ISSN 2477-1686
Vol. 11 No. 46 November 2025
Toxic Masculinity dalam Krisis Emosi : Menyelami Beban Tak Tampak Kaum Pria
Oleh:
Erni Rosita Salim
Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana
Di lingkungan masyarakat, mudah menemui keberagaman akan budaya yang masih diturunkan sampai saat ini dengan tidak sadar oleh masyarakat itu sendiri. Contohnya, mengenai budaya atau norma maskulin bagi para laki-laki yang sering kita kenali sebagai Toxic Masculinity. Tokoh psikologi Shepherd Bliss; (1990), memperkenalkan istilah Toxic Masculinity dengan tujuan agar menjadi pembeda dan pemisah antara nilai positif dan negatif dari laki-laki. Dan menjadikan istilah tersebut menjadi eksplanasi sempit mengenai kejantanan bagi budaya dan masyarakat. (Simamora, 2022, sebagaimana dikutip dalam Nadira, Danadharta, & Ayoda, 2024). Fenomena mengenai Toxic Masculinity sudah ada sejak era patriarki dan dirasa perlu untuk menurunkan budaya tersebut kepada ke generasi selanjutnya untuk dijadikan validasi bahwa laki-laki harus memiliki keunggulan dalam bidang apapun dibandingkan perempuan. Dikarenakan laki-laki memiliki tiga elemen khusus yaitu : kekuasaan, kendali, dan kekerasan. (Syahfitria & Mawangir, 2024).
Di Indonesia sendiri, hal tersebut sudah menjadi hal yang sudah seharusnya diturunkan kepada anak tersebut oleh orang tuanya. Dinyatakan, bahwa anak laki-laki sering tidak diberi ruang untuk menangis, meluapkan segala perasaan yang mereka rasakan. Karena anak laki-laki didefinisikan sebagai sosok yang kuat dan harus bisa dalam segala hal. Namun, di dunia nyata dinyatakan bahwa tidak semua laki-laki melakukannya dan ketika laki-laki tersebut tidak memenuhi kriteria yang ada, maka mereka akan menganggap individu tersebut menjadi sosok yang lemah. Hal ini yang menjadikan adanya Toxic Masculinity. (Syahfitria & Mawangir, 2024).
Ciri-ciri yang Mengidentifikasi Adanya Sikap Toxic Masculinity
1. Tidak adanya menunjukkan emosi kesedihan dan mengeluh, akibat selalu ditekankan untuk tidak menunjukkan kelemahan.
2. Cenderung memiliki sikap yang tidak bisa mengatur emosi sehingga emosi tersebut memuncak dan bersikap agresif, terutama kepada perempuan.
3. Memiliki sikap misoginis, adanya kecenderungan merendahkan posisi perempuan, seperti contoh; sebagian mengatakan bahwa buat apa perempuan sekolah tinggi-tinggi kalau akhirnya jadi rumah tangga juga.
Dampak yang terjadi pada Regulasi Emosi
Budaya Toxic Masculinity ternyata tidak hanya berdampak kepada laki-laki tetapi juga berdampak kepada lingkungan sosialnya. Pandangan orang-orang mengenai konsep maskulin menjadi keliru karena adanya kesalahpahaman mengenai perspektif bahwa laki-laki harus kuat dan hal tersebut menimbulkan beban kepada laki-laki yang tidak memenuhi standar tersebut. Karena adanya perspektif tersebut, dampaknya berpengaruh terhadap kesehatan mental laki-laki. Seperti contoh,
1. Sulit untuk mengelola emosi dengan baik.
2. Sering kali mengalami stress dan kecemasan meningkat karena kurang menyampaikan emosi dengan baik.
3. Berisiko untuk mengalami depresi, karena adanya tekanan secara emosional.
Hal tersebut tidak hanya berdampak kepada laki-laki tetapi juga berdampak kepada lingkungan sekitar. Pernyataan bahwa laki-laki harus menunjukkan sisi agresif serta dominan sebagai bentuk pembuktian. Kondisi tersebut menjadi faktor tingginya angka kekerasan dalam berbagai konteks, baik dalam ruang lingkup keluarga, percintaan, maupun masyarakat luas. Akibatnya, perempuan, anak-anak, bahkan sesama laki-laki sekalipun bisa menjadi korban kekerasan serta ketidakadilan dari konsep maskulinitas yang toksik tersebut.
Jembatan antara Toxic Masculinity dengan Kesehatan Mental
Toxic Masculinity bukan sekedar masalah sosial, tetapi memberi pengaruh besar untuk kesehatan mental laki-laki, rentan untuk merasakan stres, mendapat tekanan emosional, serta mengalami gangguan psikologis lainnya terutama depresi. Dikutip catatan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dijelaskan bahwa sekitar 793.000 angka kematian disebabkan oleh bunuh diri di seluruh dunia. Sebagian korban berjenis kelamin laki-laki. Data WHO juga menampilkan sekitar 40% bahwa negara mempunyai lebih dari 15 kematian yang disebabkan oleh bunuh diri.
Mengenai pembahasan bunuh diri, hal tersebut merupakan topik yang sangat sensitif dan rumit dengan berbagai penyebab yang sulit ditebak. Meski begitu, menyadari akan kesehatan mental masih sangat tabu, terutama di Indonesia yang di mana sebagian besar menormalisasi mendidik anak dengan keras dengan dalih bahwa “di dunia ini kita tidak boleh lemah, di luar sana jauh lebih keras”.
Alih-alih untuk membagi cerita, laki-laki kerap memendam masalahnya yang menjadikan kurangnya komunikasi dan menyingkirkan emosi tersebut. Terdapat kurangnya kesetaraan gender yang di mana kita ruang ketika perempuan curhat, sedangkan laki-laki selalu jarang untuk mendapatkan ruang itu karena adanya stereotip yang menyatakan harus kuat, tidak boleh lemah. Selain itu, pria sangat jarang untuk melakukan sesi konseling ketika ia membutuhkan dikarenakan merasa segan untuk melakukannya. Hal itu timbul karena efek stigma pria maskulin, membuat laki-laki cenderung mengakui jika ia mengalami suatu masalah.
Upaya untuk Mengatasi Toxic Masculinity
1. Mengubah Pola Pikir: Ubah pola pikir diri sendiri dan masyarakat yang lain bahwa semua sangat boleh untuk menunjukkan perasaan, tanpa memandang gender. Dan sangat amat boleh untuk melakukan konseling dirasa individu membutuhkan penanganan profesional mengenai kesehatan mental.
2. Belajar untuk Mencintai Diri Sendiri: Sangat perlu untuk mencintai diri sendiri yang di mana laki-laki bisa menerima dirinya sendiri yang di mana sebagai bentuk menghargai dan menerima sangat baik tanpa memperdulikan pandangan orang lain.
3. Mengajarkan Anak Mengekspresikan Emosi: Hal ini yang menjadi poin besar yaitu tidak bisa mengekspresikan emosi akibat tekanan-tekanan maskulin. Maka dari itu kita wajib memulai untuk memberikan kebebasan dalam ekspresi.
Kesimpulan
Toxic Masculinity membuat tekanan besar bagi laki-laki untuk terlihat tampak kuat, tidak boleh menunjukkan sikap dan sifat lemah. Hal ini tidak hanya membatasi kebebasan secara emosional, tetapi juga memberi dampak pada kesehatan mental, seperti rentan mengalami depresi, mengonsumsi obat-obatan terlarang, dan sering kali menunjukkan emosi melalui kekerasan. Maka dari itu, penting membangun budaya yang memberikan ruang kepada laki-laki dan perempuan dalam mengekspresikan emosi tanpa rasa takut untuk dinilai secara negatif. Memberikan edukasi, mengubah cara pola asuh, serta peningkatan kesadaran sosial untuk kesejahteraan emosional menjadi langkah besar untuk menciptakan lingkungan yang lebih sehat, aman, serta setara bagi semua individu.
Referensi:
Nadira, N. D., Danadharta, I., & Ayoda, B. P. (2024). Analisis Resepsi Mahasiswa Ilkom Untag Terhadap Pesan Toxic Masculinity Melalui Foto Instagram Jefri Nichol. Sintesa: Jurnal Ilmiah Kajian Komunikasi, 3(1), 80–94.
Rabbani, A. (2022, Oktober). Toxic masculinity: Pengertian, ciri, dampak, dan cara mencegahnya. Sosial79. https://www.sosial79.com/2022/10/toxic-masculinity-pengertian-ciri.html
Schumacher, H. (2019, 9 April). Kenapa lebih banyak laki-laki meninggal karena bunuh diri? BBC News Indonesia. https://www.bbc.com/indonesia/vert-fut-47862671
Syahfitri, A. I., & Mawangir, M. (2024). Fenomena toxic masculinity di masyarakat dari persepsi mahasiswa UIN Raden Fatah Palembang. Indonesian Journal of Behavioral Studies, 4(2), 105–116. https://doi.org/10.19109/ijobs.v4i2.24673
Keterangan : menggunakan Gpt ai dalam membuat outline dan referensi sumber
