ISSN 2477-1686
Vol. 12 No. 50 Januari 2026
Optimisme tanpa Toxic Positivity : Paradigma Relawan Bencana
Oleh:
Arie Rihardini Sundari
Fakultas Psikologi, Universitas Persada Indonesia YAI
Pengantar
Relawan bencana adalah salah satu ujung tombak pada saat penanganan dan mitigasi bencana. Ketangguhan, hardiness, perilaku prososial, empati, kebersyukuran dan keberanian, merupakan sejumlah kualitas kompetensi yang dibutuhkan dalam menolong dan mendampingi penyintas bencana (Alisabana, 2022; Sundari dkk, 2025). Berhadapan dengan kondisi buruk penyintas yang mengalami luka-luka, secara fisik maupun mental, dapat berdampak pula pada kesehatan mental relawan (Fullerton dkk, 2004; Sulaiman dkk, 2020; Corey dkk, 2021; Khrisnanda & Shanti, 2022). Kerentanan terhadap gejala tekanan psikologis terkait profesinya tersebut, diantaranya kelelahan emosional, perilaku menarik diri, dan perilaku acuh yang berdampak pada interaksi yang cenderung negatif, pemicuan konflik dan minimnya waktu yang berkualitas dengan pasangan (Khrisnanda & Shanti, 2022). Berbagai aktivitas pelatihan profesional untuk relawan berfungsi untuk dapat mengintervensi dampak yang berpotensi terjadi di lapangan, (DeWolfe, 2000). Salah satu modal psikologis lain yang dibutuhkan relawan bencana adalah sikap optimisme (Rahmayuda, 2024). Optimisme sendiri, merupakan paradigma yang menyimpan kritik dalam penerapan ekstremnya di masyarakat.
Konsep Optimisme dalam Praktik Pelayanan Psikososial
Secara hakiki nilai bersikap optimisme berasal dari keyakinan bahwa di dunia ini, dan dalam kehidupan, harapan hidup seseorang dapat dipengaruhi hal-hal yang tidak dapat dikendalikan oleh diri sendiri (Sundari, 2020). Namun optimisme berlebihan yang tidak realistis dapat mengakibatkan toxic positivity, yakni dorongan ekstrem untuk memegang teguh pendirian positif di segala situasi, tanpa kecuali. Konsep ini muncul sebagai respons terhadap budaya self-help dan positivisme ekstrem yang, meskipun dimaksudkan untuk meningkatkan kesejahteraan, terkadang malah mengabaikan validitas emosi negatif yang alami (Apriyanto & Hidayanti, 2025). Emosi negatif dibutuhkan sebagai proses adaptasi individu dalam penyembuhan kondisi emosionalnya yang sedang terpuruk. Oleh karenanya dibutuhkan sikap yang tepat dalam menghadapi peristiwa buruk kehidupan secara proporsional dengan penghayatan yang utuh, tanpa mengabaikan ketakutan dan kesedihan yang nyata ada. Tujuannya adalah agar relawan atau pendamping psikologis yang melakukan praktik pelayanan psikososial (Psychological First Aid-PFA) di lokasi bencana dapat memberikan dukungan dengan lebih efektif. Selain dapat saling menguatkan satu sama lain antara sesama relawan, apabila terjadi burnout dalam pelaksanaannya.
Menyeimbangkan antara optimisme dan ekspresi emosi otentik yang dirasakan individu, sebagaimana sintesa Sonia (2025), dapat mengatasi toxic positivity yang dirasakan relawan bencana. Berikut adalah beberapa langkah yang dapat dilakukan :
1. Mengakui validasi terhadap realitas, bukan menyangkalnya. Toxic positivity sering muncul dalam kalimat seperti, "Jangan sedih, ambil hikmahnya saja." Bagi penyintas yang baru kehilangan segalanya, kalimat ini dapat terdengar kurang menghargai atau bahkan mengecilkan kondisi yang sedang dialami. Paradigma relawan yang tepat adalah mengakui bahwa situasi memang buruk, dengan menyampaikan, "Saya mengerti ini sangat berat dan tidak apa-apa jika Anda merasa hancur." Penghiburan tersebut akan jauh lebih menguatkan daripada memaksa penyintas untuk dapat segera tersenyum.
2. Kehadiran (mendampingi secara fisik) lebih utama dibandingkan solusi verbal. Sering kali, relawan merasa harus terus berbicara untuk menghibur. Padahal, dalam penanggulangan bencana, dukungan psikososial sering kali berbentuk kehadiran atau pendampingan yang tenang di sisi penyintas. Mendengarkan keluh kesah tanpa interupsi "nasihat bijak" adalah bentuk optimisme yang nyata—optimisme bahwa penyintas memiliki ketangguhan (resilience) untuk pulih dengan pendampingan yang tepat. Bahasa nonverbal seperti sesekali memberikan senyuman hangat dan atau anggukan kepala disertai sentuhan ringan di jemari penyintas terkadang sangat membantu.
3. Fokus pada langkah kecil yang konkret. Optimisme tanpa tindakan adalah angan-angan. Alih-alih menjanjikan masa depan yang cerah secara abstrak, relawan sebaiknya berfokus pada progres kecil yang nyata. Misalnya, memastikan akses air bersih atau menyediakan ruang aman bagi anak-anak. Optimisme dapat tumbuh ketika penyintas melihat adanya kemajuan fisik di lingkungan mereka, bukan hanya sekadar kata-kata motivasi.
4. Menjaga kesehatan mental diri sendiri. Relawan juga rentan terhadap compassion fatigue. Memaksakan diri untuk selalu terlihat ceria di depan penyintas padahal diri sendiri sedang lelah secara emosional adalah bentuk toxic positivity terhadap diri sendiri. Relawan yang sehat secara paradigma akan mengakui batas kemampuannya dan mencari dukungan rekan sejawat, sehingga bantuan yang diberikan tetap autentik.
Sebagaimana Seligman (2006) sampaikan bahwa optimisme merupakan perspektif yang fleksibel. Pandangan pesimis juga memiliki makna yang penting, dan tiap individu perlu berani menghadapinya. Maka kemudian manfaat yang dapat diperoleh dari sikap optimisme adalah tanpa batas.
Kesimpulan
Empati terhadap kondisi penyintas sebaiknya diikuti dengan kesadaran diri relawan bahwa optimisme adalah sebuah proses. Tiap individu perlu memahami bahwa tiap peristiwa buruk memiliki makna tersendiri, dan waktu tersendiri untuk tercerahkan. Tugas relawan bencana adalah berada mendampingi penyintas dalam menjalani proses tersebut. Dan itu adalah kewajiban moral kita semua.
Daftar Pustaka:
Alisabana, S. (2022). Hubungan empati dengan resiliensi relawan tim tanggap darurat bencana Palang Merah Indonesia Kabupaten Malang. Jurnal Psikologi Tabularasa, 17(1), 11-25. doi: https://doi.org/10.26905/jpt.v17i1.8068
Apriyanto., Hidayanti, L. (2020). Evolusi Toxic Positivity dalam Penelitian Kesehatan Mental. Sanskara Ilmu Sosial dan Humaniora, Vol. 2, No. 02, April 2025, hal. 94-105. ISSN: 3031-7789, DOI: 10.58812/sish.v2.i02
Corey, J., Vallières, F., Frawley, T., Brún, A. D., Davidson, S., & Gilmore, B. (2021, February 2). A rapid realist review of group psychological first aid for humanitarian workers and volunteers. International Journal of Environmental Research and Public Health. MDPI AG. https://doi.org/10.3390/ijerph18041452
DeWolfe, D. J. (2000). Training Manual For Mental Health and Human Service Workers in Major Disasters, 2nd Ed. Washington : Department of Health and Human Services Substance Abuse and Mental Health Services Administration Center for Mental Health Services.
Fullerton, CS., Ursano, RJ., Wang, L. (2004). Acute Stress Disorder, Posttraumatic Stress Disorder, and Depression in Disaster or Rescue Workers. American Journal Psychiatry, 161:8, August, 2004. http://ajp.psychiatryonline.org
Khrisnanda, F., & Shanti, T. I. (2022). Psychological Distress and Dyadic Coping in the Context of Marital Satisfaction of Indonesian Search and Rescue (SAR) Rescuers: A Mixed-Method Study. ANIMA Indonesian Psychological Journal, Vol. 37, No. 2, 305-353. https://doi.org/10.24123/aipj.v37i2.4887
Rahmayuda, MB. (2024). Modal Psikologis Pada Relawan Bencana MDMC Daerah Istimewa Yogyakarta. Tesis. Fakultas Psikologi Universitas Ahmad Dahlan. Naskah Publikasi.
Seligman, M. (2006). Learned optimism: How to change your mind and your life. New York: Vintage books.
Sonia. (2025). The Dark Side of Positivity: How Toxic Positivity Contributes to Emotional Suppression and Mental Health Struggles. The International Journal of Indian Psychology, 13(2), 1154–1164. Retrieved from https://www.ijip.in
Sulaiman, A. H., Sabki, Z. A., Jaafa, M. J., Francis, B., Razali, K. A., Rizal, A. J., … Ng, C. G. (2020). Development of a remote psychological first aid protocol for healthcare workers following the covid-19 pandemic in a university teaching hospital, malaysia. Healthcare (Switzerland), 8(3). https://doi.org/10.3390/healthcare8030228.
Sundari, AR. (2020). Bencana dan Makna Hidup. Buletin K-PIN, ISSN 2477-1686 Vol. 6 No.07, April 2020. https://buletin.k-pin.org/index.php/arsip-artikel/614-bencana-dan-makna-hidup.
Sundari, AR., Herdajani, F., Susilarini, T. (2025). Faktor-faktor yang Berpengaruh Terhadap Perilaku Prososial Mahasiswa Psikologi UPI YAI Jakarta. Jurnal Psikologi Vol 23 No 1 Februari 2025. https://doi.org/10.37817/jurnalcontiguity.v20i3.
