ISSN 2477-1686
Vol. 12 No. 60 Juni 2026
Aku Punya 4.000 Teman,
Tapi Tidak Punya Satu Pun untuk Bicara
Oleh:
Arifin Riklan Efendi Saragih
Fakultas Psikologi, Universitas Sumatera Utara
Pernahkah Anda membuka WhatsApp, melihat puluhan chat masuk, notifikasi Instagram bertambah, dan story Anda ditonton banyak orang—tetapi tetap merasa kosong? Jika iya, mungkin Anda sedang mengalami sesuatu yang semakin umum, tetapi jarang disadari: kesepian dalam keramaian digital.
Indonesia adalah salah satu negara dengan tingkat penggunaan media sosial yang sangat tinggi. Data We Are Social (2025) menunjukkan bahwa rata-rata masyarakat Indonesia menghabiskan sekitar 3 jam lebih per hari di media sosial. Sementara itu, laporan KOL.ID (2025) mencatat bahwa pengguna TikTok di Indonesia menghabiskan waktu sekitar 1 jam 24 menit per hari hanya untuk menonton konten. Angka ini menunjukkan satu hal: kita tidak kekurangan interaksi. Namun, berbagai penelitian justru menunjukkan arah sebaliknya. Studi terbaru dalam International Journal of Environmental Research and Public Health (2025) menemukan bahwa semakin tinggi intensitas penggunaan media sosial, semakin tinggi pula tingkat kesepian yang dilaporkan. Artinya, kita tidak kekurangan koneksi—kita kekurangan kedekatan.
Fenomena ini dikenal sebagai “lonely but connected”, yaitu kondisi ketika seseorang terus terhubung secara sosial, tetapi tidak merasakan koneksi emosional yang bermakna. Jika kita refleksikan, media sosial memang lebih mendorong interaksi cepat daripada relasi yang dalam. Kita terbiasa membalas dengan singkat—emoji, like, atau komentar satu baris—tanpa benar-benar hadir secara emosional. Hubungan menjadi luas, tetapi dangkal.
Sherry Turkle (2015) menyebut kondisi ini sebagai “alone together”—bersama, tetapi tetap sendiri. Salah satu faktor yang memperkuat kondisi ini adalah perbandingan sosial. Kita terus melihat kehidupan orang lain yang tampak lebih bahagia, lebih sukses, dan lebih “rapi”. Tanpa sadar, kita mulai membandingkan diri. Penelitian terbaru (Zheng, 2025) menunjukkan bahwa konsumsi media sosial secara pasif memperkuat hubungan antara perbandingan sosial dan kesepian.
Selain itu, ada juga fenomena ilusi kedekatan. Notifikasi, likes, dan komentar memberi kesan bahwa kita diperhatikan. Namun, diperhatikan tidak selalu berarti dipahami. Kita “terlihat”, tetapi tidak benar-benar “dikenal”. Yang menarik, kesepian hari ini tidak bisa hanya dipahami sebagai masalah individu. Ia juga merupakan produk dari sistem digital itu sendiri. Platform dirancang untuk mempertahankan perhatian, bukan membangun kedekatan. Algoritma mendorong kita untuk terus scroll, bukan berhenti untuk memahami. Kita didorong untuk tampil, bukan untuk hadir. Akibatnya, kita mengenal banyak orang, tetapi tidak benar-benar mengenal siapa pun.
Dalam konteks Indonesia, kondisi ini menjadi semakin relevan. Budaya kolektivistik yang selama ini menekankan kebersamaan perlahan bergeser ke arah koneksi digital yang serba cepat. Kita tetap “bersosialisasi”, tetapi bentuknya berubah—dari kedekatan nyata menjadi interaksi virtual.
Jika tidak disadari, perubahan ini bisa berdampak serius. Berbagai penelitian mengaitkan kesepian dengan depresi, kecemasan, dan penurunan kesejahteraan psikologis (Cacioppo & Cacioppo, 2018).
Namun yang membuatnya berbahaya, kesepian digital sering tidak terasa sebagai masalah. Ia tersembunyi di balik aktivitas online yang tinggi. Kita merasa aktif, tetapi sebenarnya terputus.
Bayangkan sebuah situasi di masa depan:
STATUS: ONLINE 24 JAM
Teman: 4.000+
Follower: 15.000
Aktivitas: Sangat aktif
Kondisi nyata:
Tidak punya satu orang pun untuk diajak bicara secara jujur.
Mungkin ini terdengar seperti lelucon. Namun, bisa jadi ini adalah gambaran arah yang sedang kita tuju. Karena itu, yang perlu kita lakukan bukanlah menjauh dari teknologi, tetapi mengembalikan makna dalam relasi.
Lebih banyak mendengar, bukan sekadar merespons.
Lebih banyak hadir, bukan sekadar terlihat.
Lebih banyak memahami, bukan sekadar mengetahui.
Pada akhirnya, manusia tidak hanya membutuhkan koneksi.
Manusia membutuhkan kedekatan yang terasa nyata.
Referensi:
Cacioppo, J. T., & Cacioppo, S. (2018). Loneliness in the modern age.
KOL.ID. (2025). Data pengguna TikTok dan durasi penggunaan di Indonesia.
Perlman, D., & Peplau, L. A. (1981). Toward a social psychology of loneliness.
Turkle, S. (2015). Reclaiming conversation: The power of talk in a digital age.
We Are Social. (2025). Digital 2025: Indonesia.
Zheng, X. (2025). Social comparison and loneliness in digital context.
