ISSN 2477-1686
Vol. 12 No. 50 Januari 2026
Mengurangi Pengalaman Stres Tinggal di Kota
Oleh:
Ridhoi Meilona Purba1, Rodhiatul Hasanah1, Wahyuni Zahra2
Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara1, Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara2
Tinggal di kota menjadi impian dari banyak orang. Banyak orang memilih untuk tinggal di kota, diiringi dengan meningkatnya jumlah pembangunan dan perkembangan kota Gracia, 2014; Iskandar, 2013; Sarwono, 2016; Buttazzoni et al., 2022). Namun tinggal di kota tidak selalu seindah impian. Kehidupan kota identik dengan beragam permasalahan fisik dan juga sosial yang menimbulkan stres (Okkels et al., 2018; Sarwono, 2016). Mengembangkan solusi untuk masalah lingkungan tidak hanya mengurangi pengalaman stres pribadi tetapi juga mengurangi pola perilaku manusia yang destruktif. Psikologi lingkungan dan arsitektur memiliki pandangan yang sama memahami hubungan manusia-perilaku. Tulisan ini bertujuan untuk memaparkan beberapa alternatif interaksi perilaku manusia-lingkungan, mengurangi pengalaman stres tinggal di perkotaan.
Pertama, menghadirkan lingkungan restoratif. Lingkungan restoratif adalah lingkungan yang menawarkan pengalaman “menjauh” atau “being away” dari tuntutan kehidupan sehari-hari; ketertarikan atau “soft fascination” dengan dimensi sensorik dari lingkungan yang secara inheren menarik; rasa keluasan atau “sense of vastness” dan keterhubungan antara pengalaman dan pengetahuan seseorang tentang dunia; serta rasa kesesuaian atau ““compatibility” dengan preferensi aktivitas tersebut. (Devlin, 2018; Bell et al., 2001)
Lingkungan restoratif memberikan pemulihan dari dengan mengurangi tekanan darah, detak jantung, kelelahan perhatian, kelelahan mental, penurunan konsentrasi, produktivitas, dan akurasi bersamaan dengan ketidakpekaan sosial dan mudah tersinggung. Dengan demikian, sejauh alam bersifat memulihkan, alam juga dapat membantu meningkatkan hubungan interpersonal dan fungsi kehidupan secara keseluruhan (Bell et al., 2001; Koger, 2014).
Kedua, melakukan aktivitas di alam bebas. Pengalaman di alam bebas seperti mendaki gunung, berperahu menyebrangi sungai. Terapi alam bebas adalah terapi yang menggunakan alam atau lingkungan luar ruangan. Meskipun alam bebas ini seringkali dapat menimbulkan rasa takut, namun juga menawarkan pengalaman menenangkan dan menyembuhkan (Jackson et al., 2021; Koger, 2014).
Banyak manfaat kesehatan dari terapi di alam bebas. Peningkatan kekuatan, daya tahan, dan kinerja kardiovaskular, dihasilkan dari program yang mencakup aktivitas fisik intensif di alam bebas. Selain itu, terapi ini juga dapat untuk mendorong pertumbuhan pribadi dan eksplorasi diri. Terapi ini dapat digunakan sebagai alat rekreasi atau lingkungan meditasi untuk mengurangi respons stres. Singkatnya, lingkungan restoratif alami memberikan setidaknya empat manfaat: emosi positif seperti kesenangan, kebahagiaan, kepuasan, kedamaian, dan ketenangan; fisiologi positif dalam hal pengurangan aktivitas sistem saraf simpatik atau peningkatan aktivitas sistem saraf parasimpatik; kognisi positif melalui pemulihan perhatian; dan peningkatan kesehatan secara keseluruhan (Koger, 2014).
Ketiga, memasukkan aspek alam dalam desain perencanaan kota. Perencanaan kota yang baik merupakan strategi penting untuk memerangi perluasan kota yang diakibatkan oleh preferensi masyarakat terhadap lanskap alami. Ketersediaan ruang hijau perkotaan, mengurangi perluasan kota, serta memperluas akses masyarakat ke unsur-unsur alam seperti pohon, halaman rumput, ruang alami dan taman milik publik (Omar et al., 2016; Shirazi, 2020).
Beberapa manfaat dari perencanaan kota dengan memasukkan aspek alam bermanfaat memungkinkan manusia untuk dapat terhubung dengan alam, dan berinteraksi di alam. Menyalurkan energi ke aktivitas fisik seperti olahraga, memungkinkan sistem parasimpatik untuk memberikan pemulihan yang lebih lengkap, membantu detoksifikasi dari bahan kimia berbahaya, dengan memobilisasi jaringan lemak yang menyimpan racun untuk mempercepat ekskresi (Koger, 2014). Pada akhirnya akan bermanfaat baik secara langsung maupun melalui pengurangan dampak stres.
Tinggal di kota rentan mengalami stres. Sumber stress akan selalu akan ada, namun pengalaman stres dapat dikurangi. Tinggal di kota dengan ragam sumber stres dapat dikurangi dengan mengurangi pengalaman stres. Menghadirkan lingkungan restoratif, melakukan aktivitas di alam bebas, dan memasukkan aspek alam dalam desain perencanaan kota merupakan beberapa alternatif yang dapat dilakukan. Penelitian dan penerapan psikologi lingkungan dan arsitektur masih menjadi tantangan untuk dapat menjawab permasalahan perilaku sosial masyarakat di perkotaan.
Referensi
Ann Sloan Devlin. (2018). Environmental Psychology and Human Well-Being: Effects of built and natural settings. In Environmental Psychology and Human Well-Being. Academic Press. https://doi.org/10.1016/c2016-0-01435-3
Bell, P. A., Greene, T. C., Fisher, J. D., & Baum, A. (2001). Environmental Psychology (Fifth). Taylor & Francis Group LLC.
Buttazzoni, A., Dean, J., & Minaker, L. (2022). Urban design and adolescent mental health: A qualitative examination of adolescent emotional responses to pedestrian- and transit-oriented design and cognitive architecture concepts. Health and Place, 76(January), 102825. https://doi.org/10.1016/j.healthplace.2022.102825
Iskandar, Z. (2013). Psikologi Lingkungan: metode dan aplikasi. Refika Aditama.
Jackson, S. B., Stevenson, K. T., Larson, L. R., Peterson, M. N., & Seekamp, E. (2021). Outdoor activity participation improves adolescents’ mental health and well-being during the covid-19 pandemic. International Journal of Environmental Research and Public Health, 18(5), 1–19. https://doi.org/10.3390/ijerph18052506
Koger, S. M. (2014). The Psychology of Environmental Problems. In The Psychology of Environmental Problems. https://doi.org/10.4324/9781410610737
Okkels, N., Kristiansen, C. B., Munk-Jørgensen, P., & Sartorius, N. (2018). Urban mental health: Challenges and perspectives. Current Opinion in Psychiatry, 31(3), 258–264. https://doi.org/10.1097/YCO.0000000000000413
Omar, K. A., Omar, D., Othman, S., & Yusoff, Z. M. (2016). The Relationship between Youth Activities and Outdoor Features in Urban Neighbourhood Space. Procedia - Social and Behavioral Sciences, 234, 271–279. https://doi.org/10.1016/j.sbspro.2016.10.243
Sarwono, S. W. (1992). Psikologi Lingkungan. Gramedia Widiasarana Indonesia.
Sarwono, S. W. (2016). Psikologi Lingkungan dan Pembangunan (2nd ed.). Mitra Wacana Media.
Shirazi, M. R. (2020). Compact urban form: Neighbouring and social activity. Sustainability (Switzerland), 12(5). https://doi.org/10.3390/su12051987
