ISSN 2477-1686  

 Vol. 11 No. 46 November 2025

 

“Mager” di Era Digital: Gaya Hidup Nyaman yang Mengubah Perilaku

Oleh:

Dzakki Wardana

Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana, Jakarta

 

Di era digital saat ini, kehidupan manusia seolah tak terpisahkan dari teknologi. Hampir semua aktivitas mulai dari bekerja, berbelanja, hingga bersosialisasi bisa dilakukan hanya lewat sentuhan di layar ponsel. Segalanya terasa cepat dan praktis, membuat manusia semakin bergantung pada perangkat digital. Pemandangan orang yang menunduk menatap gawai kini menjadi hal biasa di mana-mana. Tanpa disadari, kemajuan teknologi telah mengubah cara manusia menjalani keseharian mereka.

Perubahan ini paling nyata terlihat di kalangan muda yang tumbuh dalam budaya serba instan. Tugas sekolah dikirim lewat aplikasi, makanan dipesan secara daring, dan pertemuan dilakukan melalui layar. Kepraktisan ini melahirkan kebiasaan baru: tubuh semakin jarang bergerak dan waktu lebih banyak dihabiskan dalam posisi duduk atau rebahan. Dari sinilah muncul istilah yang populer di masyarakat, yaitu “mager” atau malas gerak. Awalnya hanya istilah santai di media sosial, namun kini menjadi gambaran nyata gaya hidup masyarakat modern.

Istilah “mager” digunakan untuk menggambarkan kondisi ketika seseorang enggan melakukan aktivitas fisik, bahkan yang sederhana seperti berjalan atau berolahraga ringan. Dalam percakapan sehari-hari, kata ini sering diucapkan untuk menyatakan keinginan beristirahat atau rasa nyaman yang berlebihan. Secara sosial, “mager” mencerminkan kebiasaan baru yang lahir dari kehidupan modern yang praktis dan digital.

Fenomena mager berkembang seiring dengan pesatnya media sosial yang menjadi ruang interaksi utama masyarakat. Istilah ini menyebar luas melalui platform seperti Twitter, Instagram, dan TikTok, hingga diterima oleh berbagai kalangan usia. Hal ini menunjukkan bahwa media sosial tidak hanya menjadi alat komunikasi, tetapi juga wadah pembentukan budaya baru. Dalam konteks sosial-budaya, mager bukan sekadar bentuk kemalasan, melainkan simbol perubahan nilai-nilai masyarakat yang kini lebih mengutamakan kenyamanan dan efisiensi dalam keseharian.

Dari sudut pandang ilmiah, perilaku mager berhubungan erat dengan konsep sedentary behavior atau perilaku menetap. Hanifah, Nasrulloh, dan Sufyan (2023) menjelaskan bahwa perilaku menetap mencakup aktivitas yang dilakukan dalam posisi duduk atau berbaring dengan pengeluaran energi yang rendah, seperti menonton televisi atau bermain gadget. Kondisi ini muncul karena meningkatnya ketergantungan terhadap teknologi. Biddle et al. (2021) juga menemukan bahwa masyarakat modern semakin banyak menghabiskan waktu dalam aktivitas pasif seiring berkembangnya budaya daring. Dengan demikian, mager dapat dipahami bukan sekadar bahasa gaul, tetapi juga cerminan perubahan perilaku dan gaya hidup masyarakat di era digital.

Budaya mager tidak muncul tiba-tiba, melainkan hasil dari transformasi besar dalam kehidupan modern. Hampir semua kegiatan kini bisa dilakukan tanpa banyak gerak, mulai dari belanja, bekerja, hingga berinteraksi sosial. Aplikasi digital dan layanan daring membuat manusia terbiasa memenuhi kebutuhan tanpa berpindah tempat. Meski meningkatkan efisiensi, kemudahan ini menurunkan aktivitas fisik dan mendorong pola hidup pasif. Layanan seperti pesan antar, transportasi online, serta hiburan digital seperti YouTube dan TikTok memperkuat kecenderungan tersebut. Banyak individu, terutama generasi muda, menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar, yang akhirnya membentuk kebiasaan minim gerak.

Fenomena mager menunjukkan bahwa kemajuan teknologi membawa dua sisi: manfaat dan konsekuensi. Di satu sisi, budaya ini menawarkan kemudahan, efisiensi, dan kenyamanan dalam menjalankan aktivitas harian. Pekerjaan, pendidikan, dan hiburan bisa diakses dari rumah, membantu individu menghemat waktu dan tenaga. Namun, di sisi lain, kebiasaan malas gerak berdampak negatif terhadap kesehatan fisik dan keseimbangan psikologis. Aktivitas pasif dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko obesitas, menurunkan motivasi, serta mengurangi interaksi sosial secara langsung. Akibatnya, rasa nyaman yang berlebihan dapat membuat individu lebih mudah mengalami stres dan kejenuhan mental.

Dari sudut pandang psikologi motivasi, fenomena mager menjelaskan kecenderungan manusia untuk memilih aktivitas yang memberikan kenyamanan dan menghindari ketidaknyamanan. Individu termotivasi untuk tetap dalam kondisi stabil secara emosional dengan cara menghindari aktivitas yang menguras tenaga. Seperti dijelaskan oleh Biddle et al. (2021), perilaku pasif sering kali merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan sosial dan teknologi yang memberi kemudahan instan. Hanifah et al. (2023) juga menemukan bahwa teknologi digital mendorong individu untuk lebih memilih aktivitas pasif seperti menonton atau bermain gim dibandingkan aktivitas fisik.

Namun, jika perilaku mager terus berlangsung, hal ini dapat menurunkan motivasi intrinsik untuk berkembang. Sugandhi et al. (2022) menyebutkan bahwa perilaku sedentari berkepanjangan tidak hanya memengaruhi kesehatan fisik, tetapi juga pola pikir dan semangat beraktivitas. Dengan demikian, mager dapat dipahami sebagai bentuk keseimbangan yang rapuh antara kebutuhan akan kenyamanan dan dorongan untuk bertumbuh. Kesadaran akan pentingnya aktivitas fisik menjadi kunci untuk menjaga keseimbangan tersebut agar tidak jatuh pada pola hidup pasif.

Fenomena mager pada akhirnya menggambarkan perubahan perilaku masyarakat modern yang semakin mengutamakan efisiensi dan kenyamanan dalam beraktivitas. Walau kemajuan teknologi membawa banyak manfaat, penting bagi masyarakat untuk menyadari dampak jangka panjang dari kebiasaan malas gerak. Mager bukan sekadar bentuk kemalasan, melainkan hasil adaptasi manusia terhadap kemudahan digital yang terus berkembang. Oleh karena itu, menjaga keseimbangan antara pemanfaatan teknologi dan aktivitas fisik menjadi langkah penting agar manusia tetap sehat dan produktif di tengah kemajuan zaman.

 

Daftar Pustaka:

AI: Chat GPT (Membantu memberikan ide dan mencarikan jurnal)

Biddle, S. J. H., Andriyani, F. D., & De Cocker, K. (2021). Adolescents’ physical activity and sedentary behaviour in Indonesia during the COVID19 pandemic: A qualitative study of mothers’ perspectives. BMC Public Health, 21(1864). https://doi.org/10.1186/s12889-021-11931-1

Hadi, I. S. R., Ardian, R. D. F., Rosmi, Y. F., Mardhika, R., & Utamayasa, I. G. D. (2022). Profile of sedentary lifestyle, physical activity and obesity in physical education students. Jurnal Sains dan Teknologi.

Hanifah, L., Nasrulloh, N., & Sufyan, D. L. (2023). Sedentary Behavior and Lack of Physical Activity among Children in Indonesia. Children, 10(8), 1283. https://doi.org/10.3390/children10081283

Sugandhi, A., Widianti, I. G. A., & Muliani, M. (2022). The relationship of sedentary behavior to body mass index and waist circumference in students of the undergraduate study program of medicine and medical professionals, Faculty of Medicine, Udayana University class of 20192020. EJurnal Medika Udayana, 11(5), 88–94.

Universitas Muhammadiyah Prof. DR Hamka. (2021). The relationship of calorie intake, physical activity, sedentarian behavior, and smartphone addiction with the incident of overweight in adolescents at SMAN 3 Rangkasbitung. ARGIPA (Arsip Gizi dan Pangan).