ISSN 2477-1686  

 Vol. 12 No. 60 Juni 2026

Strategi Meningkatkan Rasa Percaya Diri Pada Generasi Z Era Digital

Oleh:

Nurhalijah Munthe

Fakultas Psikologi, Universitas Sumatera Utara

 

Kamu pernah nggak sih memposting foto atau video di media sosial, lalu beberapa saat kemudian malah kamu hapus lagi?. Kenapa itu terjadi? Fenomena ini sangat umum terjadi pada Generasi Z yang hidup di era digital, di mana validasi sering kali diukur dari jumlah like, komentar, dan views. perilaku ini  tidak muncul begitu saja. Generasi Z adalah generasi yang tumbuh dengan paparan media sosial yang sangat tinggi bahkan rata-rata penggunaan bisa lebih dari tiga jam per hari. Kondisi ini membuat mereka rentan terhadap fenomena social comparison atau perbandingan sosial yang di dijelaskan oleh Festinger, (1954) Ia menyatakan bahwa individu secara alami memiliki dorongan untuk menilai diri sendiri, baik dari segi kemampuan maupun nilai diri, dengan cara membandingkan dirinya dengan orang lain. Dalam konteks saat ini terutama di era media sosial perbandingan ini semakin intens dikalangan Generasi Z sehingga memberikan dampak psikologis signifikan pada generasi -Z diantaranya: Menurunnya rasa percaya diri dengan membandingkan dengan orang lain, Meningkatnya kecemasan dan depresi, rendahnya self-esteem, dan Perasaan tidak puas terhadap diri sendiri (Keles et al., 2020). Hal ini menunjukkan bahwa masalah kepercayaan diri di era digital bukan sekadar persoalan individu, tetapi juga dipengaruhi oleh sistem sosial dan teknologi yang membentuk cara kita melihat diri sendiri. Dalam hal ini penting dilakukan strategi yang dapat meningkatkan ras percaya diri pada Generasi-Z. Adapun startegi yang dapat dilakukan sebagai berikut:

 

Pertama, membangun kesadaran diri (self-awareness). Penting untuk memahami bahwa apa yang terlihat di media sosial bukanlah realitas sepenuhnya, melainkan hasil kurasi. Menyadari hal ini dapat membantu mengurangi kecenderungan membandingkan diri secara tidak realistis. Menurut Leon Festinger, individu cenderung menilai dirinya berdasarkan penilaian orang lain. Sosial media bukan menjadi tolak ukur untuk dijadikan standar kebahagian. Karna tidak semua pada media sosial itu nyata.

 

Kedua, membatasi penggunaan media sosial. Membatasi disini bukan berarti tidak berhenti secara total dengan media sosial hanya saja waktu dan pengguannya dikurangi yang biasanya 5 jam perhari dikurangi menjadi 2 jam perhari. Hal sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Hunt et al., (2018) dan Verduyn et al., (2017) bahwa pembatasan penggunaan media sosial perhari secara signifikan dapat meningkatkan kepercayaan diri dan menurunkan tingkat kesepian dan depresi. Dalam hal Ini bahwa Membatasi waktu penggunaan dan menghindari konten yang memicu perbandingan negatif terbukti dapat meningkatkan kesejahteraan psikologis.

 

Ketiga, penerimaan diri (self-acceptance). Kepercayaan diri tidak seharusnya dibangun dari validasi eksternal, melainkan dari kemampuan individu untuk menerima kelebihan dan kekurangan dirinya secara utuh. Setiap individu memiliki keunikan masing-masing. Oleh karena itu, penting untuk menyadari dan menerima diri apa adanya. Hal ini sejalan ungkapan Hurlock, (2013), individu yang memiliki penerimaan diri yang baik adalah mereka yang mampu mengenali, menerima, serta menghargai seluruh aspek dalam dirinya, baik kelebihan maupun kekurangan. Sehingga dengan begitu kita tidak mudah membandingkan diri terhadap orang lain.

 

Keempat, Menerapkan afirmasi positif kepada diri sendiri. Secara psikologis, afirmasi bekerja melalui perubahan self-talk (dialog internal). Memberikan afirmasi setiap sebelum tidur dan setelah bangun dapat meingkatkan rasa percaya diri. Kamu hebat, kamu bisa, kamu pintar hal ini sangat memeprngaruhi isi otak kita. Hal ini sejalan dengan teori yang self-affirmation theory oleh Steele (1988), yang menyatakan bahwa individu memiliki kebutuhan untuk mempertahankan citra diri yang positif. Ketika seseorang menghadapi ancaman seperti kegagalan atau kritik, afirmasi membantu menjaga integritas diri (self-integrity) sehingga kepercayaan diri tetap stabil.

 

Kelima, Meningkatkan Pengetahuan dan Keterampilan. Mengasah kemampuan diera digital ini sangat mudah banyak wadah yang tersedia untuk mengembangkan ilmu dan pengetahuan. Individu yang memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai akan mampu menghadapi tantangan global. sedangkan ketidaktahuan cenderung menimbulkan keraguan diri. Hal ini sejalan dengan konsep self-efficacy dari Bandura, (2001), bahwa keyakinan diri terbentuk melalui pengalaman belajar dan penguasaan kemampuan dapat meningkatkan rasa percaya diri.

 

Referensi:

Bandura, A. (2001). Self-Efficacy: The Exercise of Control. Worth Publisher.

Festinger,  Leon. (1954). A Theory of Social Comparison Processes. Human Relations, 7(2), 117–140. https://doi.org/10.1177/001872675400700202

Hunt, M. G., Marx, R., Lipson, C., & Young, J. (2018). No more FOMO: Limiting social media decreases loneliness and depression. Journal of Social and Clinical Psychology, 37(10), 751–768. https://doi.org/10.1521/jscp.2018.37.10.751

Hurlock, E. B. (2013). Perkembangan Anak Jilid 1 Edisi Ke-6. Jakarata : Erlangga.

Keles, B., McCrae, N., & Grealish, A. (2020). A systematic review: the influence of social media on depression, anxiety and psychological distress in adolescents. International Journal of Adolescence and Youth, 25(1), 79–93. https://doi.org/10.1080/02673843.2019.1590851

Steele, C. M. (1988). The Psychology of Self-Affirmation: Sustaining the Integrity of the Self (L. B. T.-A. in E. S. P. Berkowitz (ed.); Vol. 21, pp. 261–302). Academic Press. https://doi.org/https://doi.org/10.1016/S0065-2601(08)60229-4

Verduyn, P., Ybarra, O., Résibois, M., Jonides, J., & Kross, E. (2017). Do social network sites enhance or undermine subjective wellbeing? A critical review. Social Issues and Policy Review, 11(1), 274–302. https://doi.org/10.1111/sipr.12033