ISSN 2477-1686
Vol. 12 No. 60 Juni 2026
Pulung Gantung: Mitos terkait Bunuh Diri di Gunung Kidul
Oleh:
Muhammad Naufal Elian Yassar
Fakultas Psikologi, Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA
Masyarakat yang berada di Gunung Kidul, khususnya golongan usia tua, mempercayai sebuah mitos yang terkait dengan perilaku bunuh diri yang terjadi di Gunung Kidul. Mereka memiliki keyakinan mengenai adanya perilaku bunuh diri yang disebut sebagai pulung gantung. Pulung gantung dimaknai sebagai pertanda atau isyarat untuk seorang individu untuk melakukan bunuh diri dengan metode gantung diri (Darmaningtyas, 2002). Pulung gantung sendiri terdiri dari dua kata, yaitu pulung yang berarti isyarat atau wahyu, dan gantung yang memiliki melakukan bunuh diri dengan menggantung diri.
Pulung gantung dipercaya oleh masyarakat Gunung Kidul sebagai salah satu penyebab tingginya angka bunuh diri di Gunung Kidul. Gunung Kidul merupakan salah satu daerah di Indonesia yang memiliki angka bunuh diri yang dinilai tinggi. Bahkan menurut Oda (dalam Yuniarti et al., 2020), Gunung Kidul adalah daerah yang menempati posisi pertama yang memiliki angka bunuh diri paling tinggi di Indonesia. Data yang didapatkan oleh Polres Gunung Kidul mencatat bahwa angka bunuh diri di Gunung Kidul menyentuh 40 orang pada tahun 2012 (Kusuma, dalam Yuniarti et al., 2020), 33 kejadian pada tahun 2015 dan 14 kejadian dalam rentang waktu Januari hingga April 2016 (Tentama et al., 2019). Kemudian menurut temuan dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Imaji, sebanyak 458 kasus bunuh diri terjadi di Gunung Kidul pada tahun 2001 hingga 2016 (Yanuwidiasta, dalam Yuniarti et al., 2020). Wirasto (dalam Budiarto et al., 2021) menyebutkan bahwa rasio bunuh diri di Gunung Kidul mencapai rata-rata 4,48 kasus per 100.000 penduduk.
Pulung gantung dipercaya memiliki bentuk seperti bola api berekor dan seringkali muncul di tengah malam. Pulung gantung juga sering muncul pada saat-saat khusus seperti ketika acara bersih desa, pertunjukan wayang, dan pemilihan kepala desa (Darmaningtyas, 2002). Kemudian, ada pula yang mengatakan bahwa pulung gantung muncul pada pertengahan malam. Bola api tersebut diyakini menjadi pertanda kematian. Jika bola api tersebut jatuh di salah satu rumah, maka akan ada penghuni rumah tersebut melakukan bunuh diri dengan cara menggantung diri (Budiarto et al., 2021). Rachmawati dan Suratmi (2020) menggambarkan pulung gantung sebagai benda angkasa yang berbentuk seperti balon dengan ekor yang panjang berwarna biru. Pulung gantung tersebut berjalan di langit dan selanjutnya jatuh di lokasi tertentu. Lokasi-lokasi jatuhnya pulung gantung tersebut, menurut kepercayaan yang berkembang di masyarakat, dapat berupa rumah pelaku gantung diri sendiri, rumah tetangga dekat pelaku gantung diri, ataupun pohon di sekitar rumah pelaku gantung diri (Darmaningtyas, dalam Rachmawati & Suratmi, 2020). Pulung gantung memiliki makna yang simbolis, yaitu isyarat bagi seseorang untuk menggantung diri menggunakan tali yang berfungsi untuk mengikat hewan ternak. Berdasarkan paparan tersebut, sebenarnya tidak ada kepastian mengenai seperti apa bentuk dari pulung gantung dan kapan makhluk tersebut muncul.
Laporan BBC yang terbit pada 10 September 2017 menyebutkan bahwa pulung gantung telah dipercaya masyarakat Gunung Kidul semenjak abad ke-16. Meskipun begitu, ada sumber lain yang mengatakan bahwa mitos pulung gantung telah ada sejak abad ke-15 di Gunung Kidul. Pada masa itu, mitos tersebut berawal dari perjalanan perlawanan orang Majapahit atas Demak. Kemudian, banyak orang Majapahit yang kemudian menyelamatkan diri ke Gunung Kidul yang pada waktu itu masih berupa hutan. Sebagian dari orang Majapahit tersebut tidak dapat bertahan dan memilih bunuh diri dengan cara gantung diri (Fahrudin, dalam Yuniarti et al., 2020). Selain itu, terdapat versi lengkap lain yang menceritakan tentang kisah tersebut. Versi tersebut mengisahkan bahwa pada zaman dahulu, terjadi pertikaian antara Kerajaan Majapahit dan Kesultanan Demak. Pertikaian tersebut membuat prajurit dan rakyat yang setia kepada raja Brawijaya V berpindah ke Gunung Kidul. Hal tersebut dilakukan karena mereka menilai bahwa daerah tersebut sulit dijangkau dan terpencil. Sang Raja, dengan kesaktiannya, kemudian melakukan semedi dan moksa untuk menghadap Sang Pencipta. Sebagian pengikutnya juga melakukan hal yang sama, namun mereka gagal karena ilmu mereka belum setinggi yang dimiliki oleh sang raja. Mereka yang gagal melakukan moksa tersebut kemudian berubah menjadi jenglot. Sebagian prajurit dan rakyat yang tidak memiliki kemampuan tersebut kemudian menjadi depresi. Selain itu, mereka juga merasa tidak mampu melanjutkan hidup dikarenakan Sang pemimpin telah meninggalkan mereka. Mereka lantas melakukan bunuh diri secara bersama-sama dengan cara gantung diri. Hal tersebut dinilai sebagai solusi terbaik bagi mereka. Kejadian bunuh diri massal tersebut dipercaya mewariskan energi negatif di daerah Gunung Kidul hingga sekarang. Arwah-arwah prajurit dan rakyat yang melakukan bunuh diri massal tersebut selanjutnya berubah wujud menjadi benda atau makhluk berwujud bola apa yang sekarang dikenal sebagai pulung gantung. Pulung gantung tersebut hingga sekarang senantiasa mendorong jiwa-jiwa kurang beruntung untuk melakukan bunuh diri dengan cara yang sama (Rachmawati & Suratmi, 2020). Kisah tersebut kemudian dipercaya hingga sekarang. Meskipun telah lama dipercaya, sebenarnya fenomena pulung gantung merupakan mitos semata yang disebarkan turun temurun sejak dahulu dan tidak dapat dijelaskan dengan kacamata ilmu pengetahuan (Fachrudin, dalam Yuniarti et al., 2020; Rachmawati & Suratmi, 2020).
Terdapat penelitian-penelitian yang meneliti tentang kasus bunuh diri yang diduga terkait dengan mitos pulung gantung di Gunung Kidul. Penelitian-penelitian tersebut antara lain penelitian yang dilakukan oleh Budiarto et al. (2020) pada seorang penyintas bunuh diri dan keluarganya, serta penelitian Ali dan Soesilo (2021) yang melibatkan dua orang penyintas bunuh diri dan dua orang keluarganya. Partisipan kedua penelitian tersebut merupakan warga Gunung Kidul, di mana mitos pulung gantung berkembang.
Penelitian yang dilakukan oleh Budiarto et al. (2020) dan Ali dan Soesilo (2021) mengungkap dinamika psikologis dan latar belakang mengapa penyintas bunuh diri melakukan perilaku bunuh diri. Selain itu, penelitian tersebut juga meneliti apakah perilaku bunuh diri tersebut disebabkan karena pulung gantung atau tidak. Budiarto et al. (2020) menemukan bahwa alasan partisipan melakukan bunuh diri karena mengalami tekanan psikologis sebelumnya. Kemudian, penyintas bunuh diri yang merupakan partisipan penelitian yang dilakukan oleh Ali dan Soesilo (2021) menyebutkan bahwa mereka melakukan bunuh diri bukan karena pulung gantung, tetapi dikarenakan masalah ekonomi dan penyakit menahun yang dialami. Selain itu, mereka melakukan bunuh diri dalam keadaan tidak sadar karena mendengar bisikan-bisikan yang tidak dikenali. Berdasarkan hasil analisis penelitian yang dilakukan oleh Budiarto et al. (2020) dan Ali dan Soesilo (2021), dapat disimpulkan bahwa pulung gantung bukan merupakan alasan yang melatarbelakangi para penyintas bunuh diri yang menjadi partisipan penelitian untuk melakukan perilaku bunuh diri.
Penelitian yang dilakukan oleh Budiarto et al. (2020) serta Ali dan Soesilo (2021) terhadap para penyintas bunuh diri di Gunung Kidul menunjukkan bahwa penyintas bunuh diri yang diteliti tidak melakukan bunuh diri karena pulung gantung, namun karena masalah finansial dan kesehatan. Temuan tersebut selaras dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Darmaningtyas (2002) yang menemukan bahwa pulung gantung bukan penyebab banyaknya kejadian bunuh diri di Gunung Kidul. Menurut Darmaningtyas (2002), bunuh diri di Gunung Kidul mayoritas terjadi karena tekanan sosial ekonomi.
Masalah ekonomi serta kemiskinan adalah faktor utama penyebab tingginya angka bunuh diri di Gunung Kidul. Darmaningtyas (dalam Rachmawati & Suratmi, 2020) menyebutkan bahwa gangguan jiwa, sakit fisik, dan masalah keluarga berakar dari kemiskinan. Masalah-masalah tersebut dialami oleh partisipan penelitian Budiarto et al. (2020) serta Ali dan Soesilo (2021) dan mendorong mereka melakukan bunuh diri. Mereka mengalami kesulitan ekonomi seperti terlilit hutang dan kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari serta mengalami penyakit menahun yang membuat mereka malu, tertekan, dan merasa tidak mendapat kasih sayang dari orang di sekelilingnya.
Kondisi sosial dan ekonomi masyarakat Gunung Kidul memang tergolong rendah. Hal tersebut didasarkan pada data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Gunung Kidul yang menunjukkan angka kemiskinan di Gunung Kidul tergolong cukup tinggi yaitu 17,63% di tahun 2018 (Asih & Hiryanto, 2020). Salah faktor kemungkinan yang menyebabkan angka kemiskinan yang cukup tinggi di Gunung Kidul antara lain keadaan geografi Gunung Kidul.
Kondisi kesehatan merupakan salah satu faktor tertinggi penyebab terjadinya perilaku bunuh diri. Partisipan penelitian Budiarto et al. (2020) serta Ali dan Soesilo (2021) melakukan bunuh diri dikarenakan mengalami sakit fisik menahun. Sakit fisik menahun tersebut kemudian membuat partisipan penelitian tersebut merasa depresi. Sakit fisik menahun sendiri menjadi penyebab 24% kasus bunuh diri di Gunung Kidul dalam rentang waktu 2015-2017 (Andari, 2017).
Depresi menjadi salah satu faktor terbesar penyebab bunuh diri. Depresi menjadi penyebab 46% kasus bunuh diri di Gunung Kidul dalam rentang waktu 2015-2017 (Andari, 2017). Bunuh diri akibat depresi berakar pada keputusasaan dalam menghadapi masalah-masalah yang menekan diri penyintas bunuh diri seperti masalah keluarga, masalah ekonomi, atau masalah putus cinta (Asih & Hiryanto, 2020).
Depresi dialami oleh masyarakat Gunung Kidul. Beberapa penyebab depresi yang dialami oleh mereka yaitu kehilangan mata pencaharian, gagal panen, bencana alam, masalah finansial, kehilangan sumber pendapatan akibat migrasi, menjalani aktivitas-aktivitas sekte keagamaan tertentu, dan mendengar suara-suara gaib yang mengajak menuju surga (Rachmawati & Suratmi, 2020). Ketidakmampuan seorang individu untuk mengelola berbagai tekanan tersebut dapat mendorong individu tersebut melakukan perilaku destruktif seperti bunuh diri.
Berbagai penelitian dan literatur menunjukkan bahwa pulung gantung bukan merupakan penyebab tingginya angka bunuh diri di Gunung Kidul. Pulung gantung digunakan oleh masyarakat untuk menyamarkan berbagai fakta permasalahan psikososial yang menyebabkan terjadinya banyak kasus bunuh diri (Budiarto et al., 2020). Adanya mitos pulung gantung yang dipersepsikan sebagai penyebab bunuh diri di Gunung Kidul kemudian mendorong sebagian masyarakat untuk menyesuaikan persepsi tersebut dan akhirnya tertanam secara kolektif di dalam masyarakat (Mulyani & Eridiana, 2018).
Pulung gantung digunakan untuk melegitimasi perilaku bunuh diri yang dilakukan masyarakat Gunung Kidul untuk menyimbolkan bahwa bunuh diri merupakan proses bunuh diri yang alami dan sudah ditakdirkan (Rachmawati & Suratmi, 2020). Pandangan yang menilai bahwa bunuh diri merupakan proses yang alamiah dan sudah ditakdirkan menunjukkan bahwa masyarakat belum memiliki modal religius yang memadai. Modal religius yang kurang memadai tersebut membuat seseorang dengan mudahnya memutuskan untuk mengakhiri hidup karena sudah tidak memiliki tujuan hidup ke depan. Hal tersebut bertolak belakang dengan ajaran agama yang mengatakan bahwa bunuh diri merupakan perbuatan yang melanggar nilai-nilai agama (Asih & Hiryanto, 2020).
Kepercayaan masyarakat mengenai pulung gantung sebagai penyebab tingginya angka bunuh diri di Gunung Kidul mengindikasikan bahwa masyarakat masih belum memiliki pengetahuan yang cukup mengenai perilaku bunuh diri. Hal tersebut dapat membuat daya kritis masyarakat terhadap akar penyebab tingginya angka bunuh diri di Gunung Kidul (Budiarto et al., 2020). Fenomena bunuh diri di Gunung Kidul merupakan salah satu contoh perilaku belajar yang tidak tepat sebagai mekanisme untuk mengatasi problematika kehidupan (Fahrudin, 2012). Kendati demikian, masyarakat dapat dengan mudahnya menyebut bunuh diri sebagai takdir karena pulung gantung daripada berfokus kepada upaya penyelesaian kasus bunuh diri. Oleh karena itu, perlu adanya promosi kesehatan yang tepat untuk memberikan edukasi mengenai perilaku bunuh diri kepada masyarakat.
Daftar Pustaka:
Ali, T. M., & Soesilo, A. L. S. (2021). Studi kasus tentang bunuh diri di gunung kidul: Antara realitas dan mitos pulung gantung. Wacana, 13(1), 82-103
Andari, S. (2017). Fenomena bunuh diri di kabupaten gunungkidul. Sosio Konsepsia, 7(1), 92-107
Asih, K. Y., & Hiryanto. (2020). Rekonstruksi sosial budaya fenomena bunuh diri masyarakat gunungkidul. DIKLUS: Jurnal Pendidikan Luar Sekolah, 1(4), 21-31
Budiarto, S., Sugiarto, R., & Putrianti, S. G. (2021). Dinamika psikologis penyintas pulung gantung di gunung kidul. Jurnal Psikologi Ulayat: Indonesian Journal of Indigenous Psychology. 8(2), 174-194. https://doi.org/10.24854/jpu112
Darmaningtyas. (2002). Pulung Gantung: Menyingkap tragedi bunuh diri di gunung kidul. Salwa Press.
Fahrudin, A. (2012). Fenomena bunuh diri di Gunung Kidul : Catatan tersisa dari lapangan. Jurnal Informasi, 17(01), 13–19.
Mulyani, A. A., & Eridiana, W. (2018). Faktor-faktor yang melatarbelakangi fenomena bunuh diri di gunung kidul. Sosietas, 8(2), 510–516. https://doi.org/10.17509/sosietas.v8i2.14593
Rachmawati, F., & Suratmi, T. (2020). Mitos bunuh diri di gunungkidul daerah istimewa yogyakarta (diy). Jurnal Bidang Ilmu Kesehatan, 10(1), 32-44
Tentama, F., Mulasari, S. A., Sukesi, T. W., & Sulistyawati. (2019). Penyuluhan dan pendampingan pada korban selamat percobaan bunuh diri di gunung kidul, International Journal of Community Service Learning, 3(1), 27-32.
Yuniarti, K. W., Hanafi, S., & Laheba, T. H. (2020). Psikopatologi lintas budaya. Gadjah Mada University Press.
