ISSN 2477-1686  

 Vol. 11 No. 46 November 2025

 

Ketika Diam Menjadi Tekanan: Fenomena Silent Pressure dan Dampaknya terhadap Keaslian Diri Remaja di Era Media Sosial

Oleh:

Monica Azzahra

Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana

 

Masa remaja merupakan masa transisi yang penuh perubahan dan pencarian jati diri. Pada fase ini, individu berusaha memahami nilai-nilai pribadinya serta mencari penerimaan sosial dalam lingkungannya. Remaja belajar menyesuaikan diri dengan berbagai tuntutan sosial yang sering kali menimbulkan tekanan, baik secara langsung maupun tidak disadari. Salah satu bentuk tekanan yang paling halus namun berdampak besar adalah silent pressure.

Tekanan ini hadir bukan melalui paksaan, melainkan melalui isyarat sosial, komentar, atau pandangan yang membuat remaja merasa perlu menjadi seperti orang lain agar diterima. Bentuk tekanan semacam ini sering membuat remaja kehilangan keaslian dirinya. Mereka cenderung menekan ekspresi pribadi dan berpura-pura nyaman demi menjaga hubungan sosial. Akibatnya, muncul kecemasan, rasa rendah diri, dan hilangnya kepercayaan terhadap nilai diri sendiri. Fenomena ini penting untuk dibahas karena pengaruhnya tidak hanya pada interaksi sosial, tetapi juga pada kesehatan mental remaja. Banyak yang akhirnya menyesuaikan diri secara berlebihan demi diterima oleh kelompoknya. Dengan memahami konsep silent pressure, remaja diharapkan mampu mengenali bentuk-bentuk tekanan sosial yang tidak terlihat dan belajar untuk menyeimbangkan antara kebutuhan diterima dan keaslian diri sendiri.

 

Penyebab Munculnya Silent Pressure

Silent pressure muncul dari kombinasi faktor sosial dan psikologis yang saling berhubungan. Masa remaja adalah perdiode ketika seseorang sangat bergantung pada penerimaan sosial, sehingga dorongan untuk menyesuaikann diri menjadi kuat.

 

Pertama, kebutuhan untuk diterima oleh kelompok sebaya membuat remaja rela menekan keinginannya sendiri. Mereka cenderung mengikuti arus pergaulan agar tidak dianggap berbeda atau tertinggal.

Kedua, pengaruh media sosial menjadi sumber tekanan modern. Platform seperti Instagram dan TikTok memunculkan ruang perbandingan konstan. Melihat pencapaian orang lain sering menimbulkan rasa tidak cukup baik sehingga remaja ingin meniru standar sosial yang mereka lihat.

Ketiga, rasa takut dikucilkan memperkuat. Banyak remaja tetap ikut kegiatan meski tidak nyaman karena takut kehilangan koneksi sosial. Hal ini menimbulkan perasaan terpaksa dan stres sosial.

Terakhir, kurangnya kepercayaan diri dan kemampuan asertif membuat remaja sulit menolak atau menyuarakan pendapatnya. Akibatnya, mereka beradaptasi secara diam-diam dan kehilangan jati diri demi menjaga hubungan sosial.

 

Bentuk-bentuk Silent Pressure

Silent pressure dapat muncul dalam berbagai bentuk halus yang tidak disadari oleh remaja. Tekanan ini dapat terlihat melalui gaya hidup, akademik, hingga perilaku sosial sehari-hari.

 

Pertama, penyesuaian gaya hidup dan penampilan menjadi bentuk yang paling nyata. Remaja mengikuti tren fashion, bahasa gaul, atau kebiasaan sosial agar dianggap relevan. Rasa takut dikucilkan membuat mereka sulit tampil sesuai diri sendiri.

Kedua, tekanan terhadap standar akademik juga menjadi bentuk lain. Dalam lingkungan kompetitif, remaja merasa harus berprestasi seperti teman-temannya. Perbandingan sosial semacam ini menimbulkan stres dan menurunkan motivasi intrinsik. 

Ketiga, konformitas sosial terlihat ketika remaja ikut bercanda atau melakukan hal yang bertentangan dengan nilai pribadinya hanya demi diterima. Mereka takut dihakimi bila menunjukkan perbedaan pendapat.

Terakhir, tekanan emosional terselubung sering terjadi tanpa disadari. Rasa bersalah karena menolak ajakan teman membuat remaja mengorbankan kenyamanan pribadinya demi menjaga keharmonisan kelompok.

 

Peran Media Sosial dalam Memperkuat Silent Pressure

Media sosial memiliki peran besar dalam memperkuat silent pressure. Platform digital menciptakan ruang perbandingan sosial yang membuat remaja menilai diri berdasarkan citra orang lain. Melihat unggahan teman sebaya yang tampak bahagia dan sukses dapat memunculkan perasaan minder. Remaja kemudian terdorong untuk tampil serupa agar tidak merasa tertinggal atau dianggap kurang menarik.

Selain itu, algoritrma media sosial yang terus menampilkan konten populer membuat remaja merasa harus selalu up to date. Tekanan ini muncul melalui hal kecil seperti jumlah likes atau komentar yang menjadi ukuran penerimaan sosial. Media sosial juga memperluas standar sosial baru mulai dari gaya berpakaian, tempat nongkrong, hingga cara berinteraksi. Akibatnya, remaja yang berbeda merasa tidak sesuai dengan lingkungannya. Tanpa disadari, kebiasaan ini menumbuhkan budaya konformitas digital. Remaja kehilangan batas antara jati diri dan persona online, membuat mereka semakin rentan terhadap tekanan sosial yang tidak terlihat.

 

Upaya Mengurangi Silent Pressure

Langkah pertama untuk mengurangi silent pressure adalah meningkatkan kesadaran diri. Remaja perlu memahami nilai dan tujuan pribadinya agar tidak mudah terpengaruh oleh tekanan sosial di sekitarnya. Selanjutnya, lingkungan sosial yang mendukung sangat penting. Teman dan keluarga yang menghargai perbedaan membantu remaja merasa aman menjadi diri sendiri tanpa takut dinilai.

Membatasi penggunaan media sosial juga menjadi strategi efektif. Melakukan digital detox dapat membantu individu fokus pada kehidupan nyata dan membangun hubungan yang lebih bermakna. Orang tua dan pendidik berperan besar dalam membentuk cara pandang remaja. Dengan komunikasi terbuka, mereka dapat menanamkan pemahaman bahwa penerimaan diri lebih berharga daripada validasi dari orang lain. Mengurangi silent pressure bukan berarti menjauh dari lingkungan sosial, tetapi belajar menyesuaikan diri secara sehat sambil tetap mempertahankan keaslian dan keseimbangan antara kebutuhan pribadi dan sosial.

 

Daftar Pustaka

Brown, M., & Stopa, L. (2007). The spotlight effect and the illusion of transparency in social anxiety. Journal of Anxiety Disorders, 21(6), 804–819. https://doi.org/10.1016/j.janxdis.2006.10.001

Gilovich, T., Medvec, V. H., & Savitsky, K. (2000). The spotlight effect in social judgment: An egocentric bias in estimates of the salience of one’s own actions and appearance. Journal of Personality and Social Psychology, 78(2), 211–222. https://doi.org/10.1037/0022-3514.78.2.211

Hurlock, E. B. (1999). Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Jakarta: Erlangga.

Lansu, T. A. M., & Cillessen, A. H. N. (2015). Peer status, behavioral dynamics, and social competence in adolescence. Journal of Adolescence, 41, 13–21

Santrock, J. W. (2019). Adolescence (17th ed.). New York: McGraw-Hill Education.

Savitsky, K., Epley, N., & Gilovich, T. (2001). Is our attention drawn to others as much as we think? Personality and Social Psychology Bulletin, 27(7), 1004–1015. https://doi.org/10.1177/0146167201278003

Keterangan: menggunakan GPt ai dalam membuat outline dan referensi sumber