ISSN 2477-1686
Vol. 12 No. 49 Januari 2026
Stagnasi vs. Stabilitas: Job Hugging di Era Ketidakpastian dan Perspektif Teori Maslow
Oleh:
Hidayatul Annisa
Program Studi Psikologi, Universitas Pembangunan Jaya
Job Hugging mengacu pada perilaku pekerja yang tetap bertahan di pekerjaan lama meskipun merasa tidak puas atau ada peluang karir lain. Secara konseptual, fenomena ini mirip dengan perilaku “job embeddedness” yang telah dibahas sejak tahun 2000-an dalam literatur HR dan psikologi industri, yaitu pekerja yang “terikat” pada organisasi karena faktor sosial, finansial, dan kultural. Pandemi COVID-19 (2020–2022) menyebabkan ketidakpastian ekonomi global, PHK massal, dan krisis industri tertentu. Kondisi ini membuat pekerja terutama milenial dan Gen Z lebih berhati-hati dalam mengambil risiko, sehingga banyak yang memilih bertahan di pekerjaan lama, meskipun tidak puas, demi rasa aman. Forbes (2025) dan Korn Ferry (2025) menyoroti bahwa tren job hugging meningkat signifikan setelah pandemi, karena pekerja menempatkan prioritas pada stabilitas pendapatan dan keamanan kerja.
Fenomena Job Hugging, kecenderungan pekerja tetap bertahan di satu pekerjaan meskipun merasa tidak puas, tidak berkembang, atau tidak termotivasi semakin hari semakin marak, alih-alih mencari peluang baru banyak pekerja memilih diam di tempat karena ketidakpastian pasar tenaga kerja, kekhawatiran akan pemutusan hubungan kerja, atau ketidakpastian ekonomi secara umum. Dari perspektif psikologi industri dan organisasi, Job Hugging bukan semata soal loyalitas atau komitmen terhadap perusahaan melainkan cerminan dari kebutuhan mendasar manusia akan rasa aman dan stabilitas di tengah lingkungan eksternal yang sedang tidak pasti.
Menurut Maslow (1943), kebutuhan manusia tersusun secara hierarkis, mulai dari kebutuhan fisiologis, kebutuhan keamanan (safety), kebutuhan sosial (love/belonging), kebutuhan penghargaan (esteem), hingga aktualisasi diri (self-actualization). Berdasarkan teori kebutuhan Maslow tersebut beberapa hal dapat disoroti terkait fenomena Job Hugging. Pemenuhan Safety Needs dalam konteks dunia kerja modern yang penuh ketidakpastian seperti PHK masal, resesi, automatisasi, penurunan peluang kerja mendorong karyawan cenderung mencari keamanan. Job Hugging sering kali didorong oleh kekhawatiran bahwa pekerjaan baru belum tentu lebih baik, atau belum tentu aman. Dengan tetap di posisi lama, pekerja mempertahankan stabilitas ekonomi dan jaminan hidup. Kebutuhan Sosial dan Affiliasi dalam konteks dunia kerja modern menjadikan pekerjaan tidak hanya memberi penghasilan, tetapi juga rasa keterikatan sosial, kolega, rutinitas, budaya organisasi dan identitas profesional. Berpindah pekerjaan dapat membawa risiko kehilangan jejaring sosial dan rasa belonging. Job Hugging bisa menjadi cara menjaga ikatan sosial dan identitas kelompok kerja.
Namun demikian, kebutuhan akan keamanan dan keterikatan sosial terpenuhi, kebutuhan yang lebih tinggi yaitu esteem dan aktualisasi diri dapat terabaikan. Pekerja yang terus “memeluk” pekerjaan tanpa peluang perkembangan atau tantangan baru bisa mengalami stagnasi: merasa tidak dihargai, kurang berkembang, kehilangan motivasi, dan pada akhirnya menurunnya kepuasan kerja. Dengan demikian, Job Hugging dapat dilihat sebagai “pilihan defensif” untuk memenuhi kebutuhan dasar (safety, belonging) tetapi berisiko menghambat pemenuhan kebutuhan tertinggi (esteem, self-actualization) dalam hierarki Maslow.
Menurut laporan dari Robinson untuk Forbes tahun 2025, sekitar 75% pekerja di AS berencana “bertahan” di pekerjaannya sampai setidaknya 2027, indikasi kuat bahwa Job Hugging bukan fenomena sementara, melainkan adaptasi kolektif terhadap ketidakpastian ekonomi global. Di Indonesia sendiri, ketidakpastian ekonomi, persaingan di pasar kerja, dan kekhawatiran akan pemutusan hubungan kerja membuat banyak pekerja, khususnya generasi muda, memilih untuk tetap berada di pekerjaan lama. Pilihan ini sering didorong oleh kebutuhan untuk menjaga stabilitas finansial, keamanan pekerjaan, serta hubungan sosial di lingkungan kerja (UMY & LLDIKTI Wilayah V, 2025).
Dari perspektif organisasi dan psikologi industri, Job Hugging mengandung dilemma, di satu sisi perusahaan “diuntungkan” dengan turnover rendah namun di sisi lain, karyawan bisa disengaged, stagnan, dan kurang berkontribusi optimal. Beberapa implikasi dan rekomendasi seperti peran HR / manajemen perlu untuk menyediakan jalur pengembangan karir, pelatihan, rotasi tugas, dan peluang bagi karyawan untuk tumbuh, bukan sekadar mempertahankan headcount. Selain itu, penting juga membangun lingkungan kerja yang memungkinkan rasa aman tanpa mengorbankan kesempatan aktualisasi. Karena jika hal tersebut diatas diabaikan karena merasa turn over rendah maka akan berdampak pada kesejahteraan dan kepuasan kerja yang menurun. Job Hugging bisa berdampak negatif pada motivasi intrinsik, kepuasan, dan kesehatan psikologis jangka panjang, terutama jika kebutuhan penghargaan dan aktualisasi diri tidak terpenuhi.
Job Hugging adalah fenomena adaptif dalam konteks ketidakpastian ekonomi, memilih stabilitas dan keamanan dibandingkan ambisi dan perubahan. Dari perspektif hierarki kebutuhan Maslow, Job Hugging artinya memenuhi kebutuhan dasar (safety dan belonging), tetapi berpotensi menghambat pemenuhan kebutuhan tertinggi (esteem dan self-actualization). Bagi organisasi, Job Hugging bukan sekadar “turunnya turnover”, melainkan pertanda bahwa banyak pekerja mungkin terjebak dalam “zona nyaman yang stagnan”. Mengatasi fenomena ini memerlukan kebijakan yang tidak hanya menahan karyawan, tetapi mendorong mereka tumbuhm memberi kesempatan, pengakuan, dan tantangan. Sementara itu, bagi karyawan penting untuk refleksi diri apakah “bertahan” karena kebutuhan dasar semata, atau karena masih ingin berkembang, belajar, dan aktualisasi diri.
Referensi :
Maslow, A. H. (1943). A theory of human motivation. Psychological Review, 50(4), 370–396.
Robinson, B. (2025, October 25). ‘Job Hugging’: 75% of workers staying put through 2027, study shows. Forbes.
Korn Ferry. (2025). Job Hugging in the Middle East: Why professionals are staying put. Korn Ferry Insights.
UMY & LLDIKTI Wilayah V. (2025). Memahami fenomena Job Hugging di dunia kerja: Loyalitas atau stagnasi karier? Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
