ISSN 2477-1686

Vol.6 No. 01 Januari 2020

Psikologi untuk Kemajuan Indonesia 

Oleh

Eko A Meinarno

Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia

 

Ide tulisan ini timbul karena tantangan masa depan generasi penerus untuk masa kini dan masa depan makin berkembang. Merujuk perhitungan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dunia tahun 2019, Indonesia di urutan 111 (HDRO, 2019). Posisi ini masuk dalam kategori tinggi di dunia. Dengan catatan bahwa prestasi ini masih dibawah capaian negara-negara tetangga di ASEAN. 

Pemetaan sumber daya manusia Indonesia juga dilakukan. Data BPS mengenai Indeks Pembangunan Manusia sejak tahun 2010 menunjukkan prestasi. Hal ini ditunjukkan dengan posisi IPM tahun 2010 di kategori sedang, sekarang (2018) sudah masuk dalam kategori tinggi (BPS, diunduh 2019). Kedua data yang berasal dari BPS dan HDRO menunjukkan keselarasan. Ini adalah hal positif yang patut disyukuri. Hasil IPM saat ini bukan untuk berpuas diri. Justru yang menjadi perhatian adalah adanya kebutuhan baru bagi manusia Indonesia di masa kini dan masa depan. Untuk masa depan atau setidaknya saat ini, dibutuhkan manusia Indonesia yang mempunyai kecakapan khusus. Kecakapan ini tidak lepas dari kebutuhan untuk menjalani era industri 4.0. 

Pranoto (2019) mengajukan kecakapan yang diharapkan dimiliki oleh generasi muda. Kecakapan unik yang diharapkan antara lain berpikir luwes dan kreatif, mengkaji masalah baru, berkomunikasi kompleks (memotivasi siswa atau bawahan), menafsirkan perasaan, mengungkapkan perspektif sosial dan lain-lain. Bagaimana cara untuk dapat membangun kecakapan-kecakapan ini? 

Psikologi Bekerja

Dalam tulisannya, Meinarno (2019) menjelaskan bahwa kontribusi psikologi untuk revolusi industri 4.0 diantaranya adalah kesiapan individu. Individu seperti apa yang diharapkan? Pada saat jelang memasuki milenium baru, peneliti psikologi sosial ME Markum (1998) mengajukan sifat-sifat yang mendukung individu berprestasi. Dalam salah satu studinya, dengan memperhatikan tokoh-tokoh yang dianggap berprestasi tinggi diketahui ada enam sifat yang melekat yakni kerja keras, disiplin, komitmen, prestatif, mandiri, dan realistis. Keenam sifat ini dapat dilihat sebagai modal dasar individu untuk menjadi individu yang dapat menjadi bagian pembangunan Indonesia. Terlihat klise, tapi keenam sifat itu tidak lekang dimakan masa, setidaknya tidak ada orang sukses yang hanya dengan berdiam diri kemudian menjadi sukses.

Untuk situasi pelakunya, dan persiapan untuk menghadapi revolusi industri 4.0 tidak lepas dari faktor eksternal individu. Dalam hal ini penulis melihat bahwa pendidikan adalah faktor yang sangat penting bagi individu dalam mempersiapkan dirinya.

Kecakapan bukan sesuatu yang terberi. Kecakapan perlu didesain dan dibuat. Kondisi ini dapat dilakukan dengan metode belajar. Manusia perlu belajar untuk melakukan perubahan bagi dirinya. Salah satu cara belajar dengan melalui pendidikan. Pendidikan tampaknya tidak bisa tidak harus menjadi bagian untuk membangun kecakapan, termasuk kecakapan yang diajukan oleh Pranoto. Hal yang menguntungkan adalah bahwa merujuk badan pendidikan PBB yakni UNESCO disebutkan adanya empat pilar pendidikan. Keempat pilar itu adalah Belajar untuk tahu (to know), Belajar untuk mendorong perserta didik dapat mengaplikasikan pengetahuan yang diperoleh secara langsung dalam kehidupan nyata (to do), Belajar untuk membangun jati diri (to be), dan Belajar untuk membentuk sikap hidup dalam kebersamaan yang harmoni (to live together) (Rachman, 2019).

Keempat pilar ini diharapkan menjadi bagian dalam sistem pendidikan Indonesia juga. Pilar-pilar ini sebagai faktor eksternal individu yang dikenalkan di sistem pendidikan. Pendidikan dari TK hingga perguruan tinggi ditopang oleh keempat pilar ini. Dengan demikian faktor internal dari diri kemudian akan terbantu dengan dorongan faktor eksternal ini. Mungkin sebagai analogi, faktor internal ditumbuhkan dalam keluarga, seperti disiplin. Kedisiplinan di rumah atau keluarga akan terbawa saat di lingkungan sekolah. Saat individu masuk sekolah yang berarti masuk ke dalam sistem yang besar. Di sini sekolah mengarahkan untuk mengenal manfaat dari disiplin melalui pelajaran atau kegiatan penunjang. Dengan demikian maka faktor internal tadi diperkuat dengan kehadiran pendidikan yang berlatar empat pilar tadi. Setelah melalui pendidikan, maka individu perlahan dibentuk dan dibangun untuk menjadi cakap. Kecakapan yang dibutuhkan saat ini dan masa depan.   

Penutup

Psikologi masih berpeluang besar untuk ikut serta dalam pengembangan sumber daya manusia Indonesia. Psikologi Indonesia setidaknya pernah mengajukan sifat yang dianggap mampu berkontribusi terhadap pembangunan. Namun hal itu belum selesai. Masih ada kesenjangan bagaimana cara atau metode untuk menumbuhkembangkan sifat-sifat tadi. Adakah ketertarikan peneliti-peneliti psikologi untuk lebih menggali lagi kontribusi sifat atau pengejawantahan pilar pendidikan. Adakah kesenjangan-kesenjangan yang bisa jadi dapat diuji secara teoretik atau uji empirik. Atau bisa jadi kecakapan-kecakapan yang diharapkan tidak pas (fit) dengan kondisi riil yang ada. Lagi-lagi psikologi berpeluang (dan bisa) menjawab tantangan zaman, untuk kembali memahami perilaku manusia yang unik (dan khas Indonesia).  

Referensi: 

https://www.bps.go.id/website/materi_ind/materiBrsInd-20190415114818.pdf

 

Human Development Report. (2019). Human development indices and indicators" (PDF). HDRO (Human Development Report Office) United Nations Development Programme. pp. 22–25. Retrieved 9 December 2019.

 

Markum, M. E. (1998). Sifat sumber daya manusia Indonesia penunjang pembangunan: Studi tentang prasyarat sifat, latar belakang keluarga dan Sekolah dari individu berprestasi tinggi. Disertasi. Universitas Indonesia. tidak dipublikasikan. Diunduh dari: http://www. lontar. ui. ac. id//opac/themes/libri2/detail. jsp.

 

Meinarno, E. A. (2019). Kesiapan dan kontribusi psikologi untuk revolusi industri 4.0. Dalam Psychofee: Psychology for Daily Life Series. Penyunting: Selviana, Gita WL Soerjoatmodjo, Subhan El Hafiz, Ika W Pratiwi, Sarah Rachmawati, Dwi N Pustpitasari. USU Pers. Medan.

 

Pranoto, I. (2009). Pemutakhiran manusia. Kompas, Senin, 23 Desember 2019. Hal 7.

 

Rachman, A. (2019). Tantangan hidup dalam keberagaman: Tantangan remaja unggul menghadapi era masyarakat 5.0. Materi lokakarya Tantangan Remaja Unggul Dalam Menghadapi Masyarakat Era 5.0. Universitas Indonesia, Depok.