah bentuk dukungan awal yang diberikan kepada individu yang sedang mengalami distres psikologis akibat peristiwa krisis. Pendekatan ini dapat digunakan dalam berbagai konteks, mulai dari krisis personal, seperti kehilangan atau konflik, hingga situasi bencana dan keadaan darurat (Brymer et al., 2006). PFA bukanlah diagnosis atau terapi, dan tidak dimaksudkan untuk menggantikan peran tenaga profesional kesehatan mental. PFA dapat dilakukan oleh individu yang telah memiliki pengetahuan atau pelatihan dasar mengenai pertolongan psikologis awal, dengan tujuan membantu menciptakan rasa aman, memberikan dukungan emosional awal, serta menjembatani individu yang membutuhkan dengan bantuan profesional yang sesuai. Salah satu kerangka PFA yang banyak digunakan secara internasional adalah ALGEE, yaitu action plan yang dikembangkan dalam program Mental Health First Aid. Kerangka ini dirancang untuk membantu individu merespons berbagai situasi krisis secara terstruktur, baik krisis sehari-hari maupun dalam konteks bencana dan keadaan darurat (Mental Health First Aid Australia, 2023).
ALGEE sebagai Panduan Pertolongan Pertama Psikologis
ALGEE merupakan akronim dari lima langkah utama yang dapat dilakukan dalam memberikan pertolongan psikologis awal (Hulon, 2025; Mental Health First Aid, 2025; Mental Health First Aid Australia, 2023), yakni:
A – Approach, assess for risk of suicide or harm.
Langkah pertama yang dapat dilakukan adalah mendekati orang tersebut dengan cara yang aman, hangat, dan penuh empati. Pendekatan tidak harus langsung membahas masalah yang berat. Menanyakan kabar atau menunjukkan perhatian sederhana sering kali sudah cukup untuk membuka ruang percakapan, sambil secara perlahan memperhatikan apakah terdapat tanda-tanda risiko serius, seperti pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau orang lain. Jika orang tersebut belum siap untuk bercerita, tidak masalah. Tidak semua orang siap membuka diri pada waktu yang sama, dan memaksa justru bisa membuat mereka semakin menutup diri. Dalam situasi seperti ini, kehadiran yang konsisten sering kali lebih bermakna daripada dorongan untuk segera mendapatkan jawaban. Kalimat sederhana seperti, “Kalau kamu belum siap buat cerita, tidak apa-apa. Aku ada di sini kapan pun kamu ingin cerita,” dapat membantu membangun rasa aman.
L – Listen nonjudgmentally.
Ketika orang tersebut mulai mau berbagi, langkah berikutnya adalah mendengarkan tanpa menghakimi. Mendengarkan secara aktif berarti hadir sepenuhnya di saat ini, dengan perhatian yang utuh, tanpa tergesa-gesa memberikan nasihat atau solusi. Sering kali, orang mendengarkan bukan untuk memahami, melainkan untuk membalas ataupun memperbaiki keadaan. Dalam hal ini, justru yang dibutuhkan orang tersebut adalah ruang untuk bercerita tanpa penghakiman, bukan solusi yang cepat. Anda dapat menunjukkan kehadiran melalui respons nonverbal sederhana, seperti mengangguk, mempertahankan kontak mata, atau sikap tubuh yang terbuka. Respons-respons kecil ini memberi pesan bahwa kita benar-benar mendengarkan dan berusaha memahami pengalaman mereka.
G – Give reassurance and information.
Langkah ketiga yang bisa Anda lakukan adalah dengan memberikan dukungan emosional dan informasi. Dukungan di sini bukan berarti mencari solusi yang cepat, melainkan menunjukkan empati dan menegaskan bahwa apa yang mereka rasakan adalah valid. Kalimat seperti, “Saya mungkin tidak sepenuhnya memahami apa yang Anda rasakan, tetapi saya tahu ini pasti berat bagi Anda,” dapat membantu individu merasa dimengerti. Dukungan emosional yang konsisten juga sangat berarti. Anda mungkin tidak sepenuhnya memahami apa yang mereka alami, tetapi Anda bisa menunjukkan bahwa Anda peduli, hadir, dan siap membantu. Terkadang, mendengarkan atau sekadar menemani sudah cukup untuk membuat seseorang merasa tidak sendirian.
E – Encourage appropriate professional help.
Langkah keempat yang bisa Anda lakukan adalah dengan mendorong orang tersebut untuk mendapatkan layanan profesional yang mereka butuhkan, seperti dokter, psikolog, atau psikiater. Jika mereka belum siap untuk bertemu secara tatap muka, alternatif layanan berbasis daring atau layanan darurat seperti 119 ext. 8 (Layanan Sejiwa) dapat menjadi pilihan awal. Dalam proses ini, penolakan atau respons emosional seperti kemarahan dapat muncul. Respons tersebut tidak perlu diambil secara personal. Yang terpenting adalah tetap bersikap tenang, tidak memaksa, dan menjaga agar orang tersebut tetap merasa aman. Dorongan yang disampaikan secara empatik dan konsisten sering kali lebih membantu dibandingkan tekanan langsung.
E – Encourage self-help and other support strategies.
Langkah terakhir yang bisa dilakukan Adalah dengan membantu individu mengenali dan memanfaatkan sumber dukungan yang tersedia di sekitarnya, seperti keluarga, teman, atau komunitas. Selain itu, pemberi pertolongan (first aider) juga dapat membantu individu menyusun strategi perawatan diri (self-help) yang realistis dan mudah dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu strategi self-help yang sederhana dan dapat dilakukan secara mandiri adalah grounding. Grounding bertujuan membantu mengurangi distres psikologis, seperti kecemasan dengan mengarahkan kembali perhatian individu dari pikiran yang menekan ke kondisi saat ini dan lingkungan sekitar. Teknik ini relatif aman, mudah diakses, dan efektif dalam membantu menenangkan diri serta meningkatkan kesejahteraan psikologis (Koniver, 2024). Salah satu bentuk grounding yang umum digunakan adalah teknik 5–4–3–2–1, yaitu: mengamati lima hal yang dapat dilihat, menyentuh empat hal yang dapat diraba, mendengarkan tiga suara di sekitar, mencium dua aroma, dan menyadari satu sensasi rasa. Latihan ini membantu individu kembali terhubung dengan pengalaman saat ini secara bertahap dan sadar (Smith, 2018).
SIMPULAN
Pengalaman menghadapi orang terdekat yang sedang mengalami distres psikologis merupakan situasi yang umum, tetapi tidak selalu mudah. Banyak orang ingin membantu, namun sering kali ragu dan takut melakukan hal yang justru memperburuk keadaan. Keraguan ini wajar, terutama ketika kita tidak tahu apa yang sebaiknya dikatakan atau dilakukan. Pendekatan Pertolongan Pertama Psikologis (Psychological First Aid atau PFA) menunjukkan bahwa bantuan awal tidak harus bersifat terapeutik atau rumit. Respons yang manusiawi, aman, dan empatik justru menjadi dasar yang penting. Melalui kerangka ALGEE dalam program Mental Health First Aid, individu yang telah memiliki pengetahuan dan pelatihan dasar memiliki panduan praktis untuk merespons distres psikologis secara lebih terarah—mulai dari mendekati dengan aman, mendengarkan tanpa menghakimi, memberikan dukungan emosional, hingga membantu menghubungkan individu dengan bantuan profesional dan strategi perawatan diri (self-help). Respons awal yang tepat dapat membantu meredakan distres psikologis dan mengurangi risiko berkembangnya masalah yang lebih serius. Kehadiran yang konsisten, kesediaan untuk benar-benar mendengarkan, dan sikap tidak menghakimi merupakan inti dari pertolongan psikologis awal. Kita mungkin tidak selalu mampu menyelesaikan masalah psikologis orang lain. Namun, dengan bekal pengetahuan dan pelatihan yang memadai, individu di masyarakat dapat berperan sebagai penolong pertama yang aman—hadir secara tepat dan membantu membuka akses menuju dukungan yang lebih lanjut ketika dibutuhkan.
“We can’t change the world, but we can change the world for one person.”— Paul Shane Spear
Referensi:
Birkhead, G. S., & Vermeulen, K. (2018). Sustainability of psychological first aid training for the disaster response workforce. American Journal of Public Health, 108(S5), S381–S382. https://doi.org/10.2105/AJPH.2018.304643
Brymer, M., Jacobs, A., Layne, C., Pynoos, R., Ruzek, J., Steinberg, A., Vernberg, E., & Watson, P. (2006). Psychological first aid: Field operations guide (2nd ed.). National Child Traumatic Stress Network & National Center for PTSD.
Hulon, H. L. (2025). 5-step MHFA action plan (ALGEE) for suicide prevention. Elanco. https://my.elanco.com/us/5-step-MHFA-Plan-for-Suicide-Prevention
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2021, October 7). Kemenkes beberkan permasalahan kesehatan jiwa di Indonesia. https://kemkes.go.id/id/kemenkes-beberkan-masalah-permasalahan-kesehatan-jiwa-di-indonesia
Koniver, L. (2024). Grounding to treat anxiety. Medical Research Archives, 12(12). https://doi.org/10.18103/mra.v12i12.6024
Mental Health First Aid. (2025, December 2). Using the 5-step MHFA action plan: How ALGEE helps in mental health and substance use challenges. https://mentalhealthfirstaid.org/news/algee-how-mhfa-helps-you-respond-in-crisis-and-non-crisis-situations/
Mental Health First Aid Australia. (2023, July 4). ALGEE in action. https://www.mhfa.com.au/article/algee-in-action
Smith, S. (2018, October 4). 5-4-3-2-1 coping technique for anxiety. University of Rochester Medical Center. https://www.urmc.rochester.edu/behavioral-health-partners/bhp-blog/april-2018/5-4-3-2-1-coping-technique-for-anxiety
Tahir, T. A. (2025). Bridging the gap to reduce the duration of untreated illness: Spirituality and mental health. Journal of Pakistan Psychiatric Society, 22(1). https://doi.org/10.63050/jpps.22.1.955
