ISSN 2477-1686

Vol. 6 No. 16 Agustus 2020

 

Self Injury (self harm) dan Emosi

Oleh

Erdina Indrawati

Fakultas Psikologi, Universitas Persada Indonesia  Y.A.I

 

 

Seseorang  dituntut mampu bertahan hidup di masa pandemik. Masa ini menantang orang untuk berkreasi menyiasati keadaan namun ada juga orang yang tidak luput dari suatu masalah. Setiap orang memiliki masalah yang berbeda-beda dan berbeda juga cara penyelesaiannya. Sebagian menyelesaikan masalah yang sedang dihadapinya. Ketidakmampuan menyelesaikan masalah dapat menimbulkan emosi, namun seiring waktu emosi dapat membantu manusia memecahkan masalah. Emosi sangat berguna memotivasi orang untuk terlibat tindakan agar dapat bertahan hidup.  Emosi adalah reaksi terhadap orang atau kejadian. Emosi itu lebih cepat hilang  daripada suasana hati. Emosi muncul dari dalam diri seseorang yang sering diungkapkan dengan berbagai ekspresi seperti sedih, gembira, kecewa, bersemangat, marah, penyaluran emosi  negatif yaitu dengan  mengkonsumsi narkoba, minum yang  beralkohol  yang mengakibatkan mabuk, atau dengan cara menyakiti dirinya (self injury atau self harm). Hal tersebut disebabkan oleh faktor psikologis seperti anak yang dipaksa mengambil alih tanggung jawab orang dewasa, adanya penganiayaan, keyakinan agama yang ekstrim dll.

Kata lain dari self injury adalah self harm. Self injury adalah mencederai diri sendiri, dengan sengaja, dengan maksud tertentu dan tidak dapat diterima secara sosial tanpa niat bunuh diri menurut Klonsky (dalam Miller, 2010).Self injury sebagai perilaku melukai diri sendiri dengan disengaja yang mengakibatkan kerusakan langsung pada tubuh, untuk tujuan bukan sanksi sosial dan tanpa maksud bunuh diri (Whitlock, 2009). Jika self injury berlangsung terus-menerus maka akan berubah menjadi percobaan untuk bunuh diri. Menurut Gratz dkk. (dalam Hasking & Penelope, 2002) self injury berfungsi untuk mengurangi emosi negatif dan stres.  Hal ini dapat dijelaskan dengan model Biopsikososial.

Model Biopsikososial menurut Walsh (2006) untuk menjelaskan antesenden perilaku melukai diri sendiri yaitu :

a.    Dimensi lingkungan

Kehilangan hubungan, konflik interpersonal, tekanan performance, rasa frustrasi, isolasi sosial dan peristiwa-peristiwa yang dapat menjadi pemicu trauma.

b.    Dimensi biologis

Individu yang melukai dirinya memiliki kelainan dalam otak  sehingga cenderung mencari kepuasan dengan melukai dirinya.

 

 

c.    Dimensi kognitif

Suatu pemikiran dan kepercayaan yang dapat menjadi pemicu perilaku melukai diri; meliputi interpretasi terhadap peristiwa yang terjadi, pemikiran-pemikiran yang secara otomatis menjadi pemicu, dan kognisi yang berhubungan dengan trauma yang pernah dialami.

d.    Dimensi perilaku

Tindakan yang dianggap dapat menjadi pemicu untuk melukai diri.

e.    Dimensi afektif

Seperti kecemasan, rasa tertekan dan panik, kemarahan, depresi, malu, rasa bersalah, dan kebencian.

Faktor-faktor  penyebab self injury menurut Martinson (1999) adalah:  

a.    Faktor keluarga

Kurangnya peran model pada masa kecil dalam mengekspresikan emosi dan kurangnya komunikasi antar anggota keluarga.

b.    Faktor pengaruh biokimia

Pelaku self injury memiliki masalah yang spesifik dalam sistem serotogenik otak yang menyebabkan meningkatnya impulsivitas dan agresivitas.

c.    Faktor psikologis

Pelaku self injury merasakan adanya kekuatan emosi yang tidak nyaman dan tidak mampu untuk mengatasinya.

d.    Faktor kepribadian

Tipe kepribadian introvert memiliki kecenderungan self injury lebih besar dibandingkan tipe kepribadian ekstrovert saat sedang menghadapi masalah. Pola perilaku self injury sangat bergantung pada mood seseorang. Selain itu adanya harga diri yang rendah, pola pemikiran yang kaku dan sulitnya mengkomunikasikan perasaan menjadi faktor penunjang bagi seseorang untuk melakukan self injury.

 

Ada orang yang masih dapat mengontrol dirinya sehingga emosi yang dialami tidak tercetus keluar dengan perubahan atau tanda-tanda kejasmanian. Hal ini berkaitan dengan pendapat Ekman dan Friesen yang dikenal dengan display rules. Menurut Ekman dan Friesen (dalam Walgito, 2002) adanya tiga rules, yaitu masking, modulation dan simulation. Masking adalah keadaan seseorang yang dapat menyembunyikan atau menutupi emosi yang dialaminya. Modulation yaitu seseorang tidak dapat meredam secara tuntas mengenai gejala kejasmaniannya tetapi hanya dapat mengurangi saja. Simulation yaitu seseorang tidak mengalami suatu emosi, tetapi ia seolah-olah mengalami emosi dengan menampakkan gejala-gejala kejasmanian. Pelaku self injury mempunyai masking yang cukup bagus karena cenderung mempunyai kepribadian yang introvert. Individu mampu menutupi emosi negatif dari orang lain dengan cara menyalurkannya kepada perilaku self injury tersebut. Jadi self injury merupakan perilaku yang sifatnya rahasia.

 

 

Referensi:

Hasking., & Penelope, A. (2002). Emotion Regulation and coping as moderators in the relationship between personality and self-injury. Artikel. Australia: Monash University.

Martison, D. (1999). Self injury fact sheet. New York: Amazon.

Miller, D. N.  (2010). Developmental psychopathology at school (Identifying, ssses self Injuryng, and treating self-injury at School). New York: Springer.

Walgito, B. (2002). Pengantar psikologi umum. Yogyakarta: Andi.

Whitlock, J. (2009). The cutting edge: non-suicidal self-Injury in adolescence. Article of psychology: Cornell University.

Walsh, B. W. (2006). Treating self-injury: A practical guide. New York: The Guilford Press.