ISSN 2477-1686  

 Vol. 12 No. 60 Juni 2026

Bukan Sekadar Cantik: Psikologi di Balik Riasan Wajah Perempuan

Oleh:

Sharon Jovanka & Flaviana Rinta Ferdian

Fakultas Psikologi, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya

 

Penampilan merupakan aspek yang sangat fundamental bagi perempuan dalam kehidupan sosial. Sejak dini, perempuan sering kali dikondisikan oleh lingkungan sosial untuk senantiasa menjaga fisik dan penampilan karena hal tersebut menjadi salah satu faktor kunci dalam membangun rasa bangga serta kepercayaan diri (Nikmah, 2016). Standar kecantikan yang dikonstruksikan secara sosial ini kemudian menciptakan tuntutan internal bagi perempuan untuk selalu tampil menarik di berbagai kesempatan. Sebagai respons atas tuntutan tersebut, salah satu upaya yang paling umum dilakukan adalah dengan menggunakan riasan wajah (makeup)

Sebuah riset online menunjukkan bahwa 57,3% dari 2.830 perempuan di atas 18 tahun menggunakan riasan wajah dan 42,7% responden lainnya menjawab kadang-kadang menggunakan riasan wajah dalam kesehariannya (Nusaresearch, 2020). Hal ini sejalan dengan penelitian yang melibatkan 6.460 perempuan Indonesia berusia 13 hingga 65 tahun menunjukkan bahwa 1 dari 5 wanita Indonesia menggunakan riasan wajah setiap harinya selama seminggu penuh (ZAP, 2020). Penelitian yang sama juga mengungkapkan bahwa 47,8% perempuan menghabiskan waktu lebih dari satu jam per hari untuk menggunakan riasan wajah. Selain itu, berdasarkan data Populix sebagian besar perempuan menghabiskan biaya hingga Rp 250.000 untuk membeli produk riasan wajah tiap bulannya (Populix, 2022). Hal ini membuktikan bahwa riasan wajah telah menjadi kebutuhan sosial bagi perempuan.

Fungsi Riasan Wajah

Merias wajah adalah pengaplikasian kosmetik pada wajah, termasuk foundation, eye shadow, maupun lipstick. Secara psikologis, terdapat dua fungsi merias wajah yaitu kamuflase (camouflage) dan daya tarik (seduction) (Korichi et al., 2008) Perempuan yang merias wajah dengan fungsi kamuflase cenderung bertujuan untuk mengurangi persepsi diri yang negatif, atau dengan kata lain, untuk menutupi kekurangan dirinya. Di sisi lain, fungsi daya tarik merujuk pada perempuan yang merias wajah untuk meningkatkan penampilannya. Kelompok perempuan dengan fungsi daya tarik sudah merasa dirinya menarik sehingga riasan wajah digunakan sebagai sarana untuk memperkuat daya tarik tersebut. Mereka cenderung menganggap bahwa wajah tanpa riasan tetap berharga dan merasa percaya diri bahkan sebelum bersolek. Sebaliknya, perempuan yang menggunakan riasan sebagai fungsi kamuflase cenderung merasa bahwa wajah dengan riasan jauh lebih berharga dan berarti dibandingkan wajah alami mereka.

Dampak Riasan Wajah

Di satu sisi, penggunaan riasan wajah dapat meningkatkan rasa percaya diri karena perempuan merasa penampilannya lebih sesuai dengan standar kecantikan di masyarakat (Suty & Nio, 2019). Selain itu, kemahiran dalam merias wajah juga mampu meningkatkan harga diri (self-esteem) sekaligus menjadi keterampilan fungsional yang membuka peluang ekonomi, seperti profesi penata rias. Namun di sisi lain, penggunaan riasan wajah yang berlebihan berisiko menimbulkan dampak negatif, mulai dari masalah kesehatan kulit seperti iritasi, alergi, dan jerawat, hingga memicu ketidakpuasan terhadap penampilan alami (Elianti & Pinasti, 2018). Hal ini selaras dengan penelitian Safitri dan Rini (2021) yang menunjukkan bahwa tingkat ketergantungan yang tinggi terhadap riasan justru berbanding terbalik dengan kepercayaan diri. Dapat disimpulkan bahwa meskipun riasan wajah mampu mendongkrak rasa percaya diri, dampak buruk dapat muncul apabila penggunaannya berubah menjadi ketergantungan yang menyebabkan seseorang tidak lagi merasa puas dengan diri apa adanya.

Merias Wajah dengan Bijak

Oleh karena itu, penerimaan diri menjadi fondasi penting bagi perempuan agar dapat merasa puas dengan dirinya (Ardiyanti, 2022; Aykut Ceyhan & Ceyhan, 2011). Dengan penerimaan diri yang baik, penggunaan riasan wajah akan bergeser fungsinya: bukan lagi alat untuk menutupi kekurangan, melainkan sarana untuk meningkatkan kualitas penampilan. Melalui kesadaran ini, perempuan tidak akan terjebak dalam ketergantungan terhadap kosmetik. Mereka menyadari bahwa wajah alami mereka memiliki kecantikan tersendiri yang tidak selalu harus ditutupi, sehingga riasan wajah hanyalah pelengkap, bukan penentu harga diri.

Referensi:

Ardiyanti, T. M. (2022). Hubungan antara penerimaan diri dengan body dissatisfaction pada remaja perempuan. Universitas Mercu Buana Yogyakarta.

Aykut Ceyhan, A., & Ceyhan, E. (2011). Investigation of university students’ self-acceptance and learned resourcefulness: a longitudinal study. Higher Education, 61(6), 649–661. https://doi.org/10.1007/s10734-010-9354-2

Elianti, L. D., & Pinasti, V. I. S. (2018). Makna Penggunaan Make Up Sebagai Identitas Diri. Jurnal Pendidikan Sosiologi. Jurnal Pendidikan Sosiologi, 7(3), 1–18.

Korichi, R., Pelle-de-Queral, D., Gazano, G., & Aubert, A. (2008). Why women use makeup: implication of psychological traits in makeup functions. Journal of Cosmetic Science, 59(2), 127–137.

Nikmah, K. (2016). Perubahan konsep kecantikan menurut iklan kosmetik di majalah femina tahun 1977-1995. Avatara E-Journal Pendidikan Sejarah, 4(1).

Nusaresearch. (2020, September 21). Laporan tentang makeup routine. Nusaresearch.

Populix. (2022). Unveiling Indonesian Beauty & Dietary Lifestyle. Populix.

Safitri, R. A., & Rini, A. S. (2021). Pengaruh ketergantungan make-up terhadap kepercayaan diri pada remaja putri. Jurnal Psikologi Talenta Mahasiswa, 1(2).

Suty, D. A., & Nio, S. R. (2019). Hubungan kepercayaan diri dengan minat membeli make-up pada mahasiswa bekerja. Jurnal Riset Psikologi, 2019(3).

ZAP. (2020). ZAP Beauty Index 2020. ZAP Clinic.