ISSN 2477-1686
Vol. 12 No. 50 Januari 2026
Catatan Kecil tentang Pulang dan Istirahat: Istirahat, Identitas, dan Tantangan Gen Z Perantau
Oleh:
Chrysan Gomargana
Fakultas Psikologi, Universitas Pelita Harapan
Merantau sering dipahami sebagai tanda kemandirian. Pergi jauh untuk sekolah atau bekerja, belajar berdiri sendiri, dan membangun hidup di kota lain. Namun bagi banyak Generasi yang lebih muda seperti generasi Z (Gen Z) yang seringkali menghadapi tantangan middle income trap, perantauan bukan hanya soal jarak geografis, melainkan juga jarak emosional yang rumit.
Liburan menjadi satu-satunya momen “Pulang”. Tapi alih-alih pulih, sebagian justru merasa lebih lelah. Tubuh kembali ke rumah, tetapi pikiran tetap siaga. Ada rasa hangat karena bertemu keluarga, namun juga tekanan halus yang sulit dijelaskan.
Ketika Pulang Berarti Mengaktifkan Banyak Peran Sekaligus
Kondisi ini dikenal sebagai role strain tekanan yang muncul ketika seseorang harus menjalani beberapa peran dengan tuntutan yang saling bertabrakan (Goode, 1960). Sebagai perantau Gen Z middle income, seseorang sering berada di posisi: pekerja yang masih berjuang membangun stabilitas, anak yang dianggap sudah mandiri, dan anggota keluarga yang “Sudah dapat membantu”.
Peran-peran ini tidak selalu diucapkan secara eksplisit, tetapi tetap terasa. Saat pulang, tidak ada satu tombol yang bisa mematikan semuanya sekaligus. Akibatnya, liburan tidak sepenuhnya menjadi ruang istirahat, melainkan ruang negosiasi peran.
“Cukup” yang Tidak Pernah Benar-Benar Aman
Secara ekonomi, middle income trap menggambarkan kondisi ketika seseorang tidak berada dalam kekurangan, tetapi juga belum memiliki rasa aman jangka Panjang (Agénor, 2017). Secara psikologis, kondisi ini sering hadir sebagai ketegangan yang tenang. Sebuah fenomena baru yang muncul pada generasi yang lebih muda atau disebut juga sebagai Gen Z middle income ditandai dengan para Gen Z yang tidak merasa berhak mengeluh, terbiasa menahan kecemasan, dan sering memaknai istirahat sebagai sesuatu yang harus “layak” (Yohanes et al., 2025).
Saat pulang dari perantauan, kondisi ini sering tidak terlihat oleh orang lain. Yang tampak adalah status “sudah kerja, sudah berhasil”, bukan proses di baliknya. Ketidaksesuaian antara pengalaman internal dan ekspektasi eksternal inilah yang membuat kembali ke rumah terasa melelahkan.
Emotional Labor di Rumah, Bukan di Kantor
Hochschild (1983) menjelaskan emotional labor sebagai upaya mengelola emosi agar sesuai dengan harapan sosial. Konsep ini sering dibahas dalam konteks kerja, tetapi sebenarnya juga sangat relevan di konteks keluarga. Bagi perantau, emotional labor saat pulang bisa berbentuk: menahan lelah agar tidak terlihat “kurang bersyukur”, menjaga suasana agar tetap harmonis, menghindari topik sensitif demi kedamaian bersama.
Karena dilakukan atas dasar cinta dan tanggung jawab, kelelahan ini sering tidak disadari, sampai akhirnya tubuh dan emosi terasa kosong. Menurut stress–recovery theory, pemulihan membutuhkan jarak psikologis dari tuntutan (Sonnentag & Fritz, 2007). Jika selama liburan tuntutan tetap hadir meski dalam bentuk berbeda, maka proses pemulihan menjadi terbatas. Inilah sebabnya mengapa sebagian perantau: pulang dengan harapan istirahat, tetapi kembali ke kota dengan energi yang justru menipis. Ini bukan kegagalan pribadi. Ini respons yang masuk akal terhadap kondisi hidup yang kompleks.
Apa Yang Harus Dilakukan dalam Kondisi Ini?
Strategi berikut bukan solusi instan, tetapi pendekatan yang realistis dan tidak berujung menyalahkan diri sendiri.
1. Mengubah tujuan liburan dari “Pulih Total” ke “Tidak Semakin Lelah”: Alih-alih berharap liburan menyelesaikan semua kelelahan, ubah target menjadi “Aku ingin pulang tanpa semakin menguras diri.”
2. Memberi ruang mikro untuk diri sendiri: Jika tidak memungkinkan punya waktu sendiri yang panjang, ciptakan ruang mikro seperti berjalan sebentar, duduk diam tanpa distraksi, menulis atau menarik napas dengan sadar. Pemulihan tidak selalu besar. Yang kecil tapi konsisten tetap bermakna (Lee et al., 2023).
3. Menormalkan istirahat tanpa alasan produktif: Istirahat tidak selalu harus “berguna”.
Dalam psikologi kesehatan mental, istirahat dipandang sebagai kebutuhan dasar, bukan hadiah setelah cukup bekerja. Melatih diri untuk beristirahat tanpa rasa bersalah adalah proses, bukan tuntutan instan (Quan et al., 2025).
Penutup: Pulang Bukan Tentang Kembali Kuat, Tapi Tetap Utuh
Merantau membentuk ketahanan, tetapi juga membawa beban yang tidak selalu terlihat. Jika pulang dari perantauan dan merasa tidak sepenuhnya pulih, ini tidak berarti bahwa seseorang gagal beristirahat, ia hanya sedang hidup di fase yang menuntut banyak peran sekaligus. Dan di fase ini, memahami diri sendiri dengan lebih lembut bisa menjadi bentuk istirahat yang paling masuk akal.
Referensi:
Agénor, P. R. (2017). Caught in the middle? The economics of middle‐income traps. Journal of Economic Surveys, 31(3), 771-791. https://doi.org/10.1111/joes.12175
Goode, W. J. (1960). A theory of role strain. American Sociological Review, 25(4), 483–496. https://doi.org/10.2307/2092933
Hochschild, A. R. (1983). The managed heart: Commercialization of human feeling. University of California Press.
Lee, F. C., Diefendorff, J. M., Nolan, M. T., & Trougakos, J. P. (2023). Emotional exhaustion across the workday: Person-level and day-level predictors of workday emotional exhaustion growth curves. Journal of Applied Psychology, 108(10), 1662 - 1679. https://psycnet.apa.org/doi/10.1037/apl0001095
Quan, J., van Dierendonck, D., Wu, Z., & Feng, T. (2025). Constrained by work: Linking daily work connectivity behavior after-hours to next-day employee job performance. Journal of Business Research, 200, 115640. https://doi.org/10.1016/j.jbusres.2025.115640
Sonnentag, S., & Fritz, C. (2007). The recovery experience questionnaire. Journal of Occupational Health Psychology, 12(3), 204–221. https://psycnet.apa.org/doi/10.1037/t03569-000
Yohanes, K. N., Hamumpuni, H. S., & Utami, M. P. P. (2025). The middle-income trap problem faced by millennials and gen z in Jakarta: Challenges and mitigating strategies. Critical Issue of Sustainable Future, 2(1), 45-65. https://doi.org/10.61511/crsusf.v2i1.1803
