ISSN 2477-1686  

 Vol. 11 No. 34 Mei 2025

Bedah Film sebagai Strategi CSBL untuk Memahami Perkembangan Remaja: Studi Kasus dan Refleksi Mahasiswa atas Film A Crazy Little Thing Called Love

Oleh:

Nazwa Hanum Anggraeni, Nurul Wisdawan, ZaniFarhan, Fadilla Akbar, Dian Misrawati

Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana

Pembelajaran Berbasis Kasus (CSBL) merupakan pendekatan yang efektif untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, analitis, dan reflektif mahasiswa (Karyana, 2010). Salah satu cara menarik untuk menerapkan metode ini adalah melalui bedah film, yang menyajikan konteks nyata sekaligus emosional bagi pembelajar. Film A Crazy Little Thing Called Love, sebuah kisah remaja yang penuh warna tentang cinta, pertumbuhan diri, dan keberanian, menjadi bahan yang relevan untuk dieksplorasi. Melalui analisis naratif dan karakter dalam film ini, mahasiswa diajak menggali berbagai aspek perkembangan fisik, kognitif dan psikososial di masa remaja, menjadikan pengalaman belajar lebih bermakna dan kontekstual.

Pada mata kuliah perkembangan sepanjang hayat, mahasiswa mempelajari tahap perkembangan remaja yang berkaitan dengan masa transisi antara masa kanak-kanak dan dewasa yang ditandai dengan perubahan fisik, kognitif, dan psikososial. Masa remaja merupakan tahap perkembangan yang cukup rumit, dimana mereka mulai mengalami perubahan fisik, berpikir lebih abstrak dan reflektif, dan membentuk hubungan sosial yang kuat. Pada aspek perkembangan fisik, pubertas merupakan bagian dari perubahan biologis yang signifikan terjadi selama masa remaja. Menurut Santrock (2018) masa remaja juga ditandai oleh perkembangan kognitif yang pesat, seperti meningkatnya kemampuan berpikir abstrak, pemrosesan informasi yang lebih kompleks, munculnya pemikiran metakognitif, serta kemampuan untuk mempertimbangkan berbagai perspektif dan kemungkinan secara logis. Erikson (dalam Berk, 2022) menjelaskan identitas versus kebingungan identitas yang khas terjadi pada masa remaja. Karakter Nam dan interaksinya dengan teman sebaya, keluarga, guru dan juga cinta pertamanya menjadi representasi kasus perkembangan masa remaja yang dapat dianalisis melalui kegiatan bedah film dalam penerapan case study based learning.

Perkembangan Fisik Remaja

Perubahan struktur fisik remaja tergambar jelas dalam film A Crazy Little Thing Called Love melalui transformasi karakter Nam. Mahasiswa dapat mengamati dan berdiskusi mengenai perubahan Nam. Di awal film, Nam tampil sebagai remaja polos dan belum menonjol secara fisik, seperti halnya representasi masa pra-pubertas. Seiring berkembangnya cerita, ia mengalami growth spurt atau percepatan pertumbuhan yang ditandai dengan perubahan tinggi badan, proporsi tubuh, serta mulai memperhatikan penampilan. Proses ini mencerminkan tahapan pubertas menurut Santrock (2023), dimana terjadi perubahan hormonal dan kemunculan ciri-ciri seksual sekunder pada remaja. Perubahan tersebut berdampak pada peningkatan rasa percaya diri dan citra diri Nam, selaras dengan pandangan Papalia dan Feldman (2020) bahwa perkembangan fisik erat kaitannya dengan aspek psikososial. Di akhir film, Nam tampil lebih dewasa dan percaya diri, mencerminkan dinamika perubahan biologis khas masa remaja yang penting untuk dipahami dalam konteks pembelajaran.

Perkembangan Kognitif Remaja

Mahasiswa sebagai peserta diskusi bedah film membahas bahwa Nam mulai menunjukkan karakteristik remaja yang memasuki tahap berpikir logis dan abstrak. Misalnya, Nam segera membuat rencana belajar dan meningkatkan upaya akademiknya ketika dia mengetahui bahwa jika dia berhasil menjadi juara kelas, dia akan dapat bertemu ayahnya di Amerika. Ini sesuai dengan tahap operasi formal menurut Piaget (dalam Berk, 2018) di mana remaja belajar merencanakan, memprediksi, dan memecahkan masalah secara sistematis. Hasil diskusi juga menyimpulkan bahwa perubahan perilaku Nam dari cuek menjadi rajin belajar adalah bentuk perkembangan kognitif yang digerakkan oleh motivasi internal dan eksternal. Hal ini sejalan dengan kenyataan bahwa remaja saat ini sering menetapkan tujuan pribadi berdasarkan insentif atau harapan dari lingkungan mereka (Yanuardianto, 2019).

Perkembangan Psikososial

Dalam konteks perkembangan psikososial, karakter Nam dalam film A Crazy Little Thing Called Love memberikan ilustrasi yang kaya untuk dianalisis mahasiswa. Mengacu pada teori Erikson (dalam Berk, 2022) masa remaja merupakan tahap krisis identitas versus kebingungan peran, yang tergambar saat Nam mencari jati diri di tengah berbagai dinamika hubungan sosialnya. Ia menghadapi konflik dan kekuatan dalam pertemanan, terutama ketika cintanya pada Shone menimbulkan jarak dengan sahabat-sahabatnya. Hubungan romantis yang berkembang secara diam-diam mencerminkan eksplorasi identitas emosional. Hubungannya dengan orang tua dan guru juga menjadi cerminan dukungan sosial yang penting dalam proses pembentukan identitas. Interaksinya dengan adik dan persaingan tidak langsung dengan remaja lain, seperti lebih populer atau menarik, menambah kompleksitas tekanan sosial. Pada akhirnya, kompleksitas pengalaman Nam di masa remaja melalui perjuangan, emosi, dan refleksi mendorongnya menjadi pribadi yang lebih matang, sukses, dan percaya diri dalam menghadapi masa depan. Semua ini membuka ruang diskusi reflektif bagi mahasiswa mengenai bagaimana remaja menavigasi tuntutan sosial, emosi, dan pencarian jati diri.

Hasil Belajar

Evaluasi pembelajaran dilakukan melalui kuis, terdiri dari 16 pertanyaan yang mencakup pengukuran LOTS (Lower Order Thinking Skills) dan HOTS (Higher Order Thinking Skills). Hal ini mencerminkan upaya menyeluruh dalam menguji pemahaman konseptual dan analitis mahasiswa (Luwol, 2023). Hasilnya tergolong cukup baik, dengan nilai rata-rata sebesar 73,61 dan standar deviasi 15,87. Distribusi nilai mahasiswa cukup menyebar, dengan nilai terendah 31 dan tertinggi 100. Mayoritas mahasiswa berhasil melewati standar kelulusan, dengan rincian 19 mahasiswa meraih nilai A, 12 mahasiswa nilai B, dan 9 mahasiswa nilai C. Hanya 4 mahasiswa yang belum mencapai batas nilai lulus. Secara keseluruhan, hasil ini menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa telah memahami materi perkembangan fisik, kognitif, dan psikososial remaja dengan baik, meskipun masih diperlukan pendampingan lanjutan bagi sebagian kecil yang belum memenuhi standar.

Referensi:

Berk, L. E. (2018). Perkembangan Sepanjang Rentang Kehidupan (edisi ke-7). Pearson Education.

Berk, L. E. (2022). Development through the lifespan. Sage Publications.

Karyana, N. (2010). Meningkatkan kemampuan berpikir kritis melalui penggunaan metode studi kasus. urnal Civicus, 10(2), 31-36.

Leuwol, F. S., Busnawir, M. S., Saryanto, S. P. T., Retnaningsih, R., Amalia, R., Sembiring, T. B., ... & Fathani, A. H. (2023) Kemampuan Berpikir Tingkat Rendah (LOTS) VS Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi (HOTS). Penerbit Adab.

Papalia, D. E., & Feldman, R. D. (2020). Human development (14th ed.). McGraw-Hill Education.

Santrock, J. W. (2018). Adolescence edisi ke-16. McGraw-Hill Education.

Santrock, J. W. (2023). Life-span development (19th ed.). McGraw-Hill Education.

Yanuardianto, E. (2019). Teori Kognitif Sosial Albert Bandura. Jurnal Auladuna, 2.