ISSN 2477-1686  

 Vol. 11 No. 34 Mei 2025

Perilaku Memilih-Milih Teman di Sekolah

Oleh:

Divine Mercylene Go1 & Yusak Novanto2

1SMP Dian Harapan, Lippo Village

2Fakultas Psikologi, Universitas Pelita Harapan

Perilaku memilih-milih teman bisa dikatakan sebagai suatu fenomena yang sudah lama ada di bangku SMP-SMA maupun di dunia perguruan tinggi. Fenomena ini sejatinya bukanlah masalah yang besar bagi masyarakat luas, akan tetapi perilaku ini dapat berdampak pada seseorang secara negatif dalam skala yang cukup serius. Memilih–milih teman diperbolehkan asal dilakukan dengan alasan yang tepat. Misalnya jika kita ingin membatasi lingkup pertemanan untuk menghindarkan diri dari perbuatan negatif, tentu perilaku ini wajar dilakukan. Jika berteman dengan orang yang salah akan membuat kehidupan seseorang mengalami kemerosotan, lebih baik kita menyudahi pertemanan itu, karena pada hakikatnya setiap orang memiliki hak, pilihan dan tanggung jawab atas kehidupan pribadi dan masa depan mereka masing–masing.

Namun, akan berbeda kondisinya jika kita membatasi pertemanan atas dasar adanya perbedaan pendapat, warna kulit, kepribadian, tingkat pendidikan, tingkat sosial ekonomi, suku, agama, ras, golongan, prestasi akademik,  dan penampilan fisik seseorang. Faktor-faktor seperti ini seharusnya tidak menjadi ukuran untuk menentukan siapa yang layak untuk dijadikan teman dekat dan siapa yang seharusnya dijauhi. Membatasi pertemanan atas dasar perbedaan yang telah disebutkan di atas selayaknya dihindari. Meskipun memilih teman adalah hak setiap orang, misalnya saja kita tentu tidak boleh hanya berteman dengan orang yang sependapat dengan kita saja karena mengemukakan pendapat adalah hak setiap orang dan perbedaan pendapat adalah sesuatu hal yang wajar.

Berdasarkan penelitian survei yang dilakukan oleh penulis, 57% dari 52 orang responden mengaku merasakan adanya seseorang atau sekelompok orang yang tidak mau berteman atau menjauh dari mereka di lingkungan mereka sehari-hari. Hal ini menunjukkan bahwa banyak orang yang masih mengalami kesulitan dalam membangun hubungan persahabatan. Ada juga 13,5% responden yang merasa sudah terbiasa dengan perasaan kesendirian atau dijauhi. Mereka mungkin sudah lama tidak memiliki banyak teman dan merasa nyaman dengan keadaan tersebut. Di sisi lain, sekitar 28,8% responden yang merasa bahwa mereka tidak pernah dijauhi oleh teman-temannya. Mereka merasa diterima dan memiliki hubungan sosial yang cukup baik. Hal ini terjadi karena mereka memiliki teman-teman yang inklusif dan saling mendukung.

Beberapa alasan mengapa seseorang tidak dijadikan teman oleh orang lain di sekolah atau perguruan tinggi ialah karena setiap orang sudah mempunyai circle pertemanan sendiri, setiap orang memiliki kepribadian atau perilaku yang berbeda, atau pun ada rekan yang memiliki warna kulit dan penampilan yang berbeda. Peserta didik yang dijauhi oleh temannya ini merasa bahwa mereka seperti berada di luar lingkaran pertemanan yang sudah terbangun sebelumnya, di mana sudah ada orang-orang yang terikat dengan teman-teman lama mereka dan sulit bagi mereka untuk masuk ke dalam peer group tersebut sebagai orang baru.

Perasaan diterima atau ditolak bisa sangat dipengaruhi oleh hal-hal yang kadang di luar kendali kita sendiri sebagai seorang manusia. Menurut Ditha (2020), sejatinya manusia merupakan mahluk sosial di mana kita memiliki sifat alami yang saling membutuhkan. Oleh karena itu, sudah sewajarnya jika manusia hidup berdampingan secara adil dan damai. Dalam kenyataannya, perbedaan dari suku, agama, ras, pendapat dan status sosial ekonomi terkadang menjadi pemicu terjadinya perilaku pengucilan sosial khususnya seringkali terjadi di lingkup sekolah yang dilakukan oleh sekelompok siswa terhadap seorang atau beberapa siswa lainnya. Pengucilan terjadi karena siswa akan memilih teman berdasarkan kriteria tertentu dan cenderung mengabaikan rekannya yang tidak sesuai dengan kriteria yang diciptakannya dalam pikirannya. Hal ini akan menciptakan kelompok yang eksklusif dan juga membuat siswa yang terpinggirkan merasa diabaikan atau terisolasi. Pada akhirnya perilaku ini akan memperburuk dinamika sosial yang terjadi di sekolah.

Sejatinya, tindakan pengucilan sosial dikategorikan sebagai salah satu jenis dari perilaku bullying (Ayoko, 2022). Meskipun memiliki definisi yang bervariasi, banyak ahli berkonsensus bahwa perilaku bullying dikaitkan dengan tindakan permusuhan yang berulang dan terus-menerus; mulai dari perilaku yang jelas seperti merendahkan, kekasaran, kontak mata agresif, sampai perilaku yang terselubung seperti pengucilan. Karena perilaku yang sifatnya terselubung ini, pengucilan sosial sulit terdeteksi oleh pihak sekolah, melainkan hanya dapat terlihat  pasca-bullying dari perubahan sifat dan perilaku korban yang terkesan berubah drastis dari sebelum mendapat perlakuan tersebut. Dampak negatif ini bisa berpengaruh pada perkembangan mental dan emosional mereka, yang dapat mengarah pada penurunan kesehatan mental, rendahnya tingkat keterbukaan diri, dan berkurangnya rasa empati terhadap orang lain.

Perilaku memilih – milih teman di lingkungan pendidikan merupakan hal yang jarang dibicarakan, akan tetapi realitanya di lapangan setiap orang memiliki pengalaman sosial yang berbeda-beda berkaitan dengan perilaku ini. Ada individu yang merasa kesepian atau terabaikan, ada pula yang merasa diterima sebagai bagian dari kelompok. Sementara ada juga siswa yang merasa lebih nyaman dalam kesendiriannya. Kenyataan ini menggambarkan kompleksitas hubungan sosial dan bagaimana setiap individu memandang arti dan pentingnya sebuah pertemanan. Fenomena ini juga menuntut respon dari para siswa untuk menghadapi isu tersebut sesuai dengan kebutuhan psikologis dan pengalaman pribadi masing-masing, mengingat setiap individu berusaha menemukan tempat mereka di dunia jejaring sosial yang lebih besar.

Pada akhirnya masalah ini perlu segera diatasi oleh semua pihak yang berkepentingan agar setiap individu siswa, tanpa memandang perbedaan apapun, dapat menjalin persahabatan dengan bebas dari stererotipe, prasangka, dan diskriminasi. Beberapa solusi yang diajukan oleh para ahli untuk mengatasi permasalahan ini antara lain adalah dengan peningkatan empati sosial (Srianto dkk., 2024) penerapan pendidikan inklusif yang menekankan pentingnya penerimaan terhadap perbedaan (Harefa & Lase, 2024) serta pengembangan perilaku sosial yang lebih positif di kalangan siswa (Mulyawati dkk., 2022). Salah satu cara yang diusulkan adalah dengan menggunakan teknik modelling, di mana siswa dapat mengamati dan meniru perilaku positif dari orang lain yang mampu mengendalikan empati mereka dengan baik. Orang tua juga perlu menciptakan lingkungan rumah yang mendukung anak untuk mengembangkan keterampilan sosial dan empati melalui komunikasi yang terbuka, serta mendiskusikan pentingnya menerima perbedaan individu di masyarakat. Dengan adanya solusi-solusi tersebut, diharapkan akan tercipta lingkungan pendidikan yang hangat dan mendukung bagi setiap individu, sehingga mereka dapat berteman dengan bebas dengan siapa saja.

Daftar Pustaka:

Ayoko, O. B. (2022). Ostracism, Bullying and Psychological Safety. Journal of Management & Organization28(2), 221–225. doi:10.1017/jmo.2022.29

Ditha. (2020, September 18). Pilah Pilih teman, bolehkah? Diambil kembali dari Aksiamal.com: https://blog.aksiamal.com/pilah-pilih-teman-bolehkah/

Harefa, A. T., & Lase, B. P. (2024) Peran Pendidikan dalam Mengurangi Stigma dan Diskriminasi terhadap Siswa dari Kelompok Minoritas Sosial. Journal of Education Research, 5(4), 4288-4294. https://doi.org/10.37985/jer.v5i4.1479

Mulyawati, Y., Marini, A., Nafiah, M. (2022) Pengaruh Empati Terhadap Perilaku Prososial Peserta Didik Sekolah Dasar. Scholaria: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, 12(2), 150-160 http://dx.doi.org/10.24246/j.js.2022.v12.i2.p150-160

Srianto, A., Isriyah, M, & Mawaddati, I.R. (2024). Efektivitas Teknik Modeling Untuk Meningkatkan Empati . CONSILIUM Journal : Journal Education and Counseling4(2), 413-417. https://doi.org/10.36841/consilium.v4i2.5122