ISSN 2477-1686

Vol. 6 No. 16 Agustus 2020

 

Response Styles pada Skala Psikologi

 

Oleh

Aries Yulianto

Program Studi Psikologi, Universitas Pembangunan Jaya

 

Pada tulisan sebelumnya (Yulianto, 2020) diperkenalkan mengenai apa itu response bias dan dampaknya pada skala psikologi, khususnya skala Likert. Response bias merupakan respons pada alat ukur, terutama skala psikologi, yang tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya dari responden, yang berdasarkan penyebabnya dapat dibagi menjadi response set dan response style (Yulianto, 2020). Tulisan ini akan membahas mengenai response style, sebagai salah satu jenis dari response bias, serta bentuk-bentuknya.

 

Response style merupakan kecenderungan sistematik untuk berespons terhadap sejumlah pernyataan kuesioner yang tidak terkait dengan isi dari pernyataan (Paulhus, sebagaimana dikutip dalam Morren et al., 2011). Oleh karena itu, response style merupakan karakteristik dari partisipan, yang bersifat lebih stabil (Voicu et al., 2013) dibandingkan response set. Response style merupakan satu masalah penting dalam pengukuran dan survei psikologi, karena mempengaruhi validitas dari skor skala sehingga hasil pengukuran menjadi bias (Tutz et al., 2018). Selain itu, response style dapat meningkatkan nilai korelasi antara dua variabel menjadi signifikan, padahal sebenarnya tidak ada hubungan keduanya; namun dapat juga terjadi sebaliknya, tidak ada korelasi padahal keduanya berhubungan (Chami-Castaldi et al., 2008).

 

Skala psikologi dengan skor politomi dan menunjukkan tingkat persetujuan, seperti skala Likert, untuk mengukur karakteristik kepribadian maupun konstruk lainnya, rentan untuk terjadi response style (Wetzel et al., 2015, Tutz et al., 2018). Berdasarkan karakteristik dari skala Likert ini, response style dibagi menjadi tiga bentuk, yaitu acquiscence, extreme, dan middle (disebut juga central tendency). Pada skala Likert, response style seperti extreme response style dan central tendency response style lebih mungkin terjadi (Yulianto, 2019). Tulisan ini akan membahas mengenai ketiga bentuk response style ini.

 

1.   Acquiscence Response Style.

Sering disingkat sebagai ARS, terjadi apabila responden cenderung untuk menyetujui atau menjawab “ya” atau “setuju” pada setiap pernyataan yang diajukan, terlepas dari isi pernyataannya (Kam & Meyer, 2015). Responden yang cenderung melakukan ARS disebut yeasayer (Anastasi & Urbina, 1997). Pada skala Likert yang menggunakan respons berurutan seperti “sangat tidak setuju” hingga “sangat setuju”, rentan terjadinya ARS, yang disebabkan oleh tingginya power distance, kolektivisme, ataupun ekstraversi (Harzing, 2006). Bagaimana kita dapat mendeteksi ARS ini? Pada NEO PI-R yang memiliki 240 pernyataan skala Likert, apabila seorang responden memilih “setuju” atau “sangat setuju” pada 150 atau lebih pernyataan, maka dapat dikatakan terjadi ARS (Costa & McRae, 2014). Hal ini disebabkan 99% responden penelitiannya menjawab setuju (baik “setuju” ataupun “sangat setuju”) pada kurang dari 150 pernyataan. Salah satu cara untuk mendeteksi ARS seperti ini dapat diterapkan pada skala Likert yang kita gunakan. Pada studi lintas-negara, ditemukan orang Filipina memiliki ARS yang lebih tinggi dibandingkan orang Cina (Harzing, 2006). Lalu, bagaimana caranya untuk menghindari agar ARS ini tidak terjadi? Salah satu cara untuk mengurangi terjadinya ARS adalah dengan mencampurkan pernyataan favorable dan pernyataan unfavorable ke dalam skala Likert (Voicu et al., 2013). Tujuannya adalah membuat responden benar-benar mempertimbangkan makna sebenarnya dari pernyataan sehingga menghasilkan respons yang bermakna (Harzing, 2006). Selain itu, Watson (sebagaimana dikutip dalam Voicu et al., 2013) mengusulkan penggunaan forced choice untuk mencegah ARS.

Bentuk response style yang berlawanan dengan acquiscence disebut non-acquiscence response style (NARS), yaitu kecenderungan untuk menjawab “tidak” ataupun “tidak setuju” pada setiap pernyataan yang diajukan, apapun isi pernyataannya (Shultz et al., 2014). NARS disebut juga naysayer (Anastasi & Urbina, 1997) atau disacquiescence response style (DRS) (Harzing, 2006). Hampir sama seperti ARS, responden dikatakan terindikasi NARS pada NEO PI-R bila ia menjawab “setuju” maupun “sangat setuju” pada 50 pernyataan atau kurang, dikarenakan 99% responden penelitian ini setuju (“setuju” maupun “sangat setuju”) pada >50 pernyataan (Costa & McRae, 2014).

 

 

2.   Extreme Response Style

Dalam memberi respons, ada responden yang cenderung untuk selalu memilih jawaban ekstrim, yaitu “sangat tidak setuju” untuk pernyataan-pernyataan unfavorable dan “sangat setuju” pada pernyataan-pernyataan favorable, meskipun itu sebenarnya bukan opini mereka. Bentuk ini disebut extreme response style (disingkat ERS), yaitu kecenderungan responden untuk mengekspresikan diri mereka secara ekstrem dengan memilih nilai ujung dari rentang penilaian, terlepas dari opini mereka (Morren et al., 2011).

Bagaimana mendeteksi ERS terjadi pada jawaban seorang responden? Salah satu cara yang paling mudah adalah dengan menghitung ERS sum-score index (Morren et al., 2011; Harzing, 2006). Langkah yang harus dilakukan adalah membagi skor jawaban setiap pernyataan pada masing-masing responden menjadi 2, yaitu skor 1 (untuk jawaban “sangat setuju” dan “sangat tidak setuju”) dan skor 0 untuk jawaban lainnya, kemudian menghitung banyaknya jawaban ekstrim (jumlah skor 1) dibagi dengan jumlah pernyataan. Walaupun demikian, peneliti harus berhati-hati untuk menentukan apakah seseorang responden memiliki response style yang ekstrim atau memang subjek tersebut memiliki sikap yang sangat positif atau sangat negatif terhadap obyek sikap.

 

 

3.   Central tendency

Merupakan kecenderungan subjek untuk memilih pilihan respons di tengah (Shultz et al., 2014). Central tendency terlihat jelas apabila ruas pilihan responsnya berjumlah ganjil (misalnya lima atau tujuh). Dibandingkan ARS dan ERS, central tendency biasanya lebih banyak dipertimbangkan dalam mengkonstruksi sebuah skala Likert di Indonesia. Meskipun banyak yang mengusulkan agar menghilangkan pilihan respons di tengah untuk menghindari central tendency, Presser dan Schuman (sebagaimana dikutip dalam Voicu et al., 2013) mengungkapkan bahwa ketiadaan nilai tengah ini malah membuat responden untuk memilih nilai ekstrim. Penelitian Church (sebagaimana dikutip dalam Harzing, 2006) menemukan bahwa orang China lebih cenderung memilih nilai tengah dibandingkan orang Filipina.

 

Kesimpulan

Dari tiga jenis response styles di atas, kita mengetahui bahwa bila salah satu saja terjadi akan mengganggu keakuratan dari sebuah skala psikologi, terutama skala Likert. Dikarenakan response style sebenarnya merupakan karakteristik dari seorang responden yang tidak terkait dengan apa yang diukur oleh skala, maka apabila kita mengetahui terjadi response style ketika responden tersebut mengisi skala Likert, hal yang harus dilakukan adalah tidak menyertakan jawaban responden ini dalam analisis. Namun demikian, response style sebenarnya sulit untuk dideteksi, terlebih bersifat laten atau tidak dapat diobservasi langsung (Voicu et al., 2013). Kesulitan juga terjadi untuk membedakan antara respons sesungguhnya dengan response style. Terlebih lagi, response styles bersifat context independent, yaitu tidak terkait dengan isi pernyataan (Shultz et al., 2014). Oleh karena itu, kita harus berhati-hati dan benar-benar yakin apakah jawaban seorang responden pada sebuah skala Likert memang terjadi response styles ataukah memang itu menunjukkan sikap atau opininya yang sebenarnya.

 

 

Referensi:

 

Anastasi, A., & Urbina, S. (1997). Psychological testing. Prentice-Hall.

Chami-Castaldi, E., Reynolds, N., & Wallace, J. (2008). Individualised rating-scale procedure: A means of reducing response style contamination in survey data? The Electronic Journal of Business Research Methods, 6(1), 9–20.

Costa, P., & McRae, R. R. (2014). The NEO Inventories. In R. P. Archer & S. R. Smith (Eds.), Personality Assessment (2nd editio, pp. 229–260). Routledge. https://doi.org/https://doi.org/10.4324/9780203119143

Harzing, A.-W. (2006). Response styles in cross-national survey research: A 26-country study. International Journal of Cross Cultural Management, 6(2), 243–266.

Kam, C. C. S., & Meyer, J. P. (2015). How careless responding and acquiescence response bias can influence construct dimensionality: The case of job satisfaction. Organizational Research Methods, 18(3), 512–541. https://doi.org/10.1177/1094428115571894

Morren, M., Gelissen, J. P. T. M., & Vermunt, J. K. (2011). Dealing with extreme response style in cross-cultural research: A restricted latent class factor analysis approach. Sociological Methodology, 13–47. https://doi.org/10.1111/j.1467-9531.2011.01238.x

Shultz, K. S., Whitney, D. J., & Zickar, M. J. (2014). Measurement theory in action: Case studies and exercises. Routledge.

Tutz, G., Schauberger, G., & Berger, M. (2018). Response styles in the partial credit model. Applied Psychological Measurement, 42(6), 407–427. https://doi.org/10.1177/0146621617748322

Voicu, B., Şerban, M., Tudor, E., & Deliu, A. (2013). Acquiescence effects in measuring attitudes towards immigrants: The case of Romania. Calitatea Vietii, 24(3), 311–340.

Wetzel, E., Lüdtke, O., Zettler, I., & Böhnke, J. R. (2015). The Stability of Extreme Response Style and Acquiescence Over 8 Years. Assessment, 23(3), 279–291. https://doi.org/10.1177/1073191115583714

Yulianto, A. (2019). Penyusunan skala Guttman untuk pengukuran psikologi. Universitas Pembangunan Jaya.

Yulianto, A. (2020). Mewaspadai response bias Dalam skala psikologi. Buletin KPIN, 6(3). https://buletin.k-pin.org/index.php/daftar-artikel/536-mewaspadai-response-bias-dalam-skala-psikologi