ISSN 2477-1686

Vol.6 No. 02 Januari 2020

Komunikasi untuk Manajemen Konflik yang Lebih Baik Antar Teman Sejawat

 Oleh

Annisyah Maulidinna dan Nora O Baringbing

Mahasiswa Psikologi, Universitas Sumatera Utara  

Keseharian manusia tak luput dari kemampuannya berkomunikasi, tidak hanya secara verbal namun juga non-verbal, kemajuan zaman pun ikut memfasilitasi kemampuan manusia untuk bisa terus berkomunikasi satu sama lain tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu, seperti dengan berkembangnya aplikasi chatting dan media sosial yang bahkan juga bisa menyampaikan bahasa non-verbal dengan menggunakan fitur stiker. Namun, terlepas dari seringnya kita berkomunikasi sehari hari, masih banyak saja orang yang belum bisa melakukannya dengan baik satu sama lain yang dibuktikan dengan seringnya terjadi miss-komunikasi yang kemudian menimbulkan konflik yang fatal dan lebih besar lagi. Hal tersebut terjadi karna ketidakmampuan mereka dalam menyampaikan maksud yang mereka inginkan dan menyampaikan apa yang mereka rasakan secara asertif. Kebanyakan dari mereka merasa bahwa ketika mereka menyampaikan sesuatu secara asertif mereka bisa melukai lawan bicara mereka, namun yang mereka lewatkan adalah ketika mereka tidak menyampaikan sesuatu secara asertif maka hal yang lebih fatal pun dapat terjadi. 

Seperti yang disampaikan oleh Chan (1990) manusia cenderung menghindari konflik karna menganggap hal tersebut adalah hal yang jika dibicarakan dapat menimbulkan kekacauan. Namun konflik bukanlah hal yang seharusnya dihindari karena konflik sebenarnya dapat dijadikan sebagai media untuk seseorang bernegosiasi atas permasalahan yang mereka hadapi. Contohnya, ketika seseorang menghadapi satu konflik bersama sabahatnya, orang tersebut pasti cenderung menjadi submisif dan memaklumi permasalahan tersebut karna menganggap orang tersebut adalah temannya. Namun jika konflik terus diabaikan seperti itu, justru akan menimbulkan permasalahan yang lebih dalam karena akan muncul berbagai macam asumsi seperti “selalu aku yang minta maaf”, “selalu aku yang mengalah” “mengapa ia tidak pernah memperhatiakn perasaanku” dan terjadilah perpecahan diantara dua sahabat tersebut. Hal ini seharusnya tidak terjadi apabila orang tersebut mau menyampaikan perasaan mereka secara langsung dan menyelesaikan konflik dengan negosiasi dan lebih terbuka. 

Terdapat 3 tipe konflik yang mungkin terjadi pada seseorang, personal, interpersonal dan grup. Dimana konflik personal dikenal dengan konflik yang terjadi di dalam diri seseorang, interpersonal adalah konflik antara seseorang dan orang lain dan grup adalah konflik yang terjadi antara seseorang dan sekelompok orang. Untuk pembahasan ini, penulis lebih berfokus pada konflik interpersonal dengan mengambil sudut pandang dari rekan sejawat. Tidak semua hubungan yang terjadi dapat berjalan baik baik saja, konflik dapat terjadi karna adanya perbedaan antar orang, baik itu secara fisik maupun visi, terbatasnya sumber di dalam suatu hubungan dimana setiap orang saling berkompetisi untuk mendapatkan satu sumber yang jumlahnya terbatas dan keseimbangan tugas yang dipikul oleh setiap orang seperti apa yang harus dilakukan, siapa yang pantas mendapat penghargaan atas apa yang dilakukan, keseimbangan beban yang dipikul dan pembagian hasil yang adil. 

Antar rekan sejawat sering terjadi pemakluman atas apa yang dilakukan satu sama lain dan kemudian menciptakan kerugian pada salah satu pihak, seperti ketika teman akrab tidak mengerjakan tugas kelompok yang direncanakan, atau terus mengalah setiap kali mendebatkan sesuatu, yang pada akhirnya menimbulkan perasaan jenuh sehingga memupuk konflik yang sebenarnya hanya disebabkan oleh ketidak mampuan orang tersebut menyampaikan maksud secara jelas untuk di negosiasikan dengan baik. Myers dan Myers (1992) pernah menyampaikan bahwa komunikasi dan negosiasi adalah poin penting dalam penyelesaian konflik. Lantas bagaimana komunikasi yang baik yang bisa dilakukan apabila gejala konflik sudah muncul didalam komunikasi rekan sejawat ? 

Strategi dalam menyelesaikan konflik dapat diselesaikan dengan 3 cara yaitu, Avoiding atau mengabaikan, dengan mengabaikan satu permasalahan mungkin bisa meredam masalah untuk sementara, namun jika hal ini terus dilakukan, konflik lain akan mudah berdatangan dan menciptakan hubungan yang bahkan lebih buruk lagi. Kemudian ada Defusing dimana tehnik ini digunakan untuk mengulur waktu untuk menenangkan diri, namun apabila waktu yang di jarakkan terlalu lama, konsekuensinya sama dengan yang dapat terjadi pada cara pertama. Cara yang ketiga adalah Confrontation, cara ini sangat dianjurkan karena dengan melakukan konfrontasi pada lawan bicara kita bisa menegosiasikan dan menemukan titik permasalahan dengan lebih baik. Uniknya dengan konfrontasi kita bisa memilih bagaimana hasil yang ingin dicapai untuk penyelesaian konflik, namun tentunya dengan melalui proses negosiasi, seperti Win-win strategies dimana seseorang melakukan integrasi satu sama lain untuk mencapai hasil maksimal, kemudian ada win-lose strategies yang merupakan metode konvensional penyelesaian masalah dimana seseorang mencari siapa yang benar dan yang salah, dan yang terakhir lose-lose strategies dimana semua kalah didalam konflik ini. 

Sesuai dengan gambaran yang penulis sampaikan dalam melakukan manajemen konflik Confrontation win-win strategies adalah cara paling baik dalam menyelesaikan konflik dimana seseorang hanya perlu menyampaikan apa yang dirasakannya secara asertif dan menintegrasikan pendapatnya serta pendapat teman sejawatnya untuk menemukan jalan tengah yang terbaik bagi keduanya (Jant, 1985). Namun, tidak semua konflik dapat diselesaikan dengan metode tersebut, maka dari itu seseorang harus mampu membaca situasi yang terjadi di sekitarnya sebelum mengambil keputusan strategi mana yang sebaiknya ia gunakan untuk menyelesaikan konfliknya dengan teman sejawatnya.

Referensi:

 

Chan, D. D. (1990). Conflict comunication intimate relationship. Speech Association of America, Annandale.

 

Jandt, F. (1985) Win-win negotiating: Turning conflict into agreement. New York: John Willey and Soon. 

 

Myers, E. G., & Myers, M. T. (1992). The dynamic of human communication. New York: Mc Graw Hills.