ISSN 2477-1686

 Vol. 6 No. 23 Desember 2020

Cerdas mengelola emosi: gimana sih caranya?

 

Oleh

Krishervina Rani Lidiawati

Fakultas Psikologi, Universitas Pelita Harapan

 

Pernahkah anda mendengar pepatah buah tidak jauh dari pohonnya? Apakah kondisi emosi anda memengaruhi cara anak anda merespon sesuatu? Jangan-jangan anak anda belajar dari apa yang anda lakukan kepada orang lain. Anak anda tantrum, mudah marah, membanting barang, kata-katanya tajam, sulit dikendalikan atau sebaliknya anak anda tenang, mudah tersenyum, riang, apakah anda orang tua yang punya selera humor juga? Anda mudah kesal? Merasa Lelah secara emosi, dan kerap kali mendengar juga selama masa pandemi banyak yang mudah marah dan cepat tersinggung. Apalagi dengan tugas sebagai orang tua yang tidak mudah dalam mendampingi anak belajar. Benarkah ini ada kaitannya bagaimana cerdas dalam mengelola emosi?

 

Pernakah anda melihat beberapa orang tua tetap tenang dan terkendali dalam situasi apa pun termasuk di situasi pandemi? Apa bedanya? Mengapa mereka bisa seperti itu, atau sebelum pandemic memang orangnya seperti itu. atau justru berubah? Yang dulunya terlihat tenang sekarang panik, cemas, mudah marah?

 

Pernah memperhatikan dalam situasi darurat,misalnya kebakaran rumah, kecelakaan di jalan. Coba diperhatikan, ada orang yang tipenya grasa-grusu, ada juga yang tenang, ada yang panik dst. Apakah salah jika seseorang merasa sedih jika kehilangan semua harta bendanya karna kebakaran? Jika marah karena mobil barunya di serempet motor?

 

Bukankah dalam hidup banyak ketidakpastian, termasuk kapan pandemi ini berakhir bukan?

Anda tidak bisa mengendalikan situasi, lalu apa yang anda bisa kendalikan? Yap, emosi anda bisa dikendalikan. Bagaimana caranya? Anda harus mengenali terlebih dahulu baru anda dapat mengendalikan. Segala sesuatu yang berlebihan akan berbahaya termasuk senang berlebihan terkadang membuat keputusan yang tidak matang. Misalnya terlalu senang dengan gaji yang diterima lalu belanja dan kemudian lupa bahwa masih memiliki 29 hari kedepan sebelum gajian berikutnya. Contoh yang lain adalah ketika anda terlalu marah, jengkel dan akhirnya anda tidak bisa membendung kata-kata yang keluar. Selang beberapa waktu anda menyesali namun tidak dapat menarik kata-kata anda.

 

Pahami dulu emosi

Apa itu emosi ? Emosi tidak sama dengan marah, emosi itu "Perasaan dan pemikirannya yang khas, kondisi psikologis dan biologis, dan berbagai kecenderungan untuk bertindak“ (Goleman, 1996). Biasanya muncul sebagai respon terhadap suatu kejadian, yang memiliki arti positif atau negatif bagi seseorang.Tidak ada emosi yang buruk, semua diciptakan untuk tujuan masing-masing. Emosi dasar ada enam yaitu sedih (sadness), senang (happiness), terkejut, marah, jijik, takut (Plotnik & Kouyoumdjian, 2018).

 

Bagaimana jika seseorang hidup tanpa emosi? Bisakah anda bayangkan? Emosi tetap diperlukan baik senang, sedih, kecewa, marah dan emosi lainnya. Ingat bahwa emosi tidak sama dengan marah, emosi itu perasaan yang dimiliki oleh semua manusia, baik anak-anak, orang dewasa dan lanjut usia. Banyak orang-orang disekitar kita yang sedang “kalut, Lelah secara psikis, menyalahkan orang lain karena ia tidak dapat mengendalikan diri” berakhir relasi dengan orang lain memburuk, kurang teman, kurang bisa di terima dalam pertemanan. Sebagai orang tua, apakah anda sudah menerima emosi anak? Kerapkali emosi yang dirasakan dapat mengubah realita. Ketika suasana hati senang maka ditanya anak dapat memberikan jawaban menyenangkan. Namun ketika sedang kesal dengan rekan bisnis, anak dapat menjadi sasaran. Maka dari itu orang tua perlu menjadi teladan bagaimana menerima emosi yang dirasakan, mengenali dan kemudian mengendalikannya.

 

Emotional intelligence (EI) adalah kemampuan, kapasitas, ketrampilan atau kemampuan penerimaan diri untuk mengidentifikasi, mengetahui dan mengatur emosi yang dirasakan dan orang lain rasakan (Goleman, 2006). Salovey dan Mayer (1990) mendefinisikannya sebagai kemampuan untuk mengetahui apa yang dirasakan dan memahami perasaan orang lain, dan kemudian dipakai untuk mengarahkan cara berpikir dan tindakan kita.

 

Orang yang memiliki kecerdasan secara emosi bukan berarti menjadi orang yang sangat baik, tidak pernah marah, terlalu perhatian dan terharu atau tersentuh. Namun kecerdasan emosi merupakan sebuah kemampuan individu, memonitor perasaan dan emosi seseorang, membedakan emosi-emosi tersebut dan menggunakan informasi ini untuk memandu cara berpikir dan berperilaku seseorang. Kecerdasan Emosi memiliki 5 domain yaitu self-awareness (kesadaran diri), Self-regulation (regulasi diri), ketrampilan sosial, dan empati. Lima domain ini terbagi dua bagian yaitu bagaimana mengatur diri sendiri dan menjaga relasi dengan orang lain. 

 

Berikut ini merupakan latihan praktis meningkatkan kecerdasan emosi yang dapat kita lakukan yaitu dengan mengembangkan 5 domain diatas.

1.    Self-awareness

Kemampuan untuk mengetahui emosi diri sendiri, kekuatannya, kelemahannya, dorongannya, nilai-nilai terkait, dan tujuannya. Rasakan apa yang anda rasakan dan berikan nama atau lebel. Misalnya anda menyediakan waktu 5-15 menit untuk waktu refleksi lalu tuliskan - “saya merasa …..ketika….”

2.    Self-regulation

Kemampuan untuk mengontrol emosi, termasuk mengubah emosi yang meledak-ledak atau mengganggu. Kita perlu menta ulang apa yang kita pikirkan. Apa yang seharusnya saya lakukan ketika kesal, sedih, kecewa?

Emosi negatif harus dikelola supaya tetap sehat, lebih mampu berpikir logis, lebih produktif, lebih efektif dalam menolong pasangan dan anak dan orang lain yang membutuhkan pertolongan. Praktisnya berikan pertanyaan pada diri anda: “apa yang terjadi? Apakah saya berhasil meregulasi emosi saya? Entah marah, sedih, kecewa, khawatir? Pikirkan cara yang terbaik ketika nanti menghadapi situasi yang kemungkinan akan memunculkan emosi yang sama. Apa yang akan saya lakukan? Apakah sudah tepat? Jika belum apa yang bisa ubah agar saya menjadi pribadi yang lebih baik.

3.    Self-motivation (motivasi diri)

Mampu memotivasi diri sendiri untuk mencapai tujuan

Apa saja sumber motivasimu? Buat daftar hal-hal yang memotivasimu dan ingatlah hal itu setiap kali merasa terpuruk.

Praktisnya?

5 menit di pagi hari: apa yang anda ingin lakukan hari ini? Mengapa anda lakukan? Adakah “personal meaning” untuk anda?

Misalnya, anda memasak untuk anak agar dia tetap sehat, keluarga sehat.  Anda tetap mendampingi belajar anak, agar anak memahami pembelajaran dan lulus KKM.

4.    Ketrampilan sosial

Kemampuan mengelola hubungan yang kita miliki dan memahami orang lain yaitu waktu yang tepat, kemampuan mendengarkan secara aktif dan berkomunikasi mengutamakan orang lain. Belajar memahami ”waktu” dalam komunikasi, apakah anak sedang curhat diberikan nasehat, apakah tepat? Anaknya lagi sedih malah dimarahin, suami Lelah kerja diajak membicarakan masalah anak.

Mengutamakan orang lain diatas kepentingan diri kita merupakan kunci suksesnya berkomunikasi. Misalnya “Kamu itu salah… kamu egois banget…”, jauh lebih baik jika “Aku sedih kamu mengambil keputusan tanpa meminta pendapatku”

Mintalah pendapat dari teman dekat anda, pasangan, “apa kelebihan dan kelemahan anda menurut mereka?” terbukalah untuk saran yang membangun bukan kritik yang menjatuhkan.

5.    Empati

Mencoba memahami orang lain. Empati bukan simpati. Empati merupakan perasaan yang sama seperti yang dirasakan oleh orang lain sedangkan simpati sekedar merasa sedih atau kasihan. Praktisnya, kita bisa memberi pertanyaan kepada diri kita “bagaimana perasaan orang tsb hari ini? (anak, pasangan, teman, dst?), apa saja kemungkinannya orang merasakan seperti itu? Jika saya berada di posisinya, apa yang akan saya rasakan, apa yang akan saya lakukan dengan memahami apa yang di rasakan orang tsb?

 

Mari belajar mengenali emosi baru bisa menaklukannya, akan menjadi sulit untuk mengendalikan apa yang tidak dikenali. Jadi kenalilah diri anda terlebih dahulu, terbukalah pada saran dari orang lain yang sifatnya membangun tentang kelebihan dan kekurangan anda. Menguasai diri adalah hal yang paling mungkin dilakukan pada masa ini. Jadi mulailah dari diri anda, bukan menuntut orang lain. Jika anda sudah mengenali emosi, kemudian tata ulang pikiran, jalan santai, ambil waktu meditsi, mendengarkan musik yang menenangkan (Compton & Hoffman, 2013).

 

Mari cerdas dalam mengelola emosi di tengah masa pandemi dimulai dari diri sendiri, jaga gaya hidup sehat dan bangun relasi yang sehat dengan orang lain.

 

Referensi:

 

Compton, W.C. & Hoffman, E. (2013). Positive Psychology: The Science of happiness and Flourishing (International Ed.). USA: Wadsworth

Goleman, D. (2006). Emotional intelligence: Why it can matter more than IQ. New York: Bantam Dell

Plotnik, R & Kouyoumdjian. (2018). Introduction of Psychology. United Stated: Cengage Learning

Salovey, P. & Mayer, J.D. (1990). Emotional intelligence. Imagination, Cognition, & Personality, 9, 185-211.