ISSN 2477-1686  

 Vol. 12 No. 60 Juni 2026

Ketika Jalan Jadi Panggung Emosi:

Mengapa Klakson Tak Pernah Sepi Di Medan?

Oleh:

Nazrina Zahara Nst

Fakultas Psikologi, Universitas Sumater Utara

 

Pernah nggak sih kamu lagi di lampu merah, baru beberapa detik lampu hijau menyala,,,tiba-tiba dari belakang langsung terdengar suara klakson bertubi-tubi? Atau saat macet, suara klakson seperti jadi “background music” yang tidak pernah berhenti?. Bahkan, kamu mungkin pernah mengalami saat lampu merah baru saja beralih ke kuning, kendaraan di belakang sudah membunyikan klakson. Sebagai warga asli kota Medan yang telah hampir lima tahun berdomisili di kota Batam, saya sempat mengalami culture shock selama beberapa bulan ketika kembali ke kota ini,. Fenomena ini bukan sekadar kebiasaan—melainkan cerminan emosi manusia yang sedang “tumpah” di jalan raya, khususnya di kota medan.

Fenomena klakson yang terus-menerus terdengar di jalanan ternyata tidak hanya berdampak pada kenyamanan, tetapi juga pada kesehatan. Mengutip dari World Health Organization (WHO), tingkat kebisingan di atas 65 dB sudah tergolong sebagai polusi suara. Paparan suara di atas 75 dB dapat mulai menimbulkan dampak negatif, bahkan pada tingkat lebih dari 120 dB berpotensi menyebabkan gangguan kesehatan serius.

Dalam konteks lalu lintas, suara klakson kendaraan berada pada tingkat yang cukup tinggi. Klakson mobil umumnya menghasilkan suara sekitar 90 dB, sementara klakson bus dapat mencapai 100 dB. Artinya, suara yang sering kita dengar di jalan sebenarnya sudah berada jauh di atas batas aman yang direkomendasikan.

Paparan kebisingan ini, terutama jika terjadi secara berulang setiap hari, dapat menjadi pemicu stres yang bersifat kronis. Kebisingan lalu lintas tidak hanya mengganggu secara fisik, tetapi juga memengaruhi kondisi psikologis seseorang. Tubuh akan merespons suara bising sebagai ancaman, sehingga memicu peningkatan hormon stres seperti kortisol.

Secara biologis, kondisi ini berkaitan dengan aktivasi jalur stres dalam tubuh, termasuk proses inflamasi dan stres oksidatif. Aktivasi sistem saraf otonom dan sistem endokrin akibat kebisingan turut memperkuat respons stres tersebut. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat membuat individu menjadi lebih mudah lelah, emosional, dan rentan mengalami kemarahan.

Kondisi ini semakin diperparah ketika seseorang sudah berada dalam keadaan lelah atau memiliki beban pikiran, seperti tekanan pekerjaan atau aktivitas sehari-hari. Akumulasi antara stres psikologis dan paparan kebisingan akhirnya menciptakan lingkaran yang saling memperkuat: semakin stres, semakin mudah marah; semakin mudah marah, semakin besar kemungkinan mengekspresikan emosi di jalan—termasuk melalui klakson itu sendiri.

Dengan demikian, suara klakson tidak hanya menjadi simbol komunikasi di jalan, tetapi juga bagian dari siklus stres yang terus berulang di kehidupan perkotaan.

 

Klakson: Antara Peringatan dan Pelampiasan Emosi

Secara fungsi, klakson sebenarnya adalah alat komunikasi di jalan. Tapi dalam praktiknya, klakson sering berubah menjadi alat ekspresi emosi, terutama saat pengemudi merasa frustrasi. Dalam kajian psikologi, perilaku ini dijelaskan melalui model frustrasi–agresi, di mana agresi muncul sebagai respons terhadap hambatan yang menghalangi tujuan seseorang. Dalam konteks berkendara, tujuan itu sederhana: “ingin sampai cepat dan lancar”

Ketika tujuan ini terhambat oleh macet, lampu merah, atau pengendara lain maka muncullah frustrasi, dimana salah satu bentuk ekspresinya adalah membunyikan klakson.

 

Dari Frustrasi ke Agresi: Kenapa Kita Jadi Mudah Emosi di Jalan?

Penelitian menunjukkan bahwa perilaku seperti membunyikan klakson, menyalip sembarangan, atau menerobos lampu merah termasuk dalam aggressive driving behavior. (windyorid dan santosa, 2026)

Beberapa faktor yang membuat emosi di jalan cepat “meledak” antara lain:

  • Kemacetan dan tekanan waktu (merasa terburu-buru)
  • Stres pribadi (terbawa ke situasi berkendara)
  • Norma sosial (kalau orang lain klakson, kita ikut)
  • Kurangnya kesabaran (terutama pada usia muda)

Bahkan, penelitian pada generasi Z (Alfi et al., 2025) menunjukkan bahwa semakin buruk seseorang mengelola stres, semakin tinggi kecenderungannya untuk berperilaku agresif di jalan (r = -0,598). Artinya, klakson yang kita dengar setiap hari bisa jadi bukan karena situasi jalan semata—tapi juga karena emosi yang tidak terkelola.

 

Bukan Cuma Soal Kepribadian

Menariknya, perilaku agresif di jalan tidak hanya dipengaruhi oleh kepribadian individu. Penelitian lain menunjukkan bahwa aggressive driving lebih banyak dipicu oleh:

  • Faktor emosional (marah, kesal)
  • Faktor situasional (macet, keterlambatan)
  • Faktor sosial (lingkungan berkendara)

Dengan kata lain, siapa pun bisa menjadi “agresif” di jalan—tergantung kondisi yang dihadapi.

 

Klakson sebagai “Bahasa Emosi” Kota

Di kota besar seperti Medan, di mana kemacetan dan aktivitas tinggi menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, klakson akhirnya menjadi semacam bahasa sosial.

  • Klakson pendek → “ayo jalan!”
  • Klakson panjang → “kesal banget!”
  • Klakson berulang → “aku sudah nggak sabar!”

Tanpa disadari, jalan raya berubah menjadi panggung emosi kolektif, di mana setiap orang “berbicara” lewat suara klakson.

Lalu, Apa yang Bisa Dilakukan? Kalau akar masalahnya adalah frustrasi dan stres, maka solusinya bukan sekadar aturan lalu lintas, tapi juga pengelolaan emosi.

Beberapa hal yang bisa dilakukan:

  • Melatih coping stress (mengelola emosi saat tertekan)
  • Mengubah mindset: dari “harus cepat” → “yang penting selamat”
  • Meningkatkan kesadaran bahwa semua orang juga sedang berjuang di jalan

Karena pada akhirnya, jalan raya bukan hanya soal kendaraan—tetapi juga tentang manusia dengan emosinya.

 

Penutup

Klakson yang terus terdengar di jalanan Medan bukan sekadar kebisingan. Ia adalah sinyal bahwa banyak orang sedang lelah, terburu-buru, dan mungkin sedikit kehilangan kesabaran. Jadi, lain kali kamu mendengar klakson, mungkin itu bukan hanya suara, tapi emosi yang sedang mencari jalan keluar.

 

Referensi:

Alfi, M. A., Quarta, D. L., & Ariani, L. (2025). Coping stress dengan aggressive driving behavior pada generasi Z di komunitas sepeda motor. Psikoislamedia: Jurnal Psikologi, 10(2), 239–249.

Halodoc. (2023, Februari 14). Dampak paparan suara klakson berlebih terhadap tingkat stres. Halodoc. https://www.halodoc.com/artikel/dampak-paparan-suara-klakson-berlebih-terhadap-tingkat-stres

kumparanNEWS. (2025, Juli 4). Menyusuri jalanan Medan, kota termacet kedua setelah Bandung. Kumparan. https://kumparan.com/kumparannews/menyusuri-jalanan-medan-kota-termacet-kedua-setelah-bandung-25OM8NTIcBL

Windyorid, C. F., & Santosa, R. P. (2026). Pengaruh cognitive reflection terhadap aggressive driving pada pengemudi passenger car. Character: Jurnal Penelitian Psikologi, 13(1), 337–347. https://doi.org/10.26740.cjpp.337-347

Shinar, D. (1998). Aggressive driving: The contribution of the drivers and the situation. Transportation Research Part F: Traffic Psychology and Behaviour, 1(2), 137–160. https://doi.org/10.1016/S1369-8478(99)00002-9