ISSN 2477-1686  

 Vol. 11 No. 29 Maret 2025

Kalau Aku Susah, Kamu Juga Harus Susah: Fenomena Crab Mentality

 Oleh

Putri Sahira Bastari dan Ellyana Dwi Farisandy

Program Studi Psikologi, Universitas Pembangunan Jaya

 

Suatu hari, seorang pria sedang memancing sembari mengamati kepiting-kepiting yang berhasil ditangkapnya di dalam ember. Salah satu kepiting berusaha memanjat keluar, tetapi setiap kali hampir mencapai puncak, kepiting lain menariknya kembali ke dalam. Hal yang sama terus berulang—setiap kepiting yang mencoba melarikan diri selalu gagal karena ditarik turun oleh kepiting lainnya. Jika hanya ada satu kepiting dalam ember, ia bisa dengan mudah meloloskan diri. Namun, ketika ada banyak kepiting, mereka justru saling menarik ke bawah alih-alih membantu, sehingga tak satu pun berhasil keluar.

Dalam psikologi, hal ini dikenal sebagai crab mentality (atau yang sering disebut sebagai crabs in a bucket)yakni pola pikir egois dimana individu berusaha menghambat kemajuan orang lain yang ingin maju dan berprestasi. Mereka memiliki pola pikir “Jika aku tidak bisa memilikinya, maka tidak ada yang boleh memilikinya”. Frasa ini awalnya dicetuskan oleh Ninotchka Rosca, seorang feminis, penulis, jurnalis, dan aktivis hak asasi manusia asal Filipina (Socorro, 2020). Fenomena ini sering kita lihat dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari pendidikan, lingkungan kerja, bahkan dalam pergaulan sosial.

Apa Ciri Crab Mentality?

Pernahkah kalian merasa iri yang berkepanjangan terhadap pencapaian orang lain? Merasa harus satu tingkat lebih tinggi dari orang lain sehingga rela melakukan apa saja supaya orang lain tetap terperangkap di lingkup yang sama? Berprasangka buruk terhadap kesuksesan orang lain? Perasaan tersebut dapat menjadi tanda adanya crab mentality di dalam diri seseorang.

Ciri utama crab mentality adalah keyakinan bahwa diri sendiri harus lebih sukses dari orang lain, disertai rasa tidak suka melihat orang lain berhasil serta adanya harapan agar mereka gagal (Üzüm & Ozdemir, 2020). Selain itu, individu dengan crab mentality cenderung merasa cemas, stres, dan cemburu ketika melihat orang lain berada di posisi yang sama atau lebih unggul, sehingga muncul kompetisi yang tidak sehat (Uzum et al., 2022). Ciri lainnya adalah seringkali memberikan komentar negatif saat orang lain berhasil mencapai sesuatu, tidak memberikan selamat jika seseorang di lingkungannya mendapat kesuksesan, dan beranggapan bahwa keberhasilan yang diraih oleh orang lain berkat faktor eksternal seperti “Iyalah bisa juara 1, hasil cari muka tuh!” (Mendez, 2023).

Mengapa Crab Mentality Bisa Terjadi?

Crab mentality dapat muncul karena rasa terancam terhadap orang-orang dalam lingkungan yang sama. Mereka yang memiliki crab mentality akan merasa sakit hati dan tidak nyaman jika orang di lingkup yang sama berada satu tingkat lebih baik daripada dirinya sendiri (Mendez, 2023). Alasan lainnya adalah adanya bias kognitif seperti zero-sum biasyaitu anggapan keliru bahwa keberhasilan seseorang diperoleh dengan mengorbankan orang lain. Kondisi ini memicu crab mentality karena adanya keyakinan bahwa keberhasilan hanya bisa dicapai dengan mengorbankan orang lain, sehingga semua situasi dipandang sebagai sebuah kompetisi. Bandwagon effect—yakni kondisi di mana seseorang berpikir atau bertindak sesuai dengan norma mayoritas yang ada di suatu kelompok sosial, juga merupakan pemicu terjadinya crab mentality. Jika mayoritas dalam suatu kelompok menunjukkan crab mentality, maka seseorang akan bertindak menyesuaikan mayoritas tersebut, sehingga mentalitas ini semakin menyebar dan menjadi racun dalam lingkungan sosial (Shatz, n.d).

Apa Dampak Negatif Crab Mentality dalam Kehidupan?

Dampak yang dihasilkan dari adanya crab mentality berupa terhambatnya proses untuk bertumbuh dan berkembang secara individu maupun kelompok sosial. Lingkungan yang penuh dengan crab mentality cenderung membuat individu takut menghadapi tantangan dan enggan mengejar mimpi. Akibatnya, mereka lebih memilih berada dalam zona nyaman dan terperangkap di lapisan “biasa-biasa saja” daripada mengembangkan potensi diri. Dalam suatu tim organisasi atau kelompok belajar, crab mentality berdampak pada kolaborasi suatu tim karena mau menang sendiri dan selalu berprasangka buruk, sehingga menghambat tercapainya tujuan bersama (Dev, 2024). Selain itu, crab mentality menciptakan budaya kompetisi yang tidak sehat karena orang-orang hanya fokus pada cara menjatuhkan orang lain dibandingkan fokus meningkatkan nilai diri.

Cara Mengatasi Crab Mentality

Dampak crab mentality menunjukkan betapa beracun mentalitas ini dalam kehidupan sosial. Tak sedikit seseorang yang menjadi korban dari individu yang memiliki crab mentality atau bahkan diri sendiri menjadi pelaku yang menanamkan crab mentality. Beberapa cara dapat dilakukan untuk mengatasi crab mentality, yaitu mencari dan menetapkan visi hidup untuk diri sendiri, membuat rencana yang memiliki tujuan yang jelas, realistis, dan terukur. Menerapkan pola pikir 'Me, Myself, and I' juga dapat membantu seseorang lebih fokus pada perkembangan dirinya sendiri, dengan membandingkan kemajuan pribadi dari waktu ke waktu sebagai bentuk evaluasi. Segera keluar dari lingkungan yang menerapkan crab mentality dan pilihlah lingkungan yang saling mendukung serta menghargai kalian (Davies, 2021).

Simpulan

Maka dari itu, dapat disimpulkan bahwa crab mentality merupakan istilah yang menggambarkan sikap tidak senang melihat orang lain lebih unggul sehingga berusaha menjatuhkan mereka yang ingin maju. Crab mentality muncul akibat perasaan terancam dan bias kognitif, yang menghambat individu untuk berkembang dan berkolaborasi. Oleh karena itu, penting untuk menetapkan tujuan hidup, fokus pada pengembangan diri, serta mencari lingkungan yang suportif.

“Real growth begins when you let go of dragging others down and focus on propelling yourself upward. In a supportive community, rising together turns rivalry into a collaborative journey—where every step forward lifts us all” - Anonymous

Referensi

Mendez, E. (2023, Oct 17). What is crab mentality?. CalmClinic. https://www.calmclinic.com/mental-health/crab-mentality

Shatz, I. (n.d.). CCrab mentality: When people pull down those who get ahead. Effectiviology. https://effectiviology.com/crab-mentality/

Socorro, K. J. (2020, Jan 30). What is crab mentality?. The Seaf. https://thesheaf.com/2020/01/30/what-is-crab-mentality/

Uzum, B., Ozdemir, Y., Kose, S., Ozkan, O. S., & Seneldir, O. (2022). Crab barrel syndrome: Looking through the lens of type A and type B personality theory and social comparison process. Frontiers in Psychology, 13, 792137. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2022.792137

Üzüm, B., & Özdemir, Y. (2020). Yengeç Sendromu “Ben Yapamazsam Sen De Yapamazsin”: Ölçek Geliştirme Çalişmasi (Crab Syndrome “If I Can’t Do It, You Can’t Do It”: Scale Development Study). Journal of Organizational Behavior Research, 5(2), 241-252. https://odad.org/article/yengec-sendromu-ben-yapamazsam-sen-de-yapamazsin-olcek-gelistirme-calismasicrab-syndrome-if-i-c-qajx281krggzai1

Dev, S. (2024, May 23). Are you a crab? How crab mentality destroys you before it affects others. SajeevDev. https://sajeevdev.com/are-you-a-crab-how-crab-mentality-destroys-you-before-it-affects-others/

Davies, J. (2021, May 5). Crab mentality explains why people are not happy for others. Learning Mind. https://www.learning-mind.com/crab-mentality/