Folklor untuk Psikologi

Oleh:

Eko A Meinarno1 dan Abu Bakar Fahmi2

1Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia

2Fakultas Pskologi, Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka

 

Pengantar

Tulisan dari Meinarno dan Sundari (2026) mungkin menjadi tulisan psikologi yang menggunakan perspektif ilmu yang dapat dikatakan klasik. Ilmu itu adalah folklor.

 

Folklor

Folklor berasal dari kata folk yang berarti orang dan lore yang berarti pengetahuan (Thoms, 1846). Kajian untuk membangun definisi folklor ternyata cukup panjang. Setidaknya Journal of Folklore Research (1996) menemukan 21 definisi untuk folklor. Hal yang pasti adalag folklor dapat dimaknai sebagai pengetahuan tradisional yang berasal dari praktik masyarakat awam (Bronner, 2017; Kondi, 2019). Sebagai pengetahuan yang bersumber dari praktik masyarakat, akar dari folklor adalah budaya lisan, misalnya dongeng, mitos, legenda, dan peribahasa (Danandjaja, 2002). Folklor memiliki fungsi yakni sebagai sistem proyeksi, sebagai pengesahan kebudayaan, sebagai alat paedagogik dan sebagai alat pemaksa berlakunya norma dan pengendalian masyarakat (Bascom dalam Danandjaja, 1994).

 

Kajian Folklor

Kajian tentang folklor memang klasik. Secara geografis, hampir semua wilayah dunia dikaji folklornya. Untuk wilayah Asia, khususnya Indonesia (Van der Kroef, 1955; McKean, 1971; Danandjaja, 2002), Republik Rakyat Tiongkok (Yen, 1967; Danandjaja, 2007), Jepang (Eder, 1959; Dorson, 1961; Danandjaja, 1997), Pakistan (Siddiqui & Haque, 1964). Di Afrika (Bascom, 1964; Bascom, 1973; Ben-Amos, 1975) secara umum dan secara khusus di Somalia (Johnson, 1973).

 

Begitupun di Eropa yang juga banyak negara di dalamnya seperti Turkiye (Jansen, 1961; Başgöz, 1972), Spanyol (Gillmor, 1961), Swiss (Niederer & Bucher, 1968), Jerman (Baltl & Wedgwood, 1968), dan negara-negara Skandinavia (Thompson, 1961). Beberapa negara Skandinavia yang diteliti adalah Denmark (Holbek, 1964), dan Swedia (Tillhagen, 1964). Untuk wilayah Eropa Timur (Dégh, 1965) juga dilakukan. Beberapa negara itu adalah Yugoslavia (Matičetov, 1966; Oinas, 1966), Rumania (Bubociu, dkk., 1966; Brunvand, 1972), Hongaria (Gunda, 1962), Polandia (Bienkowska, 1973), dan Uni Soviet (Oinas, 1961, 1973). Tidak ketinggalan kajian folklor Amerika, khususnya Amerika Serikat (Danandjaja, 2003).

 

Folklor dan Bidang Kajiannya

Tema yang dapat dikaji melalui folklor juga ternyata cukup luas. Saking luasnya, sangat erat dengan kajian psikologi. Beberapa tema itu adalah prasangka (Burstein, 1959), stereotip (Abrahams, 1970), kehidupan penjara (Jackson, 1965), sikap terhadap lingkungan (Yoon & Bunkse, 1979), nasionalisme (Başgöz, 1972; Dundes, dalam Danandjaja, 2003). Luasnya tema yang dibahas sangat mungkin terjadi folklor beririsan dengan ilmu lainnya, semisal psikologi.

 

Folklor yang Menjadi Tema Klasik Psikologi

Oedipus, putra Laius, raja Thebes, dan ratu Jocasta, ditinggalkan saat masih bayi karena ramalan telah memberitahu sang ayah bahwa putranya, yang masih belum lahir, akan menjadi pembunuhnya. Ia diselamatkan, dan tumbuh dewasa sebagai putra raja di istana kerajaan Korintus. Tidak yakin akan asal-usulnya, Oedipus berkonsultasi dengan peramal, dan diperingatkan untuk menghindari tempat asalnya, karena ia ditakdirkan untuk menjadi pembunuh ayahnya dan suami ibunya. Di jalan yang menjauh dari rumahnya, ia bertemu Raja Laius, dan dalam pertengkaran mengenai hak menggunakan jalan, Oedipus membunuh Raja Laius (Freud, 2018; Gonick, 2006).

 

Oedipus melanjutkan perjalanan ke Thebes. Di tengah jalan ia bertemu Sphinx, binatang berkepala perempuan dengan berbadan singa dan bersayap elang. Sphinx akan mencekik setiap musafir yang ditemui kecuali bila berhasil memecahkan teka-teki tertentu. Oedipus mampu memecahkan teka-teki itu sehingga ia membebaskan Thebes dari Sphinx. Atas jasanya itu, ia diangkat menjadi raja oleh penduduk Thebes dan diberi hadiah berupa pernikahan dengan ratu Jocasta. Ia memerintah selama bertahun-tahun dalam damai dan dikaruniai dua putra dan dua putri dari ibu yang tidak dikenalnya.

 

Suatu ketika wabah penyakit merebak yang menyebabkan penduduk Thebes kembali berkonsultasi dengan peramal. Peramal mengatakan bahwa wabah akan berhenti segera setelah pembunuh Laius diusir dari negeri itu. Pada akhirnya Oedipus tahu bahwa ia sendiri adalah pembunuh Laius, dan bahwa ia juga adalah putra dari raja Laius dan ratu Jocasta. Terkejut oleh kejahatan keji yang tanpa disadarinya telah dilakukannya, Oedipus membutakan dirinya sendiri, dan meninggalkan kota asalnya (Freud, 2018; Gonick, 2006). Ramalan peramal telah terpenuhi.

 

Kisah di atas diceritakan Sigmund Freud merujuk pada legenda Oedipus Rex (Raja Oedipus) karya Sophocles. Sigmund Freud menggunakan mitologi Yunani ini untuk menggambarkan konsep Oedipus complex, yaitu situasi yang terjadi pada fase falik (3-4 tahun) di mana anak mengembangkan perasaan cinta maupun permusuhan terhadap orang tua (Feist & Feist, 2008). Pada anak laki-laki, ia memiliki perasaan cinta seksual terhadap ibu dan permusuhan terhadap ayah; pada anak perempuan, ia merasakan permusuhan terhadap ibu dan cinta seksual terhadap ayah. Kisah Oedipus ini menjadi salah satu contoh folklor yang paling populer dalam ilmu psikologi. Jika kita kaji dari perspektif ilmu psikologi, folklor dalam psikologi terentang dari konsep mengenai ketidaksadaran dalam psikoanalisis hingga kesehatan mental dalam psikologi positif. Fungsi folklor dalam psikologi akan dituangkan dalam tulisan yang lain.

 

Penutup

Melihat dari definisi dan fungsi folklor sampai penggunaan salah satu wujud folklor oleh Freud, memungkinkan pemikiran bahwa folklor dan psikologi mempunyai area kajian yang bersinggungan. Bukan tidak mungkin keduanya malah menjadi bagian di dalam masing-masingnya, sebagaimana tawaran Danandjaja (1994). Pada tulisan berikutnya, folklor akan dikupas lagi dengan perspektif yang lebih psikologi. Bisa jadi pemikiran selanjutnya dapat menjawab apa yang dikhawatirkan oleh Meinarno dan Sundari (2026) mengenai SDM rendah. Atau hal yang lebih jauh lagi, folklor dan psikologi menjadi bidang ilmu baru?

 

Daftar Pustaka

Abrahams, R. D. (1970). The Negro stereotype: Negro folklore and the Riots. The Journal of American Folklore, 83(328), 229-249.

Bascom, W. (1964). Folklore research in Africa. The Journal of American Folklore, 77(303), 12-31.

Bascom, W. (1973). Folklore and the Africanist. The Journal of American Folklore, 86(341), 253-259.

Başgöz, İ. (1972). Folklore studies and nationalism in Turkey. Journal of the Folklore Institute, 9(2/3), 162-176.

Baltl, H., & Wedgwood, S. (1968). Folklore Research and Legal History in the German Language Area. Journal of the Folklore Institute, 5(2/3), 142-151.

Ben-Amos, D. (1975). Folklore in African society. Research in African Literatures, 165-198.

Bienkowska, D. (1973). History of Polish Folklore Research: 1945-70. Journal of the Folklore Institute, 10(3), 197-211.

Bronner, S. J. (2017). Folklore: The Basics. Routledge.

Brunvand, J. H. (1972). The study of Romanian folklore. Journal of the Folklore Institute, 9(2/3), 133-161.

Bubociu, O., Dégh, L., Filipović, M. S., & Gavazzi, M. (1966). Folklore and ethnography in Rumania [and comments and reply]. Current Anthropology, 7(3), 295-314.

Burstein, S. R. (1959). Folklore, Rumour and Prejudice. Folklore, 70(2), 361-381.

Danandajaja, J. (1994). Antropologi psikologi: teori, metode dan sejarah perkembangannya. Rajawali Pers. Jakarta.

Danandjaja, J. (1997). Folklor Jepang: Dilihat dari kacamata Indonesia. Pustaka Utama Grafiti. Jakarta.

Danandjaja, K. (2002). Folklor Indonesia: Ilmu gosip, dongeng, dan lain-lain. Pustaka Utama Grafiti. Jakarta.

Danandjaja, J. (2003). Folklor Amerika: Cermin multikultikultural yang manunggal. Pustaka Utama Grafiti. Jakarta.

Danandjaja, J. (2007). Folklor Tionghoa. Pustaka Utama Grafiti. Jakarta.

Dégh, L. (1965). Folklore and related disciplines in eastern Europe. Journal of the Folklore Institute, 2(2), 103-119.

Dorson, R. M. (1961). Folklore Research in Japan. The Journal of American Folklore, 74(294), 401-412.

Eder, M. (1959). Japanese Folklore Science Today. Folklore Studies, 18, 289-318.

Feist, J., & Feist, G. J. (2008). Theories of Personality 7th Edition. McGraw-Hill.

Freud, S. (2018). A General Introduction to Psychoanalysis. GlobalGrey.

Gillmor, F. (1961). Folklore Study in Spain. The Journal of American Folklore, 74(294), 336-343.

Gonick, L. (2006). Kartun riwayat peradaban Jilid I. Kepustakaan Populer Gramedia. Jakarta.

Gunda, B. (1962). Gypsy medical folklore in Hungary. The Journal of American Folklore, 75(296), 131-146.

Holbek, B. (1964). Folklore Research in Denmark: A Danish Point of View. Journal of the Folklore Institute, 1(1/2), 37-44.

Jansen, W. H. (1961). Turkish folklore: an introduction. The Journal of American Folklore, 74(294), 354-361.

Jackson, B. (1965). Prison folklore. The Journal of American Folklore, 78(310), 317-329.

Johnson, J. W. (1973). Research in Somali folklore. Research in African Literatures, 51-61.

Definitions of Folklore. Journal of Folklore Research, 33(3), (1996), 255-264.

Kondi, B. (2019). Folklore. In J. Sturman (Ed.), The SAGE International Encyclopedia of Music and Culture. SAGE Publications, Inc.

Matičetov, M. (1966). The concept of folklore in Yugoslavia. Journal of the Folklore Institute, 3(3), 219-225.

McKean, P. F. (1971). The mouse-deer ("Kantjil") in Malayo-Indonesian folklore: Alternative analyses and the significance of a trickster figure in South-East Asia. Asian Folklore Studies, 71-84.

Meinarno, E. A., Sundari, A. R. (2026). Mungkinkah “SDM rendah” Diproduksi Melalui Ketidaksadaran Sosial? Buletin KPIN. Vol. 12 No. 49 Januari 2026. https://buletin.k-pin.org/index.php/arsip-artikel/1957-mungkinkah-sdm-rendah-diproduksi-melalui-ketidaksadaran-sosial. Diakses medio Mei 2026.

Niederer, A., & Bucher, J. (1968). Folklore studies in Switzerland. Journal of the folklore institute, 5(2/3), 236-240.

Oinas, F. J. (1961). Folklore activities in Russia. The Journal of American Folklore, 74(294), 362-370.

Oinas, F. J. (1966). The Study of Folklore in Yugoslavia. Journal of the Folklore Institute, 3(3), 398-418.

Oinas, F. J. (1973). Folklore and politics in the Soviet Union. Slavic Review, 32(1), 45-58.

Siddiqui, A., & Haque, A. Z. (1964). Folklore Research in East Pakistan. Asian folklore studies, 1-14.

Thoms, W. J. (1846). Folklore. The Athenæum, 982, 862–863.

Thompson, S. (1961). Folklore trends in Scandinavia. The Journal of American Folklore, 74(294), 313-320.

Tillhagen, C. H. (1964). Folklore Archives in Sweden. Journal of the Folklore Institute, 1(1/2), 20-36.

Van der Kroef, J. M. (1955). Folklore and tradition in javanese society. The Journal of American Folklore, 68(267), 25-33.

Yen, C. C. (1967). Folklore research in communist China. Asian Folklore Studies, 1-62.

Yoon, H. K., Bunkse, E. V. (1979). Folklore and the study of environmental attitudes. Annals of the Association of American Geographer, 69(4), 635-637.