ISSN 2477-1686

 Vol. 7 No. 1 Januari 2021

 

Insomnia?

Oleh

Rozani Nurulfazri Hidayat

Program Studi Psikologi , Universitas Pendidikan Indonesia

 

Seringkah anda mengalami insomnia? Apakah insomnia tersebut mengganggu aktifitas produktif anda sehari-hari? Apa yang kemudian anda lakukan ketika insomnia tersebut mulai datang kepada anda? Atau justru dengan insomnia, segala aktifitas anda hingga memori kerja yang anda miliki menjadi terganggu? Mudah lupa, sulit fokus, malas? Kemudian, dampak apa yang cukup drastis anda rasakan? Apakah emosipun terganggu? Anda menjadi sering cemas dan kesal? Didukung dengan adanya #dirumahaja, kerapkali membuat orang-orang justru bukan membaik pola tidurnya, tetapi sebaliknya.  Hal tersebut terjadi karena merasa mempunyai waktu yang cukup luang, hingga akhirnya waktu bekerja dipakai tidur, waktu tidur dipakai untuk bekerja. Terlebih lagi dengan adanya pandemi covid-19, tugas yang didapatkan individu lebih banyak dari biasanya, dan pengerjaan tugas-tugas tersebut terkadang dilakukan di waktu yang seharusnya dipakai tidur. Lalu, apakah dengan hal tersebut mendorong individu untuk mengalami insomnia dalam jangka waktu yang cukup lama?

Kita mungkin tidak sepenuhnya menyadari bahwa banyak sekali  yang berubah dari diri kita setelah beberapa kali mengalami insomnia. Dari mulai sulit tidur lebih awal, mudah lupa, tidak semangat melakukan aktifitas, tidak produktif, tidur tidak tenang, sulit menahan rasa kantuk, seringkali terbangun di pertengahan malam, hingga sering bangun lebiih awal, bisa jadi anda menjadi salah satu bagian dari penderita insomnia tersebut. Lalu, Apa yang dimaksud dengan insomnia itu?

Tidur? Berpengaruhkah?

Tidur adalah proses yang berhubungan dengan mata tertutup selama beberapa periode yang memberikan istirahat total bagi mental dan aktivitas fisik manusia, kecuali fungsi beberapa organ vital seperti jantung, paru-paru, hati, sirkulasi darah, dan organ dalam lainnya. Kedalam tidur tidak teratur sepanjang periode tidur. Hal tersebut tergantung pada beberapa faktor seperti faktor usia, aktivitas yang dilakukan, penyakit yang diderita, dll. Kebutuhan tidur berubah secara dramatis dari bayi hingga usia tua. Fungsi biologis tidur masih menjadi misteri terbesar sepanjang masa, meskipun diketahui bahwa tidur sangat penting dan kurang tidur yang disebabkan oleh gaya hidurp seperti apnea, insomnia, psikologis, kejiwaan, dan penyakit neurologis lainnya akan menyebabkan konsekuensi jangka pendek maupun Panjang.

Tidur yang dialami seseorang terdiri dari dua tipe, yaitu: Rapid Eye Movement (REM) yang tediri atas N1, N2, N3 dan Non Rapid Eye Movement (NREM).  Dalam tidur, terjadi perubahan fisiologis dan perilaku, meliputi system pernafasan, kardiovaskular, pencernaan, endokrin, ginjal, seksual, serta termoregulasi. Ketika hendak menuju tahan NREM yang biasa disebut dengan Slow Wove Sleep (SWS) ini mulali terjadi penurunan tekanan darah, pernafasan menjadi lebih dalam, penurunan tonus otot menjadi tidak bergerak. Tidur NREM biasa disebut dengan tidur tanpa mimpi. Namun, sebenarnya pada tahap tidur ini sering timbul mimpi dan terkadang mimpi buruk dapat terjadi selama tidur NREM. Perbedaan dengan tidur REM adalah bahwa mimpi yang timbul pada tahap tidur REM lebih sering melibatkan aktivitas otot tubuh, sedangkan mimpi pada tahap tidur NREM biasanya tidak dapat diingat karena tidak terjadi konsolidasi mimpi dala memori.

Tidur merupakan istirahat paling nyaman setelah seharian beraktivitas. Tidur menjadi alternatif yang paling ampuh untuk menurunkan stress dan mengurangi beban yang telah dipikul dalam satu hari tersebut. Tidur sangat penting bagi manusia, karena dalam tidur terjadi proses pemulihan, proses inni bermanfaat untuk mengembalikan kondisi seseorang pada keadaan semula. Maka dari itu, dengan tidur, tubuh yang tadinya mengalami kelelahan akan menjadi segar kembali. Jika proses pemulihan tersebut dilakukan dengan lambat atau bahkan terhambat, maka akan berakibat pada ketidakoptimalan kerja seluruh organ dalam tubuh yang berakibat fatal cepat Lelah dan slit konsentrasi. Otak memiliki sejumlah fungsi, struktur, dan pusat-pusat tidur yang mengatur siklus tidur dan terjaga. Tubuh pada saat yang sama menghasilkan substansi yang ketika dilepaskan ke dalam aliran darah akan membuat mengantuk. Proses tersebut jika diubah oleh stres, kecemasan, gangguan, dan sakit fisik dapat menimbullkan insomnia.

Apa itu insomnia?

Insomnia merupakan suatu kondisi yang dicirikan dengan adanya gangguan dalam jumlah, kualitas, atau waktu tidur pada seseorang individu. Menurut NSF (National Sleep Foundation), gangguan tidur dapat menimbulkan beberapa efek pada manusia, yaitu berpikir lebih lambat, membuat banyak kesalahan, dan sulit untuk mengingatt sesuatu. Hal ini mengakibatkan penurunan produktivitas kerja dan dapat menyebabkan kecelakaan. Efek lainnya pada pekerja adalah menjadi lebih cepat marah, tidak sabar, gelisah, dan depresi. Masalah ini menjadi cukup kompleks karena dapat mengganggu pekerjaan dan hubungan keluarga, serta aktivita sosial.

Menurut DSM-IV, insomnia didefinisikan sebagai keluhan dalam hal kesulitan untuk memulai atau mempertahankan tidur atau tidur non-restortif yang berlangsung setidaknya satu bulan dan menyebabkan gangguan signifikan atau gangguan dalam fungsi individu. Sedangkan menurut The International Clasificatioan of Diseases mendefinisikan insomnia sebagai kesulitan memulai atau mempertahankan tidur yang terjadi minimal 3 malam/minggu selama minimal satu bulan. Dan menurut The International Classification Sleep Disorder sendiri, insomnia didefinisikan sebagai kesulitan tidur yang terjadi hamper setiap malam disertai rasa tidak nyaman setelah episode tidur tersebut.

Insomnia adalah ketidakmampuan untuk tidur, tetap tidur, atau tidak segar dengan tidur insomnia dapat menjadi kronis, konstan menyebabkan kelelahan, kegelisahan yang cukup ekstrim sebagai pendekatan sensasi, dan gangguan kejiwaan. Dalam keadaan tersebut, insomnia akan memengaruhi system syaraf, menyebabkan timbulnya perubahan suasana kejiwaan, sehingga penderita akan menjadi lesu dan lemah ketika menghadapi rangsangan, dan sulit berkonsentrasi. Insomnia adalah keluhan sulit untuk masuk tidur atau sulit mempertahankan tidur (sering bangun saat tidur) dan bangun terlalu awal serta merasa tetap merasa badan tdak segar meskipun sudah tidur.

Seseorang dapat mengalami insomnia ketika sedang stres situasional seperti masalah keluarga, kerja atau sekolah, penyakit, atau kehilangan orang yang dicintai. Sedangkan insomnia temporer terjadi akibat situasi stress dapat menyebabkan kesulitan kronik untuk endapatkan tidur yang cukup, mungkin disebabkan oleh kekhawatiran, stress, dan kecemasan. Dalam hal ini, orang yang rentan menderita insomnia adalah pekerja kantoran/karyawan serta mahasiswa. Dikatakan demikian karena jika pekerja/ kaaryawan seringkali tidak mendapatkan wkatu yang konsisten dalam bekerja serta terkadang sering mendapatkan waktu kerja di malam hari dengan tumpukan tugas yang menanti. Sedangkan rentan pada mahasiswa karena bisa dilihat dari perkembangan kepribadiannya yang terletak pada tahapan perkembangan remaja atau dewasa awal. Seperti yang telah kita ketahui, bahwa dalam rentang usia tersebut, individu masih dalam pengaturan emosi yang cukup labil atau memiliki regulasi emosi yang cukup rendah, maka lebih rentan mendapatkan masalah yang  kemudian berdampak salah satunya adalah pada pola tidur individu yang tidak teratur dan bisa berujung insomnia.

Faktor Insomnia

Dari paparan di atas, maka dapat dikatakan bahwa faktor utama dari insomnia adalah  banyaknya permasalahan yang menimpa dan kebiasaan buruk yang berulang. Serta faktor lainnya, yaitu, stress, kafein, nikotin alcohol, perubahan lingkungan, kecemasan dan depresi, kondisi medis, serta belajar ‘insomnia’.

Lalu, cirinya kita insomnia itu bagaimana?

Berdasarkan papara di atas, tanda atau gejala yangd apat kita temukan dalam kehidupan sehari-hari bahwa kita mengalami insomnia, beberapa diantaranya adalah:

1.      Kesulitan tidur pada malam hari (dari pukul 9 ke atas),

2.     Seringkali terbangun di pertengahan malam

3.     Sering kelelahan dan mengantuk setiap selesai ataupun sedang mengerjakan suatu pekerjaan walaupun itu ringan

4.     Depresi

5.     Cemas

6.     Kesulitan unuk focus

7.     Sering melakukan kecelakan dan rentan terhadap kecelakaan

Lalu, bagaimana cara agar terhindar dari insomnia

1.     Kelola waktu dengan baik, termasuk mengelola waktu tidur normal  agar teratur dan terbiasa

2.     Jauhi obat-obatan terlarang yang berujung pada insomnia berkelanjutan

3.     Kerjakan tugas dengan menyicil dan tidak ditumpuk pada satu hari hingga larut malam

4.     Kurangi stress dengan seimbangkan antara ­­me time  dengan waktu untuk kerja

5.     Kurangi kebiasaan berkegiatan di malam hari.

Referensi:

Ahmad, Zamril, Yesi Maifita, dan Sri AMeliati.2020. Hubungan Penggunaan Media Sosial Dengan Insomnia Pada Mahasiswa.Menara Medika. 3(1), 1—13.

Nurdin, Muhammad Akbar, Andi Arsuan Arsin, dan Ridwan M. Thaha. 2018. Kualitas Hidup Penderita Insomnia pada Mahasiswa. MKMI. 14(2), 1—11 .

Putri, Kartika. 2017.  Perilaku Belajar Pada Mahasiswa Yang Mengalami Insomnia. E-Journal Bimbigan dan Konseling, 6(2), 1—1.

Reza, Rezita Rahma, Khairunnisa Berawi, Nisa Karima, Arief Budiarto. 2019. Fungsi Tidur dalam Manajemen Kesehatan. Majority. 8(2) 1—7.

Saswati, Nofrida, Maulani. 2020. Hubungan Tingkat Stres Dengan Kejadian Insomnia Pada Mahasiswa Prodi Keperawatan. Manuju. 2(2), 1—8.