ISSN 2477-1686

 Vol. 7 No. 1 Januari 2021

 

Mindful Parenting pada Anak Berkebutuhan Khusus Saat Belajar Daring

oleh

Arie Rihardini Sundari

Fakultas Psikologi, Universitas Persada Indonesia YAI

 

“Belajar Daring bikin Dar-ting,” istilah tersebut sering disampaikan orangtua saat menemani putra dan putrinya belajar di rumah. Mendampingi anak belajar di rumah yang sudah berlangsung hampir setahun memiliki dampak yang besar. Terlebih oleh saya, sebagai orangtua dengan anak berkebutuhan khusus gangguan dengar (hearing disability) yang berusia 6 tahun, yang juga memiliki sejumlah keterlambatan perkembangan.

Di awal pandemi Covid-19, seluruh institusi pendidikan baik formal maupun informal terpaksa ditutup demi memutus mata rantai penyebaran virus. Bersamaan dengan itu, dimulailah pelaksanaan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau belajar dalam jaringan (daring). Adaptasi awal cukup lancar, terlebih guru tidak memaksakan waktu penyelesaian tugas bermain, disesuaikan dengan kondisi emosi dan kesiapan anak. Setelah melewati beberapa minggu, mulai timbul kebosanan, baik pada anak maupun pada diri saya. Kondisi penyerta kemudian adalah resisten dalam mengerjakan tugas bermain anak, sementara saya terjebak dalam rutinitas harus memenuhi tenggat waktu berbagai macam pekerjaan yang muncul bersamaan, sehingga rentan akan stres dan depresi.

Sejumlah strategi untuk mengatasi stres diupayakan. Berbekal mengikuti berbagai webinar yang cukup banyak bermunculan, pada akhirnya strategi mengatasi kejenuhan dan stres dapat teratasi perlahan. Salah satunya adalah ketrampilan mengelola pikiran dengan penghayatan kesadaran secara jujur, yaitu mindfulness. Mindfulness merupakan “jantung hati” dari meditasi Buddha (Thera dalam Kabat-Zinn, 2003). Mindfulness merupakan kualitas menjadi sadar (aware) dan pemusatan perhatian (Kabat-Zinn, 2013). Mindfulness menjanjikan upaya intervensi preventif yang bertujuan pada proses interpersonal (Coatsworth dkk, 2009). Dengan demikian, mindfulness merupakan kemampuan individu untuk memfokuskan perhatiannya pada peristiwa masa kini dengan tujuan mencapai kedamaian, baik secara personal maupun interpersonal, termasuk antara orangtua dengan anak.

Berkenaan dengan pendampingan belajar daring, saya sebagai orangtua membutuhkan konsep yang lebih khusus, yaitu mindful parenting. Sebuah konsep yang diperkenalkan oleh Duncan, Coatsworth dan Greenberg (2009), yakni kesadaran yang muncul melalui fokus perhatian pada momen saat ini dan tanpa penghakiman pada sejumlah pengalaman pada setiap momen yang telah dialami, dalam konteks hubungan antara orangtua dan anak. Berdasarkan pengalaman yang saya rasakan, contohnya adalah pada saat bermain sambil belajar dengan anak yang perlu disadari adalah hadir secara utuh; atau tertawa, bersenda gurau, mendengarkan dan bernyanyi dengan anak, dengan tetap bertujuan pada penuntasan tugas yang sudah ditetapkan.

Saat sedang mempelajari dan mengenalkan konsep bagian-bagian tanaman, pembelajaran dilakukan dengan berjalan-jalan di pagi hari (dengan memperhatikan protokol kesehatan) untuk menunjuk dan menyentuh bagian tanaman secara langsung; sambil menikmati dan menghayati keadaan lingkungan sekitar, ditemani matahari pagi. Aktivitas lainnya, mengeja dan menyebutkan bagian-bagian tanaman satu per satu, kemudian belajar menuliskan kata “tanaman”. Karena saya masih dalam tahap belajar, maka seringkali teknik mindful parenting ini luput pada beberapa bagian. Kondisi ini secara tidak langsung memaksa saya untuk menelaah lebih jauh tentang hakikat dari mindful parenting yang sesungguhnya.

Mindful parenting dikembangkan dari konsep mindfulness-based interventions (De Bruin dkk, 2014). Orangtua yang mindful akan menyadari keberadaan diri anak dan bersikap sewajarnya alih-alih reaktif bahkan emosional. Keterlibatan emosional tidak dapat terelakkan, sehingga regulasi emosi sangat diupayakan sepanjang waktu, terlebih dengan berbagai harapan yang kerap tidak kunjung tercapai. Proses pembelajaran dan target dari home program yang disarankan oleh terapis untuk diulang di rumah kerap tidak tuntas, sehingga menimbulkan keterlambatan sejumlah pencapaian tugas perkembangan. Namun demikian, saya kemudian menyadari bahwa orangtua selamanya tidak dapat benar-benar menjadi terapis. Orangtua hanya dapat berusaha maksimal untuk mendekati setiap target home program, sehingga kami dapat menghargai setiap kemajuan yang ditunjukkan oleh anak. Oleh karenanya, saya pribadi merasa mindful parenting sangat sesuai diterapkan dalam proses pengasuhan pada anak saya yang memiliki kebutuhan khusus gangguan dengar dan keterlambatan perkembangan, maupun pada anak saya yang lain.

Berdasarkan sejumlah penelitian, hasil yang didapatkan dari penerapan mindful parenting pada anak-anak berkebutuhan khusus dan hambatan perkembangan adalah pengurangan pada gejala internalisasi dan eksternalisasi anak, perilaku agresif menurun, dan peningkatan perhatian. Lebih lanjut, orangtua memperbaiki tujuan pribadi mereka, kualitas hidup, dan melaporkan sejumlah besar penurunan stres akibat proses pengasuhan (parenting stress). Efek terbesar dapat terjadi secara langsung setelah pelatihan, dan dipertahankan secara terus menerus selama 2 bulan (De Bruin dkk, 2014).

Dampak penerapan mindful parenting pada orang tua dalam uji klinis (Böhgels, Lehtonen, dan Restifo, 2010) adalah penurunan stres pengasuhan, penurunan preokupasi pengasuhan, memperbaiki keberfungsian perlakuan pengasuhan pada orangtua yang impulsif, memutus mata rantai terjadinya pengulangan skema dan kebiasaan disfungsi pengasuhan yang terdahulu, meningkatkan perhatian pada pengasuhan pribadi, dan memperbaiki keberfungsian pernikahan dan pengasuhan bersama (co-parenting). Lebih khusus, mindful mother yang juga resilien, akan mencapai psychological well-being yang baik (Afiffatunnisa & Sundari, 2020). Demikian pula hasil penelitian dari Geurtzen dkk (2014), bahwa anak-anak yang orang tuanya menerapkan mindful parenting melaporkan penurunan gejala depresi dan kecemasan. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa mindful parenting dibutuhkan dalam berbagai aspek pengasuhan, termasuk bagi orang tua dengan anak berkebutuhan khusus. Hal tersebut sesuai dengan Harnett & Dawe (2012) dan De Bruin dkk (2014) bahwa mindful parenting berdampak positif bagi anak dan orangtua dengan berbagai kondisi.

Lantas bagaimana penerapan mindful parenting sesungguhnya? Sebagaimana dirumuskan oleh Duncan, Coatsworth dan Greenberg (2009), mindful parenting memiliki lima dimensi, di antaranya adalah mendengarkan dengan perhatian yang penuh, penerimaan tanpa syarat akan diri sendiri dan anak, kesadaran emosional akan diri dan anak, pengaturan diri dalam hubungan pengasuhan dengan pasangan, dan mengasihi diri sendiri dan anak. Dapat pula ditambahkan dengan enam teknik sederhana yaitu mengajarkan anak untuk berkonsentrasi, tenang, menggerakkan tubuh dengan lentur, bersiap pada berbagai perubahan situasi, menyayangi diri sendiri dan melakukan refleksi (Kinder, 2019).

Terakhir, tentunya masih dibutuhkan lebih banyak lagi penelitian tentang mindful parenting agar dapat mengoptimalkan manfaatnya dalam aktivitas pengasuhan secara menyeluruh. Terlebih sejumlah adaptasi diperlukan bagi orangtua yang sibuk ataupun yang memiliki permasalahan dengan perhatian dan konsentrasi (Böhgels, Lehtonen & Restifo, 2010). Terutama bagi saya pribadi, di mana penerapan mindful parenting belum dapat maksimal & masih terus belajar. Semoga bermanfaat dan tetap sehat, Amin.

Referensi:

Afiffatunnisa, N., & Sundari, A.R. (2020). Hubungan trait-mindfulness dan resiliensi dengan psychological well-being pada komunitas Save-Janda. Skripsi. Universitas Persada Indonesia Y.A.I, Jakarta.

Böhgels, S.M., Lehtonen, A., Restifo, K. (2010). Mindful parenting in mental health care. Mindfulness, 1, h.107–120.

Coatsworth, J.D., Duncan, L.G., Greenberg, M.T., & Nix, R.L. (2010). Changing parent’s mindfulness, child management skills and relationship quality with their   youth. Journal fo Child and Family Studies, 19, 203-217.

De Bruin, E.I., Zijlstra, B.J.H., Geurtzen, N., Van Zundert, R.M.P., Van De Weijer- Bergsma, E. ..., Coatsworth, S.M. (2014). Mindful-parenting assessed further. Mindfulness. DOI: 10.1007/s12671-012-0168-4.

De Bruin, E.I., Blom, R., Smit, F.M.A., Van Steensel, F.J.A., Böhgels, S.M. (2014). MYmind: Mindfulness training for youngsters with autism spectrum disorders and their parents. Autism. DOI: 10.1177/1362361314553279.

Duncan, L.G., Coatsworth, J.D., & Greenberg, M.T. (2009). A model of mindful parenting. Clinical Child and Family Psychology Review, 12, 255-270.

Geurtzen, N., Scholte, R.H.J., Engels, R.C.M.E., Tak, Y.R., Van Zundert, R.M.P.   (2014). Association between mindful parenting and adolescents’ internalizing problems. Journal of Child and Family Studies. DOI: 10.1007/s10826-014-9920-9.

Harnett, P.H., & Dawe, S. (2012). The contribution of mindfulness-based therapies for children and families and proposed conceptual integration. Child and Adolescent Mental Health. DOI:10.1111/j.1475-3588.2011.00643.x

Kabat-Zinn, J. (2003). Mindfulness-based interventions in context. Clinical Psychology: Science and Practice, 10(2), 144–156.

Kinder, W. (2019). Calm: Mindfulness for kids. NY: Darling Kindersley.